
Weng Wan yang mendengar perkataan Ying She, mendadak merasa sesuatu yang tidak baik akan segera terjadi.
Dan benar saja tebakannya. Tak lama setelah balasan perkataan dari Ying She, dari tangan kanannya keluar seutas benang Qi keemasan yang kemudian dengan cepat berubah warna menjadi keperakan.
Tas!!!
Ying She menghentakkan benang Qi tersebut lalu kemudian mencambukannya ke arah Weng Wan.
Melihat itu, Weng Wan pun bersiap untuk menyambutnya dengan tubuhnya, tapi kemudian dia mendapatkan firasat buruk sekali lagi. Tepat ketika benang Qi berwarna perak tersebut akan mengenainya, Weng Wan segera buru-buru menghindar.
Pssshh!!!!
Benang Qi yang berhasil dihindari oleh Weng Wan itu kemudian terus bergerak ke bawah, dan kemudian dengan mudahnya memotong tanah hingga mencapai kedalaman lebih dari tiga meter.
Weng Wan mengelap keringat di keningnya melihat itu. Hampir saja dia mati dalam sekejap. Untung saja dia buru-buru menghindari benang Qi aneh tersebut.
"Hooo!!!! Hampir saja!!" seru Weng Lou sambil menatap tanah di hadapannya.
Bahkan tebasan pedang mungkin tidak akan bisa memotongnya serapi ini, pikirnya.
Dia kemudian menatap ke arah Ying She, dan melihat dirinya sudah mencambukan sekali lagi benang Qi berwarna perak di tangannya ke arah Weng Wan. Mata Weng Wan melebar, dan dia pun melompat ke samping, menghindari benang itu.
Ying She tidak berhenti melepaskan serangannya, dia menghentak-hentakkan tangan kanannya ke arah Weng Wan, dan benang Qi perak itu pun terus bergerak menyerang ke arah Weng Wan
Weng Wan hanya bisa terus menghindar dari serangan-serangan itu, hingga dia pun mencapai ujung dari kubah pembatas dan tidak bisa menghindar lebih jauh lagi. Benang Qi bergerak cepat ke arahnya, dan siap memotong tubuhnya.
Mengepalkan tangannya, Weng Wan pun mulai mengaliri Qi pada kedua tangannya, lalu kemudian segera menyambut benang Qi tersebut.
CTASS!!!
Benang Qi mengenai tangan kiri Weng Wan, dan membuatnya sekujur tubuhnya tersentak karena kekuatan dari benang Qi itu yang di luar perkiraannya.
CTAASS!!! CTAS!!!
Meski begitu, Weng Wan tetap menggunakan kedua tangannya untuk menangkis benang Qi tersebut mengenai tubuhnya secara langsung. Pada saat ini dia telah merasa kedua tangannya seperti sedang mati rasa, tidak bisa dia bayangkan jika seandainya dirinya tidak melindungi kedua tangannya menggunakan Qi sebelumnya.
Pada kepala Weng Wan saat ini, hanya ada dua pemikiran saja, yang pertama bagaimana dia bisa keluar dari situasinya yang terpojok saat ini, dan yang kedua adalah bagaimana caranya dia bisa mengatasi benang Qi perak milik Ying She.
"Ada apa? Dimana mulut besar mu tadi? Apa kau sudah menyerah hanya dengan ini?!" Ying She membalas ejekan Weng Wan yang sebelumnya sambil tersenyum lebar.
Dia terus menerus mencambukkan benang Qi di tangannya pada Weng Wan.
"Siaaall!!! Aku tidak bisa pergi dari sini sama sekali, apa yang harus aku lakukan?!" Weng Wan menjerit jengkel di dalam hatinya sambil menangkis serangan benang Qi yang terarah padanya.
"Benang Qi ini telah diubah separuhnya menjadi berunsur logam. Ketajaman nya sanggup memotong tanah dengan sangat mudah, aku harus bisa keluar dari situasi ini sebelum Qi ku habis karena terus melapisi kedua tanganku," lanjutnya.
Akhirnya, dia pun memutuskan untuk memakai Pernapasan Kedua untuk kedua kalinya. Seketika gerakan di sekitarnya menjadi melambat bahkan tampak seperti berhenti. Memanfaatkan saat-saat itu Weng Wan pun mulai memindai benang Qi milik Ying She yang sedang mengarah padanya.
Terlihat benang tersebut sedang bergerak mundur ke arah Ying She. Secercah harapan pun muncul di hati Weng Wan.
Dia segera mengencangkan otot-otot tangan dan kakinya pada waktu bersamaan. Pandangannya sekitar nya pun menjadi seperti sebelumnya, dan terlihat benang Qi dari Ying She sudah akan tercambuk kembali ke arah Weng Wan.
Tepat ketika benang itu akan bergerak ke arahnya, Weng Wan melesat cepat ke arah Ying She.
Ying She yang tidak menduga hal itu, tampak tetap mencambukkan benang Qi miliknya.
Weng Wan yang sedang bergerak laju ke arah Ying She pun kembali mengaktifkan Pernapasan Kedua. Benang Qi yang sebelumnya sedang bergerak ke arahnya, kini telah tepat di depan matanya, untung saja dia tepat waktu.
"Ini serangan balasan dariku....."
Mengangkat tangan kirinya yang telah dilapisi dengan Qi, Weng Pun menangkap benang Qi itu, lalu segera lanjut berlari ke arah Ying She.
__ADS_1
Ketika dia sudah tiba di depan Ying She, Weng Wan pun melepas tinju menggunakan tangan kanannya sekuat tenaga ke arah Ying She. Menyaksikan itu, Ying She hanya mengangkat tangan kirinya untuk menangkis serangan tinju dari Weng Wan karena berpikir bahwa dia tidak akan bisa menang melawannya sama sekali.
Tapi sayangnya, apa yang dia pikirkan dan lakukan adalah sebuah kesalahan fatal karena tepat ketika tinju Weng Wan menghantam tangan kanannya, sebuah bunyi tulang yang retak bisa terdengar dengan jelas.
"HAAA!!!!" Weng Wan berteriak dengan nyaring, dan mendorong dengan sekuat tenaga tinjunya tersebut.
SHUUUU-!!!!!
BAMMM!!! BRUAAACKK!!!!!
Dengan kecepatan melebihi laju ketika Weng Wan terlempar karena tinju darinya, tubuh Ying She melesat dan kemudian menghantam tanah hingga menghancurkan nya berkeping-keping.
Ekspresi para penonton dan peserta yang sedang menonton langsung terpana melihat kekuatan pukulan dari Weng Wan.
"HAJAR DIA WAAANNN!!!!!"
Dari luar arena, Weng Lou dengan ekspresi serius berseru pada Weng Wan. Dia tau dengan jelas bahwa lawannya, Ying She memiliki kekuatan yang jauh lebih kuat dari Weng Wan dan sanggup membunuhnya dengan sangat mudah jika dia sudah serius. Oleh sebab itu Weng Lou menyuruh Weng Wan untuk segera menghajar lebih jauh Ying She, jangan sampai dia memberikan serangan balasan kepada Weng Wan.
Weng Wan yang mendengarnya pun langsung terbakar oleh Api semangatnya sendiri. Dengan mata memerah, dia pun melompat ke arah Ying She.
Ying She yang baru saja menabrak tanah dengan keras, tampak masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi, saat kemudian sosok Weng Wan mengarah padanya dengan kedua tangannya yang sudah di kepalkan.
"TINJU RATUSAN RAKSASA!!!!"
Tepat Weng Wan menyerukan itu, tinju di tangan kanannya segera melayang dan mendarat pada wajah Ying She.
Buck!!
Weng Wan tidak berhenti di situ saja, dia segera menghujani Ying She dengan tinjunya, sementara Ying She hanya diam menerima tinju-tinju itu. Ekspresi wajahnya tampak bingung, dan terkejut yang bercampur menjadi satu.
"Tulang ku.....retak...? Oleh pukulan dari nya? Bagaimana bisa?" Ying She bertanya-tanya sendiri dalam hatinya.
Pada saat ini, kondisi wajahnya benar-benar buruk. Dengan darah dan lebah yang menghiasi nya, wajahnya hampir tak dikenali lagi. Namun Weng Wan sama sekali tidak terlihat akan berhenti memukulnya, malah Weng Wan terlihat seperti akan memberikan pukulan yang jauh lebih kuat lagi.
Weng Wan mengerutkan dahinya mendengar perkataan dari Ying She, tapi kemudian dia melayangkan tinju menggunakan tangan kanannya yang telah dilapisi dengan Qi padat ke arah perut Ying She.
Ketika akan mengenai Ying She, sebuah lonjakan energi mendadak keluar dari dalam tubuh Ying She dan menghantam tubuh Weng Wan, hingga membuatnya sampai terlempar mundur beberapa meter dari tempatnya.
Pssshhh....ttrrraack....
Kedua mata Weng Wan dengan serius menatap ke arah Ying She. Pada saat ini, aura yang ada pada tubuh Ying She telah berubah drastis dan membuat Weng Wan merasakan bahaya besar datang darinya.
"Kau telah membuktikan kekuatan mu, Weng Wan. Aku mengakui kekuatan milik mu dan mengakui mu sebagai lawanku. Namun sayangnya, pertarungan kita sampai di sini, aku harus segera menyelesaikan misi ku, atau jika tidak aku yang akan mati," ucap Ying She yang dari telapak tangannya keluar cahaya merah terang.
Mata Weng Wan pun melebar melihatnya. Detik berikutnya sebuah ledakan besar muncul dan menghantam kembali tubuhnya.
Ledakan ini berbeda dengan sebelumnya, ini adalah ledakan unsur api, yang telah dicampur dengan sedikit unsur logam yang mana berhasil melukai Weng Wan dengan serius.
Tubuh Weng Wan menabrak dinding kubah pembatas untuk kedua kalinya.
Tepat ketika tubuhnya akan terjatuh ke tanah, sosok Ying She telah muncul di hadapannya dan mengarahkan tangan kanannya yang telah mengeluarkan cahaya terang seperti sebelumnya.
Weng Wan segera menarik kedua tangannya dan menciptakan pelindung Qi tipis di depannya.
BUUUMMMM!!!! KRAACKKK!!!
Pelindung Qi Weng Wan hancur berkeping-keping, dan ledakan itu mengenai dirinya. Meski begitu, tidak terlihat luka-luka serius padanya, hanya beberapa luka lecet yang bahkan tidak mengeluarkan darah.
Tapi sayangnya serangan Ying She tidak berhenti disitu. Ledakan lainnya kembali menyusul dan menghantam tubuh Weng Wan secara terus menerus. Weng Wan yang tidak bisa apa-apa hanya pasrah tubuhnya terkena serangan Ying She.
Ledakan dari Ying She terus menerus diberikan pada Weng Wan hingga satu menit penuh, hingg akhirnya Weng Wan pun terjatuh ke tanah dalam kondisi tubuh yang telah terluka parah.
__ADS_1
Menerima satu ledakan saja sudah melukai dirinya, dan setelah satu menit berlalu lebih dari tiga puluh ledakan menghantamnya. Darah mengalir dari beberapa anggota tubuhnya, termasuk dari kepala dan matanya.
Tatapan Weng Wan tampak kosong setelah menerima serangan ledakan Ying She. Tubuhnya terduduk lemas di tanah sambil menyandar pada kubah pembatas.
Weng Hua dan Weng Ning yang melihat kondisinya menutup kedua mulut mereka yang terbuka lebar.
Untuk kali pertama, mereka melihat ada pemuda seusia mereka yang melukai begitu parah Weng Wan.
"Wa-Wan....di-dia masih hidup, bukan?" tanya Weng Hua dengan ekspresi ketakutan pada wajahnya.
Dia tidak tau apakah Weng Wan masih hidup atau sudah mati karena kondisinya benar-benar mengerikan, bahkan lebih jauh mengerikan dari wajah Ying She yang telah dihajar Weng Wan sebelumnya.
"Tenang saja, dia masih hidup," ucap Weng Lou dengan wajah seriusnya menatap sosok Weng Wan yang terduduk lemas tak berdaya di tanah.
"Ayolah Wan....apakah hanya sampai disini saja batasan mu..." gumam Weng Lou yang mengepalkan tangannya dengan keras.
Seolah mendengar gumaman Weng Lou, tubuh Weng Wan yang ada di dalam kubah mendadak menunjukkannya.
"Haaa.....aku....dihajar habis-habisan yah...."
Weng Wan mengangkat kepalanya dengan sisa-sisa tenaganya dan menatap sosok Ying She yang berdiri tepat di hadapannya.
Kapan terakhir kali dia dihajar sampai sejauh ini? Itu adalah ketika mereka masih baru di Keluarga Besar Weng di Kota Bintang Putih. Dia dihajar setiap harinya oleh para murid-murid yang jauh lebih kuat dan senior darinya. Tiap harinya dia harus menerima pukulan dan tendangan dari mereka semua.
Namun itulah yang telah membuatnya bisa sekuat ini, pukulan dan tendangan dari merekalah yang membuat dia mendapatkan kekuatan fisik sebesar ini.
"Hei.... bajingan.....tadi itu....sakit tahu..." ucap Weng Wan sambil menatap kedua mata Ying She.
Alis Ying She terangkat mendengar nya. Dia segera mengangkat tangannya dan cahaya kemerahan kembali keluar dari telapak tangannya. Dia siap memberikan serangan lainnya pada Weng Wan yang sudah terluka parah.
Ying She mengayunkan telapak tangannya ke arah Weng Wan dan ledakan pun menghantam tubuh Weng Wan.
Debu mengepul tinggi dan menutupi tubuh Weng Wan yang menerim ledakan itu. Tak berapa lama, ketika debu di udara menghilang, sosok Weng Wan pun terlihat.
Tapi bukannya sosok Weng Wan yang telah babak belur yang terlihat, melainkan terlihat sosok Weng Wan yang dari sekujur tubuhnya mengeluarkan cahaya keemasan dan pola-pola berwarna putih terang muncul di sekujur tubuhnya.
Kedua mata Weng Wan mengeluarkan cahaya emas terang, dan dengan dingin menatap sosok Ying She.
Entah karena nalurinya, Ying She mendadak melompat mundur hingga sepuluh meter jauhnya. Dia terlihat langsung memasang posisi siap bertarungnya.
"Apa-apaan dia ini?! Dia itu bukan manusia!" Ying She berbicara dengan suara pelan melihat sosok Weng Wan.
Krrrrkkkk.....
Weng Wan dengan perlahan bangkit berdiri dan berdiri menatap Ying She dengan kedua matanya yang mengeluarkan cahaya emas terang.
Glek....
Tanpa sadar Ying She menelan ludahnya, dan dia tampak terdiam di tempatnya.
Tepat ketika dia berpikir bahwa Weng Wan akan melayangkan serangan balasan padanya, sosok Weng Wan sudah terjatuh ke tanah.
Cahaya yang keluar dari dirinya juga sudah menghilang semua bersama dengan pola-pola bercahaya putih yang muncul di sekujur tubuhnya.
"Maafkan aku Lou.....aku tidak bisa..... bertarung lebih jauh lagi...." Weng Wan berbicara pelan, sebelum kemudian tak sadarkan diri.
Zu Zhang yang ada di atas arena melihat hal ini dan segera menyatakan Ying She sebagai pemenangnya.
Sementara itu, Ying She masih tetap di tempatnya dan terdiam melihat sosok Weng Wan yang telah tak sadarkan diri.
"Siapa dia? Bagiamana ada kekuatan yang begitu besar dari dalam tubuhnya? Bahkan kekuatan garis darah keturunan milik ku seperti menggigil ketakutan melihat sosoknya yang tadi," gumamnya.
__ADS_1
Dengan begitu, pertarungan kesepuluh, Weng Wan melawan Ying She pun berakhir, dan dimenangkan oleh Ying She karena Weng Wan tak sadarkan diri.
Meski begitu, Ying She tidak mengakui kemenangannya itu dalam hatinya karena menurutnya jika saja Weng Wan masih tetap sadar selama beberapa saat lagi, maka dia yang akan kalah.