Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 499. Binatang Tunggangan


__ADS_3

Mungkin jika orang-orang terdekat Weng Lou tau bahwa Weng Lou telah mengangkat seorang murid, mereka akan menganggap hal itu adalah kebohongan karena Weng Lou bahkan belum berusia lima belas tahun.


Meskipun beberapa minggu lagi dia benar-benar berusia lima belas, tapi itu tidak membantu sama sekali.


Seorang Praktisi Beladiri ketika mengangkat murid biasanya berusia paling tidak tujuh atau delapan belas tahun. Kira-kira seusia Weng Ying Luan.


Weng Lou yang masih sangat muda akan membuat sebagian orang merasa bahwa Weng Lou belum layak untuk menjadi seorang guru bagi seseorang. Tapi jika dilihat secara kepribadian, mental, pengetahuan dan pengalaman, mungkin Weng Lou bisa dibilang sangat lebih dari cukup untuk menjadi guru bagi Du Zhe yang baru berusia delapan tahun.


Walau Du Zhe adalah murid pertamanya, bisa dibilang Weng Lou pernah mengajari orang lain terlebih dahulu. Mereka adalah Weng Wan dan Weng Hua, kedua sahabatnya.


Saat masih di Kota Bintang Putih, Weng Lou yang memberi mereka bimbingan dan juga memberikan mereka teknik beladiri. Jadi keduanya bisa disebut sebagai murid tidak resmi Weng Lou, meski sebenarnya keduanya tidak akan mau mengakui Weng Lou sebagai guru mereka.


Du Zhe di sisi lain, merasa bahwa dia masih bermimpi karena berhasil menjadi murid Weng Lou yang merupakan orang terkuat yang dia tau sampai saat ini di Pulau Fanrong.


Dia tidak tau kekuatan Kaisar pulau ini, atau bawahannya yang belum dilihatnya, namun satu yang dia yakini bahwa Weng Lou pasti bisa mengalahkan mereka semua.


Saat Weng Lou sebelumnya pergi ke Kota 7, dia samar-samar melihat Weng Lou yang terbang di langit. Sejak kecil, Du Zhe sering mendengar cerita mengenai Dewa dan Dewi yang dapat terbang di langit bebas seperti layaknya seekor burung. Melihat dengan mata dan kepalanya sendiri bahwa Weng Lou mampu terbang di udara, membuatnya semakin yakin dengan kekuatan yang dimiliki oleh Weng Lou.


Setelah memberikan beberapa arahan pada para mantan budak dan juga para prajurit, Weng Lou kemudian pergi bersama Du Zhe kembali ke bangunan tempat Wuyong berada.


Sesampainya mereka, Wuyong langsung menyerahkan semua informasi yang dia punya yang di gabungkan dalam satu gulungan kertas tebal kepada Weng Lou. Weng Lou langsung membaca semua informasi pemberiannya itu.


Hanya dalam satu menit, Weng Lou selesai membacanya, dan menggulung kembali gulungan kertas tersebut, lalu menyerahkannya pada Du Zhe.


"Kau baca juga, agar pengetahuan mu semakin luas," ucap Weng Lou.


Du Zhe segera menerima gulungan kertas itu, dan membukanya. Dia terkejut setelah membaca beberapa kata yang ada pada bagian-bagian awal gulungan kertas itu. Kepalanya mengangguk-angguk seperti tercerahkan.


Melihatnya yang sangat serius sekali membaca, Weng Lou hanya bisa tersenyum kecil. Sepertinya selain tertarik dengan beladiri, Du Zhe juga haus akan pengetahuan.


Weng Lou seperti sedang melihat dirinya waktu masih kecil saat menatap Du Zhe yang selalu bersemangat akan segala hal.


Setelah beberapa saat diam karena melihat Du Zhe yang masih membaca, Weng Lou kemudian mengangkat kepalanya dan menatap Wuyong.


"Aku akan pergi lagi, dan mungkin tidak akan kembali dalam satu dua hari. Jadi aku mau kau menjaga tempat ini sampai aku kembali. Aku tidak peduli apa yang akan kau lakukan nantinya saat aku pergi, yang pasti jika aku menemukan tempat ini tidak sesuai dengan pengaturan ku yang telah aku tetapkan, maka siap-siap membayarnya dengan nyawa mu.


Jangan berpikir untuk kabur atau apapun, aku sanggup mencari mu sampai ke ujung pulau ini, mau dimana pun kau bersembunyi, aku pasti akan menemukanmu."


Mendengarkan penjelasan Weng Lou, Wuyong tidak bisa menahan diri untuk berkeringat dingin. Dia bisa merasakan keseriusan dan napsu membunuh dari setiap kata-kata yang keluar dari mulut Weng Lou.


Dia pun buru-buru mengangguk sebagai balasan penjelasan Weng Lou. Mana berani dia melakukan seperti yang Weng Lou katakan.


Dalam benaknya, Weng Lou kemungkinan pergi ke kota lainnya yang ada di wilayah kumuh dan menaklukan semua kota yang ada. Bayangan akan jatuhnya kekaisaran oleh tangan seorang remaja belasan tahun membuat Wuyong merinding bukan main.


Hanya Dewa yang tau bagaimana nasib kekaisaran ini dengan munculnya Weng Lou sebagai sebuah kekuatan yang mampu menghancurkan kekaisaran Fanrong seorang diri.


***


Weng Lou dan Du Zhe kemudian pergi keluar dari kota setelah memberikan beberapa penjelasan lainnya pada Wuyong.


Tidak seperti sebelumnya, Weng Lou memilih untuk berjalan kaki biasa saja karena dia tidak yakin apakah Du Zhe sanggup menahan tekanan angin jika mereka berdua terbang.

__ADS_1


Ini juga sekalian dia pakai untuk melatih fisik Du Zhe yang masih anak-anak agar bisa semakin berkembang.


Pada umurnya yang masih sangat mudah ini, pertumbuhan otot dan tulang sangatlah bagus, sehingga ini merupakan kesempatan bagus untuk memperkuat dasar pondasi tubuh Du Zhe agar semakin kuat sebelum dia mulai mengajari teknik beladiri padanya.


Karena mustahil bagi Weng Lou untuk bergerak cepat dengan bersama Du Zhe, Weng Lou pun memilih untuk berlari pelan saja. Meski begitu, Du Zhe masih tidak bisa mengimbangi kecepatan gerak dari Weng Lou, dan perlahan-lahan dia pun semakin tertinggal.


Mau tidak mau akhirnya Weng Lou pun memutuskan untuk menyamakan langkahnya dengan Du Zhe. Mereka berdua baru tiba di air terjun setelah beberapa menit karena kecepatan gerak Du Zhe yang sangat lambat.


Tapi Weng Lou tidak mempermasalahkannya sama sekali, dia juga tidak langsung bisa berlari cepat saat pertama kali belajar beladiri, bahkan dia tidak secepat Du Zhe saat dia masih berumur delapan tahun.


Di air terjun, Weng Lou menoleh ke kanan dan ke kiri, seperti sedang mencari sesuatu. Du Zhe menatapnya dengan penasaran dan bertanya apa yang sedang dicarinya di tempat ini.


"Tunggangan kita." Weng Lou memberikan jawaban yang semakin membuat Du Zhe penasaran.


Tapi sepertinya Du Zhe bisa menebak tunggangan yang dimaksud oleh Weng Lou tersebut.


Tak berapa lama, Weng Lou pun tersenyum menatap ke satu arah, lalu secara mendadak, segera melompat tinggi ke udara dan melesat ke arah yang telah dia lihat sebelumnya.


Beberapa puluh meter di depan Weng Lou, sang Kera Hitam Pertarungan terlihat berbaring di antara pepohonan, dengan banyak buah-buahan di sampingnya. Tangannya setiap beberapa detik mengambil buah yang ada di sampingnya dan memakannya tanpa membuka matanya sedikitpun.


Saat dia masih dengan santainya menikmati kesendiriannya, mendadak Kera itu membuka matanya melihat sosok Weng Lou sedang bergerak turun ke arahnya.


Dia awalnya hanya melihat dengan biasa saja sosok Weng Lou, tapi semakin dekat dia dengan dirinya, perasaan tidak enak mulai menjalar ke seluruh tubuh kera itu.


Dan benar saja, sesaat sebelum Weng Lou tiba di atas tubuhnya, tangan kanan Weng Lou segera terkepal, dan detik berikutnya sebuah tinju dengan kekuatan fisik seratus persen dari Weng Lou mendarat pada Kera Hitam Petarung.


Muncul retakan pada permukaan tanah tempatnya berbaring. Kera itu membuka lebar mulutnya, dan Weng Lou pun segera berdiri di atas tubuh kera itu setelah memberikannya sebuah pukulan telak.


Kera Hitam Petarung tampak seperti kehabisan napas, pukulan Weng Lou tepat mengenai titik lemahnya.


"Kupikir kau akan menjauh dari ku, tapi sepertinya kau berubah pikiran yah?" ucap Weng Lou dengan santainya.


"Apanya yang berubah pikiran?! Aku sedang bersantai, dasar bocah kurang ajar!"


Tangan kanannya segera bergerak cepat menepuk dadanya, tempat dimana Weng Lou sedang berdiri saat ini.


Namun kemudian, tangan kanan Weng Lou segera menepis tangan kanan kera besar itu dengan santainya, membuat sang Kera Hitam Petarung terkejut bukan main.


Bagaimana bisa anak ini memiliki kekuatan fisik yang sangat besar?! Dia tampak tidak bisa mempercayai akan apa yang baru saja dia lihat.


"Jangan marah-marah begitu, aku datang ke sini dengan memberikan penawaran padamu. Jika kau mau menjadi binatang tunggangan ku, akan kuberikan kau sumber daya untuk bertambah kuat, bagiamana?" tanya Weng Lou dengan senyum lebar pada wajahnya.


Senyum Weng Lou itu, jika dilihat dari sudut pandang orang yang menerimanya, maka akan terlihat seperti sebuah senyuman yang sangat menakutkan dan penuh akan banyak makna di dalamnya.


Namun yang jelas, senyum Weng Lou saat ini sukses membuat Kera Hitam Petarung ini berkeringat dingin.


"Ka-Kau masih ingin menjadikan ku binatang tunggangan mu? Biar kuberitahu, aku sama sekali tidak mau menjadi budak orang lain lagi, aku sudah memberitahu mu bukan? Aku hanya menerima jika itu adalah kesepakatan setara, dimana tidak ada yang menjadi tuan dan budak diantara kita. Jika kau tidak mau, maka lupakan saja," jelas kera itu sambil mengalihkan pandangannya pada Weng Lou.


"Ayolah, jangan begitu."


Weng Lou mengayunkan tangannya, dan dua buah palu yang belum pernah diperlihatkannya dikeluarkannya dari cincin penyimpanannya dan menindih tubuh besar Kera Hitam Petarung.

__ADS_1


Beban berat langsung dapat dirasakan oleh kera itu, dia menoleh kembali kepada Weng Lou dan melihat kedua palu itu. Ketika dia berusaha mengangkat dadanya, beban dari kedua palu itu membuatnya tidak bisa bergerak sedikitpun dari tempatnya.


"A-Apa?! Mustahil! Bagaimana bisa aku tidak bisa mengangkat kedua palu ini?!" serunya dengan panik.


Kedua tangannya segera bergerak dan memegang kedua palu itu. Dia terlihat berusaha mengangkat keduanya, namun kemudian kedua palu itu tidak bergeming sama sekali.


"Ini bohongkan?!"


Suara geraman berat dan menyeramkan dari Kera Hitam Petarung menggema, dan dia berusaha sekuat tenaga untuk mengangkat paku yang menindihnya.


Selang satu menit, tidak ada perubahan sama sekali. Weng Lou yang hanya menonton sedari tadi tertawa pelan sambil memasang senyum mengejeknya.


"Aku sendiri bahkan tidak bisa mengangkat 1 palu itu, mana mungkin kau bisa mengangkat keduanya," cibirnya.


Dua palu ini dia dapatkan dari pak tua pemilik penginapan saat masih berada di Kota Hundan. Tentunya dia tidak mendapatkan nya secara gratis, Weng Lou harus membayar mahal untuk 1 palu ini saja.


Satu palunya seharga lima ribu koin emas, dengan begitu dia mengeluarkan sepuluh ribu koin emas hanya untuk membeli kedua palu ini. Palu yang terlihat tua dan usang, bahkan terdapat beberapa karat pada sisi-sisinya, namun secara ajaib palu ini memiliki berat yang bukan main. Sejauh ini, Weng Lou hanya bisa mengangkat satu palu dengan kedua tangannya setinggi satu jengkal dari tanah. Lebih dari itu dia tida sanggup sama sekali.


Lalu mengapa Weng Lou malah membeli dua palu ini, yang bahkan tidak bisa dia angkat? Itu karena palu lama miliknya dia rasa sudah menjadi ringan di tangannya, sehingga dia membutuhkan palu latihan yang baru dengan beban berat yang berkali-kali lipat.


Satu-satunya alasan mengapa Weng Lou sanggup membawa keduanya adalah karena dia memiliki ruang penyimpanan.


"Menyerahlah, dan jadi binatang tunggangan ku. Aku akan memasukkan kedua palu ini kembali jika kau mau menerimanya."


"Sial.....apa kau tidak tau malu?! Menggunakan cara licik seperti ini, bahkan bagi kami binatang buas, merupakan sebuah tindakan pengecut!"


"Yaa.... terserah kau mau mengatakan apa, aku tidak peduli. Yang jelas sampai kau mau menerima tawaranku, aku tidak akan mengambil kembali kedua palu ini."


Weng Lou pun melompat turun, dan mendarat beberapa meter dari kera itu.


Di saat yang sama, sosok Du Zhe yang mengikuti Weng Lou telah sampai di tempat dimana Weng Lou berada.


Dia menatap Kera Hitam Petarung yang sedang berbaring di tanah dengan tatapan penuh tanda tanya. Saat dia sedang ke tempat ini, dia terus mendengarkan raungan dari kera ini, sehingga membuatnya sangat penasaran apakah Weng Lou sedang bertarung melawannya.


Tapi apa yang dilihatnya ternyata berbeda jauh dengan apa yang dia pikirkan. Kera itu ternyata hanya berbaring di tanah tanpa mengalami luka apapun, pikir Du Zhe.


"Ck! Hei! Baiklah baiklah! Aku setuju! Sekarang ambil kembali palu ini! Dadaku sudah terasa seperti remuk!" Kera Hitam Petarung merengek pada Weng Lou.


Terlihat Weng Lou tertawa pelan melihat kera itu yang akhirnya menyerah setelah melakukan beberapa perlawanan yang sama sekali tidak berarti menurutnya.


Dia pun melompat naik ke atas tubuh kera itu, lalu meminta darahnya yang diberikan dengan cepat oleh kera itu tanpa bertanya sedikitpun. Weng Lou melakukan ikatan antara dirinya dengan Kera Hitam Petarung itu, yang kemudian membuat hubungan keduanya terikat dalam ikatan Tuan dan Binatang Tunggangan.


Tak perlu waktu lama, ikatan itu pun terjalin, dan Weng Lou sekarang mampu merasakan bagian dalam tubuh kera itu dengan lebih menyeluruh. Setelah selesai menggambar, Weng Lou turun dari atas tubuh kera itu dan berdiri bersama Du Zhe


Karena telah menjadi binatang tunggangan Weng Lou, kera itu pun bangkit berdiri lalu membungkukkan badannya di depan Weng Lou dan Du Zhe.


Weng Lou lalu mengajak naik Du Zhe bersamanya. Du Zhe agak takut pada awalnya, tapi setelah dia naik dan melihat pemandangan hutan dari atas tubuh Kera Hitam Petarung, dia pun terpesona.


"Mau kemana kita....Tuan?" tanya kera itu dengan suara yang agak dipaksakan.


"Ke utara, kita akan pergi ke kota 4 dan 5."

__ADS_1


__ADS_2