Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 656. Lin Mei (I)


__ADS_3

Beberapa saat yang lalu, di dalam ledakan cahaya hijau.


Lin Mei berdiri terpaku saat cahaya hijau menerpanya wajahnya dan kemudian seluruh tubuhnya.


Berbeda dari yang dia pikirkan, cahaya hijau itu ternyata terasa dingin. Bukan dingin yang menyengat, melainkan rasa dingin yang tidak bisa dijelaskan oleh Lin Mei.


Dia merasa, damai.


"Ah..... jadi seperti ini rasanya saat kematian datang menghampiri mu," ucap Lin Mei dengan suara pelan.


Matanya menatap dengan tenang pada kedua tangannya yang mulai menunjukkan tanda-tanda keretakan seperti sebuah kaca tipis yang akan hancur berkeping-keping saat disentuh sedikit saja.


Dia menyaksikan saat kedua tangannya itu berubah menjadi abu sedikit demi sedikit. Mulai dari ujung jarinya, hingga mencapai lengan atasnya. Lin Mei tidak bisa merasakan lagi tangannya sepenuhnya, walau yang telah hancur menjadi debu baru lengan atasnya saja.


"Mungkin.....aku memang anak yang tidak berguna, sama seperti yang kakak katakan padaku."


Senyuman sedih muncul di wajah Lin Mei.


Kilasan ingatan muncul dalam kepalanya. Itu adalah ingatan saat dirinya masih berada di Pulau Pasir Hitam, saat dia belum bertemu dengan Weng Lou di Sekte Langit Utara.


Lin Mei baru berusia delapan tahun. Dia berdiri berhadapan dengan Kakak nya yang berusia tiga tahun lebih tua darinya. Dia adalah seorang perempuan yang cantik dan dikagumi oleh Lin Mei.


Namun dalam kecantikannya itu, ada perasaan gelap yang dingin dan merendahkan saat dirinya berdiri menatap Lin Mei.


"Apa mau mu? Aku sedang sibuk, panggil saja ayah atau ibu untuk menemani mu bermain," kata kakaknya dengan suara jengkel dan dingin.


Lin Mei kecil tampak tidak terganggu dengan ucapan kakaknya, dia merasa kakaknya memang memiliki sifat seperti itu jadi dia tidak mempermasalahkan atau merasa aneh. Dengan riang dia mengeluarkan sebuah kipas yang disembunyikan di belakangnya.


"Ini, aku membuatkannya untuk kakak! Aku mengumpulkan beberapa bulu Burung Vermilion milik ayah yang rontok tiap pagi lalu menggabungkannya dan membuat kipas darinya!"


Dengan lugunya Lin Mei berjalan ke arah kakaknya dan menyodorkan kipas dari bulu itu kepadanya. Kakak Lin Mei menatap kipas itu dengan dingin dan kemudian mengalihkan tatapannya pada Lin Mei yang memegangnya.


Bukannya senang dia malah menunjukkan wajah yang semakin tak bersahabat.


*Pak!*


Dia menepis kipas itu dari tangan Lin Mei dan membuat kipas itu terlempar ke samping.


"Sudah kukatakan padamu berulang kali, jangan bersikap seakan kau akrab dan dekat dengan ku. Kita memang adalah kakak dan adik, namun hubungan kita hanya sebatas status saja. Kau tidak perlu bersikap seolah kita ini adalah kakak dan adik yang sesungguhnya, aku mengabaikan mu dan kau juga mengabaikan ku. Itu sangat mudah, kenapa kau tidak mau melakukannya? Apa kau sengaja bersikap akrab seperti itu untuk memancingku? Memangnya kenapa jika kau memiliki garis darah Phoenix lengkap?! Kau tidak lebih dari lalat pengganggu bagiku!"


Dengan jengkel kakak Lin Mei mendorong tubuh Lin Mei dan membuatnya tersandung terjatuh ke lantai.


Dia kemudian berjalan melewatinya tanpa sedikitpun menoleh untuk melihat Lin Mei.

__ADS_1


Ketika dia sudah pergi, Lin Mei yang ada di lantai segera bangkit berdiri dan berjalan mengambil kipas bulu yang dibuatnya.


"Haaah.... lagi-lagi kakak marah kepadaku. Padahal aku sudah bersusah payah membuat kipas ini dengan bantuan dari ibu." Lin Mei menghela napasnya. Dia menepuk pelan kipas dan membersihkan debu yang menempel karena terjatuh ke lantai.


"Tapi aku tidak akan menyerah. Suatu hari kakak akan mau bermain denganku seperti dulu, dan kami akan bersenang-senang menghabiskan waktu bersama."


Pemikiran itu membuat senyuman di wajah Lin Mei menjadi semakin lebar dan dia pun pergi ke kamarnya untuk menyimpan kipas buatannya.


Ingatan kemudian berganti.


Lin Mei kini berusia sembilan tahun. Berdasarkan umurnya, dia siap sepenuhnya dilatih dalam beladiri dan mendapatkan pelajaran dari guru pribadinya.


Kakaknya, yang selama ini tidak menyukainya secara mengejutkan mengajak Lin Mei untuk bertarung. Waktu itu Lin Mei sudah berada di Dasar Pondasi tingkat 3 walau belum pernah berlatih beladiri sebelumnya. Ini karena garis darah keturunan Phoenix miliknya yang lengkap sehingga membuat bertambah kuat seiring usianya bertambah.


Kakaknya yang berusia dua belas tahun telah berada di Dasar Pondasi tingkat 11 dan tidak akan lama lagi naik ke Dasar Pondasi tingkat 12 dan akan naik ke ranah Pembersihan Jiwa.


Karena hal ini, banyak orang yang tidak setuju dengan ajakan kakak Lin Mei, terutama dari ibu Lin Mei. Tapi Kepala Keluarga Lin, yang tidak lain adalah ayah mereka berdua secara mengejutkan menyetujuinya dengan beberapa persyaratan yang harus dipatuhi oleh kakak Lin Mei.


Persyaratannya adalah dia tidak boleh menggunakan kekuatan Tingkat Praktik beladirinya, baik itu kekuatan tubuh, Tenaga Dalam, ataupun Qi. Dia hanya diizinkan untuk menggunakan kekuatan garis darah keturunan Phoenix untuk bertarung dengan Lin Mei. Lin Mei juga hanya akan menggunakan kekuatan garis darah keturunan Phoenix miliknya.


Kakak Lin Mei menyanggupinya dan dia pun akhirnya bertarung dengan Lin Mei menggunakan garis darah keturunannya.


Sayangnya, ayah Lin Mei tidak memperhitungkan bahwa membiarkan pertarungan ini terjadi, akan menyebabkan menghancurkan nasib salah satu putrinya.


Sedangkan Lin Mei, dia mampu menembakkan bola-bola api kepada kakaknya.


Dalam pikirannya waktu itu, jika dia bisa mengalahkan kakaknya, maka kakaknya akan mengakuinya dan mau bersikap baik kepadanya seperti dulu, sayangnya Lin Mei salah mengartikan maksud dan tujuan kakaknya.


Meski berbeda jauh secara Tingkat Praktik beladiri, namun Lin Mei mampu mengungguli kakaknya dalam beradu kekuatan garis darah keturunan. Kakaknya terus terpojok karena bola-bola api yang ditembakkan oleh Lin Mei.


Tepat saat kakaknya akan kalah, dia mengeluarkan sesuatu dari dalam lengan bajunya. Tidak ada yang menyadari hal ini selain beberapa Tetua dan ayahnya.


Tangannya diayunkan dan kobaran api merahnya secara tiba-tiba berubah warna menjadi sedikit jingga dan mengenai wajah Lin Mei.


Lin Mei menangis kesakitan begitu terkena oleh kobaran api. Wajahnya terasa terbakar, padahal sebelumnya saat api kakaknya mengenainya dia hanya akan merasa sedikit hangat saja. Namun kali ini berbeda.


Wajah Lin Mei terbakar oleh api jingga gelap dan hampir membakar seluruh wajahnya. Untungnya ayah mereka dengan cepat mengambil tindakan dan memadamkan api itu dari wajah Lin Mei.


Saat api menghilang, terlihat luka bakar yang cukup besar di wajah sekitar mata Lin Mei.


Tidak ada tanda-tanda pemulihan dari luka bakar itu, padahal kekuatan garis darah keturunan Phoenix nya masih aktif yang seharusnya menyembuhkannya dengan cepat.


Orang-orang yang menonton terkejut dengan hal ini dan mereka mulai berbisik-bisik satu sama lain.

__ADS_1


"Kalian melihatnya?"


"Iya! Wajah Puteri Mei tidak sembuh setelah terkena api itu!"


"Apa artinya ini?!"


"Bodoh! Itu jelas artinya kekuatan garis darah keturunan Phoenix milik Puteri Mei tidak sekuat milik kakaknya!"


"Tapi dia memiliki garis darah yang lengkap!"


"Lalu? Memangnya kenapa jika dia memiliki garis darah yang lengkap? Kekuatannya yang membuktikan apakah dia layak atau tidak."


"Benar sekali. Kakaknya jauh lebih kuat darinya. Memiliki garis darah yang lengkap tidak membuatnya bisa mengalahkan kakaknya."


"Cih....sayang sekali. Dia hanya membuat garis darah keturunan Phoenix yang lengkap itu menjadi sia-sia. Harusnya kakaknya yang memiliki itu, kenapa malah dia?"


Diskusi itu terdengar jelas di telinga ayah Lin Mei, namun dia tidak menghiraukannya. Yang dia pedulikan adalah putri kecilnya yang ada di pelukannya.


Lin Mei terus meringis kesakitan walau api telah dipadamkan dari wajahnya.


Dahi ayah Lin Mei mengerut. Tentu dia tau penyebab Lin Mei tampak begitu kesakitan. Dia menoleh, dan melihat pada putrinya yang lain. Kakak Lin Mei tampak gugup melihat tatapan ayahnya.


"Kau telah menang. Sekarang pergi dan beristirahat," ucapnya.


Dia hendak mengatakan lain banyak lagi, namun melihat situasi yang ada sekarang, dia tidak bisa. Tidak sampai semua orang pergi.


"Kalian semua sudah menonton pertarungan kedua putri ku. Pertarungan sudah selesai, dan Lin Nei telah memenangkan pertarungan. Sekarang kalian bisa pergi dan melanjutkan pekerjaan kalian."


Semua orang yang ada di situ sadar bahwa Kepala Keluarga mereka tidak senang dengan diskusi yang dilakukan oleh mereka semua. Dengan cepat mereka bubar dan pergi meninggalkan Lin Mei bersama ayah dan ibunya.


"Sayang.....ini....."


Ibu Lin Mei berjalan dengan wajah terkejut saat melihat wajah putrinya yang terluka.


Ayah Lin Mei hanya diam. Dia melepaskan Api Phoenix Penyembuh dan membakar wajah Lin Mei. Kekuatan pemulihan segera menyembuhkan luka bakar. Ekspresi meringis Lin Mei mulai reda dan dia tertidur.


Saat lukanya puluh sepenuhnya, ayah Lin Mei menarik kembali Api Phoenix nya.


Bukannya lega, wajahnya justru berubah menjadi suram begitu menatap wajah Lin Mei.


"Bajingan mana yang berani-beraninya memberi Lin Nei bubuk kristal dengan kehendak pemusnah? Aku akan menemukannya, dan kita akan lihat, apa yang akan kau lakukan saat ku bakar habis wajahnya." Tangannya terkepal dan dia memberikan Lin Mei yang ada dalam pelukannya pada istrinya.


Wajah ibu Lin Mei tampak jauh lebih suram dari suaminya. Dia menarik napas dingin dan kemudian memeluk erat Lin Mei yang sedang tidur.

__ADS_1


Di wajah Lin Mei, tidak ada lagi wajah cantik dan polosnya. Yang ada hanya sebuah bekas luka bakar besar yang merusak separuh dari wajahnya.


__ADS_2