
Selatan Pulau Fanrong, dimana terletak ibukota Kekaisaran Fanrong, dan lokasi dimana istana tempat tinggal kaisar beserta keluarganya.
Beberapa ratus meter di luar ibukota, sosok Kirin raksasa berdiri dengan tegap di antara lebatnya pepohonan. Di atas kepala Kirin, Weng Lou, Ye Lao, dan juga Qian Yu sedang duduk dan memperhatikan secara seksama keadaan ibukota Kekaisaran yang merupakan tempat tujuan mereka.
Pada saat ini, Ye Lao sedang mengamat-amati ibukota secara seksama sambil memasang wajah sarius, "Dari yang dapat aku rasakan, ada sekitar 300 pasukan bersenjata lengkap yang berpatroli di seluruh kota. Sementara sisanya ada di barak dekat gerbang masuk istana. Totalnya harusnya tidak lebih dari 1.000 pasukan, tidak termasuk dengan yang ada di dalam istana tentunya."
Diantara mereka bertiga, Ye Lao memiliki kemampuan pemindaian yang lebih baik, sehingga dia yang bertugas menghitung jumlah para pasukan yang ada di ibukota.
Mendengar jumlah yang disebut oleh Ye Lao, Weng Lou dan Qian Yu tampak mengangguk mengerti. Mereka kemudian mulai mengatur strategi penyerangan mereka lebih jauh.
"Akan sulit untuk mencari satu persatu orang-orang ini, mengingat betapa besar dan luasnya ibukota. Aku menyarankan untuk menggunakan Qi dan menyebarkannya ke seluruh kota, lalu membunuh para prajurit ini secara bersamaan untuk mengurangi waktu," saran Ye Lao dengan cepat.
Weng Lou mengelus dagunya dan menoleh ke arah Qian Yu untuk mendengarkan pendapat nya tentang rencana Ye Lao.
Qian Yu segera menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Qi kita tidak sebanyak itu untuk bisa menutupi seluruh ibukota. Paling banyak hanya setengahnya saja, dan kita tidak akan bisa membunuh orang-orang itu jika kita tidak bisa menutup seluruh ibukota dengan sempurna."
Ye Lao diam mendengarkan kritik dari Qian Yu itu. Memang benar tidak ada satupun dari mereka yang memiliki Qi sebanyak itu untuk bisa menutup seluruh ibukota. Kirin yang bersama mereka sekalipun tidak akan bisa melakukannya, paling maksimal yang bisa dilakukan olehnya hanya menutup seluruh ibukota tapi tidak bisa membunuh para prajurit karena semua Qi nya habis hanya untuk menutup seluruh kota.
Hal ini juga berlaku untuk Weng Lou. Meski dia bisa mengendalikan Qi dalam jumlah besar diluar batas tingkat praktiknya, namun ada batas kontrol yang dia miliki untuk itu. Tapi batasan itu adalah ketika dia belum membuka segel pertama yang dia miliki, dia tidak tau seberapa banyak batasan yang dia miliki saat ini setelah berhasil membuka segel pertamanya. Ada kemungkinan dia bisa mengendalikan Qi yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
"Guru, aku ingin mencoba batasan ku," ucap Weng Lou dengan tatapan penuh arti pada Qian Yu.
Melihat tatapan muridnya, Qian Yu langsung menolaknya, "Tidak, kita belum tau apa yang akan terjadi jika kau mengeluarkan kekuatan sebesar itu. Sebelumnya kau bahkan hampir menghancurkan tembok pembatas yang memisahkan Wilayah Kumuh hanya karena menepuk-nepuk nya saja, apa yang akan terjadi jika kau menutupi seluruh kota dengan Qi yang ada di bawah kendali mu?
Kemungkinan terburuknya adalah, kau malah membunuh semua orang yang ada di kota, bahkan orang-orang yang tidak bersalah sekalipun! Dan bahkan lebih buruk lagi, ada kemungkinan Zhi Juan malah berhasil melacak keberadaan kita!"
Weng Lou segera menelan ludahnya, apa yang Qian Yu katakan itu membuat dirinya juga khawatir. Namun di sisi lain, dia masih penasaran seberapa besar kekuatan yang dia miliki.
__ADS_1
Qian Yu tersenyum tipis, dia mengerti apa yang dirasakan oleh muridnya, dia juga seperti Weng Lou ketika masih muda dulu. Kekuatan yang dia miliki membuatnya penasaran dengan batasannya sendiri. Namun dia sudah hidup sangat lama, dan tau bahwa tidak selalu rasa penasaran itu berakhir dengan baik, terutama pada kasus Weng Lou yang belum bisa seutuhnya mengendalikan kekuatannya.
"Ya, meski begitu, tidak ada salahnya untuk memiliki rasa penasaran terhadap kekuatan sendiri. Lagi pula, ada kami berdua di sini, kami bisa membantumu mengontrol Qi dan kau melakukan sisanya sendiri," ucap Qian Yu yang langsung melihat senyuman bahagia pada Weng Lou begitu dia mendengarnya.
"Hm...itu bisa dilakukan. Karena jiwa kita juga sudah tertanam pada tubuhnya, secara tidak langsung kita juga bergabung dengan dirinya, sama seperti jiwa ku yang masuk ke dalam Kitab Keabadian dan jiwamu yang masuk ke dalam Pedang Naga Malam. Masuk akal!" Ye Lao membenarkan saran dari Qian Yu.
Karena mereka sudah sepakat dengan rencana tersebut, Qian Yu pun menyuruh Weng Lou untuk mulai memejamkan matanya dan mengendalikan Qi untuk mulai menutupi seluruh kota.
Tanpa banyak tanya, Weng Lou melakukan seperti apa yang dikatakan oleh Qian Yu. Dia mulai mengontrok Qi yang ada di dalam tubuhnya dan mengalirkannya keluar. Bersamaan dengan itu, Weng Lou mulai menyerap Tenaga Dalam Alam yang ada di lingkungan sekitarnya, dan langsung mengubahnya menjadi Qi pada saat yang bersamaan.
Hasilnya, Qi dalam jumlah besar tercipta dan mulai bergerak ke ibukota kekaisaran. Untuk menghemat jumlah Qi yang dipakai, Weng Lou membuat sebuah jalur berbentuk lurus, sebelum kemudian mulai memperluas jangkauan Qi yang dikontrol olehnya.
Di ibukota, Qi yang Weng Lou kendalikan mulai bergerak menutupi kota sedikit demi sedikit. Tidak ada satupun yang menyadari hal ini karena kebanyakan orang yang ada di dalam hanya manusia biasa, para prajurit yang merupakan Praktisi Beladiri juga tidak bisa melihat ataupun merasakan Qi ini karena mereka semua hanya berada di ranah Dasar Pondasi.
Orang-orang hanya berlalu lalang seperti tidak ada yang terjadi, begitu juga dengan para prajurit yang sedang berpatroli, mereka tetap melakukan pekerjaan mereka.
Ketika Qi yang Weng Lou kontrol itu mencapai tiga perempat dari luas seluruh ibukota, terjadi gangguan pada kontrol Weng Lou. Pada bagian barat ibukota, Qi Weng Lou bergerak sedikit lebih lambat dari bagian yang lain, dan hal ini berhasil ditemukan oleh Ye Lao dan Qian Yu.
"Dia mulai kehilangan kontrolnya," ucap Ye Lao dengan santai.
"Dia masih bisa melakukannya, batas kontrolnya seharusny lebih dari itu," bantah Qian Yu.
Pada saat ini, Weng Lou yang sedang memejamkan matanya dan sibuk mengontrol Qi miliknya, mulai berkeringat. Dia mengkertakkan giginya, dan meningkatkan fokusnya.
'Tenanglah, Weng Lou....kau harus tenang. Ini mudah bagimu, ayo lampaui batasan kita dan jadi yang terkuat.....' Weng Lou berbicara dalam hatinya.
Tak berapa lama kemudian, seluruh ibukota telah ditutup oleh Qi milik Weng Lou dengan sempurna. Dan lebih hebatnya lagi, tidak ada tanda-tanda bahwa Qi yang dikendalikan oleh Weng Lou akan kehilangan kendali sehingga membuat Qian Yu tersenyum melihat kegigihan Weng Lou.
__ADS_1
"Kau lebih hebat dari dugaan ku nak, setidaknya kau melampaui ekspetasiku," puji Ye Lao.
"Kerja bagus, Lou. Sekarang, mulai kontrol Qi mu dan temukan semua prajurit yang tersebar di seluruh kota. Jangan kehilangan fokusmu, dan tetap santai. Kau bisa melakukannya."
Weng Lou mengangguk sebagai balasan. Tali-tali dari Qi mulai menjalar keluar dari Qi yang telah menutupi seluruh kota dan melewati orang-orang yang sedang berjalan di dalam kota.
Satu demi satu, para prajurit yang ada di kota berhasil Weng Lou temukan, dan semua prajurit itu kini telah diikat dengan tali Qi yang diciptakannya.
Awalnya itu hanya 1 prajurit, lalu bertambah 3, 10, dan terus bertambah hingga kemudian mencapai angka 987 orang prajurit yang telah diikat oleh Qi Weng Lou, lebih sedikit dari jumlah yang dikatakan oleh Ye Lao sebelumnya. Ada beberapa prajurit yang masuk ke dalam istana, sehingga jumlahnya berkurang. Hal ini menjadi kabar baik bagi Weng Lou karena dia tidak perlu mengontrol lebih jauh lagi Qi miliknya untuk mengikat prajurit-prajurit itu.
Saat ini, seluruh tubuh Weng Lou telah basah oleh keringat, dan dia menggigit bibirnya hingga berdarah. Jelas sekali dia sudah hampir mencapai batas kontrolnya.
Dia tidak berani berbicara atau mengeluarkan suara sedikitpun, takut konsentrasi akan terganggu.
"Kau memang muridku, Lou. Sekarang, lepaskan semua bebanmu itu, dan habisi mereka," ucap Qian Yu yang terdengar seperti suara dari surga bagi Weng Lou.
Dengan cepat, Weng Lou memberikan rangsangan pada semua tali Qi yang dia ciptakan, dan kemudian semua tali Qi itu meledak dan membunuh smeua prajurit yang ada di kota.
*PLAK!* *SPLASH!*
Seperti balon yang tipis, tubuh para prajurit meledak dan hancur berkeping-keping. Darah, dan potongan tubuh mereka semua berhamburan dan mengenai orang-orang yang ada di kota.
Jaritan ketakutan langsung memenuhi kota, dan kepanikan seger menyebar luas bagai tornado.
Di atas kepala Kirin, Weng Lou saat ini berbaring dan bernapas dengan tidak beraturan.
"Haah...haahhh....itu hampir saja. Kekuatan ledakan Qi yang ada pada tubuh para prajurit hampir membahayakan orang-orang yang ada di sekitar mereka." Weng Lou mengelap keringat di keningnya dan menghela napas lega.
__ADS_1
Di sisi lain, Ye Lao dan Qian Yu saling menatap satu sama lain dan tersenyum masam. Apa yang Weng Lou lakukan jauh dari perkiraan mereka. Membunuh para prajurit yang dimaksud oleh mereka berdua adalah cukup meledakkan kepala, atau jantung mereka saja, bukan seluruh tubuh mereka seperti yang dilakukan oleh Weng Lou.