Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 520. Jalur Bawah Tanah


__ADS_3

Setelah menghabisi Tetua dari Perguruan Iblis Merah tersebut, Weng Lou tanpa beban berjalan menghampiri satu persatu para prajurit yang sebelumnya menghadangnya yang saat ini sedang terduduk di tanah terbengong.


Mereka yang masih sadarkan diri menyaksikan semua yang dilakukan oleh Weng Lou pada Shengshi Huangdi dan juga Tetua dari Perguruan Iblis Merah. Meski dalam kondisi terluka, mereka semua berusaha keras untuk terus mempertahankan kesadaran mereka karena mereka yakin jika mereka menutup mata mereka saat ini, maka mereka tidak akan bisa membuka mata lagi selamanya.


"Kalian semua, karena hari ku sedang baik hari ini maka aku akan memberikan 2 buah pilihan kepada kalian, dan aku mengharapkan kebijaksanaan kalian dalam memilih salah satu pilihan yang akan aku berikan pada kalian. Apa kalian mau?" tanya Weng Lou acuh tak acuh.


Para prajurit itu saling menatap satu sama lain sebelum kemudian secara mengejutkan mengangguk bersama-sama kepada Weng Lou.


Walau hanya seorang prajurit lemah, namun mereka jelas merupakan orang-orang yang pintar. Setelah melihat kekuatan nyata yang ditunjukkan oleh Weng Lou, mereka semua hanya bisa berharap untuk bisa tetap hidup setelah ini semua. Dan sekarang, sepertinya Weng Lou berniat untuk membiarkan mereka hidup. Lalu apa lagi yang mereka tunggu? Jelas mengambil kesempatan yang diberikan Weng Lou adalah pilihan terbaik.


"Bagus....bagus. Kalian semua lebih pintar dari yang aku pikirkan. Kalau begitu aku akan mengatakan pilihan apa yang bisa kalian pilih, dengarkan aku baik-baik. Pertama, kalian bisa pergi keluar dari ruangan ini dan menangkap semua pelayan dan pekerja di istana lalu membawa mereka padaku hidup-hidup maka aku tidak akan membunuh kalian.


Pilihan yang kedua, kalian bisa keluar dari sini dan mulai membunuh para prajurit lain yang saat ini sedang menyerang beberapa penyusup di luar, lalu aku tidak membunuh kalian. Pilihlah, aku tidak akan melihat dari suara terbanyak, tetapi secara perorangan, dan kalian harus langsung pergi melakukan sesuai apa yang pilih."


Mendengar kedua pilihan yang diberikan oleh Weng Lou, para prajurit di situ tidak bisa tidak merasa keheranan.


Kedua pilihan yang ditawarkan oleh Weng Lou sama-sama akan membuat Weng Lou tidak membunuh mereka, namun kesulitan masing-masing dari kedua pilihan tersebut memiliki jarak yang sangat jelas terlihat.

__ADS_1


Saat ini kondisi mereka sedang terluka karena terkena serangan Weng Lou sebelumnya, pilihan yang bisa mereka ambil untuk memastikan keselamatan hidup mereka hanyalah menangkap para pelayan dan pekerja di istana hidup-hidup, sehingga dengan cepat hampir semua prajurit segera mengambil pilihan ini dan dengan tertatih-tatih berjalan keluar dari ruangan tersebut untuk melakukan pilihan mereka.


Sementara itu, sekitar 15 orang prajurit yang tersisa tampak sedang berpikir keras. Pilihan yang diberikan oleh Weng Lou sangatlah mudah, dan hanya orang bodoh yang akan memilih pilihan untuk membunuh para prajurit di luar. Tapi bagaimana jika sebenarnya Weng Lou menyembunyikan sesuatu?


Salah seorang prajurit yang ada di sudut ruangan sedang merenung dengan serius memikirkan pilihan yang diberikan oleh Weng Lou.


'Nasib Kaisar saat ini jelas sekali tidak akan selamat setelah orang yang dibicarakan oleh mereka sebelumnya datang ke sini. Oleh sebab itu, satu-satunya pilihan aman adalah dengan berdiri di pihak orang ini. Berarti aku harus menunjukkan kegunaan dan juga kesetiaan ku agar bisa tetap hidup.


Pilihan yang diberikan orang ini pada kami pasti adalah sebuah tes untuk melihat apakah kami kayak untuk tetao hidup atau tidak. En! Kalau begitu aku akan memilih itu!'


Prajurit itu segera bangkit berdiri sambil memegangi bekas luka tusuk di tangan kirinya, sebelum kemudian berjalan ke arah Weng Lou.


Mata Weng Lou bercahaya saat mendengar pilihan prajurit itu dan tertawa pelan. Dia kemudian mengulurkan tangannya dengan cepat dan menyentuh tangan prajurit itu yang sedang terluka. Secara ajaib, luka prajurit itu langsung sembuh dalam sekejap mata dan membuat prajurit itu tidak bisa berkata-kata.


"Pilihan yang bagus, kau bisa melakukannya. Bunuh lah sebanyak mungkin yang kau bisa hingga pertempuran yang terjadi selesai." Weng Lou berbicara dengan suara santainya.


Prajurit itu mengangguk kencang dan langsung berlari keluar dan mencari prajurit untuk dibunuh. Sementara itu, para prajurit yang masih tersisa segera bangkit dan membuat pilihan mereka setelah melihat sikap Weng Lou pada prajurit yang sebelumnya.

__ADS_1


Mereka semua memilih pilihan kedua dengan percaya diri, dan Weng Lou pun menyembuhkan luka mereka semua dan membiarkan mereka pergi keluar untuk membunuh para prajurit yang dimaksud oleh Weng Lou.


Seperginya mereka semua, Weng Lou yang tak bisa menahan diri lebih lama lagi, hanya bisa tertawa lepas dan melangkah pergi tirai besar yang berada di balik takhta tempat Shengshi Huangdi berada sambil terus menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Membunuh kalian memang bukan tugasku, jadi aku akan membebaskan kalian semua. Tapi berbeda cerita dengan Ye Lao dan Guru Qian, bahkan jika kalian kabur berkilo-kilometer jauhnya, mereka berdua akan dengan mudab menemukan kalian. Hahahaha.....yah.... setidaknya mereka bisa meringankan tugasku, dan aku bisa melakukan hal yang jauh lebih berguna," ucap Weng Lou sambil membuka tirai di hadapannya.


Terlihat sebuah relief yang sepertinya mengisahakan awal mula terbentuknya Kekaisaran Fanrong di Pulau Fanrong. Weng Lou tampak tidak peduli dengan relief itu, dan tanpa berbasa-basi langsung memukul hancur relief tersebut.


*Brak! Bdebuk!*


Batu-batu yang menjadi sarana terbuatnya relief itu hancur berkeping-keping dan menampilkan sebuah tangga yang menuju ke bawah tanah. Tangga itu sepertinya mengarah jauh kebawah tanah dan Weng Lou bisa melihat sebuah pintu besar di ujung tangga tersebut, sekitar dua ratus meter jauhnya.


Meski tidak ada pencahayaan sama sekali di sekitar tangga, namun dengan bantuan Qi, Weng Lou bisa dengan mudah melihat di dalam kegelapan seperti di siang hari tanpa masalah sama sekali.


"Ruang penyimpanan istana harusnya tidak mungkin dibangun seperti ini. Jelas sekali ini adalah sebuah jalur menuju ke ruangan lainnya yang telah lama dilupakan. Aku curiga bahkan kaisar sebelumnya tidak mengetahui tentang jalur ini sama sekali, apa lagi Liu Ning." Tangan Weng Lou mengelus dinding lorong kecil itu dan melihat debu tebal di tangannya yang berwarna hitam pekat.


Dari pengamatanya, Kekaisaran Fanrong ini harusnya pernah mengalami beberapa pergantian penguasa secara paksa seperti yang Shengshi Huangdi lakukan. Hal ini menyebabkan informasi-informas yang hanya diketahui oleh Kaisar menjadi terlupakan karena tidak ada yang mewarisi informasi ini.

__ADS_1


Jika dilihat-lihat, jalur menuju ke bawah tanah ini dibangun oleh beberapa Praktisi Beladiri yang paling tidak berada di ranah Pembersihan Jiwa tahap 5 ke atas. Weng Lou bisa memperkirakan umur jalur bawah tanah ini paling tidak sudah berusia 500 tahun lebih, dan masih tetap baik-baik saja hingga sekarang. Memerlukan pengendalian unsur dengan bantuan Qi tingkat tinggi untuk bisa membuatnya, sehingga Weng Lou menarik kesimpulan seperti itu.


"Emas hanyalah mainan bagi para Praktisi Beladiri yang telah berada di ranah Penyatuan Jiwa seperti ku. Yang dianggap sebagai harta oleh orang-orang seperti ku hanyalah sumber daya latihan dan bahan mineral langka. Jik usia dari lorong bawah tanah ini setua yang aku perkirakan harusnya ada sesuatu yang bisa menarik minatku di bawah sana."


__ADS_2