
Shan Hu, dalam kondisi mengenaskan terbaring di atas tanah dan menatap langit siang hari.
Pandangannya sedikit pudar dan mulutnya sedikit bergerak seperti ingin mengucapkan sesuatu.
Zu Zhang, yang ada di atas udara segera memindahkannya ke ruang perawatan dan juga Yang Guang ke tempat duduknya dan diikat menggunakan kekuatan jiwanya.
"Arghh!!! Lepaskan aku!!! Biar kubunuh bajingan sialan itu! Hei!! Kubilang lepaskan aku!!"
Yang Guang memberontak dan berusaha keras untuk lepas dari ikatannya, sementara Weng Lou dan yang lainnya yang ada di dekatnya hanya bisa berpura-pura tidak melihatnya sama sekali.
Mereka masih tidak tau apa yang membuat Yang Guang bersikap seperti itu sehingga tidak mau memperkeruh keadaannya.
"Aku khawatir dengan kondisi Shan Hu," ucap Lin Mei yang berada di dekat Weng Lou.
"Aku juga, tapi kita saat ini harus tetap fokus karena tidak lama lagi salah satu dari kita akan bertarung," balas Weng Lou.
Di sisi lain, Zu Zhang yang baru saja memindahkan Yang Guang pun segera memperhatikan lapangan arena yang mana saat ini telah dalam kondisi rusak parah karena pertarungan Shan Hu melawan Yang Guang.
Dia pun mengeluarkan kekuatan jiwa miliknya, lalu kemudian membuatnya menutupi seluruh lapangan arena. Tak berapa lama, lapangan arena pun mulai diperbaiki sendiri dan beberapa saat kemudian lapangan sudah kembali seperti semula.
Zu Zhang menghela napasnya lalu kemudian segera menjentikkan jarinya dan memunculkan nama dua peserta yang akan bertarung di pertarungan kedua ini.
Seperti biasa, semua orang segera membaca nama yang dimunculkannya itu dan dari kuris para penonton terdengar sorakan yang cukup meriah memanggil dua nama itu.
Dua nama itu adalah Weng Hua dan Ying She. Ekspresi wajah dari Weng Hua segera berubah jelek membaca namanya, sementara Ying She hanya diam ditempat duduknya dan menghela napasnya.
Dia tanpa ragu segera melompat turun ke atas lapangan arena, sementara Weng Hua masih duduk diam di tempatnya dan menatap ke arah Weng Lou.
"Tidak perlu memaksakan dirimu, kau hanya perlu menunjukkan yang terbaik yang kau bisa," ucap Weng Lou padanya.
Wajah Weng Hua pun segera berubah kembali dan tersenyum kepada Weng Lou. Dia mengangguk lalu kemudian segera melompat ke lapangan arena.
Ying She yang melompat terlebih dahulu telah mengambil posisinya dan segera diikuti oleh Weng Hua. Keduanya mengambil jarak tepat lima puluh meter satu sama lain, yang membuat keduanya tampak sangat jauh.
__ADS_1
Tapi meski begitu, Zu Zhang tidak memprotesnya sedikit pun. Dirinya yang mengatakan mereka bebas untuk bertarung dari mana saja, jadi hal ini sama sekali bukanlah masalah baginya.
"Hmm ....baiklah kalian berdua, sebelum memulai pertarungan ini ada yang harus ku katakan untuk kalian berdua. Seperti yang kalian tau aku yang menjadi penanggung jawab dalam berlangsungnya Turnamen Beladiri Bebas kalian tahun ini, dan seperti yang aku katakan sebelum tahap kedua babak semifinal ini dimulai kalian bebas untuk menggunakan seluruh lapangan arena ini menjadi tempat pertarungan kalian.
Setiap serangan nyasar kalian, akan aku atasi sehingga para penonton tidak terkena serangan kalian. Namun meski begitu, aku berharap kalian tidak menggunakan jurus yang bisa merusak area secara luas yang mampu mengenai seluruh bangunan Arena Pertandingan ini. Meski aku akan mengatasinya, tapi itu sangat merepotkan bagiku.
Jadi kuharap, kalian tidak melakukannya, mengerti?" jelas Zu Zhang pada Ying She dan Weng Hua yang segera dibalas anggukan oleh mereka berdua.
Melihat jawaban mereka berdua Zu Zhang pun memandang ke arah para penonton yang masih bergemuruh sebelum menatap mereka berdua kembali.
"Baiklah, pertarungan ketiga, Ying She melawan Weng Hua, dimulai!" serunya yang kemudian tanpa ragu sama sekali, Ying She langsung melesat ke arah Weng Hua yang baru saja akan memasang kuda-kuda bertarungnya.
Dia dengan jari-jarinya yang diluruskan langsung menusuk lurus ke arah tenggorokan Weng Hua. Tidak siap akan hal itu, Weng Hua pun segera melapisi kedua tangannya dengan Qi, lalu menangkis tangan Ying She tersebut.
Bum!
Weng Hua pun langsung terlempar mundur karena benturan dari kedua tangan mereka, dan Ying She sudah terlihat akan melancarkan serangan keduanya.
Mengkertakan giginya, Weng Hua kemudian memukul udara, dan membuat tubuh berputar dan dia berhasil menghindar dari serangan Ying She.
Tsraakkk....
Weng Hua mendarat di tanah, dia kemudian segera mengaliri seluruh tubuhnya dengan Qi miliknya dan bersiap akan datangnya serangan Ying She yang ketiga kalinya.
Kali ini Ying She tidak melakukan serangan menggunakan jari-jarinya seperti sebelumnya, melainkan dia siap melakukan sebuah tendangan dengan kaki kirinya yang terlihat telah dilapisi dengan Qi miliknya.
"Tendangan, huh? Sepertinya kau sengaja memilih nya," ucap Weng Hua sambil mengerutkan dahinya.
Otot-otot kaki kanannya mulai mengencang, dan tepat ketika sosok Ying She tiba di hadapannya, Weng Hua pun melepaskan tendangannya sekuat tenaga.
BAMM!!!
Kaki kanan Weng Hua beradu dengan kaki kiri Ying She. Pertukaran dua serangan mereka itu menimbulkan riak udara kencang yang bertiup di sekitar mereka.
__ADS_1
Wajah Weng Hua tampak serius sementara Ying She masih memasang wajah biasanya, dan kemudian dia mulai mencondongkan badannya ke depan, lalu memberikan lebih banyak kekuatan pada kaki kirinya.
"Sialan...!" Weng Hua mengumpat dan dia pun pun terhempas karena kalah kekuatan dengan Ying She.
"Kalian keluarga Weng tidak mungkin bisa menang melawan ku yang berasal dari Keluarga Ying," ucap Ying She dengan dingin.
Dia pun membungkuk, lalu melompat ke udara. Di atas udara, Qi dalam jumlah besar melapisi kaki kanannya, dia kemudian segera menendang udara, dan bilah energi pun melesat ke arah Weng Hua
Tidak berhenti sampai disitu, Ying She terus melakukan tendangan yang sama hingga menghasilkan lebih dari sepuluh bilah energi yang melesat ke arah Weng Hua di bawah.
"Habislah sudah," gumam Ying She.
Sementara itu, Weng Hua hanya diam dan menerima semua serangan bilah energi tersebut tanpa berusaha untuk menghindarinya sama sekali.
Debu pun naik dan menutupi sekitar Weng Hua, membuat sosoknya tidak terlihat oleh orang-orang. Tak lama, debu itu mulai tertiup angin dan menampilkan sosok Weng Hua yang disekitarnya telah ditutupi oleh sebuah pelindung Qi ciptaannya.
"Ck, satu lagi masalah baru," ucap Ying She yang melihat hal itu.
Dia kemudian menarik kaki kanannya dan Qi yang lebih banyak mulai melapisi kakinya tersebut. Sedetik kemudian, dia pun menendang ke arah Weng Hua dan sebuah bilah energi berukuran besar bergerak cepat ke arah Weng Hua.
"Jika aku tidak bisa melawanmu dengan kekuatan fisik, maka aku akan melawan mu dengan pengendalian Qi ku." Weng Hua berbicara pelan dan mulai menghilangkan pelindung Qi yang ada di sekitarnya.
Pada kedua tangannya, muncul dia buah belati Qi yang dia ciptakan, dan tepat ketika serangan bilah energi milik Ying Guang itu datang padanya, dia pun memotongnya menggunakan kedua belatinya.
Syyaatt!
WHUS- PSSHHH!!!!
Tanah di kiri dan kanan Weng Hua langsung terpotong sangat dalam terkena potongan serangan energi tersebut, sementara sosok Weng Hua yang berdiri tegak diantaranya tampak baik-baik saja.
"Mana mungkin aku mau kalah begitu saja darimu, sialan. Setidaknya aku harus memberikan beberapa luka pada tubuhmu itu karena telah melukai sahabatku."
Weng Hua berbicara dan menunjuk Ying She yang masih berada di udara menggunakan belati di tangan kanannya.
__ADS_1