Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 511. Berkumpulnya Semua Orang


__ADS_3

Kota 1 Wilayah Kumuh.


3 hari berlalu setelah kedatangan Weng Lou ke tiap-tiap kota yang ada di penjuru Wilayah Kumuh dan memberikan tawaran balas dendam pada semua orang yang menginginkannya.


Pada hari ini, banyak dari orang-orang yang menerima tawaran Weng Lou ini telah berkumpul di Kota 1, sesuai arahan dari Weng Lou. Mereka semua berasal dari kalangan usia, namun rata-rata berusia 30-40 tahun, dan hampir semuanya adalah pria, hanya ada beberapa perempuan diantara orang-orang tersebut.


Pagi ini, di gerbang Kota 1, sekelompok orang bersenjata lengkap tiba dan membuat perhatian semua orang yang ada di kota itu segera tertuju ke arah mereka. Pemimpin kelompok itu adalah seorang perempuan yang memiliki aura bangsawan yang mengagumkan pada dirinya dan membuat tatapan banyak orang terkunci padanya.


Setelah beberapa saat menatap dalam diam kelompok tersebut, salah satu orang yang ada di Kota 1 berseru nyaring, "Hormat kepada Putri Liu Ning!"


Suara orang itu bergema dan segera menyadarkan orang-orang. Mereka semua segera berlutut ke tanah dan memberikan penghormatan kepada perempuan tersebut. Menyaksikan itu, perempuan tersebut hanya diam dan mengepalkan tangannya dengan keras.


"Kemuliaan bagi Kekaisaran Fanrong!!" Perempuan, yang tidak lain adalah Liu Ning, mengangkat tangannya tinggi ke udara dan berseru membalas penghormatan semua orang.


""KEMULIAAN BAGI KEKAISARAN FANRONG!!!""


Bagai sebuah pemantik, seruan dari Liu Ning segera diikuti oleh semua orang. Suara mereka semua menggema ke segala penjuru Kota 1 dan membuat siapa saja yang mendengarnya akan merasakan kegentaran pada hati mereka.


"Berdirilah, kalian semua!" Liu Ning memberikan perintahnya kepada semua orang dan segera dilakukan oleh mereka.


Orang-orang itu menatap Liu Ning dengan tatapan penuh rasa hormat, bisa disimpulkan bahwa reputasinya sangat terkenal baik sebagai seorang Putri oleh para rakyatnya, dan hal ini memang benar. Walau saat masa pemerintahan ayahnya sebagai kaisar Kekaisaran Fanrong tidak mengalami kemajuan sebesar pemerintahan Kaisar Shengshi Huangdi, namun reputasinya sangatlah kokoh hingga bisa membuat rakyat yang berada di bawah naungannya rela berkorban demi dia.


Ayah Liu Ning selalu mengunjungi tiap-tiap wilayah kekuasaannya hampir tiap sebulan sekali, dan tidak jarang dia memberikan bantuan pada wilayah yang mengalami kesulitan saat dia melakukan kunjungannya. Liu Ning sebagai putri, sangat menghormati dan bangga pada ayahnya atas sikap baiknya terhadap rakyatnya itu, dan dia pun melakukan hal yang sama secara diam-diam tanpa sepengetahuan ayahnya.

__ADS_1


Tentunya orang-orang mengetahui tindakan Liu Ning tersebut dan hanya bisa melihat masa depan yang cerah pada Kekaisaran Fanrong karena memiliki penguasa seperti ayah Liu Ning dan Liu Ning sendiri sebagai penerusnya. Ya, sampai kemudian terjadi kudeta dan semua masa depan yang diharapkan oleh semua orang pun sirna bersama dengan terbunuhnya sang kaisar, ayah Liu Ning oleh Shengshi Huangdi, saudara iparnya sendiri dengan bantuan Perguruan Iblis Merah.


Dendam, amarah, dan ketidakberdayaan tercampur aduk di dalam diri mereka semua. Mereka mengutuk diri mereka sendiri karena tidak bisa melakukan apapun untuk melindungi kaisar yang mereka cintai hingga kemudian berakhir dilempar di Wilayah Kumuh ini.


Namun itu kini hanya masa lalu! Hari ini, mereka semua berkumpul dan akan melakukan pembalasan atas kudeta yang dilakukan oleh Shengshi Huangdi dahulu. Dengan Liu Ning sebagai pemimpin mereka semua, mereka akan membangun kembali Kekaisaran Fanrong yang sebenarnya, dan semua itu tidak terlepas dari bantuan Weng Lou yang sudah memporak-porandakan kekuatan di Wilayah Kumuh yang telah mengekang mereka selama beberapa tahun lamanya.


"Putri! Semua pasukan sudah siap untuk bergerak ke ibukota! Dengan perintah dari anda, kita akan langsung bergerak dan membunuh bajingan Huangdi!"


Seorang pria yang memiliki tubuh besar dan berotot berjalan maju ke hadapn Liu Ning dan menyambutnya. Dia menceritakan tentang mereka semua yang ada di sini dapat berkumpul berkat Weng Lou, dan mereka telah mengumpulkan kekuatan mereka dalam 3 hari ini dan telah siap untuk bergerak.


Liu Ning mengangguk mendengar laporan pria itu. "Kerja bagus, Jenderal Jao! Kau sudah bekerja keras! Seandainya ayahku masih hidup dia pasti akan sangat terkesan dengan kinerja anda!"


"Anda telah memuji saya, Putri. Semua ini karena arahan langsung dari sang Pahlawan yang membebaskan kami semua, serta bantuan dari muridnya," ucap Jenderal Jao tanpa menyembunyikan apapun dari Liu Ning.


Seperti bisa membaca pikiran Liu Ning, Jenderal Jao segera membawa Liu Ning ke sebuah sudut di mana terlihat sebuah makhluk raksasa saat ini sedang duduk tenang bersandar pada tembok kota dan menikmati daging binatang buas yang dimasak oleh orang-orang di Kota 1 untuknya.


Makhluk ini tidak lain adalah Kera Hitam Petarung yang dikirim oleh Weng Lou untuk menemani Du Zhe dalam perjalanan menuju Kota 1 ini. Di dekat Kera Hitam Petarung, seorang bocah yang tidak lain adalah Du Zhe sedang duduk dan sibuk membaca sebuah buku.


Liu Ning yang melihat Du Zhe, menyipitkan matanya dan melihat secara sama isi buku yang sedang dibaca oleh Du Zhe saat ini. Buku itu adalah sebuah Kitab Teknik Beladiri!


Di Kekaisaran Fanrong, Kitab Teknik Beladiri adalah harta yang sangat berharga, dan tidak sembarangan orang yang bisa memilikinya. Di istana, hanya ada tidak lebih dari dua puluh Kitab Teknik Beladiri yang telah dikumpulkan oleh para kaisar terdahulu, termasuk ayah Liu Ning. Kitab Teknik Beladiri ini hanya diberikan pada para Jenderal dan komandan pasukan yang berkontribusi besar bagi kekaisaran yang membuat nilainya semakin tak ternilai.


Menyaksikan Du Zhe yang hanya seorang bocah biasa di mata Liu Ning membacasebuah Kitab Teknik Beladiri, membuatnya merasakan iri hati, tapi perasaan itu langsung segera dibuangnya jauh-jauh dan mencibir dirinya sendiri yang tidak tau malu.

__ADS_1


"Halo, Tuan Muda Du Zhe, aku datang memeriksa apakah anda membutuhkan sesuatu."


Jenderal Jao menyapa Du Zhe yang sibuk membaca dan langsung menarik perhatiannya. Tatapannya langsung terarah kepada Liu Ning yang ada di belakangnya dan dia segera bangkit berdiri dari tempatnya.


"Ah, Jenderal! Aku baik-baik saja, sebaiknya anda tidak terlalu mengutamakan saya, orang-orang lebih membutuhkan perhatian anda dibandingkan saya," ucap Du Zhe terburu-buru. Dia terlihat tidak terbiasa dengan sikap sopan dari Jenderal Jao kepadanya.


Sekali lagi tatapan matanya terarah pada Liu Ning dibelakang Jenderal Jao, dan dia seperti mengingat apakah pernah melihat Liu Ning sebelumnya. Melihat tatapan kata Du Zhe, Jenderal Jao pun segera memperkenalkan Liu Ning kepada Du Zhe, dan sikap Du Zhe pun langsung segera berubah.


Dia buru-buru membungkuk hormat dan meminta maaf karena telah lancang di hadapannya, namun Liu Ning tidak mempermasalahkannya karena menurutnya sudah sewajarnya Du Zhe bersikap seperti itu terhadap orang yang tidak dikenalnya.


Apa yang tidak diketahui Liu Ning adalah, Du Zhe sebenarnya merupakan rakyat dari Kekaisaran Fanrong dan merupakan mantan budak yang dibebaskan oleh Weng Lou sebelumnya.


"Tuan Putri, Guru saya menitipkan benda ini kepada saya dan meminta saya untuk memberikannya kepada anda jika bertemu dengan anda di kota ini!" Tangan Du Zhe mengambil sebuah lembaran kertas kuning dengan beberapa gambar pola berwarna merah di atasnya dari dalam bajunya dan menyerahkan nya kepada Liu Ning.


Liu Ning mengambil kertas itu dan memperhatikan pola pada kertas itu selama beberapa saat, sebelum kemudian membaliknya dan menemukan beberapa baris kelimat di kertas tersebut. Ada namanya pada bagian atas kertas itu yang berarti kertas ini memang ditujukan padanya.


"Jika kau membaca pesan ini, berarti kau sudah bertemu dengan muridku. Aku tidak akan bertele-tele dan langsung ke intinya. Pimpin semua pasukan yang telah berkumpul di Kota 1, dan bawa mereka semua ke ibu kota tanpa aku.


Tidak perlu menunggu ku karena ada yang aku harus lakukan. Yang jelas, begitu kau sampai di ibu kota seharusnya semuanya sudah aku bereskan jadi tidak akan ada masalah yang kau hadapi bersama muridku.


Begitu kalian berhasil mengambil kembali pemerintahan, aku titipkan Du Zhe pada kalian jika seandainya aku belum kembali saat itu. Katakan pada Du Zhe, bahwa gurunya akan datang menjemputnya nanti."


Liu Ning terdiam membaca semua itu dan pikirannya mendadak menjadi kosong. Weng Lou benar-benar melakukan sesuatu diluar perkiraannya.

__ADS_1


__ADS_2