Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 403. Menjual Barang Jarahan (I)


__ADS_3

Weng Lou dan Shan Hu tidak memakan waktu terlalu lama untuk kembali karena mereka memang sedikit buru-buru.


Begitu mereka berdua kembali ke ruang bawah tanah di markas Kelompok Darah yang berada di Kota Hundan, lorong yang mereka lewati kembali tertutup seperti sebelumnya.


Tap.....


Kotak-kotak kayu yang dibawa oleh Shan Hu dan Weng Lou diletakkan di antara barang-barang jarahan milik Kelompok Darah yang ada di ruang bawah tanah tersebut.


"Tuan, mau kita apakan semua barang-barang yang merupakan hasil dari pembantaian kelompok ini? Jujur saja, aku merasa agak tidak enak jika kita menggunakannya untuk keperluan pribadi kita."


Shan Hu membuka pembicaraan setelah meletakkan semua kotak-kotak kayu yang mereka bawa sebelumnya.


Weng Lou hanya diam mendengarnya, dia menatap satu persatu barang-barang yang ada di ruang bawah tanah itu lalu kemudian menghela napasnya.


"Kau tau, Shan Hu, aku bukan orang baik, di usiaku yang sangat muda ini tanganku sudah penuh dengan darah. Jika orang-orang biasa mengetahui aku telah banyak mencabut nyawa orang lain, pastinya mereka akan berpikir ketika besar nanti aku pasti hanya akan menjadi seorang penjahat.


Aku juga terkadang berpikir seperti itu. Untungnya aku tidaklah berdiri selama ini, keluarga dan teman-teman ku selalu mengerti apa yang aku lakukan itu memanglah diperlukan. Membunuh memang adalah hal yang salah, tapi setidaknya hal baik dari yang aku lakukan adalah yang kucabut nyawanya adalah mereka yang memang pantas untuk menerima kematian.


Beban dari pembunuhan yang mereka lakukan, akan secara otomatis dipindahkan padaku. Itu tidak masalah, selama memang aku yang menerima konsekuensinya, bukan orang lain.


Sama halnya dengan barang-barang ini, secara aturan dunia beladiri, begitu aku membunuh orang-orang dari kelompok Sha Shou, semua ini adalah milikku. Tapi seperti yang kau katakan, akan tidak enak jika kita menggunakannya seenaknya saja. Terlebih barang-barang ini mengandung bekas darah dari pemilik asalnya," jelas Weng Lou dengan suara pelannya sambil berjalan memutar-mutari barang-barang yang ada di situ.


"Lalu apa yang harus kita lakukan dengan barang-barang ini, Tuan?"


"Untuk saat ini biarkan saja di sini, setidaknya sampai Turnamen Beladiri Bebas selesai. Kita akan memikirkannya lagi nanti. Untuk sekarang.....aku akan membawa barang ini saja dan menjualnya bersama dengan tubuh siluman serigala yang aku bawa."


Weng Lou berhenti berjalan dan kemudian memeriksa satu persatu cincin penyimpanan miliknya. Dia menyusun isi di dalamnya, membuatnya memiliki tempat lebih untuk memasukkan 10 kotak kayu hasil jarahan Shan Hu di kastil milik Kelompok Darah.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Weng Lou selesai menyusun barang-barangnya yang ada di cincin-cincin penyimpanan miliknya. Dia pun mengayunkan tangannya dan seketika kesepuluh kotak yang mereka bawa sebelumnya menghilang, masuk ke beberapa cincin penyimpanan miliknya.


"Kau berjaga di sini saja, aku akan mencari Rumah Obat atau sejenisnya untuk menjual barang-barang dan tubuh siluman. Ingat, jika ada orang asing yang datang ke tempat ini habisi saja mereka apabila mereka menyerang mu, atau jika mereka tidak menyerang mu maka hal pertama yang harus kau lakukan adalah pecahkan giok ini lalu ajak merkea berdiskusi dahulu dan tanyakan maksud kedatangan mereka.


Jika kekuatan mereka ada di ranah Penyatuan Jiwa, maka pergi saja tidak perlu repot-repot melawan mereka atau membuang waktu bersama mereka, kau hanya akan mati.


Dan yang terakhir, jika kau merasakan kedatangan seseorang dari lorong yang kita lewati itu, hancurkan pintu masuknya. Karena itu tertutup oleh pintu masuk, maka langsung hancurkan saja, tidak usah pedulikan yang lainnya, pikiran saja nyawamu, mengerti?" Weng Lou berbicara dengan suara serius kepada Shan Hu.


Shan Hu untuk pertama kalinya, tidak langsung menanggapi pertanyaan dari Weng Lou. Dia diam dan berpikir selama beberapa detik, sebelum mengangguk, mengiyakan permintaan Weng Lou.


"Bagus, aku tidak akan pergi lama. Sebaiknya kau cari beberapa barang untuk menutup pintu depan. Setidaknya itu bisa kau gunakan untuk menahan musuh selama beberapa saat."


Setelah mengatakan itu, Weng Lou pun beranjak pergi dan segera kembali ke lantai atas dan bergerak ke luar dari bangunan markas milik Kelompok Darah.


Perhatian Weng Lou langsung terarah pada tubuh-tubuh anggota Kelompok Darah yang sebelumnya telah dia habisi dan letakkan di depan bangunan tersebut begitu dia keluar.


Weng Lou menoleh ke kanan dan ke kiri, mencoba mencari sesuatu untuk menutupi tubuh-tubuh itu tapi sepertinya itu percuma, tidak ada apapun yang bisa ia pakai. Weng Lou menoleh ke langit dan melihat bahwa kondisi sekitarnya telah lumayan sepi karena hari sudah akan gelap.


Karena dia terburu-buru, Weng Lou langsung mengambil jalan pintas saja, menggunakan Qi nya, dia menghancurkan tubuh pria-pria yang merupakan anggota Kelompok Darah itu, setelahnya Weng Lou pun segera pergi dari tempat itu tanpa mengetahui bahwa beberapa mata terus melihatnya dari kejauhan semenjak dia keluar dari markas Kelompok Darah.


***


Di penginapan tempat Weng Ying yang dan yang lainnya berada, Jian Qiang yang duduk tenang di dalam kamarnya mendadak bangkit berdiri dari tempatnya.


Dia melangkah keluar dan kemudian kembali masuk ke kamar tempat Weng Fang Di berada.


Terlihat di dalam situ hanya terlihat sosok Weng Wan, Weng Hua, Weng Ning, Lin Mei, dan juga Man Yue.

__ADS_1


Weng Ying Luan, dan Pang Baicha tidak ada di situ.


Jian Qiang menatap Weng Fang Di yang saat ini sedang duduk dan bersandar di dinding dengan kondisi yang sudah pulih cukup baik selama beberapa saat sebelum kemudian berbalik dan kembali beranjak pergi dari situ.


Kedatangan dan kepergiannya yang tiba-tiba seperti itu membuat Weng Wan dan yang lain menjadi kebingungan.


Tepat ketika Jian Qiang berjalan keluar, sosok Pang Baicha berjalan santai sambil membawa nampan besar berisikan makanan ke arah kamar Weng Fang Di.


Dahi Jian Qiang seketika itu juga mengerut ketika melihat tidak ada sosok Weng Ying Luan bersama dengan Pang Baicha.


"Dimana Ying Luan?" tanya Jian Qiang dengan suara serius.


Pang Baicha yang melihat sikap dari Jian Qiang itu tampak sedikit bingung.


"Dia di belakangku....."


Dengan santai Pang Baicha berbalik dan berniat menunjuk Weng Ying yang, tapi sayangnya sosoknya tidak ada di belakangnya tidak seperti perkiraannya.


"Eh....."


"Haaa...dia memang seorang jenius. Dia bahkan mampu menahan semua kekuatan jiwanya agar tidar terpancar keluar dari tubuhnya Bahkan aku tidak bisa melacaknya. Sepertinya dia bisa menggunakan kekuatan jiwanya dengan baik meski belum berada di ranah Penyatuan Jiwa sekalipun."


"Haruskah aku pergi mencarinya? Sebentar lagi malam, lingkungan di Kota Hundan akan berubah menjadi tempat penuh bahaya nantinya."


"Tidak perlu, biar aku saja. Kalian semua tetap di sini, kau pastikan tidak ada dari mereka yang pergi dari sini sebelum aku kembali."


"Baiklah."

__ADS_1


Setelah saling berbincang, Jian Qiang pun pergi keluar dari penginapan mencari keberadaan dari Weng Ying Luan yang telah pergi seorang diri keluar dari penginapan.


Jian Qiang tidak tau kemana perginya dia, tapi kemungkinan besar, Weng Ying Luan pergi ketempat Weng Lou dan Shan Hu, itulah perkiraan Jian Qiang.


__ADS_2