Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 509. Penyatuan Seluruh Wilayah Kumuh (V)


__ADS_3

Weng Lou, dan Du Zhe bersama Kera Hitam Petarung, serta para mantan budak kemudian pergi ke sisi lain gunung tempat Tambang Logam Nadi Putih berada setelah selesai mengobarkan api semangat para mantan budak.


Tujuan mereka tidak lain adalah untuk melepaskan para budak yang diperkerjakan di tambang tersebut.


Singkat cerita, Weng Lou seorang diri masuk ke dalam tambang dan membebaskan para mantan budak. Dia membunuh semua prajurit yang bertugas menjaga tambang, sedangkan para anggota Perguruan Iblis Merah yang juga ditugaskan untuk membantu menjaga tambang tidak dibunuh oleh Weng Lou, melainkan hanya dilumpuhkannya saja. Dia memiliki rencana lain untuk para anggota Perguruan Iblis Merah sehingga memilih untuk tidak membunuh mereka.


Setelah pembebasan itu, Weng Lou menugaskan untuk para budak yang bukan Praktisi Beladiri untuk kembali ke Kota Heishin dan membantu memulihkan para budak yang terluka di tambang karena terlalu dipaksa untuk berkerja, kemudian memilih seorang pemimpin dari antara mereka.


Setelah semua itu, Weng Lou pun menyuruh semua orang yang merupakan Praktisi Beladiri untuk pergi menuju ke Kota 1, Du Zhe ditunjuknya untuk memimpin dalam perjalanan mereka semua, tentunya bersama dengan Kera Hitam Petarung untuk sebagai pengawal mereka semua. Sementara itu, Weng Lou seorang diri pergi menuju ke semua kota lain yang ada di Wilayah Kumuh dan menanyakan pada para mantan budak apakah mereka ingin balas dendam atau tidak.


Dan sesuai dengan dugaan Weng Lou, mereka semua mau balas dendam terhadap kekaisaran yang dipimpin oleh Kaisar Shengshi Huangdi yang telah membuat mereka menderita sebagai seorang budak.


Weng Lou menghabiskan waktu kurang dari setengah hari untuk mengunjungi semua kota di wilayah kumuh, dan saat ini dia sedang berada di Kota 7, kota terakhir yang belum dia datangi hari ini.


Di depan gerbang Kota 7.


Weng Lou terlihat terbang turun dan mendarat tepat di depan gerbang kota. Terlihat Liu Ning serta beberapa orang lainnya sudah berdiri menunggu kedatangannya.


"Kau kembali," ucap Liu Ning dengan ekspresi bercampur aduk.


"Tidak ada yang mengatakan aku tidak akan kembali," balas Weng Lou singkat. Dia berjalan maju melewati mereka semua hingga sampai di tengah kota dimana terlihat semua mantan budak yang sebelumnya dia bebaskan kini sudah berkumpul seakan mengetahui bahwa dia akan datang sebelumnya.


"Baguslah kalian semua ada di sini, jadi ini akan mudah." Weng Lou bebricara sambil menatap satu persatu mereka semua.


"Apa maksudmu?" tanya Liu Ning.


"Aku datang ke sini untuk memberikan kalian kesempatan. Kesempatan untuk mewujudkan apa yang kalian inginkan."


"Yang kami inginkan? Memangnya apa yang kami inginkan?"

__ADS_1


"Hahaha....kau sudah lupa? Bukannya kau sendiri yang meminta ku untuk melakukannya sebelumnya? Ada apa dengan mu, bagaimana bisa kau mudah sekali melupakannya?"


Liu Ning mengerutkan dahinya mendengar itu, sampai kemudian dia mengerti maksud perkataan Weng Lou dan ekspresi wajahnya segera berubah total menjadi tidak percaya.


Di sampingnya Li Min berdiri dengan wajahnya yang tampak serius dan menatap tajam ke arah Weng Lou.


"Apa yang merubah keputusan mu? Bukannya sebelumnya kau tidak ingin menolong kami? Apa yang membuat mu berubah pikiran? Kau pasti merencanakan sesuatu, bukan?" Li Min berbicara dengan suara serius. Dia jelas tau mustahil bagi orang seperti Weng Lou akan merubah keputusannya, terutama keputusannya itu dikatakannya dengan jelas di depan orang lain. Itu sama saja dia menjilat ludahnya sendiri.


Apa yang tidak dia ketahui adalah Weng Lou sebenarnya tidak merubah pikirannya sama sekali, dia hanya sedikit memberi bumbu tambahan pada rencananya. Semua usaha yang dia akan lakukan setelah ini akan berdampak besar pada lingkungan sekitarnya, dan bisa dibilang Weng Lou masih memiliki sedikit kepedulian pada orang-orang seperti Liu Ning yang mengharapkan sebuah balas dendam kepada pamannya.


Weng Lou hanya tertawa pelan dan membalas perkataan nya, "Aku hanya akan menawari mu sekali saja, jadi jangan sia-siakan kebaikan ku ini. Apa kau mau membalas dendam mu itu?"


Senyuman pada wajahnya masih tetap diperlihatkan dan membuat Liu Ning menjadi semakin curiga. Kepalanya penuh dengan segala macam prasangka buruk, tapi semua itu tidak diperlihatkan secara jelas, namun tetap saja Weng Lou bisa tau dengan pasti apa yang dipikirkan oleh wanita dihadapannya ini.


Mata Liu Ning menatap dengan serius pada Weng Lou, lalu menoleh ke arah Li Min yang ada di sebelahnya. Sorot mata Li Min sama seperti dirinya, keduanya sama sekali tidak mempercayai perkataan dari Weng Lou. Namun meski begitu, penawaran dari Weng Lou tetaplah menggerakkan hati mereka berdua. Mereka yakin tidak akan bisa mendapatkan kesempatan sebesar ini lagi di masa depan, oleh sebab itu setelah berpikir hampir lima menit penuh, Liu Ning pun akhirnya membuat keputusan.


"Pendekar, tidak, Pahlawan! Tuan Pahlawan yang hebat, aku Liu Ning sebagai mantan Putri Kekaisaran Fanrong memohon kepadamu untuk membalas dendam kepada Kaisar Shengshi Huangdi yang telah berani membunuh ayahku dan mengambil alih kekaisaran. Aku akan melakukan apa saja sebagai bayaran nya, bahkan....aku akan memberikan diriku pada-"


"Oke, berhenti sampai disitu. Aku tidak memiliki keinginan sampai sejauh itu. Aku cukup mendengar apa kau mau menerima tawaran ku atau tidak, cukup itu saja." Weng Lou tersenyum masam. Perbuatan Liu Ning benar-benar berlebihan baginya. Weng Lou hanya seorang bocah yang bahkan belum berusia 17 tahun, dia tidak akan memikirkan yang macam-macam seperti wanita. Setidaknya untuk saat ini.


Di Pulau Pasir Hitam, seseorang dikatakan dewasa apabila berumur 17 ke atas, dan jelas sekali dia belum menginjak usia itu.


Setelah mendapatkan jawaban dari Liu Ning, Weng Lou pun segera memberikan arahan kepada mereka semua yang juga menginginkan balas dendam di kota itu. Dia menyuruh mereka semua menyiapkan persenjataan dan segera pergi menuju ke kota 1 begitu mereka selesai bersiap.


Weng Lou langsung pergi meninggalkan mereka begitu selesai memberi arahan itu, dan mengunjungi ke satu tempat yang saat ini merupakan tujuan terakhirnya sebelum rencanaya di mulai.


***


Wilayah Kumuh berada terdiri dari 70 persen hutan dan pegunungan, sedangkan 30 persen sisanya merupakan wilayah tempat tinggal manusia, yaitu kota-kota yang mana dipakai untuk menempatkan para budak di dalamnya.

__ADS_1


Hutan di Wilayah Kumuh bisa dibilang sangat luas, sekitar seperlima luas dari Hutan Kematian dia Pulau Pasir Hitam. Di dalamnya juga tinggal banyak binatang buas seperti di Hutan Kematian. Namun ada perbedaan kekuatan yang sangat besar antara binatang buas di dalam Hutan Kematian dan hutan di Wilayah Kumuh.


Sangat sedikit binatang buas yang memiliki kekuatan yang setara dengan para Praktisi Beladiri di dalam hutan Wilayah Kumuh, sehingga butuh sedikit usaha untuk bisa menemukan para binatang buas ini. Sejauh yang Weng Lou lihat sejauh ini, hanya ada kurang lebih 200 binatang buas di dalam hutan tersebut, dan kekuatan mereka hanya setara dengan Praktisi Beladiri Dasar Pondasi tingkat 2-7.


Tentunya mereka tidak bisa menarik perhatian dari Weng Lou sedikitpun, dan dia pun memilih untuk menghiraukan mereka semua.


Namun dalam perjalanannya 1 hari ini, Weng Lou tanpa sengaja menemukan sebuah wilayah terpencil dimana tidak ada satu ekor binatang pun yang tinggal di dalamnya. Hal ini membuat Weng Lou penasaran sehingga dia memilih untuk kembali ke tempat tersebut untuk memeriksa lebih jauh.


Jika ada sebuah wilayah di dalam hutan yang tidak ditinggali oleh satu hewan pun di dalamnya, maka hanya ada satu jawaban pasti atas hal tersebut. Terdapat binatang buas yang sangat kuat di dalamnya! Rasa penasaran Weng Lou sama sekali tidak bisa dibendung dan dia pun segera melakukan pemeriksaan.


Wilayah ini merupakan hutan dengan sebuah bukit kecil yang berada di pusatnya. Bukit ini menjulang hampir membentuk seperti sebuah gunung yang runcing, melihat ini hanya membuat senyuman pada wajah Weng Lou menjadi lebar.


"Aku tau kau bisa merasakan kehadiran ku! Jangan pura-pura tidur dan hadapi aku!"


Tangan Weng Lou dengan keras memukul bukit tersebut, dan langsung membuatnya bergetar hebat. Beberapa saat kemudian, getaran pada bukit itu berhenti dan Weng Lou dengan sabar menunggu. Tak berselang lama, bukit itu kembali bergetar sekali lagi dan sebuah gerakan yang teramat dalam menggema di seluruh tempat.


"Groaa!!! Manusia, aku sudah berbaik hati dengan menutup mata atas semua perbuatan yang kau lakukan di dalam hutan ini, tapi sepertinya keserakahan sudah benar-benar membuat kepala mu itu menjadi tak berisi sama sekali!!"


Bruak! Sprassh!!!


Seakan tanah tempatnya akan terbelah, Weng Lou langsung terbang ke atas, dan tak lama sebuah sosok raksasa bergerak keluar dari dalam tanah. Bukit yang sebelumnya dipukul oleh Weng Lou kini telah hilang, dan hanya menunjukkan sesosok makhluk raksasa dengan tanduk yang menjulang tinggi ke atas langit.


Weng Lou tersenyum lebar melihat sosok di depannya, seekor binatang buas yang telah lama punah di Pulau Pasir Hitam, seekor Kirin!


**Catatan Penulis:


Author nya minta maaf udh Hiatus mendadak. Nggk ada alasan khusus mengapa Hiatus, hanya untuk mendinginkan kepala dan fokus belajar untuk ujian yang baru saja selesai hari ini.


Update sudah akan mulai seperti biasa, dan nggk akan Hiatus lagi, mungkin. Apapun itu, author tetap minta maaf karena tidak memberi info sama sekali sebelumnya 🙏**

__ADS_1


__ADS_2