
Senyum Weng Lou kemudian memudar dan berganti menjadi senyum kecil pada sudut bibirnya.
Dia menempatkan kedua tangannya di depan, dan memasang sikap kuda-kuda siap bertarung.
Weng Wan menyipitkan matanya, dia tidak langsung menyerang seperti rekan-rekan murid Keluarga Leluhur Weng nya yang lain. Dia memprediksi bagaimana Weng Lou akan menyerang, atau gaya bertarung apa yang akan dilakukan olehnya.
Dirinya bukanlah orang pintar seperti Weng Hua yang bisa memahami situasi, atau pun Weng Ning yang mampu memeriksa seseorang secara detail, namun dia sudah berusaha untuk bisa menjadi seorang yang berguna tanpa bantuan teman-temannya semenjak mereka sampai ke Keluarga Leluhur Weng.
Karena dia sudah berjanji kepada Weng Lou, bahia ia akan menjadi kuat dan mampu melampauinya. Meski saat ini dia tidak menyadari bahwa yang ada di depannya adalah Weng Lou itu sendiri.
Mengalirkan Qi pada kedua golok di tangannya, Weng Wan pun memasang kuda-kuda khas bertarungnya.
Kaki kanannya ia majukan beberapa centimeter kedepan, sementara kaki kirinya sedikit di miringkan masuk ke dalam. Posisi ini sangat berguna ketika ingin menerjang ke arah lawan, atau pun dalam bertahan karena tumpuan kaki kiri telah diperkuatnya.
Lapisan Qi pada kedua goloknya kemudian mulai memadat hingga seperti menjadi satu bagian yang sama dengan kedua goloknya.
"Apa kau sudah siap?! Kita mulai lohh!!!"
Setelah mengatakan itu, sosok Weng Lou pun menghilang dari pandangan Weng Wan, dan detik berikutnya dirinya muncul di samping kanan Weng Wan, dengan kaki kirinya yang menendang secara horizontal ke perut Weng Wan.
BUCKKKK!!!!!
Tubuh Weng Wan terlempar mundur begitu menerima tendangan dari Weng Lou.
"Ack!!!"
"Apa-apaan serangannya ini?! Itu langsung melukaiku dari dalam!" jerit Weng Wan dalam hatinya.
Setelah tubuhnya kembali ke tanah, dia langsung memposisikan dirinya untuk kembali memasang sikap kuda-kuda dan kedua goloknya langsung disilangkan nya di depan dadanya.
BAMM!!!
Serangan lainnya masuk, dan mengenai tepat di perkemahan kedua golok miliknya. Namun kali ini tubuh Weng Wan tidak terlempar sama sekali, dirinya hanya terdorong mundur dan mengakibatkan tanah yang ia pihak terseret.
"Tubuhmu tahan juga yah!" seru Weng Lou yang kembali muncul di samping Weng Wan.
Kali ini dia tidak melakukan serangan apapun, melainkan hanya berbicara biasa. Tapi meski begitu, Weng Wan yang sedari tadi sudah memasang posisi siap menerima serangan apapun, memilih untuk melompat mundur dan menjauhi Weng Lou.
"Kau!"
Weng Wan sampai tak bisa berkata-kata. Dia baru kali ini melihat seseorang yang memiliki kecepatan luar biasa memiliki besar kekuatan yang luar biasa juga.
Biasanya, para Praktisi Beladiri memusatkan 1 saja fokus utama mereka dalam mendalami dunia beladiri. Jika mendalami peningkatan kecepatan bergerak, maka orang itu akan tetap fokus belajar mempercepat setiap gerakan yang bisa ia lakukan.
__ADS_1
Kebanyakan mereka mendalami peningkatan kecepatan bergerak adalah seorang pembunuh seperti Du Bishou yang dilawan Weng Lou contohnya. Karena mendalami kecepatan bergerak sebagai fokus utama, kekuatan fisik atau tubuh mereka jauh lebih lemah dari yang berada di tingkat praktik yang sama.
Hal ini juga berlaku pada orang-orang yang fokus dalam meningkatkan besar kekuatan mereka. Mereka akan terus fokus meningkatkan besar kekuatan yang bisa mereka keluarkan, namun biasanya kecepatan bergerak mereka tidaklah secepat para pembunuh. Ambil Weng Wan sebagai contoh nyata. Dia mendalami peningkatan kekuatan, tapi gerakan kecepatannya bahkan tak bisa disamakan dengan Weng Lou sama sekali.
Di saat Weng Lou masih berdiri dan menatap Weng Wan yang menjauhinya, tiba-tiba duri-duri es dan juga bilah-bilah angin melesat dan mengarah padanya.
Tanpa menoleh sama sekali, Weng Lou melompat tinggi ke udara, dan berdiri di atas lapisan Qi buatannya.
"Kenapa kalian baru bergabung? Aku sudah menunggu kalian menyerang ku dari tadi loh," ucap Weng Lou sambil menoleh ke arah Weng Hua dan Weng Ning.
Dia tersenyum kepada keduanya. Sepertinya mereka berdua telah menjadi teman akrab selama menjadi bagian dari murid Keluarga Leluhur Weng, pikir Weng Lou.
"Mundur lah Wan, kita akan bertarung melawannya bersama."
Weng Hua berbicara dan melesat ke samping Weng Wan bersama dengan Weng Ning.
Weng Hua mengalirkan Qi pada kedua kakinya, dan kemudian Qi mulai bersinar lalu memancarkan cahaya hijau dan biru tua yang menutupi dari ujung kaki hingga betisnya.
Sementara Weng Ning membuka kedua telapak tangannya, yang sudah mengeluarkan cahaya biru pucat yang mengeluarkan hawa dingin yang menusuk.
Berkedip beberapa kali, Weng Wan pun tertawa pelan, lalu menyarungkan kembali kedua goloknya.
Dia mengepalkan tangannya, dan Qi pun mulai menutupi kedua kepalan tangannya.
"Aku jadi teringat ketika kita bertiga bertarung melawan Lou, dan tetap kalah telak." Weng Hua ikut berbicara.
"Jika dia di sini saat ini, dia akan bisa melihat perkembangan kita selama ini," ucap Weng Ning.
Ketiganya pun langsung memasang posisi siap bertarung, dan tak lama kemudian mereka bertiga langsung melesat menyerang ke arah Weng Lou dengan Weng Hua paling depan.
TACKKKKK!!!!
Sebuah tendangan vertikal keras mendarat pada tempat Weng Lou berdiri, namun sosok Weng Lou sudah tidak ada lagi di situ, melainkan berada di belakang Weng Hua.
"Menunduk Hua!" seru Weng Ning yang kemudian memberikan sebuah serangan tapakan pada punggung Weng Lou.
Akan tetapi, sebuah pelindung Qi tipis muncul, dan menghalangi hawa tapak itu mengenai tubuhnya.
Dengan gerakan cepat, Weng Lou melompat maju, dan menerjang ke arah Weng Ning yang ada di hadapannya. Dengan tapaknya yang memancarkan cahaya keemasan, Weng Lou melancarkan serangan tapaknya pada pundak Weng Ning dan membuatnya terpental mundur dan menabrak tubuh Weng Wan di belakangnya.
"Cih, jangan terlalu banyak bergerak kau!"
Weng Wan yang menyambut tubuh Weng Ning, dengan sigap membantunya untuk berdiri stabil kembali, dan langsung melayangkan sebuah tinju pada Weng Lou yang berniat untuk melancarkan serangan susulan kepada mereka.
__ADS_1
PHA! FHUSH! PSH!
Dua buah pukulan keras menyusul setelah pukulan pertama, lalu kemudian pukulan demi pukulan lainnya mulai di lancarkan oleh Weng Wan.
Tanpa melangkahkan kaki sedikit pun, Weng Lou menghindar dan menangkis semua serangan itu, dan membuat Weng Wan menjadi sedikit jengkel.
Weng Hua menyadari bahwa mustahil bagi Weng Wan untuk bisa mengalahkan Weng Lou sendirian.
Dia dengan cepat ikut masuk kedalam pertarungan, dan memilih untuk menyerang ke arah kedua kaki Weng.
"Mereka masih suka memakai pola serangan ini ternyata," ucap Weng Lou dalam hatinya.
Dia tidak berusaha menghindari serangan itu sama sekali, dan membiarkan tendangan kerasa dari Weng Hua mengenainya.
BDAAMM!!!!!
Penghalang Qi lainnya muncul, dan menghalangi tendangan keras itu, tapi kemudian sesuatu yang mengejutkan terjadi.
Krack!
Penghalang itu retak! Ini pertama kalinya sejak beberapa waktu pelindung Weng Lou mengalami kerusakan karena serangan mentah seperti saat ini.
"Hohoho.....kau pintar juga ternyata, menumpuk dua lapisan Qi elemen angin dan air milikmu agar menciptakan efek kerusakan yang dua kali lebih besar," ucap Weng Lou sambil tersenyum.
Di saat perhatian Weng Lou masih berada pada lapisan Qi yang diretakkan oleh Weng Hua, sosok Weng Ning sudah kembali menyerang Weng Lou.
Kali ini dia tidak akan ceroboh lagi.
Memusatkan pemadatan Qi pada tangan kanannya, cahaya biru pucat yang sebelumnya mulai tampak jauh lebih terang dan membuat perhatian Weng Lou kembali. Tapi itu sudah terlambat.
Terlihat tapak Weng Ning sudah berada tepat di depan wajah Weng Lou yang memasang ekspresi terkejut, namun dengan senyum kecil di sudut bibirnya.
BAMMM!!!!!!
Asap karena hawa dingin mengepul di udara, dan menutupi sosok Weng Lou di dalamnya.
Selama beberapa detik hening, Weng Baohu Zhe, bersama dengan para murid yang ia lindungi sebelumnya mulai percaya bahwa Weng Ning berhasil melukai Weng Lou.
Tapi kemudian, sebuah angin tipis berhembus, dan menghilangkan debu, memperlihatkan sosok Weng Lou yang masih tampak baik-baik saja. Tidak ada yang berbeda darinya selain alis mata, dan ujung rambutnya yang sedikit memutih karena tertutup oleh es dingin.
"Itu tadi cukup bagus." Weng Lou berbicara dengan nada tenang.
"Maka sekarang giliran ku lagi."
__ADS_1