
Weng Baohu Zhe yang ada di dalam kubah arena, terdiam di tempatnya dan tidak tau harus berbuat apa saat sosok Feng Lang menghilang dari hadapannya begitu saja.
Padahal dia sangat yakin bahwa mustahil bagi Feng Lang untuk bisa lepas dari ikatan akar miliknya.
Setelah setengah menit diam di tempatnya, Zu Zhang pun datang menghampirinya dan memberitahunya bahwa Feng Lang baik-baik saja dan sudah berada di tempat lain saat ini. Mendengar hal itu, Weng Baohu Zhe pun mengangguk mengerti.
Menghela napasnya, pakaian pelindung miliknya pun berubah menjadi abu berwarna keemasan yang kemudian masuk ke dalam tubuhnya.
Dengan langkah ringan, dirinya pun pergi keluar dari kubah pembatas ciptaan Zu Zhang. Dalam perjalanannya itu, dia pun baru menyadari bahwa kerusakan dari bagian arena yang ada di dalam kubah itu benar-benar rusak total karena pertarungannya melawan Feng Lang beberapa saat yang lalu.
Tepat ketika dirinya telah keluar dari kubah pembatas, terdengar suara sorakan menggema di seluruh arena. Bisa didengar dengan jelas nama Weng Baohu Zhe yang disoraki oleh para penonton karena telah memenangkan pertarungan yang paling menegangkan sejauh ini.
"TETUAAA!!!!"
"Kau berhasil Tetua!!!"
Weng Tie dan murid-murid dari Keluarga Leluhur Weng memanggil-manggil nama Weng Baohu Zhe dengan haru. Tidak mereka duga, bahwa mereka bisa melihat pertarungan yang begitu menegangkan dari Tetua yang telah menjaga mereka selama beberapa waktu ini.
Menonton pertarungan antara Weng Baohu Zhe melawan Feng Lang membuat mereka semua seperti terbawa pada pertarungan tersebut. Rasa hormat pada Tetua mereka pun semakin besar setelah menonton pertarungan kali ini.
Di arena, Weng Wan, Weng Hua, dan Weng Ning terlihat tersenyum tipis melihat kemenangan Weng Baohu Zhe. Meski ketiganya tidak terlalu mengenal sosok Baohu Zhe, akan tetapi mereka selalu menaruh rasa hormat mereka setinggi-tingginya padanya.
Perlu diketahui, usia dari Weng Baohu Zhe adalah sama seperti tampilannya, yaitu awal empat puluhan.
Meski begitu, dia sudah bisa menjadi tetua yang cukup memiliki reputasi di Keluarga Leluhur Weng, yang mana telah membuktikan kekuatan yang dia miliki.
Weng Wan dan dua lainnya sama sekali belum pernah melihat Weng Baohu Zhe bertarung seperti pada pertarungan yang terjadi sebelumnya. Hal ini membuat mereka semakin takjub padanya dan telah menjadikannya sebagai contoh bagi mereka bertiga.
"Tetua hebat sekali, yah?" Weng Wan berbicara dengan senyumnya yang tidak menghilang.
"Em. Dia adalah salah satu dari sedikit Tetua yang mau mengakui kita sebagai bagian dari Keluarga Leluhur Weng, kekuatan dan kepintarannya selalu membuatku kagum," balas Weng Hua hang juga tersenyum.
"Dia merupakan Tetua yang tidak pernah bermalas-malasan, selalu berlatih setiap ada kesempatan. Berbeda dengan para Tetua yang ada di Kastil keluarga, dimana mereka lebih suka menghabiskan sisa umur mereka dengan selalu menghambur-hamburkan uang mereka untuk memanjakan keturunan mereka." Weng Ning ikut berpendapat.
"Ehem.....itu karena dia belum menikah saja sih...." sanggah Weng Hua sambil tersenyum kecut.
__ADS_1
Tak lama, sosok Weng Baohu Zhe berjalan di depan mereka dan mereka bertiga lun segera menunduk hormat padanya.
"Jangan kecewakan aku, kalian bertiga. Aku menaruh harapan besar pada kalian bertiga," ucap Weng Baohu Zhe pada ketiga sebelum kemudian lanjut berjalan melewati mereka bertiga.
***
Di dalam kubah pembatas.
Zu Zhang menatap seluruh bagian arena yang ada di dalam situ dengan wajah lesuh.
Dia menghela napasnya, lalu kemudian mulai mengendalikan seluruh bagian arena yang ada di dalam kubahnya menggugurkan kekuatan jiwa miliknya.
Terlihat puing-puing arena yang telah hancur berantakan karena pertarungan antara Weng Baohu Zhe melawan Feng Lang beberapa saat yang lalu mulai terangkat ke udara, lalu kemudian secara ajaib menyatu kembali menjadi satu.
Dengan kecepatan yang bisa diikuti oleh mata manusia biasa, seluruh bagian arena yang ada di alam kubah kembali seperti semula tanpa adanya terlihat kerusakan sedikit pun.
Slap....
Zu Zhang menjentikkan jarinya dan kembali terbang ke atas arena saat seluruh bagian arena tersebut telah selesai diperbaiki.
Namun tunggu dulu, ada yang ingin aku tanyakan pada kalian para penonton ku! Apakah kalian masih bersemangat untuk menonton pertarungan selanjutnya?!" Zu Zhang bertanya dengan bersemangat.
""Yaaa!!!!""
Para penonton menjawab dengan serentak, membuat Arena Pertandingan kembali bergemuruh.
Zu Zhang tersenyum lebar mendengar suara mereka semua.
"Baiklah! Aku sudah mendengar suara semangat dari kalian semua! Kalau begitu, tanpa berlama-lama lagi, inilah dia peserta yang akan bertarung di pertarungan ketiga kita hari ini!!!!"
Dua buah nama kembali muncul di atas arena, para penonton dan peserta turnamen dengan cepat membaca kedua nama tersebut.
Terlihat para penonton menjadi terdiam membaca salah satu nama yang akan bertarung selanjut.
Nama pertama, sekaligus yang membuat para penonton menjadi tertegun, dia adalah sosok yang digadang-gadang sebagai yang terkuat diantara semua pemuda yang ada di Pulau Pasir Hitam ini. Dia adalah Wudi Ge, pemuda dengan gelar yang terkuat diantara para pemuda lainnya.
__ADS_1
Nama kedua adalah yang membuat semua mata peserta menatap sosoknya. Itu adalah Weng Lou, tertulis hanya Lou saja di atas arena karena dia memakai nama samaran saja.
"Giliran ku kah?" ucap Weng Lou yang dengan langkah pasti segera berjalan ke arah kubah pembatas Zu Zhang.
Dirinya berpapasan dengan Wudi Ge, dan keduanya pun berjalan bersama memasuki kubah tempat pertarungan keduanya akan berlangsung.
"Kubah ini sedikit lebih kecil dari perkiraan ku." Qian Yu berbicara di dalam kepala Weng Lou.
"Pertarungan ini.....kau tidak akan bisa mengeluarkan seratus persen serangan milikmu di arena tertutup seperti ini," Ye Lao.
Weng Lou hanya diam mendengarkan mereka berdua, dan terus melangkahkan kakinya, mengambil tempatnya sebelum pertarungan dimulai.
"Apa yang kalian harapkan? Kita sama sekali tidak bisa protes terhadap keputusan wasit atas kubah pembatas ciptaannya ini. Setidaknya aku harus bersyukur, di dalam sini, ada banyak tenaga dalam alam yang melimpah. Aku tidak perlu takut Qi milikku akan habis di pertarungan ini," ucap Weng Lou.
Dia sampai di mana menurutnya adalah tempat yang cocok untuk mengambil ancang-ancang sebelum bertarung. Begitu juga dengan Wudi Ge. Dia tidak terlalu memilih tempatnya secara khusus, hanya asal mengambilnya saja.
Zu Zhang menatap secara bergantian mereka berdua, sebelum kemudian tatapan segera berpindah pada satu sudut dimana terlihat sosok seorang pria tua sedang berdiri di bagian paling belakang tempat penonton.
Pria tua itu dengan tatapan tajamnya menatap balik ke arah Zu Zhang. Menerima tatapan balasannya, dia pun segera mengubah tatapan ke atas atap arena dimana terlihat Yi Chen sedang sibuk menikmati teh miliknya.
"Haaa....ini akan menjadi pertarungan panjang dan merusak arena lainnya," keluhnya dengan suara pelan sebelum kemudian mulai mengatur suaranya.
"Ehem.... seperti yang kalian lihat di dalam kubah pembatas ini, dua orang yang akan bertarung selanjutnya, si Pemuda Terkuat, Wudi Ge, dan peserta yang akan melawannya, Lou!" Zu Zhang berusaha berbicara sesemangat mungkin hingga menarik perhatian para penonton.
"WUUUUU!!!!! HAJAR DIA WUDI GE!!!"
"JANGAN BERI AMPUN PADANYA!!!!"
"Ayo! Habisi dia!!"
"Aahhh-!!!! Wudi Ge!!! Kau tampan sekali!!!"
"Wudi Ge!!! Aku mencintaimu!!!!"
Terdengar sorakan pujian pada Wudi Ge yang menggema di seluruh arena. Satu-satunya yang tidak mendapatkan pujian dan malah mendapatkan makian adalah Weng Lou sendirian.
__ADS_1
"Naahh!!!! Kita mulai saja pertarungan ini! Para peserta, ini dia! Pertarungan ketiga, Wudi Ge melawan Lou, dimulai!!!!"