Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 489. Usaha Terakhir Ying She, Sihir Teleportasi Raksasa Qian Yu


__ADS_3

Mendengar perkataan Ying She, Weng Lou pun tak bisa menyembunyikan senyum ejek di wajahnya.


Satu-satunya alasan Ying She masih bisa bertahan melawan Weng Lou sampai saat ini adalah karena Weng Lou memilih untuk tidak langsung mengalahkannya karena merasa tertarik dengan pedang yang dimiliki olehnya.


Jika saja dia memilih untuk menyelesaikan ini dengan cepat, maka Ying She sudah akan dikalahkannya tepat ketika dia tiba di tempat ini.


Ying She sendiri sudah merasa Weng Lou masih belum serius melawannya sampai saat ini, namun begitu juga dengan dirinya. Dia masih banyak keahlian yang belum dia keluarkan dari balik bajunya untuk melawan Weng Lou karena tidak mau sampai rahasianya terbongkar.


"Hei, nak. Kuberi kau saran, kalahkan pemuda itu sekarang, sebelum sesuatu yang tidak kau inginkan terjadi." Suara Ye Lao terdengar di alam kepala Weng Lou.


"Kau menggunakan Kitab Keabadian lagi? sudah aku katakan, jangan memakainya dalam turnamen ini," ucap Weng Lou yang tidak senang.


"Jangan menyalahkan ku, kau yang salah karena tidak juga mengeluhkannya dan malah membuat pertarungan ini semakin lama. Dan juga, aku memiliki firasat yang tidak enak semenjak melihat Pedang Pemecah Pikiran berada di tangan anak itu," jelas Ye Lao.


Weng Lou pun tak menjawab lagi. Kekuatan jiwa miliknya perlahan masuk kembali ke dalam tubuhnya, dan Pisau Pencabut Nyawa miliknya pun bergerak masuk ke dalam balik bajunya.


"Kau sama sekali tidak bisa menggunakan kekuatannya meski memiliki Qi berunsur logam sekalipun, jujur aku merasa kecewa." Weng Lou berkata pada Ying She.


"Jangan banyak omong kosong lagi, maju dan serang aku jika kau berani! Kau hanyalah seorang pengecut yang memakai senjata dari jarak jauh!" cibir Ying She.


Sringg...


Pedang Naga Malam disarungkannya kembali oleh Weng Lou, dan Weng Lou mulai mengepalkan tangan kanannya dengan kuat, lalu menatap Ying She dengan senyumnya.


"Kau kalah dariku dari aspek pengendalian Qi dan juga pengendalian kekuatan jiwa. Menurutmu, aspek apa yang bisa membuatmu bisa menang melawanku?"


"Aspek? Aku hanya perlu membunuhmu untuk memperlihatkan seberapa kuatnya aku!"


"Kau tau, aku sudah mendengar banyak kali kau mengatakan ingin membunuhku, tapi sampai saat ini kau masih belum melakukannya juga. Aku mulai ragu kau sanggup melakukanya."


Kaki kanan Weng Lou menapak ke depan, dan Qi mulai keluar dari dalam tubuh Weng Ning dan berkumpul di belakang tubuhnya.


Tangan raksasa yang sebelumnya dia buat saat di dalam perut ular, kini dia buat kembali dan kali ini dalam bentuk yang jauh lebih besar dan padat.


Meski begitu, Ying She sama sekali tampak tidak gentar, justru dia malah memasang ekspresi mengejek pada Weng Lou.


"Ku tebak hanya ukurannya saja yang besar, tetapi tidak dengan kekuatannya," ucapnya yang kemudian dibalas dengan tatapan serius dari Weng Lou.


"Yaa.....kau coba saja ini, apakah kekuatannya besar atau tidak."


Kaki kanan Weng Lou yang dia pijakan di depan, menendang tanah dengan kuat dan sosoknya pun langsung melesat sangat cepat ke arah Ying She.


Tangan raksasa yang diciptakan nya ikut bergerak mengikutinya, dan tepat ketika Weng Lou sampai di depan Ying She, dia pun memukulkan sekuat tenaga tangannya ke arah Ying She dan tangan raksasa miliknya pun segera melesat dan menghantam dengan keras tubuh Ying She.


"Urgh-!!"


Mata Ying She membelalak, tubuhnya seperti dihantam oleh sebuah palu raksasa dan kemudian dia pun langsung terlempar dan menghantam bukit yang berada tidak jauh di belakangnya dan menghancurkannya berkeping-keping dengan tubuhnya.


Tubuhnya tidak berhenti meski telah mengucurkan sebuah bukit, dia terus terdorong hingga sejauh seratus meter lebih hingga kemudian dia pun berhenti tepat ketika menabrak bukit keempat.


Sebuah kawah tercipta di bukit yang ia tabrak itu. Terlihat Ying She memuntahkan darah dalam jumlah banyak, dan terbatuk-batuk sambil berusaha keluar dari tempat pendaratannya.


Sementara itu, terlihat sosok Weng Lou yang melesat ke arahnya dari kejauhan dengan tangan raksasa miliknya masih mengikutinya dari belakang. Ying She mengkertakan giginya melihat kedatangan Weng Lou.


Matanya memerah, dan langsung melompat keluar.


Mendadak aura pada dirinya berubah drastis dan tubuhnya pun mulai membesar. Sisik-sisik mulai bermunculan pada kulitnya, dan kedua matanya berubah menjadi sepasang mata reptil layaknya seekor ular.


Pada saat yang sama, Weng Lou telah tiba di tempat dan telah kembali mengayunkan tangan nya ke arah Ying She, dan tangan raksasanya lun bergerak siap memukul.


Ying She menatap tajam ke arah Weng Lou. Dia mengangkat tangan kanannya, dan secara ajaib tangannya itu memanjang dan langsung menahan tangan raksasa milik Weng Lou.


"Perubahan Tubuh Ular...." ucap Ying She yang entah Weng Lou salah melihat atau tidak, dia sepertinya baru saja mendesis seperti layaknya seekor ular.


Sudut mata Weng Lou melihat bahwa gerakan tangan raksasanya sepenuhnya terhenti dan sama sekali tidak bisa digerakkan nya lagi.


Dia pun membuka kepalan tangannya dan berniat meledakkan tangan raksasa dari Qi nya tersebut, akan tetapi dengan cepat tangan Ying She yang memanjang menyerap Qi miliknya dan menghilangkan tangan raksasanya sepenuhnya.


"Tak bisa apa-apa tanpa Qi mu, huh?!"


Ying She menarik kembali tangannya yang memanjang, lalu mendadak lehernya tampak seperti mengembung. Weng Lou yang melihatnya menjadi sedikit merasa aneh tapi pada saat yang sama dia meningkatkan kewaspadaannya.


Tepat beberapa detik kemudian, Ying She membuka mulutnya dan api pun menyembur keluar darinya, yang kemudian mengarah pada Weng Lou.

__ADS_1


Weng Lou dengan santai mengayunkan tangannya dan kobaran api itu langsung terbelah, dan melewatinya begitu saja tanpa membakarnya sedikitpun.


Akan tetapi, sesaat dia membela kobaran api tersebut, duri-duri logam raksasa langsung melonjak keluar dari dalam tanah dan bergerak ke arahnya. Dia dengan cepat mengepalkan tangannya dan meninju ke depan.


KRACKK!!!


Duri-duri logam itu hancur berkeping-keping. Weng Lou segera mencari keberadaan Ying She, dan berhasil menemukannya yang sudah berada tidak jauh di belakangnya.


Kedua tangannya kembali memanjang dan siap menyerang Weng Lou. Keluar kobaran api dengan warna berbeda pada kedua tangannya yang langsung bisa diketahui oleh Weng Lou alasannya. Ying She menggabungkan api dan logamnya menjadi satu hingga Qi logamnya mulai mempengaruhi kobaran apinya.


Weng Lou tidak gegabah, dia membuka kedua telapak tangannya, dan cahaya keperakan mulai bersinar darinya.


"Purnama Malam Terakhir."


Tepat ketika Weng Lou mengatakan itu, dia pun memberikan serangan dan sebuah serangan energi berbentuk tapak kembar melesat ke arah kedua tangan Ying She yang sedang bergerak ke arah Weng Lou.


Ying She yang melihatnya terus membuat tangan nya bergerak dan kemudian menabrak serangan energi tersebut yang sebenarnya merupakan tindakan yang sangat bodoh.


BAMMM! PRUAAACKKK!!!


"KAARGHHH!!!!"


Jeritan kesakitan keluar dari mulut Ying She tepat ketika tangannya menabrak serangan energi Weng Lou.


Terlihat beberapa meter darinya, kedua tangannya meledak karena menabrak serangan energi Weng Lou dan menghancurkannya hingga hanya tersisa setengahnya saja. Tangan Ying She segera kembali menyusut dan memperlihatkan tangannya yang telah hilang dari siku ke bawahnya.


Mata Ying She memerah sepenuhnya menahan rasa sakitnya. Dia meronta-ronta di atas tanah seperti kesurupan dan terus menerus memaki-maki nama Weng Lou.


Sampai kemudian rasa sakit yang dia rasakan itu mulai menghilang dan digantikan dengan rasa nyeri yang hebat, Ying She pun menolehkan kepalanya pada sosok Weng Lou yang terlihat sedang berjalan ke arahnya dengan telapak tangannya yang sudah memancarkan cahaya keperakan yang sama seperti sebelumnya.


"Kehck.....!!! AARHHH, AKU TIDAK MUNGKIN KALAH!!!!" jerit Ying She dengan suara nyaring.


Weng Lou mengerutkan dahinya mendengar itu, dia mempercepat langkahnya dan siap mengakhiri hidup Ying She, namun kemudian secara tiba-tiba sebuah pola aneh dan berukuran sangat besar muncul dari atas tanah, dan memuat lebih dari setengah bagian arena yang ada di dekat bagian tengah lapangan arena.


Bersamaan dengan itu, Ying She terlihat kembali memasang senyum mengerikannya dan perlahan bangkir berdiri dengan sisa kekuatan nya.


"Jika aku akan mati, maka kau dan teman-teman mu juga akan mati bersamaku," ucap Ying She.


"Gawat nak! Mana dalam jumlah besar melonjak di dalam tubuh anak itu!" Ye Lao berseru panik kepada Weng Lou.


"Aku tidak tau! Yang jelas dia akan melakukan sebuah sihir ledakan sebentar lagi. Sebuah sihir ledakkan yang mencakup setengah dari lapangan arena*!" jelas Ye Lao.


Weng Lou terdiam mendengarnya. Meski sudah dikalahkan oleh Weng Lou namun Ying She sampai terakhir tetap tidak menyerah.


Segera dia menarik Pedang Naga Malam nya dan bersiap menebas leher Ying She tapi dia segera dihentikan oleh Qian Yu.


"Jangan membunuhnya! Kau malah akan membuat dia meledak seketika itu juga, muridku!" seru Qian Yu.


"*Tapi, jika aku tidak menghentikannya maka dia akan meledakkan dirinya!"


"Jangan khawatir, ikuti arahan ku. Yang harus kita lakukan adalah menyerap Mana miliknya terlebih dahulu. Selama Mana pad dirinya menghilang maka dia tidak akan bisa meledakkan dirinya*."


Mendengar penjelasan dari Qian Yu, Weng Lou pun tampak diam dan berpikir sejenak.


"Caranya?"


"Pakai Pedang Naga Malam milikmu. Kau hanya perlu mengarahkannya saja pada anak itu dan Mana akan langsung terhisap ke dalamnya. Aku akan menyiapkan sebuah sihir teleportasi, jaga-jaga jika Pedang Naga Malam tidak mampu menampung semua Mana itu."


Weng Lou pun segera melakukan sesuai dengan yang dijelaskan oleh Qian Yu padanya.


Dia mengangkat Pedang Naga Malam dan menunjukkannya ke arah Ying She, dan benar saja cahaya kebiruan keluar dari dalam tubuh Ying She dan masuk ke dalam Pedang Naga Malam.


Ying She yang melihat kejadian ini pun hanya diam. Rasa sakit pada lukanya masih terasa beberapa kali, dan itu membuat kemarahan padanya sukses teralihkan.


Sementara itu, tidak jauh dari Weng Lou, sosok Weng Ying Luan dengan setumpuk tubuh binatang buas di kedua tangannya berjalan mendekati Weng Lou.


"Apa yang terjadi di sini?!" tanyanya dengan suara kaget.


Weng Lou menoleh dan menatapnya sejenak, dahinya mengerut melihat dia yang malah mendekatinya.


"Kenapa kau kesini, bodoh?! Pergilah! Sebentar lagi dia akan meledakkan dirinya!!!" seru Weng Lou pada Weng Ying Luan.


Weng Ying Luan yang tidak paham maksud dari Weng Lou terus bergerak ke arahnya sementara Pedang Naga Malam milik Weng Lou telah mengeluarkan cahaya kebiruan terang yang berasal dari Mana yang dimiliki oleh Ying She.

__ADS_1


Mendecakan lidahnya, Weng Lou kemudian mengeluarkan sebuah perisai lebar dari dalam ruang penyimpanannya dan melesatkan nya ke arah Weng Ying Luan.


Dia berniat mendorong nya menjauh, akan tetapi Weng Ying Luan justru mengira bahwa Weng Lou ingin memberikannya perisai tersebut, sehingga dia malah menangkapnya dan membawa perisai itu bersamanya.


"Argh! Sialan kau, Luan! Menjauhlah dari sini! kau dengar aku?!"


Di saat Weng Lou membagi perhatiannya pada Weng Ying Luan, dari arah utara, sosok Lin Mei bersama dengan Mao Xiang, Jiaolo, dan si Kera Hitam Petarung terlihat bergerak ke arah Weng Lou juga.


Weng Lou baru menyadari mereka saat keempatnya masuk dalam seratus meter darinya. Menyadari kedatangannya membuat Weng Lou semakin sakit kepala.


Ying She yang ada di hadapannya saat ini berniat meledakkan dirinya, dan dia sendiri tidak yakin apakah bisa menghentikannya.


Jika Ying She memakai Qi maka dia bisa dengan mudah mengatasinya, akan tetapi Ying She memakai Mana yang Weng Lou sendiri masih tidak bisa melakukan apapun pada itu tanpa bantuan Qian Yu.


Saat pikiran Weng Lou semakin tak terarah kemana-mana, cahaya pada Pedang Naga Malam bertambah terang dan terjadi getaran hebat dari pedang itu.


"Guru?! Apa yang terjadi?!" tanya Weng Lou dengan panik.


"Ini buruk, jumlah Mana miliknya melebihi batas yang dapat ditampung oleh Pedang Naga Malam...." ucap Qian Yu yang tidak tau harus mengatakan apa lagi.


"Lou, dengarkan aku. Aku akan meminjam tubuhmu sebentar dan segera memakai Sihir Teleportasi sama seperti waktu itu, tapi dengan jarak yang lebih jauh," lanjut Qian Yu.


"*Jangkauan yang lebih jauh?"


"Aku tidak bisa memastikannya, jumlah Mana ini terlalu besar. Aku harus menggunakan semua Mana ini atau jika tidak Pedang Naga Malam akan hancur dan jiwaku akan terlepas."


"Baiklah, guru! Segera pakai tubuhku. Aku tidak bisa membahayakan teman-teman ku hanya karena orang gila ini berniat meledakkan dirinya sendiri*."


Seusai mengatakan itu, perlahan Weng Lou dan Qian Yu bertukar tempat. Pupil mata Weng Lou


terlihat berubah menjadi biru terang, dan Mana yang ada pada Pedang Naga Malam segera kembali keluar, dan masuk ke dalam tubuh Weng Lou.


Urat-urat cahaya berwarna kebiruan pun muncul pada tubuh Weng Lou, dan memenuhi seluruh tubuhnya.


Qian Yu yang berada menggunakan tubuh Weng Lou segera merapalkan mantranya, dan pola-pola aneh berwarna biru terang segera menutupi setengah dari lapangan arena.


"Apa yang ingin kau lakukan?! Kau pikir dapat kabur dari ledakan yang aku hasilkan? Hah, kau akan mati sebelum bisa melakukannya!" ejek Ying She yang kemudian semakin membuat Mana pada dalam dirinya bergejolak.


Qian Yu mengkertakan giginya, dia pun melakukan pola-pola tangan, sebelumnya kemudian menempelkan telapak tangannya di tanah.


"Dengar muridku, ada satu lagi yang harus ku katakan padamu."


"Apa itu, guru?"


"Aku tidak bisa menjamin kalian bertiga akan terlempar pada tempat yang sama, tapi yang pasti jangkauan teleportasi ini akan sangat jauh, yang bahkan menurut melebihi luas Wilayah Tengah tempat kita berada saat ini," jelas Qian Yu yang telah meselesai menyiapkan sihir teleportasi nya.


Weng Lou terdiam mendengar ucapannya, dan berpikir sejenak, sebelum akhirnya tertawa pelan.


"Tenang saja guru, kami bertiga ini kuat. Mau seberbahaya apapun tempat kami muncul nanti, kami pasti bisa bertahan." Weng Lou menjawab dengan suara penuh keyakinan.


"Baguslah, kau harus selalu berpikiran positif seperti itu. Kalau begitu, ini dia. Persiapkan dirimu."


Mendadak, pola-pola berwarna biru yang muncul di arena mengeluarkan cahaya terang, yang kemudian membuat tempat Weng Lou dan yang lainnya tidak terlihat karena cahaya tersebut.


Zu Zhang yang ada di atas arena tampan sangat terkejut dengan itu. Dia sebelumnya tidak mendeteksi apapun karena Ying She menggunakan Mana miliknya, sementara dia tidak tau apapun tentang itu.


Namun saat cahaya terang dari pola milik Qian Yu menutupi mereka, dan dia tidak bisa melihat apapun dari balik cahaya itu, Zu Zhang pun sadar bahwa telah terjadi sesuatu yang tidak bagus.


"Yi Chen?! Apa kau tau mengenai kemampuan murid mu ini?!" Zu Zhang bertanya pada Yi Chen yang ada di atas atap arena.


"Tidak....aku sama sekali tidak tau. Dia belum pernah menggunakan seratus persen kekuatannya selama di sekte....."


Zu Zhang mendecakan lidahnya, dia segera bergerak turun dan berniat menghentikan apa yang ingin dilakukan oleh Ying She dan Weng Lou.


Akan tetapi, sebelum dia bisa mencapai mereka, cahaya pada arena pun menghilang, dan sosok Weng Lou serta yang lainnya juga ikut menghilang dari arena.


Zu Zhang melebarkan mulutnya, dan segera menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan mereka semua, akan tetapi tidak menemukannya.


Dia pun menoleh ke atas, dan melihat Yi Chen yang telah bangkit berdiri dari tempatnya.


Bersamaan dengan hilangnya Weng Lou dan yang lainnya, Yi Chen pun juga tidak bisa merasakan lagi keberadaan ketiga muridnya melalui gelang yang telah dia berikan pada mereka bertiga.


Selama ini dia bisa melacak mereka bertiga karena gelang itu, Tapi sekarang dia tidak bisa merasakannya.

__ADS_1


""Apa yang terjadi?!""


__ADS_2