
Ular Kayu Hitam mendapatkan firasat buruk.
Baru kali ini dia merasakan teror dari kematian yang sebenarnya. Dia bisa merasakan seluruh tubuhnya yang bergetar tanpa sadar, seolah hanya dengan kata-kata, Lin Mei sanggup membunuhnya baik tubuh maupun jiwa.
Aku harus pergi dari sini! Pemikiran itu langsung muncul di kepala Ular Kayu Hitam.
Sulur-sulur tanaman yang ada di tubuh membentuk sayap di punggungnya, lalu mengepakkannya dan terbang menjauh dari Lin Mei.
Satu kepakan sayapnya dan dia telah menempuh jarak satu kilometer dengan begitu mudahnya.
Mata Lin Mei mengkilap dalam cahaya dingin saat melihat Ular Kayu Hitam yang melarikan diri.
"Kau pikir bisa kabur? Sayang sekali, sejak kau menerima tantangan dariku, takdir mu yang akan menjadi abu sudah ditetapkan."
Lin Mei menunjuk ke arah Ular Kayu Hitam yang sedang terbang menjauh darinya. Sekarang dia sudah berjarak empat kilometer dari Lin Mei, dan akan mencapai kabut.
Sebuah bola api kecil yang besarnya setengah ukuran kepalan tangan Lin Mei tercipta di ujung jari telunjuk Lin Mei.
"Bang."
*Phussshhh!!!*
Bola api itu ditembakkan dengan kecepatan yang benar-benar luar biasa. Jarak antara Lin Mei dengan Ular Kayu Hitam dengan sangat cepat dicapai oleh bola api itu dan mengenai telah punggung Ular Kayu Hitam.
Bola api itu meledak menjadi percikan api yang begitu kecil dan tersebar di punggung Ular Kayu Hitam. Saat percikan api mendarat di punggungnya, percikan api langsung berubah menjadi kobaran api yang dengan cepat meluas dan mulai membakar seluruh tubuh tubuhnya.
Ular Kayu Hitam berteriak panik, dia melepaskan seluruh Kekuatan Jiwa yang ada dalam dirinya dan mencoba menahan api yang membakar tubuhnya. Namun bukannya berhenti, api itu justru melah semakin membesar saat terkena Kekuatan Jiwa miliknya.
Pemandangan itu sama seperti seseorang yang membakar kertas tipis, lalu menuangkan minyak padanya. Api yang sebelumnya masih bisa dikendalikan jika diatasi dengan pikiran jernih, justru membesar menjadi kobaran api.
Sosok Ular Kayu Hitam di atas langit tampak seperti kayu bakar yang menjadi makanan api yang sedang membakarnya.
Hanya perlu waktu hitungan detik, sekujur tubuhnya berubah menjadi abu.
Tubuh besar Ular Kayu Hitam jatuh dari langit, dengan tubuhnya yang lebih dari setengahnya telah berubah menjadi abu. Ketika dia sampai menyentuh tanah, hanya kepalanya saja yang tersisa.
Kepala Ular Kayu Hitam itu bergetar hebat seperti kejang-kejang. Mulutnya terbuka lebar, dia ingin menjerit sejadi-jadinya, namun tidak ada suara yang bisa keluar. Hanya kepalanya saja yang tersisa sehingga tidak bisa menghasilkan suara.
__ADS_1
Kedua matanya menatap dengan putus aja, dia menyesal sudah mengambil keputusan untuk bertarung dengan Lin Mei. Seandainya dia memilih untuk menjadi bawahan Lin Mei, dia tidak akan mati dengan mengenaskan seperti ini.
Detik berikutnya, kepalanya telah berubah menjadi abu. Tidak ada yang tersisa dari dirinya sekarang. Dia telah mati jiwa dan raga, hanya dengan satu serangan dari Lin Mei!
Semua binatang buas bawahan Lin Mei menatap dengan kagum pada kekuatan yang ditunjukkan oleh Lin Mei. Ini adalah pemimpin mereka! Dia adalah Sang Phoenix Abadi! Penguasa Binatang Buas yang sebenarnya!
Naga Ular Kayu menonton pertarungan dua bawahannya melawan Lin Mei dari awal hingga akhir. Mendesis. Dia menoleh menatap Raja Singa yang masih berdiri di atas tanah dan juga telah menonton pertarungan dua ular Penguasa Jiwa.
Berbeda dengannya yang masih menundukkan kepala, Raja Singa mampu tetap berdiri kokoh seolah pancaran kekuatan Phoenix tubuh Lin Mei tidak mempengaruhinya sama sekali.
"Hei, naga lumut." Kambing Petapa tiba-tiba memanggil Naga Ular Hijau yang sedang memandangi Raja Singa. Naga Ular Hijau menoleh dan menatap pada Kambing Petapa, seolah menanyakan mengapa memanggilnya.
"Apa kau ingin tau kenapa aku mau mengikuti seorang anggota Keluarga Lin belaka meskipun aku adalah seorang Penguasa Jiwa puncak?"
Naga Ular Hijau berkedip, dia malas dan tidak tertarik sama sekali. Walau begitu, Kambing Petapa tetap melanjutkan kata-katanya.
"Itu semua karena dirinya memiliki kekuatan Phoenix yang lengkap. Dia bisa menyembuhkan, juga menghancurkan pada saat yang sama. Ini sama seperti Kaisar Phoenix ratusan tahun lalu. Jelas sekali dia adalah penerus Kaisar Phoenix, atau bahkan mungkin reinkarnasinya!" jelas Kambing Petapa dengan suara menggebu-gebu.
"Lalu memangnya kenapa? Meskipun dia adalah Kaisar Phoenix yang terlahir kembali sekalipun, aku dan penguasa hutan lainnya tidak pernah berada di bawah perintahnya. Bahkan para leluhur kami tidak ada satupun yang menjadi bawahannya. Kenapa aku harus mendengarkan perintahnya?!"
Ucapan Naga Ular Hijau terdengar tajam dan dingin. Namun kata-katanya terdengar sangat masuk akal. Jika para leluhurnya bahkan tidak pernah berurusan dengan Kaisar Phoenix, kenapa dia harus menundukkan kepalanya pada Lin Mei?
Kambing Petapa menggelengkan kepalanya dan menatap Naga Ular Hijau dengan rasa iba.
"Tidakkah kau langsung menyadarinya? Apakah perkembangan otak mu itu tidak mengimbangi besar tubuh mu? Sungguh mengecewakan......"
Mendengarkan kata-kata Kambing Petapa membuat Naga Ular Hijau tersulut emosi, namun dia tidak bisa bergerak sedikitpun dari tempatnya. Ini pasti karena tekanan kekuatan Phoenix pada tubuh Lin Mei.
"Sialan, kambing bau! Cepat katakan saja apa maksudmu, jangan membuatku semakin marah!"
Kambing Petapa diam sejenak. Matanya bergerak dan melihat Lin Mei.
"Apa menurutmu, kalian Naga Ular Hijau bisa memiliki kekuatan dari kehendak pemusnahan begitu saja? Apa kau tidak pernah berpikir, darimana asalnya kehendak pemusnahan itu?" tanya Kambing Petapa sambil menatap pada Naga Ular Hijau dengan tatapan penuh arti.
Naga Ular Hijau tidak perlu berpikir lama untuk menyadari maksud Kambing Petapa. Saat dia mendengar kata 'kehendak pemusnah dari Kambing Petapa, dia langsung tau maksud Kambing Petapa yang berbicara kepadanya.
"Itu.....itu tidak mungkin. Leluhur kami, Naga Ular Hijau pertama telah mengembangkan Racun Asap Hijau selama ratusan tahun. Dia mengasah kekuatan racunnya dalam setiap pertarungan yang dihadapinya sehingga menciptakan kehendak pemusnahan di dalam racun miliknya. Kehendak itu terlahir dari darah binatang buas yang tak terhitung jumlahnya yang telah menjadi saksi dari perkembangan kekuatan Racun Asap Hijau yang semakin kuat dalam setiap pertarungan Naga Ular Hijau." Naga Ular Hijau membantah dengan cepat.
__ADS_1
Akan tetapi, dalam kata-kata yang diucapkannya, ada perasaan ragu-ragu. Setelah dia mengatakan itu semua, hatinya juga merasakan perasaan gelisah yang membingungkan.
Dia baru kali ini memikirkan masalah ini. Jika bukan Kambing Petapa yang membahasnya, dia tidak akan pernah memikirkan asal dari kehendak pemusnahan dalam racun miliknya. Dirinya percaya bahwa leluhurnya telah mencurahkan segala usaha dan waktunya dalam menciptakan Racun Asap Hijau yang memiliki kehendak pemusnahan di dalamnya.
Namun setelah memikirkannya lebih jauh, dia menyadari bahwa mustahil kehendak pemusnahan bisa tercipta hanya dengan pertarungan-pertarungan yang dijalani oleh leluhurnya. Kehendak pemusnahan bukanlah sesuatu yang sederhana seperti pertarungan belaka.
Itu adalah wujud pemusnahan! Kehendak pemusnahan hanya akan bisa diwujudkan dalam pemusnahan itu sendiri!
Naga Ular Hijau mengerti, mustahil leluhurnya yang bukanlah binatang buas tak terkalahkan untuk menciptakan sebuah pemusnahan di Hutan Leluhur Ying, terutama dengan dua penguasa mutlak lainnya di dalamnya.
Menyadari ekspresi Naga Ular Hijau yang telah berubah sepenuhnya, Kambing Petapa pun mengangguk kecil.
"Benar sekali! Kehendak pemusnahan itu pasti didapatkan leluhur mu dari sang Kaisar Phoenix! Aku tidak tau bagaimana dia bisa memiliki kehendak pemusnahan itu, namun yang pasti, itu ada hubungannya dengan Kaisar Phoenix. Dari sejak dulu, kehendak pemusnahan hanya dimiliki oleh kekuatan Phoenix dan para Kaisar Phoenix selalu muncul di tiap-tiap generasi. Tidak pernah ada makhluk hidup lain yang bisa memiliki kehendak pemusnahan dalam diri mereka dan tetap bertahan hidup. Kekuatan Phoenix pasti telah campur tangan dalam makhluk itu jika seandainya ada yang bisa bertahan hidup."
Bagai terhantam palu besar, jiwa Naga Ular Hijau terguncang hebat. Itu menjawab segalanya! Segala kabut dan misteri kehendak pemusnahan dalam Racun Asap Hijau kini sudah menghilang lebih dari setengahnya.
"Ah.... jika begitu...."
"Tepat sekali! Dengan mengikuti sang Kaisar Phoenix saja hatimu akan bisa menjadi tenang. Jika kau tidak mau tunduk padanya, maka kehendak pemusnahan dalam dirimu akan diambil kembali oleh pemilik aslinya, dan kau akan mati menyisakan tumpukan abu."
Setelah mengatakan itu semua, Kambing Petapa akhirnya diam dan tidak berbicara lagi. Dia tidak menanyakan apa pilihan yang diambil oleh Naga Ular Hijau. Tidak, dia tidak perlu menanyakannya sama sekali karena dia sudah mengetahuinya.
Dia atas langit, Lin Mei dalam kobaran Api Phoenix menarik napas dalam-dalam.
Kobaran Api Phoenix mengecil dan tampak hanya berkobar dari tubuhnya saja. Dengan mengayunkan tangannya, pakaian muncul pada tubuhnya, setelah itu Api Phoenix benar-benar menghilang.
Tubuhnya agak linglung. Kepalanya terasa sangat pusing dan seluruh tubuhnya terasa mati rasa. Ini adalah efek samping dari penggunaan kekuatan garis darah keturunan Phoenix yang berlebihan. Efek yang dia rasakan bisa dibilang termasuk ringan. Pada suatu waktu, dia pernah mengalami beberapa memar di kulitnya juga mimisan selama beberapa menit tanpa henti.
Setelah menstabilkan dirinya, dia menoleh ke bawah, ke arah Naga Ular Hijau yang baru saja selesai berbicara dengan Kambing Petapa.
"Lalu, apa pilihan mu? Apa kau mau tunduk atau tidak?"
Mendengar pertanyaan Lin Mei, Naga Ular Hijau segera tersadar dari pemikirannya. Dia menatap Lin Mei dalam posisinya yang menunduk.
Meski ada beberapa keengganan dalam dirinya, namun keengganan itu hanya karena sekedar ego nya sendiri yang tidak mau menjadi bawahan seorang gadis yang bahkan belum dewasa dan hanya berada di ranah Penyatuan Jiwa belaka.
Tapi ada sesuatu yang jauh melebihi perasaan enggan tersebut.
__ADS_1
Itu adalah......harapan! Dia selalu bermimpi untuk menjadi kuat, melampaui leluhurnya, sang Naga Ular Hijau pertama. Dia ingin seperti Ular Putih Berkepala Sembilan yang menemukan keberuntungannya dan menjadi penguasa sebuah wilayah yang sangat luas. Dia ingin melampaui batasan yang ada dalam dirinya, dan dia melihat, bahwa Lin Mei adalah kunci baginya untuk menembus batasan itu.
"Aku.....mau."