
Weng Lou menatap kedua mata Lin Mei yang kemudian dibalas balik oleh Lin Mei.
Dia tersenyum pahit lalu kemudian bangkit berdiri dan berjalan ke arah Lin Mei dan Man Yue.
Lin Mei mengulurkan tangannya pada Weng Lou. Melihat itu, Weng Lou pun mengayunkan tangannya, dan sebuah cincin penyimpanan muncul di telapak Lin Mei.
"Cincin penyimpanan itu untuk Yue, untuk isinya bisa kalian bagi dua," ucap Weng Lou. sambil menatap wajah Lin Mei yang tersenyum bahagia melihat cincin penyimpanan itu.
"Hehe, terima kasih."
Lin Mei kemudian memeriksa isi cincin penyimpanan itu, dan mengangguk puas melihat isinya.
"Hei hei.....tidakkah seharusnya kau memeriksanya ketika tidak ada aku?" pikir Weng Lou.
"Haaa....ini sudah larut. Bagaimana jika kita beristirahat? Wan, kalian menginap disini saja malam ini, aku akan membayar biaya penginapan kalian bertiga."
"Kurasa itu tidak perlu Lou, Tetua yang datang bersama kami pasti tidak akan senang karena kami tidak kembali ke penginapan malam ini," kata Weng Wan dengan cepat.
"Itu benar, dan lagi pula kami belum bilang kalau kami akan menerima cincin penyimpanan ini! Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan!" Weng Hua menunjuk wajah Weng Lou sambil menyipitkan matanya.
"Dengarkan Lou, lebih baik kalian tidur saja malam ini di penginapan ini. Selain untuk menghindari masalah yang akan terjadi dalam perjalanan pulang kalian, ini juga bisa kita pakai untuk saling berbagi cerita satu sama lain. Kalian berempat tidak bertemu satu sama lain selama beberapa bulan ini, pastinya banyak cerita yang ingin kalian bagikan satu sama lain, bukan?"
Weng Ying Luan yang hanya diam dan memperlihatkan mereka semua sejak tadi, akhirnya membuka suaranya. Dia sudah bisa melihat betapa berbahayanya Kota Hundan ini, entah ketika siang hari atau pun malam hari.
Saat dalam perjalanan dia pergi mencari Weng Lou sebelumnya, dia beberapa kali merasakan tatapan dark beberapa orang padanya. Tapi meski begitu, dia tidak terlalu mempedulikannya. Selain karena membuang-buang waktu saja baginya, tetapi juga karena menurutnya tidak baik jika selalu berurusan dengan sembarang orang di kota yang tidak terlalu dirinya kenal seperti Kota Hundan ini.
Weng Wan, Weng Hua, dan Weng Ning saling tatap satu sama lain. Sebenarnya mereka paham dengan hal ini, tapi mereka tidak mau terlalu merepotkan Weng Lou terlalu jauh lagi.
Dari pandangan mereka bertiga, mereka hanyalah beban saja bagi Weng Lou yang selalu memperhatikan mereka tanpa memperhatikan dirinya sendiri.
Tapi memikirkan bahwa yang dikatakan oleh Weng Ying Luan ada benarnya, akhirnya mereka bertiga pun kembali mengalah.
"Aahh.....baiklah baiklah....kami akan menginap di sini, tapi dengan satu syarat. Kami sendiri yang akan membayar biaya penginapan kami malam ini, jangan ada koin emas lagi yang kau keluarkan, Lou. Mengerti?"
"Mmmm.....ya baiklah."
Setelah mereka semua saling berbincang kurang lebih selama setengah jam, Weng Ying Luan membawa Weng Wan, Weng Hua, dan Weng Ning pada kakek tua pemilik penginapan di lantai 1 penginapan untuk memesan kamar bagi mereka bertiga.
__ADS_1
Ketiganya mendapatkan dua kamar di lantai 2, dengan Weng Hua dan Weng Ning satu kamar bersama, sama seperti Lin Mei dan Man Yue yang juga memesan satu kamar bersama.
Lokasi kamar Weng Hua dan Weng Ning tepat di samping kamar Lin Mei dan Man Yue, sedangkan Weng Wan memilih kamar yang terletak di samping kamar Weng Lou. Untungnya hampir tidak ada orang lain yang menginap di penginapan ini selain kelompok mereka, sehingga mereka bisa dengan bebas memilih kamar yang mereka inginkan.
Selepas itu semua, mereka pun beristirahat di kamar mereka.
***
Keesokan harinya, Weng Lou dan yang lainnya pun memulai rencana latihan mereka.
Mulai dari memperkuat pondasi beladiri mereka, meningkatkan kekuatan fisik tubuh, hingga mempertajam sensitivitas kekuatan jiwa mereka.
Weng Wan, Weng Hua, dan Weng Ning ikut berlatih bersama dengan Weng Lou dan lainnya atas ajakan dari Weng Lou juga.
Pada awalnya mereka menolak dengan alasan mereka harus kembali ke penginapan mereka dan bertemu dengan tetua mereka. Tapi kemudian Weng Lou memberikan mereka iming-iming teknik beladiri pada mereka masing-masing, yang membuat ketiganya langsung setuju tanpa berpikir dua kali.
Hari-hari pun berlalu, dan tanpa terasa mereka sudah tiga minggu berada di Kota Hundan.
Weng Wan, Weng Hua, dan Weng Ning tidak pulang sama sekali ke penginapan kelompok mereka selama waktu itu dan terus bersama dengan Weng Lou dan yang lainnya.
Tentunya hal ini membuat Weng Wan, Weng Hua, dan Weng Ning bertanya-tanya, akan tetapi mereka kemudian tidak terlalu mempedulikannya karena mereka bertiga akhirnya bisa berlatih bersama dengan Weng Lou lagi setelah sekian lama.
Apa lagi Weng Hua, dan Weng Ning selama tiga minggu ini juga memperkuat hubungan mereka dengan Lin Mei dan juga Man Yue, membuat mereka semakin betah di tempat itu.
Selama tiga minggu itu, mereka semua dengan rajin berlatih setiap harinya. Kondisi Weng Fang Di yang sebelumnya terluka parah kini juga sudah pulih total.
Ketika dia pulih, hal pertama yang ia lakukan adalah menceritakan semua yang terjadi padanya kepada Weng Lou dan yang lain. Tentunya reaksi dari Weng Lou dan yang lain sangatlah terkejut setelah Weng Fang Di memberitahukan semuanya pada mereka.
Setelah mendengarkan cerita dari Weng Fang Di membuat Weng Lou mulai berpikir kembali apakah keputusannya untuk membiarkan Sha Shou tetap hidup adalah keputusan yang tepat.
"Tidak perlu memikirkan itu, aku sudah melupakan apa yang telah ia perbuat kepadaku di masa lalu. Aku juga sudah mendengar kalau kau sampai membunuh dan menghancurkan Kelompok Darah bersama dengan rekanmu. Membiarkannya hidup adalah keputusan mu, jadi jangan sesali itu. Anggap saja kau membiarkannya hidup agar dia bisa merasakan penderitaan di dunia lebih lama lagi. Ah ya, ngomong-ngomong aku, sebagai seorang tetua berterima kasih banyak kepadamu, Weng Lou atas yang telah kau lakukan itu," ucap Weng Fang Di pada Weng Lou.
Mendengar ucapan dari Weng Fang Di, Weng Lou pun memilih untuk membiarkan saja Sha Shou yang saat ini telah menjadi budaknya.
Sementara kondisi Weng Fang Di yang telah membaik, Shan Hu yang sejak 3 minggu lalu Weng Lou tugaskan untuk berjaga di markas Kelompok Darah yang ada di Kota Hundan, kini telah mengalami peningkatan pesat.
Tiga minggu ini dia berlatih di bawah awasan langsung oleh Jian Qiang yang memilih untuk bersama dengan Shan Hu.
__ADS_1
Peningkatan dari Shan Hu bisa dibilang paling pesat jika dibandingkan dengan Weng Lou dan yang lainnya. Weng Lou tidak tau apa yang Jian Qiang lakukan pada Shan Hu hingga ia bisa berkembang sangat pesat, tapi yang pasti itu adalah kabar baik.
Mereka semua mengalami peningkatan yang signifikan, untuk alasan utama mereka berada di Kota Hundan ini, yaitu Turnamen Beladiri Bebas yang akan dimulai dua hari lagi.
***
Malam hari di Bumi, di sebuah wilayah yang tertutupi oleh salju sejauh mata memandang.
Sebuah rumah kayu berukuran kecil berdiri ditengah hamparan salju.
Cahaya lampu membuat kegelapan malam tidak bisa merambat masuk hingga kedalam rumah dan terhenti beberapa meter dari rumah kayu tersebut.
Di atas atap rumah kayu itu terlihat sosok seorang gadis berusia sekitar tiga belas tahun sedang duduk memandangi langit malam berbintang dan aurora yang bercahaya indah.
Gadis ini memiliki kulit putih yang sedikit pucat dikarenakan udara dingin di sekitarnya. Rambutnya berwarna hitam, dengan kedua pupil matanya juga berwarna hitam.
Wajahnya tampak cantik, tapi tidak bisa dibandingkan dengan kecantikan seperti Weng Ning dan Weng Hua.
Meski begitu ada ketertarikan tersendiri darinya. Yaitu senyuman kecilnya yang tampak mengandung banyak emosi di dalamnya.
"Putri Yi, sebaiknya anda segera masuk ke dalam rumah, udara dingin tidak baik untuk kesehatan anda."
Di belakang gadis itu, sesosok bayangan hitam muncul dan membentuk menjadi seorang pria tua yang terlihat berusia lima puluhan, dengan rambut separuh sudah memutih karena usia.
Gadis itu berbalik dan menatap pria tua sambil memperlihatkan senyumannya.
"Paman Matsumota, apakah anda pernah merindukan putra anda, Matsumota Ken?" tanya gadis yang dipanggil dengan Putri Yi itu pada pria tua di hadapannya.
Pria tua itu diam menatap wajah gadis itu, lalu memejamkan matanya dan menghadap ke langit, menatap ribuan bintang yang menerangi malam.
"Jika ditanya rindu, tentu saja saya merindukannya. Tapi semua yang dia lakukan ini adalah demi masa depan seluruh Dimensi. Sebagai seorang ayah, saya hanya bisa berharap dia selalu baik-baik saja dan senantiasa diawasi oleh Tuan Zhi Juan." Pria tua itu menghela napasnya lalu kembali menatap gadis itu.
"Anda sendiri, tidakkah anda merindukan saudara anda?" tanya balik pria tua itu.
"Ya, tentu saja aku merindukannya. Itu sebabnya aku selalu menatap ke langit malam, selalu berharap bisa kembali bertemu dengannya sebelum ingatan akan wajahnya menghilang dari ingatan ku. Tanggung jawabku juga tidak boleh aku tinggalkan, sambil menunggu kedatangannya.
Aku adalah Weng Yi, pewaris dari inti Dimensi tempat Ras Ilahi tinggal ribuan tahun yang lalu. Aku akan terus menjaga inti Dimensi ini sampai kebebasan yang sesungguhnya berhasil diciptakan dengan darah dari si tamak, The Beginning."
__ADS_1