
Di atas tempat tidur, Weng Lou duduk dalam diam dan merenungkan apa yang telah terjadi sebelumnya di ruangan Lin Nushen.
Dia memiliki pandangan buruk tentang wanita itu, dan sepertinya tidak akan berubah. Namun kebenciannya itu teralihkan sepenuhnya pada seseorang yang jauh lebih dia benci saat ini. Orang itu tidak lain adalah Zhi Juan.
Sejak pertemuan pertamanya dengan pria itu, dia sepertinya tidak pernah mendapatkan perasaan baik tentangnya. Apalagi saat mengingat bahwa dia telah mengambil kemampuannya untuk menggunakan Qi, Weng Lou hanya bisa menahan diri untuk tidak meraung marah.
Saat ingatan sebelumnya muncul di kepalanya, ketika sengatan listrik putih mengenai jantungnya, kemarahannya hanya semakin menjadi-jadi.
Namun dia saat ini hanya bisa menyimpan semua amarah itu di dalam hatinya, lagipula dia tidak akan bisa berbuat apa-apa jika benar-benar berhadapan dengan Zhi Juan. Meski percaya diri dengan kemampuannya dan tekad yang dia miliki, jika dibandingkan dengan kekuatan yang dimiliki Zhi Juan, maka Weng Lou hanya terlihat seperti seorang anak kecil yang berusaha berkelahi dengan pria dewasa yang berotot.
"Aku tidak menyadari hal ini sebelumnya, tapi segel di jantung ku ternyata sangat kuat hingga bisa membuatku kehilangan kesadaran begitu saja. Seperti yang kuduga, kekuatanku masih terlalu lemah. Aku harus bertambah kuat. Aku tidak akan bisa melindungi siapapun dengan kekuatanku yang sekarang ini."
Dia mengepalkan tangannya erat. Dalam pikirannya, dia sedang menentukan berbagai macam cara agar dia bisa meningkatkan kekuatannya tanpa harus meningkatkan tingkat praktiknya.
Ketika dia masih tenggelam dalam pemikirannya, sosok salah satu dari sebelas Penguasa Jiwa yang melayani Lin Nushen muncul tepat di depan pintu kamar Weng Lou. Butuh beberapa saat untuk Weng Lou menyadari kedatangannya, yang mana hanya membuat Weng Lou semakin merasa bahwa dirinya sangat lemah.
Bahkan seorang Penguasa Jiwa biasa tidak bisa kuhadapi dengan kekuatan ku yang sekarang ini. Benar-benar lemah, terlalu lemah!
"Silahkan masuk," ujar Weng Lou dengan tenang.
Tanpa memberikan jawaban, pintu kemudian terbuka, dan memperlihatkan sosok berkerudung merah berjalan masuk ke dalam kamar. Sosoknya yang tertutup oleh jubah bertudung, tidak bisa menutup identitas sepenuhnya sebagai seorang perempuan Weng Lou bisa langsung menyadarinya dalam sekali lihat. Terutama dari caranya berjalan masuk yang sangat menunjukkan bahwa dia seorang perempuan.
Dan juga, ada satu hal lagi yang membuat Weng Lou yakin dia adalah seorang perempuan. Dua buah gundukan di dadanya, tidak bisa ditutupi oleh tudungnya, terlebih miliknya cukup besar dari rata-rata orang yang dikenal oleh Weng Lou.
__ADS_1
Weng Lou harus mengakui, meski umurnya belum benar-benar masuk dalam usia dewasa, tapi penampilan tubuh perempuan bertudung itu telah mengalihkan dirinya untuk. Hanya sesaat, tidak lebih. Dia langsung segera menjadi fokus pada orang di depannya, terutama dia harus mengingat bahwa orang ini adalah seorang Penguasa Jiwa.
Tapi, meski hanya sesaat, perempuan itu telah menangkap tindakan Weng Lou dengan kedua matanya.
"Apakah orang-orang dari Keluarga Weng memang memiliki tatapan tak senonoh seperti itu pada orang yang baru saja dia temui?" tanya sosok itu dengan suara dingin.
Namun meski tampak menghina dan dingin, suaranya juga terdengar indah, ini menjadi poin lainnya yang tanpa sadar Weng Lou perhatikan.
"Ehem, aku minta maaf. Aku hanya tidak sengaja." Weng Lou berdeham pelan. Dia menghindari tatapan perempuan itu dari balik tudungnya.
Weng Lou bisa mendengar suara dengusan dari perempuan itu sebagai balasan kata-katanya.
"Terserahlah, aku datang ke sini karena diperintahkan oleh Kepala Keluarga. Dia mengatakan bahwa kau diperbolehkan melakukan apapun yang kau inginkan di tempat ini, namun ada beberapa batasan yang harus kau patuhi. Yang pertama, kau dilarang melangkahkan kaki keluar dari sini, kecuali rekan-rekan mu yang lain, Kepala Keluarga tidak peduli dengan apa yang mereka mau lakukan.
Weng Lou hanya diam. Dia berpikir sejenak sebelum mengangguk paham. Perempuan itu pun tak berlama-lama dan langsung segera pergi dari tempat itu dalam sekejap.
"Jadi sekarang aku adalah tahanan rumah? Betapa lucunya. Ya, lagipula aku juga tidak memiliki rencana untuk pergi dari sini sampai aku berhasil meningkatkan kekuatan ku. Kalau begitu, sepertinya sudah saatnya bagiku untuk berlatih kembali. Aku tidak boleh tertinggal dari yang lainnya, aku yakin Luan juga menekan tingkat praktiknya, sama seperti ku, tapi dia telah berada di tingkat yang lebih dariku. Sedangkan Mei, yah dengan bakatnya dia tidak akan kesulitan untuk menjadi semakin kuat."
Setelah memantapkan dirinya, Weng Lou kemudian merubah posisinya menjadi duduk bersila. Dia mulai bermeditasi dan mengedarkan Kekuatan Jiwa di dalam tubuhnya menjadi sebuah aliran deras yang berputar ke seluruh tubuhnya.
Ini adalah bentuk latihan yang dia sempat dapatkan secara tidak sengaja. Sebelumnya dia belum pernah mencobanya karena berpikir tidak perlu menggunakan metode latihan seperti ini, namun setelah tidak memiliki Qi, dia sadar bahwa satu-satunya yang bisa dia latih selain tubuhnya adalah Kekuatan Jiwa nya, dan cara paling efektif adalah metode yang sedang di lakukan saat ini.
Melalui pikirannya, dia membuat Kekuatan Jiwa tampak seperti sungai deras yang akan melewati daging dan organ tubuhnya secara terus menerus. Hal ini akan mempercepat Kekuatan Jiwa nya habis, tapi di sisi lain, pemulihan Kekuatan Jiwa nya juga akan semakin bertambah.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, pengurangan yang terjadi pada Kekuatan Jiwa, tidak akan bisa menyamakan diri dengan pemulihan yang terjadi. Hal ini yang menyebabkan Kekuatan Jiwa bisa bertambah lebih banyak. Namun resikonya adalah tubuh dan pikiran orang yang melatih cara seperti ini bisa terluka parah.
Itu sebabnya dibutuhkan tubuh yang kuat serta kekuatan mental yang memadai untuk menggunakan metode ini, dan Weng Lou jelas sangat sesuai dengan kedua kriteria tersebut.
***
Waktu kemudian berlalu dengan cepat, tanpa sadar Weng Lou telah berlatih selama delapan jam lebih, dan hari telah menunjukkan waktu lewat tengah malam.
Dia membuka kedua matanya dan menatap sekelilingnya yang tampak gelap karena malam.
Menoleh ke luar, Weng Lou melihat malam berbintang dengan langit jingga seperti sedang sore hari. Langit di kediaman Keluarga Lin memang seperti ini, dikarenakan mereka berada di tengah-tengah lautan lava dan tepat berada di atas gunung berapi, membuat langit tampak berwarna jingga gelap, meski bintang-bintang dan bulan tidak bisa menutupi bahwa waktu telah malam.
"Haah.....cara ini cukup efektif ternyata. Tidak kusangka teknik latihan ini tidak hanya menambah jumlah Kekuatan Jiwa, tetapi juga membantu memperkuat tubuh dan pikiran orang yang melatihnya. Tidak sampai setengah hari, Kekuatan Jiwa ku bertambah 0,25%! Jika aku terus melatihnya dalam dua minggu penuh tanpa henti seharusnya Kekuatan Jiwa ku bisa bertambah hingga sepuluh persen!"
Tapi ide itu langsung dengan cepat dibuang jauh-jauh oleh Weng Lou. Mau sekuat apapun dirinya, dia tidak akan sanggup melatih cara ini selama dua minggu penuh. Hanya delapan jam saja sudah membuat seluruh tubuhnya mengalami luka dalam, yang meski tidak begitu serius, namun jika dilakukan tanpa henti akan menimbulkan luka yang jauh lebih serius.
"Dua minggu tanpa henti itu tidak masuk akal, tapi dua belas jam sehari seharusnya masih memungkinkan. Aku bisa berlatih dua belas jam, sedangkan dua belas jam yang lain untuk memulihkan tubuhku. Dengan begitu, dalam satu bulan aku bisa mendapatkan manfaat peningkatan sepuluh persen itu!"
Akhirnya Weng Lou dipenuhi dengan tekad baru. Dia telah menentukan tujuannya jangka pendeknya.
"Hm...aku akan istirahat sekarang. Besok pagi aku harus melihat perkembangan Du Zhe dan memberikan beberapa arahan padanya, dia pasti akan senang."
Dengan begitu Weng Lou memutuskan untuk menghentikan latihannya dan bermeditasi, memulihkan tenaganya yang sudah hilang karena latihan delapan jam penuh.
__ADS_1