Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 669. Tiba Di Pulau Pasir Hitam


__ADS_3

Setelah perginya kapal kayu dari wilayah Keluarga Lin, kapal itu terus melaju pergi dan meninggalkan Daratan Utama.


Dengan dikendalikan Weng Lao De, kapal kayu melesat menuju Pulau Pasir Hitam tanpa menghadapi kendala yang berarti. Bahkan Wilayah Tak Bertuan tidak mengurangi kecepatan kapal sedikitpun.


Berbeda dibandingkan ketika mereka pergi dari Pulau Pasir Hitam, Wilayah Tak Bertuan kini tampak seperti tidak berarti apapun bagi Weng Lao De selain wilayah yang memiliki beberapa orang Kaisar Jiwa di dalamnya.


Mereka memakan waktu satu bulan lebih untuk sampai di Pulau Pasir Hitam.


Kapal kayu mendarat di sebuah tanah lapang di dalam kawasan Istana Leluhur Weng. Sang Penasehat Kepala Keluarga Weng berdiri dengan kedua tangan di belakang. Ada beberapa sosok lain yang bersama-sama dengannya.


Salah satu sosok yang bersamanya adalah seorang wanita yang memiliki rambut berwarna merah gelap. Dia didampingi oleh seorang pria dengan tubuh sebesar Lin Ao Man dan mengenakan sebuah jubah berwarna merah dengan corak burung Phoenix.


Wanita berambut merah gelap itu menatap dengan tajam pada kapal kayu yang bergerak turun. Ketika kapal itu benar-benar mencapai tanah, lapisan pelindung yang ada pada kapal kayu langsung menghilang. Begitu lapisan pelindung kapal menghilang, wanita berambut merah itu langsung menghilang dari tempatnya berdiri dan detik berikutnya dia telah muncul di atas kapal, berdiri tepat di hadapan Lin Ao Man.


Wajah Lin Ao Man segera berubah begitu melihat sosok wanita itu. Lin Mei juga tampak ternganga lebar.


"Ibu?!" Lin Mei terkejut melihat kemunculan ibunya yang secara tiba-tiba.


Namun dibandingkan dia, orang yang paling terkejut adalah Lin Ao Man. Jantungnya hampir berhenti berdetak begitu melihat wajah ibu Lin Mei. Dia ingin mengatakan sesuatu, namun sebelum dia bisa berbicara, pemandangan di sekitarnya segera berubah.


Yang awalnya adalah bagian atas kapal, kini telah berubah menjadi lautan api tak berujung.


Tidak ada siapapun selain dirinya di tengah-tengah lautan api itu. Api dengan cepat menyebar dan membakar dirinya. Dia bisa merasakan sekujur tubuhnya yang terbakar dan tidak bisa tidak berteriak kesakitan.


"Aaaaghhhh!!!!! Tolooong!!!! Siapa pun?! Kumohon!!!! Ampuni aku!!!! Kau hanya menjalan perintah!!!! Aghggggg!!!!!!"


Ketika teriakannya itu mulai terdengar seperti teriakan putus asa, pemandangan yang ada di sekitarnya segera berubah kembali seperti semula. Sembilan orang Kaisar Jiwa menatapnya dalam diam. Dalam tatapan mereka, Lin Ao Man bisa merasakan rasa kasihan mereka padanya.

__ADS_1


Dia segera menyadari bahwa tubuhnya tidaklah terbakar dan dia tampak baik-baik saja. Yang dia lihat dan rasakan sebelumnya adalah ilusi yang dia dapatkan dengan hanya menatap kedua mata ibu Lin Mei secara sekilas. Posisinya saat ini sedang meringkuk di atas lantai kapal, membuatnya terlihat menyedihkan.


Ibu Lin Mei masih berdiri di depannya, tidak bergerak sedikitpun semenjak dia tiba.


"Putri ku, katakan pada ibumu ini, apakah orang ini berusaha untuk membunuh mu sebelumnya?" tanya ibu Lin Mei dengan suara dingin.


Suaranya itu membawa kehendak pemusnahan yang amat besar. Berbeda dengan kehendak pemusnahan milik Lin Nushen yang terasa seperti ratusan ribu jarum panas yang menusuk kulit, kehendak pemusnahan milik ibu Lin Mei terasa seperti membakar bagian dalam tubuh seseorang.


Lin Mei menarik napas dingin. Dia menatap Lin Ao Man yang sekujur tubuhnya bergetar hebat di lantai. Jujur saja, dia tidak merasa kasihan melihatnya disiksa oleh ibunya, namun dia merasa tidak seharusnya ibunya melakukan hal seperti ini di waktu seperti ini.


Terlebih, mereka saat ini sedang berada dalam wilayah kekuasaan Keluarga Weng yang mana Penasehat Kepala Keluarga Weng sedang menyaksikan mereka.


"Sayang, kita bisa melanjutkan ini nanti, Penasehat Kepala Keluarga Weng sedang menyaksikan, tidakkah tindakan mu terkesan tidak sopan?" Pria yang berdiri bersama dengan ibu Lin Mei sebelumnya berbicara dari bawah.


Mata Ibu Lin Mei segera mengarah padanya. Pria itu langsung bergidik ngeri melihat tatapan mata istrinya itu.


Berbeda ketika suaminya berbicara, kali ini ibu Lin Mei menatap putrinya itu dengan tatapan penuh kasih sayang. Dia segera berjalan dan memeluk putri termudanya itu.


"Baiklah kalau kau yang mengatakannya, mari kita turun. Kau pasti mengalami petualangan yang penuh dengan bahaya selama ini ketika ibu tidak bersama mu." Tangan ibu Lin Mei segera teryaun dan sosok Lin Ao Man langsung menghilang dari tempatnya. Semua orang yang tau apa yang akan terjadi pada Lin Ao Man setelah ini.


Dengan begitu mereka berdua melesat turun dan mendarat di depan ayah Lin Mei. Ayah Lin Mei segera memeluk Lin Mei dengan erat, seperti seorang ayah pada umumnya.


Delapan Kaisar Jiwa, dengan dipimpin oleh Weng Lao De segera turun dari kapal, menyisakan Weng Ying Luan seorang diri yang masih ada di sana bersama dengan Du Zhe.


Du Zhe tampak asing dengan tempat mereka berada saat ini, berbeda dengan Weng Ying Luan yang sangat akrab dengan Istana Leluhur Weng.


"Du Zhe, ayo kita juga turun," kata Weng Ying Luan.

__ADS_1


Dengan dibantu Weng Ying Luan, Du Zhe terbang turun dari kapal.


Begitu keduanya turun, kapal kayu itu langsung menghilang di udara kosong. Penasehat Kepala Keluarga Weng berdeham pelan. Dehamannya itu segera membuat perhatian semua orang tertuju padanya.


"Lao De, pimpin semua orang masuk ke ruangan pertemuan, Ying Luan bawa anak itu bersama mu menuju ke Asrama Bakat. Berikan dia kamar dan suruh dia membersihkan dirinya, setelah itu pergi ke ruangan ku bersamanya."


Setelah mengatakan semua itu, sang Penasehat Kepala Keluarga Weng segera berbalik dan berjalan menelusuri lorong panjang yang mengarah ke bagian dalam Istana Leluhur Weng.


Sementara itu, Weng Lao De memimpin semua orang untuk pergi ke ruangan pertemuan yang juga ada di dalam Istana Leluhur Weng, hanya saja arahnya berbeda dengan arah kemana Penasehat Kepala Keluarga Weng pergi. Tidak ada yang mempertanyakan kenapa, mereka dengan patuh pergi menuju ke ruangan pertemuan.


Di sisi lain Weng Ying Luan dan Du Zhe berjalan ke arah lainnya yang menjauh dari Istana Leluhur Weng. Asrama Bakat adalah bangunan yang dibangun terpisah dari Istana Leluhur Weng dan ditinggali oleh anggota muda Keluarga Leluhur Weng yang memiliki bakat luar biasa dari seluruh penjuru Pulau Pasir Hitam.


Asrama Bakat milik Keluarga Leluhur Weng berbentuk seperti huruf 'u' dan memiliki empat lantai. Tiap lantainya ditinggali oleh anak dengan tingkat kekuatan yang berbeda-beda.


Lantai satu ditinggali oleh semua anak yang berada di ranah Pembentukan Pondasi seperti Du Zhe. Di lantai dua ditinggali oleh anak dengan Tingkat Praktik ranah Pembersihan Jiwa dan lantai tiga untuk mereka yang berada di ranah Penyatuan Jiwa.


Adapun lantai empat, mereka yang tinggal bukanlah anak-anak yang telah berada di ranah Penguasaan Jiwa. Pada dasarnya seseorang yang Tingkat Praktik beladirinya berada di ranah Penguasaan Jiwa pasti telah berumur puluhan tahun paling muda, dan juga seluruh anggota Keluarga Leluhur Weng yang telah mencapai ranah Penguasaan Jiwa tidak lagi akan menjadi sekedar anggota biasa, melainkan akan menjadi salah satu Tetua, sehingga lantai empat tidak ditinggali oleh anak dengan Tingkat Praktik beladiri di ranah Penguasaan Jiwa.


Mereka yang tinggal di lantai empat adalah anak-anak yang masih berada di ranah Penyatuan Jiwa, namun kekuatan mereka bisa dengan mudah menyaingi para Praktisi Beladiri di ranah Penguasaan Jiwa.


Weng Ying Luan membawa Du Zhe menuju ke Asrama Bakat. Di tempat itu, terlihat sangat sepi, tidak ada satu orang pun yang terlihat, sehingga membuat Weng Ying Luan tampak sedikit kebingungan.


Ini bukan pertama kalinya dia mendatangi Asrama Bakat. Setidaknya setiap kali dia menyusup ke Kediaman Keluarga Leluhur Weng, dia akan menyempatkan diri untuk bersenang-senang di Asrama Bakat untuk bertarung dengan anak-anak seusianya. Tentu saja itu bukanlah pertarungan, melainkan penindasan. Namun meski begitu, Asrama Bakat ini sangatlah ramai ditinggali, setidaknya lantai satu ditinggali oleh ribuan anak-anak jika dia tidak salah ingat.


"Paman Guru, tempat seperti apa ini? Kenapa tak dak ada satu orangpun?" Du Zhe bertanya dengan rasa ingin tahu.


Weng Ying Luan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia tidak tau harus memberikan jawaban apa, dia juga tidak tau kemana orang-orang pergi.

__ADS_1


"Ehem..... sepertinya kita datang di waktu mereka semua sedang pergi. Baguslah kalau begitu, kita bisa dengan mudah mencarikan mu kamar. Ayo cepat, Penasehat Kepala Keluarga akan memarahi ku jika kita berlama-lama," jawab Weng Ying Luan sambil batik kering.


__ADS_2