
Ketika kelompok Weng Lou akan masuk ke dalam restoran, langkah kaki Weng Lou terhenti dan menatap ke satu arah, dimana terlihat orang-orang sedang berkerumun dan menonton sesuatu.
Weng Lou menjadi tertarik dan melangkah ke arah itu, namun segera ditahan oleh Weng Ying Luan dengan menarik belakang kerah bajunya.
"Tidak, aku tau apa yang ingin kau lakukan, kita santap makanan yang ada di restoran ini terlebih dahulu, sebelum kemudian melihat apa yang ditonton oleh orang-orang itu," ucapnya dengan tegas.
Weng Ying Luan bisa menebak apa yang akan terjadi jika mereka ikut ke arah orang-orang itu. Entah itu apa yang pastinya mereka akan mendapatkan masalah nanti.
Meski sebenarnya dia tidak tau, ada masalah lain yang akan mereka dapatkan di dalam restoran tersebut.
Ketika kelompok Weng Lou masuk ke dalam restoran, dari balik kerumunan, terlihat sosok seorang pria tua terbaring lemah di tanah.
Matanya menatap ke arah sela-sela kaki orang-orang yang mengeremuninya, dan tatapannya terfokus pada sosok Weng Lou yang menghilang di dalam restoran.
"Weng... Lou...."
***
Di dalam restoran, ketika kelompok Weng Lou dan yang lain akan masuk lebih dalam, tepatnya ke arah meja-meja yang ada di lantai satu, mereka ditahan oleh dua orang penjaga yang ada di situ.
Weng Lou dan yang lainnya merasa terkejut akan hal itu, terutama Pang Baicha yang bersama dengan mereka. Dia yang merekomendasikan restoran ini karena cukup sering ke sini sebelumnya, tapi dia belum pernah ditahan seperti ini sebelumnya.
"Ada apa ini?" tanya Pang Baicha kepada kedua orang penjaga itu.
Dari sekilas kekuatan keduanya berada di ranah Pembersihan Jiwa tahap 8 puncak, hampir menyamai tingkat praktik milik Shan Hu saat ini. Berkat berlatih terus menerus, Shan Hu telah naik ke ranah Pembersihan Jiwa tahap 8 awal, sebuah peningkatan yang benar-benar ekstrim menurut Weng Lou. Oleh sebab itu Weng Lou pun melarang Shan Hu untuk berlatih menggunakan pil selama satu minggu kedepan, jaga-jaga jika seandainya pondasi kekuatan Shan Hu tidak kokoh.
"Kau bertanya kenapa? Kalian harus membayar uang masuk terlebih dahulu sebelum bisa duduk dan memesan makanan disini!" salah satu penjaga itu membentak ke arah Pang Baicha sambil menunjuk wajahnya.
Pang Baicha saat ini menyembunyikan kekuatannya dan membuatnya setara dengan Shan Hu, yaitu pada ranah Pembersihan Jiwa tahap 8 awal. Inilah yang mengakibatkan kedua penjaga ini berani membentak kebarah Pang Baicha yang berada di ranah Pembersihan Jiwa tahap 9 awal.
Mengerutkan keningnya, Pang Baicha pun mengeluarkan sekantung uang dari dalam ruang penyimpanannya, dan menyerahkan pada penjaga itu.
Pang Baicha pun mengajak Weng Lou dan yang lainnya untuk duduk sedangkan para penjaga itu menerima kantung yang diberikannya dengan senang.
Kedua penjaga itu tersenyum dan membuka kantung itu, tapi kemudian dahi mereka mengerut melihat isi di dalamnya.
"Hei! Kau mempermainkan kami, huh?! Sepuluh koin emas, kau pikir apa yang bisa dibeli dengan uang sesedikit itu?!" Salah satu penjaga itu meraung marah.
Dia menarik kerah baju Pang Baicha dan mendekatkan wajahnya.
__ADS_1
"CK." Pang Baicha berdecak kesal.
Kantung yang dia berikan berisi 10 koin emas, itu bukanlah harga yang kecil jika hanya ingin masuk ke dalam sebuah restoran, justru itu adalah harga yang sangat besar.
Tapi dua penjaga ini malah mengatakan bahwa jumlah itu sangatlah sedikit. Jelas mereka ini hanya ingin memeras mereka.
"Kalian ini penjaga atau tukang peras?" tanya Pang Baicha dengan suara sedikit tak terima.
Alis kedua penjaga itu terangkat, dan mendadak ekspresi mereka menunjukkan amarah.
"Apa kau bilang, huh?! Kau ingin melawan kami?! Jika kau tidak punya uang pergi saja dari sini!" Penjaga lain membentak ke arah Pang Baicha.
"Tidak, jangan biarkan mereka pergi begitu saja! Kita patahkan duku kedua tangan sialan ini. Dia berani mengatakan kita berdua adalah tukang peras, biar kita tunjukkan apa itu yang namanya tukang peras yang sebenarnya!" ucap penjaga lainnya dan berdiri tepat di depan Pang Baicha.
Wsss.....
Penjaga itu menarik tangannya, dan siap melepaskan sebuah tinju ke arah wajah Pang Baicha.
Pang Baicha yang melihatnya berniat untuk melepaskan serangan terlebih dahulu kepada penjaga itu, tapi segera ditahan oleh Weng Lou yang berdiri di belakangnya. Dia merasa terkejut, dan berpikir Weng Lou ingin dirinya dihajar oleh penjaga itu, tapi kemudian sesuatu terjadi.
Tinju penjaga itu mendadak terhenti begitu saja di udara, saat sebuah tangan yang berasal dari seorang pemuda seusia Weng Lou mendarat di pundaknya.
Dia merasa sangat terkejut karena tubuhnya tidak bisa digerakkan, karena tangan pemuda itu yang berada di pundaknya.
"Siapa kau?! Ini adalah Restoran Dou Gui! Kau tidak bisa berbuat seenak saja disini!" seru penjaga itu dengan panik.
Dia bisa merasakan pemuda itu memiliki kekuatan jauh diatasnya, dan itu adalah sesuatu yang sangat berbahaya baginya.
Kota Hundan memiliki begitu banyak ahli beladiri yang tersembunyi, tapi masing-masing memiliki daerah kekuasaannya tersendiri, mereka selalu hati-hati setiap kali ingin bertindak diluar daerah kekuasaan mereka.
"Lalu apa yang kau ingin perbuat sebelumnya? Bukankah kau ingin memukulnya? Apakah itu tidak bisa disebut sebagai berbuat seenaknya?" tanya pemuda itu lagi.
"Kami adalah penjaga disini!"
"Hahahaha......lucu sekali, kalian berbicara seolah-olah kalian adalah pemilik restoran ini, hanya pemilik restoran saja yang memiliki hak untuk berbicara seperti itu kepada para pelanggannya. Tapi siapa kalian? Hanya dua penjaga kumuh yang tidak tau diri."
"Tutup mulut mu sialan!!!"
Penjaga lainnya yang sebelumnya diam saja menyaksikan temannya dihentikan oleh pemuda itu, akhirnya mengambil tindakan.
__ADS_1
Dia menarik pedang yang tersarung rapi di pinggangnya, dan mengayunkannya kearah pemuda tersebut.
"Mati sialan!!!"
"Tidak, berhenti!" rekannya berniat menghentikan kebodohan rekannya itu, tapi itu terlambat.
Sssshhhh.....
Tangan kiri pemuda itu sudah bergerak dengan sangat cepat, dan menggorok leher penjaga itu tanpa membuat darah menempel pada tangannya.
Tubuh penjaga yang memegang pedang itu bergetar, sebelum kemudian jatuh ketanah, tak bernyawa. Darah mengalir keluar dengan deras dari lehernya yang hampir terputus karena pemuda tersebut.
Napas Pang Baicha, Weng Lou, Weng Ying Luan, dan yang lainnya terhenti seketika menyaksikan itu.
Pemuda itu membunuh tanpa ragu.
Weng Lou dan Weng Ying Luan juga seperti itu, tapi mereka memahami situasi di Kota Hundan ini, sehingga mereka harus selalu hati-hati dalam bertindak. Di sisi lain, pemuda berambut hitam setinggi 170 centimeter itu tidak ragu sedikitpun dalam membunuh penjaga yang menyerangnya.
Jika dia tidak memiliki kekuatan dibelakangnya, maka jelas pemuda ini hanya mencari mati, pikir Pang Baicha.
Setelah membunuh penjaga yang menyerangnya itu, pemuda itu pun menatap ke arah Weng Lou dan yang lainnya, hingga tatapannya kemudian terhenti pada Weng Wan, Weng Hua, dan Weng Ning.
"Kalian bertiga dari Keluarga Leluhur Weng, bukan?" tanya pemuda itu kepada mereka bertiga tanpa mempedulikan tatapan-tatapan orang yang ada di sekitarnya.
"Hei! Kau pikir akan bisa selamat setelah melakukan ini?! Kau pasti akan mati hari ini! Kau dengar?! Kau akan mati hari ini juga-"
Psshhh!!!
"Berisik, aku tidak berbicara denganmu," ucap pemuda itu.
Tap.....
Detik berikutnya, tubuh penjaga yang dia sentuh pundaknya itu terjatuh ke tanah, dan kepalanya terlepas dari lehernya, dan bergelinding kearah luar restoran.
Catatan Penulis:
Saya akan mengikuti ujian sekolah tanggal 21 nanti, jadi mungkin akan libur atau update nggk nentu lagi. Saya akan sebisa mungkin untuk bisa terus update.
Untuk kemarin, nggk up gara-gara harus menyelesaikan tugas sekolah yang belum dikumpulkan, yaitu tugas praktek video, jadi nggk sempat sama sekali buat ngetik. Mohon maaf kepada para pembaca.
__ADS_1