Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 571. Pergi


__ADS_3

Semua kekuatan dan sisa-sisa keberadaan Chizi Ryuan benar-benar habis diserap oleh pedang Samsara yang Weng Lou pegang.


Dia dapat merasakan, pedang kembarnya itu telah menyerap kekuatan yang sangat besar sebagai bayaran dari kekuatan yang dia keluarkan untuk membunuh Chizi Ryuan. Besar energi yang dikeluarkan, setara dengan yang diserap, bisa dibilang senjatanya ini merupakan gambaran yang sempurna dari hubungan Karma yang berlaku di dunia ini.


Sebagai pemiliknya, Weng Lou bahkan tidak mengerti bagaimana senjatanya ini bisa memiliki kekuatan sebesar itu. Bahkan Pedang Naga Malam nya tidak memiliki kekuatan seperti ini.


Ketika selesai menyerap Chizi Ryuan, sebuah kristal seukuran jempolnya mulai terbentuk di dalam perut Weng Lou. Itu merupakan sesuatu yang menyerupai Dantian yang dimiliki oleh para Praktisi Beladiri, namun hanya menyimpan Kekuatan Jiwa nya saja.


Akan tetapi, pada bagian tengah kristal tersebut, terdapat setitik Kekuatan Jiwa yang lebih murni dan padat. Ini merupakan Kekuatan Jiwa yang telah menyatu dengan tubuh fisik Weng Lou yang menunjukkan tingkat praktiknya saat ini.


Ketika seluruh kristal telah berubah seutuhnya, maka dia akan naik ke ranah Penguasaan Jiwa dan menjadi seorang Penguasa Jiwa. Jalannya masih panjang, melihat Kekuatan Jiwa yang telah berubah baru seperseratus dari keseluruhan kristal. Kemungkinan bagi orang biasa, mereka akan memakan waktu seumur hidup hanya untuk mencapai Penyatuan Jiwa tahap 9.


Namun Weng Lou berbeda, dia tidak memiliki Dantian berisikan Qi yang mana berarti dia bisa menyatukan Jiwa dan tubuhnya jauh lebih cepat dibandingkan orang dengan tingkat yang sama sepertinya.


Ketika Weng Lou selesai memeriksa tubuhnya, Weng Lou menyadari bahwa kondisi disekitarnya sangat kacau, dan banyak orang di ranah Pembersihan Jiwa dan Penyatuan Jiwa yang sedang tidak sadarkan diri. Beberapa dari mereka sedang berada dalam kondisi memprihatinkan seperrti kedua orang yang berada di dekat Weng Lou saat ini, yang tidak lain adalah Tetua Meigui dan Patriak Sekte Bambu Giok.


Sementara yang lainnya adalah para Tetua Sekte Bambu Giok yang berusaha menuju ke tengah lapangan sebelumnya.


Ada beberapa Tetua yang masih sadarkan diri, namun kondisi mereka tidak jauh lebih baik dengan mereka yang tidak sadarkan diri. Organ tubuh mereka terluka, dan beberapa tulang mereka mengalami keretakan atau bahkan patah karena tekanan yang sebelumnya Chizi Ryuan lepaskan.


Berbeda jauh dengan Weng Lou yang saat ini sedang dalam kondisi sangat prima. Dia telah mendapatkan kembali tingkat praktiknya yang hilang setelah selesai menyerap tubuh Chizi Ryuan, kini dia berada di ranah Penyatuan Jiwa tahap 3 awal dan memiliki Kekuatan Jiwa yang begitu murni serta melimpah di dalam tubuhnya.


"Aku tahu anda masih sadar, Patriak. Tidak perlu sewaspada itu untuk melihat apakah aku akan melakukan sesuatu terhadap Sekte Bambu Giok milik anda. Satu-satunya alasan ku masuk ke sekte ini adalah untuk menemukan cara agar aku bisa menggunakan kembali Kekuatan Jiwa ku yang telah lama terkubur di dalam tubuh ku, tapi sekarang aku sudah bisa menggunakan Kekuatan Jiwa ku kembali, jadi aku tidak memiliki kepentingan lagi dengan Sekte Bambu Giok," jelas Weng Lou yang hanya berdiri diam sambil memeriksa isi Kalung Spasial miliknya.


"Ha... hahaha....kau benar-benar anak yang luar biasa, atau kau sebenarnya adalah seekor monster yang menyamar menjadi anak kecil? Yah, semua itu tidak penting sekarang, lagipula aku harus berterima kasih karena sudah menyingkir Chizi Ryuan. Dia adalah akar permasalahan yang terjadi di Kekaisaran ini. Ambisinya terlalu besar untuk seorang penguasa di tempat terpencil seperti Kekaisaran Ryuan."


"Dia tidak menghiraukan bahaya macam apa yang bisa dibawanya ke tempat ini jika dia terus menerus berusaha memperlebar wilayah kekaisaran. Tidak hanya resiko serangan balik dari Kekaisaran lain, bahkan ada kemungkinan Kekaisaran Ryuan sendiri akan terpecah menjadi beberapa kubu ketika kekuatannya sedang tidak berada di puncak untuk menekan para bawahannya." Patriak Sekte Bambu Giok itu berbicara dengan tenang dan dia bangkit untuk duduk dan mengusap darah di wajahnya.


Weng Lou menatap pria itu sejenak, sebelum menghela napasnya. Dia menatap ke langit dan mulai berbicara, "Aku hanya menepati janjiku kepada seseorang."


Yang Weng Lou maksud disini adalah janjinya kepada Jiwa Kadal Iblis Api yang sebelumnya dia lawan dalam bentuk Ghoul. Pemuda yang telah membunuhnya dengan sangat kejam tidak lain adalah Chizi Ryuan. Sementara pria yang membawanya dari tempat tinggalnya adalah sang Patriak Sekte Bambu Giok sendiri, namun Weng Lou tidak berniat melawannya. Lagi pula dia sudah menolong Weng Lou, dan menurutnya kondisi Patriak yang sekarang sudah layak dianggap sebagai pembalasan terhadap kematian anak-anak Kadal Iblis Api.


Dia mengayunkan tangannya dan muncul beberapa botol giok yang segera dia berikan pada Patriak Sekte Bambu Giok itu.


Itu adalah beberapa pil penyembuh miliknya yang dia ambil dari Kalung Spasial nya. Kalung itu bisa digunakan menggunakan Kekuatan Jiwa, sehingga sekarang dia bisa mengakses kembali harta-harta miliknya yang sudah cukup lama tidak dia lihat. Patriak Sekte Bambu Giok mengambil salah satu botol dan melihat isinya yang merupakan beberapa pil penyembuh luka dalam tingkat menengah yang jika di Kekaisaran Ryuan merupakan pil penyembuh tingkat tinggi yang sangat berharga.


Jelas sekali pil-pil ini tidak berasal dari Kekaisaran Ryuan, karena bahkan para ahli pembuat pil di Kekaisaran Ryuan tidak ada yang cukup hebat untuk membuat pil sebanyak ini.


Dia tersenyum dan tertawa pelan, "Jadi kau benar-benar berasal dari luar wilayah Kekaisaran Ryuan, heh? Tidak kusangka murid yang dijuluki si Cacat Berbakat adalah seseorang yang memiliki kekuatan yang sanggup membunuh Kaisar Ryuan yang sekarang. Kau benar-benar jauh berbeda dengan yang aku pikirkan selama ini, maafkan aku dan terima kasih banyak atas semua yang kau lakukan."

__ADS_1


Tanpa mempedulikan statusnya, Patriak Sekte Bambu Giok menundukkan kepalanya kepada Weng Lou, sementara Weng Lou hanya diam dan mengangguk lalu berjalan ke arah Tetua Meigui yang merupakan gurunya di tempat ini.


Dia memandang perempuan itu selama beberapa saat, sebelum kemudian meletakkan sebuah pil di samping 'gurunya' itu, dan kembali berjalan pergi menuju ke tempat duduk para penonton, dimana para seniornya berada saat ini.


Patriak Sekte Bambu Giok hanya melihatnya yang berjalan menjauh dan memejamkan matanya sambil tertawa pelan dan tersenyum ketika mengingat masa lalunya yang merupakan guru dari Chizi Ryuan selama beberapa tahun. Bisa dibilang dialah yang membuat orang itu menjadi seperti sekarang. Kejam dan memiliki ambisi yang besar.


Di tempat duduk penonton, beberapa penonton yang tampak panik dan kebingungan segera teralih fokusnya oleh kedatangan Weng Lou yang berjalan dengan santai.


"Saudara Lou! Kau baik-baik saja? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa para Tetua mendadak pingsan, dan juga Guru, dimana dia?" Liang Lu segera menghampiri Weng Lou dengan beberapa murid Tetua Meigui yang lain mengikuti di belakangnya.


Mereka terlihat sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Weng Lou menatap mereka satu persatu selama beberapa saat lalu mengayunkan tangannya dan memberikan mereka sebuah botol giok berisikan pil yang bisa membantu latihan mereka masing-masing, sebelum kemudian berjalan pergi dari situ dan membuat mereka kebingungan.


"Hei! Bajingan! Kakak Lu menanyaimu baik-baik dan begini caramu membalasnya? Mengabaikannya? Dan, apa-apa an dengan bit giok ini? Kau memberikan kami racun, huh?!" Seorang murid laki-laki yang sudah tidak menyukai Weng Lou semenjak dia bergabung menjadi murid Tetua Meigui berseru kesal dan segera menaik bahu Weng Lou.


Namun, bukannya Weng Lou yang berbalik mundur, justru dirinya yang terbanting ke depan karena tertarik oleh kekuatan bahu Weng Lou yang sedang berjalan. Dia terseungkur ke tanah dengan tatapan tak percaya dan segera menatap kedua mata Weng Lou yang memancarkan cahaya keemasan dari Kekuatan Jiwa nya.


"Kau tidak apa?" tanya Weng Lou sambil menggerakkan tangannya, dan seutas tali emas membantu murid itu untuk kembali berdiri.


Liang Lu menganga lebar ketika melihat hal tersebut, dia jelas mengetahui tali emas yang dikeluarkan oleh Weng Lou adalah Kekuatan Jiwa. Tapi bagaimana bisa seseorang seperti Weng Lou yang tidak memiliki Dantian bisa menggunakan Kekuatan Jiwa? Hal itu tidak masuk akal baginya.


Dengan sedikit saran dari Weng Lou, Pao berhasil membuat dirinya menjadi cukup akrab dengan Liang Nu, namun hubungan mereka hanya sebatas teman untuk saat ini, dan itu semua karena Weng Lou. Jika tidak ada orang lain bersama mereka, mungkin Pao akan menangis haru kepada Weng Lou karena telah membantunya hingga saat ini.


"Lou! Kenapa kau disni? Apa yang sebenarnya terjadi pada semua orang di lapangan beberapa saat yang lalu? Mereka tiba-tiba jatuh ke tanah, dan mendadak Kekuatan Jiwa yang luar biasa menyebar ke seluruh gunung, membuat semua orang hanya bisa diam di tempat duduknya. Akan tetapi Kekuatan Jiwa itu mendadak hilang begitu saja!" Pao segera melontarkan segala macam pertanyaan dan keresahannya.


Baginya, Weng Lou adalah rekan terpercaya nya, bahkan dia jauh lebih akrab dengannya dibandingkan dengan sepupu-sepupu nya yang berada dalam satu klan yang sama dengan dia.


"Pao, aku akan segera pergi. Aku menitipkan pekerjaan ku sebagai pengawal Saudari Nu kepadamu, anggap saja ini sebagai bayaran ku padamu." Weng Lou menghiraukan pertanyaan Pao dan memberikan sebuah kitab teknik beladiri padanya.


Pao menerima itu dengan kebingungan, dia membaca tiga kalimat pada sampul depan kitab tersebut yang bertuliskan 'Teknik Meringankan Tubuh' yang merupakan versi yang telah dibuat oleh Weng Lou untuk orang-orang seperti Kuai Pao yang sangat bergantung pada kecepatan untuk menghasilkan serangan yang lebih besar.


Weng Lou kemudian berjalan pada Liang Nu, dia tersenyum kecil padanya lalu menepuk kepalanya dengan pelan. Dia tidak mengetakan apapun, namun wajah Liang Nu berubah menjadi terkejut ketika dia merasakan Kekuatan Jiwa Weng Lou masuk ke dalam kepalanya dan memberikannya beberapa arahan dan teknik beladiri yang dibuat berdasarkan pengalamannya.


Dia pun pergi kembali ke tengah lapangan setelah menyelesaikan semua urusannya. Dia menghampiri ke satu sisi lapangan, dimana Qianren sedang terbaring tak sadarkan diri. Dia sempat berjalan menuju ke tengah lapangan dan mendapatkan tekanan yang sangat kuat dari Chizi Ryuan. Untungnya dia tidak melawan tekanan itu dan hanya menderita beberapa luka dalam yang tidak permanen.


Dengan satu sentuhan di pipinya, Weng Lou menyembuhkan semua lukanya dan menatap wajah Qianren sejenak sebelum menghela napasnya. Dia masih menyesali perkataannya. Qianren merupakan rekan yang sangat baik padanya, meski mulutnya cukup tajam dan sering melukai hatinya, namun itulah yang istimewa dari gadis ini.


Di tangan Weng Lou, sebuah palu beban latihan yang dia pakai sebelum sampai ke ranah Penyatuan Jiwa muncul dan dia meletakkannya di samping kepala Qianren yang masih tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Anggap ini sebagai permohonan maaf ku," ucap Weng Lou lembut, dan dia pun segera mengeluarkan sebuah pedang tiruan Pedang Naga Malam dari dalam Kalung Spasial nya.


*Shu...tap...*


Weng Lou melemparkannya ke udara, dan kemudian segera melompat dan berdiri di atasnya. Tubuhnya sedikit bergoyang ketika dia berusaha menyeimbangkan diri, namun tak berlangsung lama tubuhnya sudah stabil.


Menarik napasnya, Weng Lou pun menggunakan Kekuatan Jiwanya, dan membuat pedangnya terbang ke atas langit.


Dia berhenti sejenak ketika telah mencapai jarak lima puluh meter di atas lapangan, dan menatap sekali lagi tempat yang sudah dia tinggali selama 3 bulan di Sekte Bambu Giok. Banyak hal-hal menarik yang dia lalui, dan baginya tempat ini adalah Sekte Langit Utara kedua nya.


"Selamat tinggal, mungkin akan sangat lama sekali aku datang ke sini. Sampai saat itu, tetaplah ada dan tunggu aku," gumam Weng Lou yang dengan cepat pergi menuruni gunung.


Di bawah gunung, dua bawahan Chizi Ryuan telah mendapatkan informasi K


kematian pemimpin mereka. Ada sebuah tato khusus pada diri mereka yang dibuat khusus oleh sang Kaisar agar tidak ada pengkhianatan yang terjadi.


Beberapa saat yang lalu, tato itu mendadak menghilang, yang berarti Chizi Ryuan telah mati, dan mereka terbebas. Namun siapa yang mampu membunuh seorang Penguasa Jiwa? Orang itu haruslah sesama Penguasa untuk dapat sekedar melukai seorang Penguasa Jiwa seperti Chizi Ryuan. Dapat membunuhnya secepat ini, hanya bisa dilakukan eh orang yang memiliki kekuatan diatas Penguasa Jiwa, yaitu Kaisar Jiwa. Yang berarti, ada seorang Kaisar Jiwa di Gunung Bambu Giok.


"Apa yang harus kita lakukan? Kaisar sudah mati, haruskah kita pulang dan mengabarkan hal ini?" tanya salah satu dari mereka.


"Tidak, kita tidak perlu melakukannya. Orang-orang pasti sudah mendapatkan kabarnya dari bawahan yang lain yang memiliki tato seperrti kita. Lebih baik kita terus mengawasi di sekitar sampai orang yang membunuh Kaisar muncul," tolak rekannya dengan cepat.


"Mengawasi seorang Kaisar Jiwa?! Kau gila?! Bagaimana mungkin kita bisa melakukannya!" Orang yang bertanya pertama itu berseru. Kaisar mereka yang hanya Penguasa Jiwa sanggup mengawasi lingkungan hingga diluar Wilayah Kekaisaran Ryuan seperti Kepulauan Huwa, apalagi seorang Kaisar Jiwa? Mereka hanya seperti butiran debu baginya.


"Tenang saja, aku bukan seorang Kaisar Jiwa, jadi tidak perlu cemas."


Mendadak, sosok Weng Lou Tah muncul dibelakang mereka sambil tersenyum dingin pada keduanya. Kedua orang itu langsung melompat kaget dan menarik senjata masing-masing yang diarahkan pada Weng Lou.


"Ka-Kau! Kau anak itu! Orang yang dicari Kaisar!" seru salah satu dari mereka dengan cepat.


Weng Lou tertawa sinis, dan segera menangkap kedua senjata mereka dengan tangan kosong, lalu menggenggamnya dengan kuat hingga menghancurkannya berkeping-keping.


""!!!!""


Keduanya bergidik ngeri, Weng Lou bagai seekor monster menyerupai anak kecil bagi mereka.


"Jika tidak mau mati, jangan mencoba kabur sedikitpun. Aku bisa membunuh kalian dengan sangat mudah, bahkan tanpa kalian sadari."


Pada saat ini, kedua orang itu merasa sangat menyesal tidak langsung pergi ketika merasakan Kaisar mereka, Chizi Ryuan mati. Sekarang, mereka malah harus berhadapan dengan seseorang yang bahkan jauh lebih berbahaya dibandingkan kaisar mereka itu.

__ADS_1


__ADS_2