Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 620. Sarung Tangan Pencuri Langit


__ADS_3

Setelah keluar dari Paviliun Harta Karun, Weng Ying Luan tidak singgah kemanapun lagi. Dia segera bergegas kembali ke kediaman Keluarga Lin, tempat mereka tinggal saat ini.


Dalam perjalanannya, dia tidak bisa berhenti memikirkan semua uang yang sudah dengan lelah dia cari dan habis hanya dalam beberapa hari saja.


Tapi kemudian, saat dia mengingat bahwa semua uangnya itu ternyata cukup untuk membeli semua bahan yang dia butuhkan untuk membuat senjata, emosinya menjadi rumit. Empat bahan yang dia dapatkan dari Paviliun Harta Karun sebenarnya didapatkannya dengan harga yang sangat murah.


Weng Ying Luan memang tidak terlalu mengetahui harga tepatnya, tapi keempatnya jelas harusnya memakan paling sedikit dua ratus ribu koin emas. Namun dia hanya harus kehilangan sebanyak seratus delapan puluh, jelas itu adalah keuntungan nyata.


Tapi sekarang dia tidak memiliki satupun koin emas di dalam cincin penyimpanan, hanya beberapa koin perak dan perunggu yang merupakan sisa.


Jelas hatinya terasa sakit. Namun demi mendapatkan sarung tangan buatan Weng Lou, ini adalah harga yang sepadan yang harus dia rela lakukan.


"Sialan, Lou! Kau dengan sengaja membuatku membeli bahan-bahan yang kubutuhkan untuk membuat senjata itu sendiri! Kau pasti ingin melihat puas melihatku hancur seperti ini melihat banyaknya koin emas yang telah ku habiskan!" Weng Ying Luan mengutuk dalam hatinya.


Akhirnya, setelah beberapa saat berlalu, dia sampai di istana dan segera pergi menemui Weng Lou di taman atas.


Waktu sudah hampir sore ketika dia datang menemui Weng Lou.


Ketika dia berada di taman, dia mendapati Weng Lou sedang memegang dua buah palu di masing-masing tangannya. Dia tidak mengayunkan kedua palu itu hanya memegangnya dan menahan diri untuk tidak melepaskannya dari kedua tangannya.


"Sembilan puluh sembilan....." gumamnya.


Dia tidak mempedulikan kedatangan Weng Ying Luan, dan memilih fokus dalam latihannya.


"Seratus........Ffhuuuuu........"


Dengan perlahan Weng Lou meletakkan kembali kedua palunya ke tanah dan menarik napas dalam sebelum kemudian membuangnya panjang.


"Kau akhirnya kembali, aku pikir akan menghabiskan waktu beberapa hari lagi sebelum kau kembali. Jadi, apa kau berhasil mendapatkan semuanya?"


Weng Ying Luan mengangguk dan kemudian melemparkan cincin penyimpanan yang dia gunakan untuk menyimpan semua bahan-bahan yang telah dia beli.


Weng Lou menangkapnya dan segera memeriksanya. Dia mengangguk puas, lalu segera pergi meninggalkan taman dan pergi menuju ke lantai dasar istana.


"Hei, kau tidak menanyakan berapa banyak uang yang ku habiskan untuk membeli semua itu?" tanya Weng Ying Luan dengan tak percaya.


Namun Weng Lou hanya memberikannya sebuah tatapan seperti menatap orang aneh.


"Apa? Kau menghabiskan hampir satu juta koin emas, bukan? Aku sudah tau." Weng Lou kembali melangkahkan kakinya, hendak melanjutkan perjalannya.


"Tunggu! Bagaimana kau bisa tau?! Aku belum pernah melihat mu berjalan-jalan di kota sebelumnya, laku bagaimana kau tau harga tiap bahan itu?!" Jelas Weng Ying Luan kaget karena Weng Lou tau dengan baik uang yang dia habiskan.


Decakan lidah pun terdengar dari Weng Lou. Dia menoleh ke belakang dan menggelengkan kepalanya, tampak menyayangkan kebodohan Weng Ying Luan.


"Kau saja yang bodoh. Apa kau tidak tau harga bahan mineral untuk membuat senjata rata-rata sama di tiap tempat. Paling banyak perbedaannya mungkin hanya beberapa ribu saja, jika lebih dari itu maka kemungkinan bahan yang dijual berasal dari tempat yang jauh sehingga telah disesuaikan dengan biaya pengangkutannya. Sementara itu, kota di kediaman Keluarga Lin jelas menjual harga bahan mineral yang jauh lebih murah dari harga di tempat lainnya.


Itu karena mereka bisa menghasilkan bahan mineral secara mandiri karena memiliki tambang bahan mineral mereka sendiri. Aku sudah memperkirakan harga yang akan kau keluarkan jadi aku memeriksa terlebih dahulu uang yang kau telah siapkan. Tentu saja, aku terkejut kau memiliki uang yang jumlahnya hampir pas-pasan. Jika seandainya uang mu kurang, aku berencana menambahkannya sedikit, tapi karena cukup, jadi aku tidak menambahkannya.


Sekarang, aku permisi, ada sarung tangan yang harus ku buat. Jika tidak ada kesibukan, kau bisa menunggu di sini, dan menemani Du Zhe berlatih. Adapun jika kau bosan, kau bisa mencoba latihan dengan palu-palu di situ. Kau ini sudah memiliki Qi dan Kekuatan Jiwa setara di ranah Penyatuan Jiwa tahap 5, tapi tubuh fisik mu begitu lemah. Cobalah melatihnya, setidaknya sampai tahan terhadap satu pukulan ku."


Dengan begitu, Weng Lou melambai pada Weng Ying Luan dan akhirnya pergi dari situ. Dia tidak menunggu Weng Ying Luan berbicara lebih jauh.

__ADS_1


Weng Ying Luan hanya bisa melihat kepergian Weng Lou dalam diam dan menghela napas panjang.


Dia telah meremehkan kemampuan berdagang Weng Lou. Sepertinya tidak hanya dirinya yang ahli dalam belanja, pikirnya dalam hati.


Setelah Weng Lou benar-benar pergi, Weng Ying Luan pun mengalihkan tatapannya ke kedua palu yang ada di atas tanah yang baru saja Weng Lou pakai untuk latihan. Dia berkedip, tidak yakin apa yang harus dilakukannya.


Dirinya diam sejenak, berpikir, sebelum akhirnya bergerak maju dan mengambil salah satu palu itu.


Dia tidak mengambilnya dengan satu tangan, melainkan langsung dengan dua tangan. Dia telah lama tau tentang dia palu ini, dan seberapa beratkan keduanya. Bahkan Weng Lou dengan tubuhnya yang seperti monster, hanya bisa mengayunkan satu palu, dan hanya sanggup sekedar mengangkat kedua palu selama waktu yang dibutuhkan untuk menarik seratus napas.


Menarik napas, dia kemudian memberikan semua kekuatan pada kedua tangannya, dan kemudian mulai mengangkat palu itu.


Yang tidak dia duga, ketika dia mulai mengangkat palu itu, tanah pijakannya langsung memunculkan retakan dimana-mana, seolah sedang menahan berat yang tak terkira.


Pembuluh darah bisa terlihat di kedua tangan, serta leher dan kepalanya.


Tangannya bergetar hebat dan kakinya gemetaran. Dia sekuat tenaga mengangkat palu itu dan berhasil mengangkatnya setinggi dada, sebelum kemudian segera menjatuhkannya ke tanah.


*BEDBUG!!*


Cekungan langsung tercipta begitu paku itu menghantam tanah. Lantai paling atas istana bergetar pelan.


"HAAAAHHHHH......HAAAAAHHHHHH......."


Napas Weng Ying Luan tak beraturan dan tersengal-sengal.


Kepalanya terasa ringan setelah selesai mengangkat palu itu. Dia bisa melihat langit cerah di langit dan merasakan beberapa panggilan di telinganya.


"Gila! Aku nyaris saja menyebrang ke sungai kematian! Apa-apaan dengan berat palu ini!? Beratnya sama sekali tidak wajar!" kutuk Weng Ying Luan.


"Delapan belas......."


"Sembilan belas......"


"Dua puluh......"


Du Zhe membuang napas panjang dan menurunkan palu di tangannya dengan pelan.


Dia menarik napas dalam dan membuangnya sekali lagi. Setelah mendapatkan kembali tenaganya, dia pun sekali lagi mengangkat palunya.


Hasil latihannya selama beberapa hari jelas luar biasa, hanya dalam waktu satu minggu dia kini telah berhasil bertahan selama dua puluh tarikan napas. Padahal, belum lama semenjak dia hanya bisa bertahan selama waktu lima tarikan napas.


Hal yang menjadi faktor utamanya adalah tekad dan juga teknik yang diberikan oleh Weng Lou agar dia tidak membuang banyak tenaganya ketika sedang mengangkat palu. Keduanya membantunya bertahan lebih lama seiring waktu.


Melihat Du Zhe yang baru saja selesai sudah kembali mengangkat palunya, Weng Ying Luan hanya bisa terdiam.


Dia menatap palu di bawahnya dan mengerutkan keningnya.


"Aku tidaklah selemah itu, aku pasti bisa melakukannya! Tunggu saja, Lou! Kau akan lihat aku juga bisa mengayunkan palu ini!"


Dan dengan begitu, dia pun mulai berlatih mengangkat palu itu di taman sepanjang hari bersama dengan Du Zhe.

__ADS_1


Hari-hari pun terlewati dengan cepat, tak terasa satu minggu lainnya telah berlalu, dan Weng Lou kini masuk dalam saat-saat kritis dalam pembuatan senjata Weng Ying Luan.


Di dalam ruang tempa, Weng Lou terlihat sedang memberikan beberapa ukiran pada sepasang sarung tangan yang terlihat seperti terbuat dari logam.


Tangannya dengan cepat membuat ukiran-ukiran rumit menggunakan sesuatu seperti pisau ukir kecil yang tampak bercahaya jingga. Jelas pisau itu sedang dalam suhu sangat panas, namun Weng Lou memegangnya tanpa masalah dan terus menggerakkan tangannya, mengukir dengan lihai.


Setelah beberapa saat, akhirnya dia menyelesaikan ukirannya.


Dia kemudian melambaikan tangannya, dan mengeluarkan dua butir kristal transparan yang ditempelkannya di tengah-tengah punggung tangan tiap sarung tangan.


"Sekarang, tinggal memberikan sentuhan terakhir," ucap Weng Lou.


Dia menarik napas sejenak, sebelum kemudian berseru nyaring, "Weng Ying Luan!!!!"


Seruannya itu segera memenuhi seluruh istana, dan akhirnya terdengar oleh Weng Ying Luan di taman.


Ketika dia mendengar panggilan itu, dia dengan cepat melepaskan palu yang baru saja dia angkat setinggi lututnya, dan buru-buru masuk mencari Weng Lou.


Dia mengedarkan Kekuatan Jiwa nya hingga memenuhi seluruh istana. Setelah menemukan lokasinya, dia pun bergegas pergi menuju Weng Lou. Tak perlu waktu lama dia akhirnya sampai di ruangan yang dipakai Weng Lou untuk menempa senjatanya.


Kedua matanya langsung terpaku pada kedua sarung tangan di depan Weng Lou.


"Cepat, teteskan beberapa darah mu!" seru Weng Lou yang segera membuat Weng Ying Luan tersadar.


Dengan buru-buru dia berjalan ke arah Weng Lou. Dia kemudian menyayat kedua telapak tangannya, dan membiarkannya menetes di atas sarung tangan itu.


Sebuah reaksi mengejutkan segera terjadi. Qi dan Tenaga Dalam alam di lingkungan sekitar mereka segera ditarik masuk ke dalam sarung tangan dengan kecepatan yang menakjubkan. Tak berapa lama, seluruh istana mulai bergetar, Qi dan Tenaga Dalam alam yang ada di sekitar dihisap dengan gila-gilaan oleh sepasang sarung tangan itu.


Tak berhenti sama di situ, hisapannya segera menjalar lebih jauh hingga mencapai wilayah pusat Kediaman Keluarga Lin dimana para anggota yang merupakan keturunan langsung tinggal.


Orang-orang yang sedang berlatih Qi dan Tenaga Dalam semuanya berhenti ketika merasakan bahwa semua Qi dan Tenaga Dalam alam di sekitar sedang dihisap habis menuju ke satu tempat.


Lin Nushen di dalam Kastil Kediaman Keluarga Lin mengerutkan keningnya. Dia segera melambaikan tangannya, dan membuat sebuah pelindung di sekitar istana tempat tinggal kelompok Weng Lou.


Pelindung itu hanya mengelilingi sekitar istana saja, tidak menutup bagian atas istana, sehingga Qi dan Tenaga Dalam di langit segera dihisap oleh sarung tangan.


Awan-awan di langit di atas istana tampak bergemuruh. Seluruh langit dia tas istana menjadi gelap, seolah-olah akan ada badai yang datang.


Tanpa di duga, sebuah petir biru tersambar dan menghantam istana. Petir itu sangat kuat namun tidak bisa menggores sedikit pun istana itu. Bahkan bekas gosong tidak bisa ditemukan.


Setelah sambaran petir itu, datang lagi petir-petir yang lain dan tampak seperti sedang mengguncang bumi.


Semua ini terjadi karena sarung tangan yang diciptakan oleh Weng Lou. Namun Weng Lou tidak peduli pada kejadian yang terjadi di dunia luar, dia lebih peduli pada apa yang ada di hadapannya saat ini.


Kedua sarung tangan itu dengan rakus menghisap Qi dan Tenaga Dalam alam, seolah-olah tidak akan pernah merasa puas.


Setelah beberapa menit, akhirnya kedua sarung tangan itu berhenti menghisap Qi dan Tenaga Dalam alam. Keduanya mulai bersinar terang dan bertransformasi. Pada awalnya keduanya tampak sangat kusam dan biasa, namun setelah bertransformasi, kedua sarung tangan itu mulai memperlihatkan wujud aslinya.


Keduanya berwarna biru pudar dan berubah menjadi sedikit transparan dengan banyak garis-garis simbol berwarna emas yang terus berkedip-kedip.


"Selesai, sekarang berikan nama pada keduanya," ucap Weng Lou.

__ADS_1


Weng Ying Luan diam sejenak sebelum kemudian mendapatkan ide nama.


"Mari menyebutnya, Sarung Tangan Pencuri Langit."


__ADS_2