Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 427. Teknik Pedang Keluarga Xin


__ADS_3

TRAANGGG!!!!


Benturan keras terjadi tepat ketika pedang dari Qi milik Weng Lou dan Xin Hao saling bertemu di udara.


Percikan api terjadi karena pergesekan dadi pedang Qi keduanya seperti layaknya pedang dari logam.


Weng Lou menarik kembali pedang Qi miliknya, dan memegangnya kuat dengan tangan kanannya. Aura di sekitar tampak sedikit berubah, tapi dia masih tetap tersenyum kecil memandang ke arah Xin Hao yang juga ikut menarik pedang Qi nya.


Keduanya saling bertatapan dan tersenyum kecil sampai kemudian mereka berdua kembali mengayunkan pedang di tangan mereka.


"Coba tahan ini, Xin Hao!"


Bermodalkan tenaga fisiknya yang luar biasa besar, Weng Lou mengayunkan pedang di tangan kanannya ke arah Xin Hao dan segera di sambut olehnya.


KLAANNGGGG!!!!


Benturan keras kembali terjadi, Xin Hao dengan bantuan Qi miliknya menahan pedang Qi milik Weng Lou.


Krack....


Tanah yang ia pijak retak seketika karena besarnya perbedaan kekuatan yang dia tahan. Bisa dibayangkan jika seandainya pedang Qi Weng Lou itu mengenai telah dirinya, dia pasti akan mendapatkan luka yang sangat serius.


"Haaa....."


Ekspresi wajah Xin Hao berubah menjadi serius dan tatapannya fokus pada Weng Lou. Dia menyadari jika dia meladeni Weng Lou dengan cara main-main seperti yang dilakukan oleh Weng Lou, maka dia yang akan kalah terlebih dahulu.


Jadi, dia harus mulai serius. Meski dia akan kalah, setidaknya dia tidak memilih untuk menyerah dan menghadapi Weng Lou secara jantan.


"Teknik Pedang Keluarga Xin, Haluan Pedang Pembalik."


Pedang Qi di tangan Xin Hao diarahkan ke samping dan pedang Weng Lou pun mengikutinya. Xin Hao langsung membalik pedangnya saat pedang Weng Lou sampai di tanah.


Dengan gerakan cepat sebuah sayatan terarah pada leher Weng Lou.


Tentunya dia yakin itu tidak akan melukai Weng Lou sama sekali, terbukti ketika serangan itu akan mengenai lehernya, tubuh Weng Lou sudah berpindah ke samping Xin Hao.


"Fyiuh~ Itu hampir saja..." ucap Weng Lou yang menyentuh lehernya.


Serangan Xin Hao tidak berhenti di situ, setelah Weng Lou selesai berbicara pedang Qi miliknya kembali dia tebaskan ke arah Weng Lou.


Shu-.....Syaat-......


Tebasan demi tebasan dilancarkan olehnya, namun semuanya berhasil dihindari oleh Weng Lou yang masih memasang senyum kecilnya.


"Teknik berpedang mu cukup bagus, hanya saja kau terlalu banyak memasukkan kekuatan di dalamnya, sehingga tidak mengimbangi kecepatan sebenarnya yang dimiliki oleh dirimu," komentar Weng Lou.


Ssshh-!!!

__ADS_1


"Terima kasih komentarnya, tapi memang beginilah teknik berpedang milik keluarga ku," balas Xin Hao yang kembali memberikan serangan pada Weng Lou.


Weng Lou sedikit menunjukkan kepalanya dan menghindari serangan tersebut, lalu segera mengganti caranya memegang pedang Qi miliknya.


"Hm? Bukankah itu malah merugikan mu? Kecepatan milik mu hampir menyamai ku, jika kau mengubah gaya berpedang mu itu, ada kemungkinan kau sudah mendaratkan serangan pada diriku," ujar Weng Lou.


Tranggg.... srtttttt-


Melakukan tebasan memutar, Xin Hao terus mencoba menembus pertahan yang dimiliki oleh Weng Lou.


"Itu tidak perlu....karena teknik pedang milik keluarga ku, adalah teknik pedang yang paling cocok dengan diriku."


Seusai mengatakan hal itu, Qi mulai menyelimuti tangan kanan dan juga kedua kaki Xin Hao.


Weng Lou memperhatikan itu dengan seksama, dan menyadari bahwa Xin Hao akan kembali memberikan serangan padanya.


Dia segera memasang posisi kuda-kuda, dan siap untuk kembali bertahan. Dia penasaran, sehebat apa teknik pedang keluarga Xin Hao sampai-sampai begitu dia banggakan.


"Teknik Pedang Keluarga Xin, Arus Sayatan Pedang."


Mendadak, dari tanah tempat Weng Lou berpijak air mulai keluar dan membasahi kakinya. Air tersebut membentuk satu garis lurus, yaitu dari tempat Xin Hao berdiri, hingga mencapai tempat Weng Lou.


Pedang Qi diangkat setinggi kepalanya, dan kemudian, Xin Hao melesat ke arah Weng Lou.


Setiap langkah yang ia ambil, membuat air terciprat, dan kemudian terjadi sesuatu yang tidak Weng Lou duga. Percikan air tersebut berubah menjadi bilah-bilah air yang tajam dan mulai memotong apa saja yang mengenainya.


"Unsur air? Pantas saja kau bersikukuh mengenai teknik berpedang mu. Ternyata teknik milik keluarga mu ini adalah teknik pedang unsur yah, Xin Hao!"


Dia mengatur pernapasannya, dan cahaya keemasan pun tampak menutupi kedua pupil matanya. Dengan fokus dia memperhatikan tiap langkah yang diambil oleh Xin Hao, semua informasi dari hasil pengamatannya tersebut segera masuk ke kepalanya


"Bilah Ombak!" seru Xin Hao yang sudah berada di depan Weng Lou.


Pedang Qi Xin Hao mengeluarkan cahaya berwarna biru terang yang kemudian berubah menjadi bilah air raksasa dan menyerang ke arah dada Weng Lou.


"Pemadatan," ucap Weng Lou dengan pelan.


Besar pedang Qi miliknya mendadak menyusut beberapa centi begitu juga dengan panjangnya. Segera Weng Lou mengayunkan pedangnya tersebut dan menebaskan nya pada bilah air tersebut.


Sringg-!!!


Mata Weng Lou melebar saat melihat pedang Qi miliknya yang telah dipadatkan tersebut malah terpotong menjadi dua begitu terkena bilah air milik Xin Hao.


Bilah air tersebut kemudian bergerak dan mengenai dada Weng Lou.


Syaat-


Tubuh Weng Lou terdorong mundur, bajunya robek pada bagian dada, dan memperlihatkan dadanya yang masih tidak terluka sedikitpun. Untungnya dia sempat membuat pelindung Qi untuk menahan bilah air tersebut.

__ADS_1


"Haha, itu tajam sekali."


Weng Lou tertawa pelan dan menoleh ke arah Xin Hao.


Terlihat dia menghela napasnya begitu melihat dada Weng Lou yang sama sekali tidak terluka setelah terkena bilah airnya.


"Aku menyerah, percuma aku membuang waktu bertarung denganmu di sini, sudah jelas sekali aku tidak akan bisa menang melawan mu." Xin Hao menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengangkat bahunya.


Weng Lou hanya tersenyum mendengarnya. Mereka berdua pun saling bersalaman satu sama lain, sebelum akhirnya Weng Lou dan Xin Hao bersama-sama beranjak pergi dari situ. Pertarungan mereka selanjutnya adalah di bagian arena lain.


***


Babak seleksi kedua terus berlanjut hingga waktu menunjukkan sudah hampir sore hari.


Kebanyakan peserta sudah melakukan pertarungan ke 60 mereka, dan sebentar lagi mereka akan selesai bertarung melawan semua peserta yang ada.


Dalam waktu beberapa jam, ada sekitar 10 orang yang tewas dalam pertarungan di seleksi kedua ini. Sebagian besar adalah mereka yang berada di ranah Pembersihan Jiwa, sementara sisanya merupakan Praktisi Beladiri yang berada di ranah Penyatuan Jiwa, contohnya adalah Lengxue yang telah dibunuh oleh Man Yue dengan bantuan dari Xin Yue.


Saat ini di kelompok Weng Lou ada beberapa yang telah berhasil mencatat rekor kemenangan berturut-turut sampai saat ini tanpa kekalahan sedikitpun.


Mereka adalah Jian Qiang, Weng Lou, Lin Mei, dan juga Weng Hua.


Keempatnya bertarung dengan aman dan hati-hati, sehingga berhasil memperoleh kemenangan terus menerus.


Faktor keberuntungan juga berperan besar dalam membuat keberhasilan mereka sejauh ini. Kebanyakan lawan yang keemapatnya hadapi tidaklah terlalu kuat untuk mereka hadapi. Terutama bagi Jian Qiang yang telah berada di ranah Penyatuan Jiwa, dirinya tidak mengalami kesulitan berarti selama pertarungannya sejauh ini.


Weng Ying Luan sebenarnya juga tidak mengalami kekalahan sama sekali, tapi karena dia dan Yang Guang memilih untuk seri dalam pertarungan mereka, jadinya dia tidak dihitung.


Anggota kelompok lainnya semuanya juga bermain dengan aman sesuai dengan arahan dari Weng Lou, begitu mereka merasa tidak sanggup bertarung melawan lawan mereka, maka mereka harus menyerah tanpa pikir panjang lagi.


Dari semuanya, orang yang paling sial adalah Weng Wan.


Dia saat ini telah menyerah sebanyak 3 kali kepada lawannya.


Bukan dia tidak sanggup bertarung, hanya saja lawan yang ia dapat pada 10 pertarungan pertama semuanya berada di ranah Penyatuan Jiwa. Dia dengan mudah menumbangkan lawannya pada 7 pertarungan, namun 3 lainnya dia memilih untuk menyerah karena menurutnya tidak bagus mengerahkan terlalu banyak kekuatannya pada awal-awal pertarungan.


Dia juga tidak menyesali semua itu, yang penting dia bisa membuktikan kekuatannya pada Turnamen Beladiri Bebas ini dirinya sudah cukup puas.


Namun sayangnya, pada pertarungan ke 63 nya ini, dia harus kembali dihadapkan dengan lawan yang akan membuat dirinya kerepotan.


Kali ini di hadapannya, seorang pemuda dengan sabit panjang di tangannya berdiri dan tersenyum mengejek pada dirinya saat memasuki bagian arena tempat mereka akan bertarung.


Pemuda ini tidak lain adalah pemuda yang sama dengan pemuda yang sebelumnya sempat berbicara dengan Wudi Ge dan berhadapan dengan Yang Guang pada babak seleksi pertama.


Weng Wan tampak tidak peduli dengan senyuman mengejek pemuda tersebut dan memilih untuk langsung memasang posisi siap bertarung.


"Hei! Kau adalah salah satu murid dari perwakilan Keluarga Leluhur Weng, bukan?" tanya pemuda itu sambil menunjukkan sabitnya ke Weng Wan.

__ADS_1


Menatap dengan malas, Weng Wan memilih untuk diam dan tidak berminat untuk menjawabnya sama sekali.


Sepertinya dia akan menghadapi lawan yang berisik, pikir Weng Wan.


__ADS_2