
Weng Lou mengeluarkan sebuah topeng yang terbuat dari logam dari balik bajunya dan memakainya.
Topeng itu hanya menutupi setengah wajahnya saja, namun itu sudah cukup untuk dia pakai sebagai penyamaran. Lagi pula, tidak akan ada yang mengingat wajahnya setelah ini.
"Kapal sudah masuk di wilayah pantai, tinggal beberapa saat lagi sebelum berlabuh di perairan dangkal." Kera Hitam Petarung memberitahu Weng Lou saat kedua matanya memandang sekumpulan prajurit yang telah bersiap di pinggir pantai dengan senjata lengkap di tangan mereka.
Dia hanya bisa menatap mereka semua dengan tatapan kasihan saat melihat Weng Lou yang telah menyarungkan pedang kembar miliknya dan bersiap melesat pergi.
"Hei, jangan terlalu kasar. Lagipula mereka tidak ada hubungannya dengan lawan mu waktu itu," ujar Kera Hitam Petarung. Weng Lou menatap dirinya sejenak sebelum mengangkat kedua bahunya, "Aku akan mencobanya. Tapi bukan salah ku jika seandainya mereka ada yang mati, salah mereka karena terlalu lemah."
Weng Lou menggenggam erat pinggiran depan kapal. Dia mengambil ancang-ancang, dan dalam satu langkah kuat, dirinya pun melesat cepat di udara ke arah pantai seperti sedang terbang. Sosoknya ini dilihat oleh kapten prajurit penjaga pantai Pulau Perbatasan. Kapten itu segera memberi peringatan pada semua bawahannya di tempat itu, akan tetapi peringatannya terlambat karena Weng Lou sudah lebih dulu mendarat di pantai.
*BUM!* Pasir dan debu naik ke udara, membuat pandangan para prajurit terganggu sehingga mereka tidak bisa melihat sosok monster mengerikan yang sedang menatap mereka semua seperti sebuah mangsa empuk yang siap dipermainkan.
"Perisai!" Secara mendadak, kapten para prajurit berseru pada para prajurit yang membawa perisai.
Seruannya itu lambat direspon oleh mereka, dan sesuatu melesat sangat cepat dari balik kepulan debu dan mengenai tubuh para prajurit yang berada paling depan. Setelah terkena sesuatu itu, tubuh prajurit itu terlempar mundur dan memperlihatkan wajah kesakitan sepeti baru saja terkena sebuah serangan bertenaga besar.
*Tak....* Sebuah batu berukuran sebesar kepalan tangan anak-anak terjatuh dari perut prajurit tersebut begitu prajurit itu mendarat di tanah setelah terlempar sejauh lima meter lebih bersama beberapa rekan yang berdiri dibelakangnya. Batu ini adalah sesuatu yang menabraknya dan membuatnya terlempar.
Dari balik kepulan debu, sosok bayangan gelap berjalan perlahan dari dalam lubang kecil yang ada dan berbicara dengan suara santai, "Ada apa dengan kalian semua? Bukannya prajurit yang bertugas di tempat seperti ini memiliki tugas menjaga keamanan, kenapa kalian malah bermain-main di sini? Apa ada perompak yang memasuki pantai?"
Perlahan, Weng Lou melangkah keluar dari balik debu dan memperlihatkan dirinya pada para prajurit yang ada di situ. Kapten para prajurit itu terkejut melihat sosok Weng Lou yang ternyata adalah sosok yang sebelumnya melesat cepat ke arah mereka. Namun dia tidak bisa memindai identitasnya karena topeng yang dikenakannya.
"Siapa kau?! Dan dari mana asal mu?!" tanya sang Kapten dengan memberanikan dirinya sendiri. Dia telah melihat kekuatan dari lemparan Weng Lou yang mampu membuat beberapa bawahannya langsung tumbang hanya dengan sebuah batu yang tidak lebih besar dari kepalan tangannya.
Mata Weng Lou menatap kapten prajurit tersebut dan senyum sedikit tercipta pada sudut bibirnya, "Aku? Aku bukan orang penting, hanya seorang yang datang dari tempat jauh dan terpencil."
Mendengar balasan Weng Lou itu, kerutan tercipta pada dahi Kapten prajurit itu, dia menarik napas dingin lalu mengangkat tangannya dan segera para pemanah di belakangnya mengangkat busur mereka dan menempatkan anak panah mereka, lalu membidik ke arah Weng Lou berada.
"Jangan menguji ku, meski kau sangat kuat tapi aku tidak pernah gentar dalam melaksanakan tugasku sebagai Kapten pasukan penjaga Pulau Perbatasan!"
"Kapten? Hah....kau lebih cocok menjadi penjaga toko di pasar menurut ku."
Ejekan Weng Lou segera membuat dia menjadi tersinggung dan dia pun memberikan perintahnya, "Tembak!" Bersamaan dengan itu, puluhan panah di tembakan ke arah Weng Lou. Melihatnya, Weng Lou hanya terkekeh sejenak sebelum kemudian sosoknya sudah menghilang dari situ dan muncul di depan prajurit yang berada di depan formasi pertahanan.
"Sepertinya kapten mu itu terlalu mudah tersinggung, menurut mu begitu juga, bukan?"
?!
"Mundur!" seru prajurit yang berada di depan Weng Lou dengan panik. Akan tetapi, sebuah telapak tangan segera menghantam pipinya begitu dia selesai berbicara dan membuatnya terlempar tinggi ke udara.
*Gdebuk.* Tubuh prajurit itu jatuh menghantam tanah tidak jauh dari tempatnya sebelumnya sementara itu prajurit lain yang ada di situ segera menyerang Weng Lou menggunakan senjata mereka setelah menyaksikan kejadian tersebut.
__ADS_1
Mereka tidak tau sekuat apa Weng Lou, tapi dia berani menyerang mereka para prajurit yang tergabung dalam pasukan penjaga pantai Pulau Perbatasan, maka dia harus mereka bunuh karena merupakan ancaman.
"HAAA!!!" Seorang prajurit dengan tombak panjang di tangannya menusuk ke arah perut Weng Lou dari balik rekannya akan tetapi dengan cepat ditangkap oleh Weng Lou menggunakan tangan kirinya. Bibir Weng Lou tersenyum melihat tombak itu, dengan satu dorongan kuat, dia menjatuhkan pemilik tombak itu dan dia pun segera menjadikan tombak itu menjadi senjatanya.
"Bukan begitu cara menusuk yang benar menggunakan tombak, jika ayahku melihatmu dia pasti akan menceramahi mu." Weng Lou menggelengkan kepalanya. Tombak di tangannya kemudian di putarnya, dan dalam satu ayunan dia pun menjatuhkan lima orang di sekitarnya sekaligus.
Tombak itu pun ditusukkan nya ke arah seorang prajurit dengan perisai dan dengan mudahnya tombak itu menembus perisai di tangan prajurit tersebut.
*Tak!!* Weng Lou menarik perisai itu dengan tombak di tangannya dan membenturkan nya di kepala prajurit itu dan membuatnya tak sadarkan diri begitu saja.
Dengan jatuhnya prajurit itu, kini para prajurit lain terlihat mulai memperhitungkan kembali kekuatan yang ditunjukkan Weng Lou. Kekuatannya jauh dari apa yang mereka bisa tangani atau bahkan untuk dikalahkan. Segera mereka mengambil jaraknya dan dengan perlahan seperti memberi sinyal untuk melakukan sesuatu.
"Hmp! Kau tidak akan bisa pergi dari sini!"
*BUM!!!* Dari belakang Weng Lou, Kapten para prajurit tersebut melesat dan mengayunkan pedang besarnya ke arah Weng Lou namun dengan mudah dihindari oleh Weng Lou. Pedangnya itu menghantam tanah tepat di samping Weng Lou, dan sepertinya bersiap untuk kembali di ayunkan oleh kapten itu.
"Bahkan senjata mu seperti mainan. Lebih baik kau segera pensiun saja, aku merasa kasihan pada para bawahan mu itu. Pasti mereka sangat terpaksa menjadi bawahan mu karena takut kau memarahi mereka," ejek Weng Lou sambil dengan santainya menendang-nendang pedang besar di atas pasir itu.
Urat-urat muncul di kepala kapten itu dan genggamannya pada pedangnya semakin kuat. Dia mengangkat kepalanya dan menatap Weng Lou dengan mata merah yang mengandung napsu membunuh sangat pekat, "Bagus, bagus sekali. Aku ingin melihat kepala mu itu terus berbicara omong kosong saat aku memenggalnya."
*Hussh!* Dia mengangkat kembali pedangnya dan melompat mundur sambil membentuk pola tangan menggunakan tangan kanannya.
"Ombak Api!" Ketika mendarat, dia segera menyemburkan api dalam jumlah besar dari dalam mulutnya ke arah Weng Lou.
*Whush!*
Saat kobaran api menghilang, sosok Weng Lou ikut menghilang. Kapten pasukan penjaga pantai Pulau Perbatasan itu tampak panik begitu melihat Weng Lou yang telah menghilang. Dia menoleh ke kanan dan kiri mencari keberadaannya namun tidak berhasil menemukannya sama sekali.
Sampai kemudian, sebuah bayangan menutupinya dari cahaya matahari pagi dan membuatnya menoleh ke atas untuk melihat bahwa sosok Weng Lou sedang mengarah ke arahnya.
Bukannya takut atau panik, dia justru tersenyum lebar dan tertawa lepas, "Hahahaha! Kau banyak mengatakan omong kosong, namun sepertinya kau tidak tau bahwa menghindar ke udara adalah sebuah yang hanya dilakukan oleh orang bodoh!"
Pedang di tangannya segera berubah dan mengeluarkan cahaya saat Tenaga Dalam milik nya dialirkan ke dalamnya. Dengan genggaman erat, pedang itu di ayunkan ke arah datangnya Weng Lou sementara Weng Lou sendiri tidak bereaksi melihat itu.
Tangan kanannya terkepal erat, dan dia pun memukul ke arah pedang besar tersebut.
*BAMM!!! KRAKKK!!!* Pedang yang beradu dengan tinju Weng Lou itu hancur berkeping-keping ketika saling beradu dan tinju Weng Lou terus bergerak dan memukul telak wajah kapten itu hingga membuatnya menghantam pasir.
Dunia terasa seperti berputar dari sudut pandang kapten tersebut saat kemudian dia kehilangan kesadarannya. Para prajurit yang masih tersisa terpana menyaksikan hal ini, mereka dengan cepat membuat keputusan dan buru-buru berlari pergi dari situ. Tapi apa Weng Lou akan melepaskan mereka? Tentu saja tidak. Kekesalan di hatinya belum juga berkurang dan dia pun memusatkan perhatiannya pada semua prajurit itu.
"HAAA!!! DASAR MONSTER!!!"
"Pe-Pergi!!! Tidak! Jangan! AAAKKKK!!!"
__ADS_1
"KU MOHON! AKU HANYA MELAKUKAN PEKERJAAN KU SAJA!"
"KABUR!!! JANGAN SAMPAI TERTANGKA-AH... APA YANG KAU MAU?!"
Teriakan dan rintihan memenuhi sekitar pantai saat Weng Lou memberikan pelajaran pada semua prajurit yang tersisa menggunakan tinju penuh cintanya. Saat ini, yang tersisa hanya beberapa suara ratapan kesakitan dari para prajurit yang masih sadarkan diri di tanah sementara Weng Lou berdiri dan menjatuhkan seorang prajurit terakhir yang tersisa.
*Buk....* Tubuh prajurit itu jatuh tepat di atas tubuh rekannya yang telah kehilangan kesadarannya karena bekas pukulan di kepalanya.
"Haaah... membosankan. Mereka bahkan tidak mirip seperti penjaga wilayah," gumam Weng Lou yang sibuk membersihkan darah di kedua tangannya. Dengan santai dia pun berjalan melewati tubuh para prajurit yang tak sadarkan diri dan melambai ke arah kapal uap yang saat ini mengapung di laut dekat pantai.
Melihat lambaian tangannya, Kera Hitam Petarung segera melompat keluar dari tempatnya dan mendarat di pantai. Pasir dan air segera berhamburan ke segala arah saat tubuh besarnya mendarat di pantai.
"Hmmm.....udara ini....ahh....aku sudah lama tidak merasakannya. Benar-benar suatu pulau tropis yang bagus. Udara ini...kelembapannya... benar-benar sempurna." Kera Hitam Petarung mengatakan sesuatu yang aneh pikir Weng Lou, tapi dia tidak mengatakan apapun dan hanya segera naik ke atas tubuh Kera Hitam Petarung.
Setelah dia naik, Kera Hitam Petarung pun segera membawanya menuju ke arah menara pengawas yang berada di dekat pantai yang terletak di atas sebuah batu karang besar.
*Bam....* Kera Hitam Petarung mendarat beberapa meter dari batu karang tersebut dan Weng Lou pun turun dari atas tubuhnya. Keduanya segera berjalan ke arah menara itu dan salah satu penjaga yang melihat keduanya langsung terdiam dan terjatuh ke tanah. Dia terkejut melihat sosok binatang buas besar seperti Kera Hitam Petarung.
Di pulau ini, tidak ada hutan sama sekali karena besarnya yang hanya beberapa ribu meter saja. Hampir separuh wilayahnya merupakan tanah berpasir sedangkan sisanya hanyalah padang rumput dan beberapa pepohonan jadi mustahil ada binatang buas sebesar Kera Hitam Petarung di pulau ini.
Tempat ini dijadikan sebagai Pulau Perbatasan karena luasnya masih cukup untuk dipakai membangun sebuah pasukan penjaga yang bisa dipakai untuk berjaga-jaga jika ada kapal asing yang masuk dalam wilayah perairan Kekaisaran Ryuan.
Pasukan penjaga di pulau ini terbagi dua, yang pertama adalah pasukan penjaga pantai, dan yang terakhir adalah pasukan penjaga utama. Pasukan penjaga pantai merupakan pasukan di garis terdepan, sementara pasukan penjaga utama adalah kekuatan tempur utama dari pasukan penjaga di Pulau Perbatasan ini. Meski ada perbedaan antara keduanya, namun perbedaan kekuatan yang dimiliki tiap anggota di kedua pasukan ini tidaklah berbeda jauh.
Namun melihat Kera Hitam Petarung itu, membuat penjaga menara berpikir bahwa semua pasukan penjaga pantai telah habis dikalahkan olehnya.
"Aku...aku harus membunyikan bel bahaya. Ya, benar! Bel bahaya!" Penjaga itu dengan segera kembali tersadar dan dia pun buru-buru berlari ke arah sebuah tali yang menggantung di dinding menara.
Dengan gesit dia mengambil tali itu dan segera menariknya sekencang mungkin.
*KLANG!! KLANGGG!!!* Suara lonceng menggema dan membuat seisi pulau menjadi ramai karena bunyi lonceng tersebut.
Di tengah pulau, sebuah bangunan besar yang mana terlihat banyak prajurit yang sedang berlatih dan berbaris segera dibuat terkejut karena bunyi lonceng tersebut. Seorang pria paruh baya dengan sebuah luka cakar di matanya berjalan keluar dari bangunan besar itu dan menghadap ke arah para prajurit yang saat ini berada di depannya.
Wajah pria itu tampak suram dan aura disekitarnya tampak sangat serius.
"Semuanyaaa!!! Berbaris!!!" Dengan satu perintah darinya, semua prajurit yang sebelumnya berhamburan kini berbaris dengan rapi dan menghadap ke arahnya dengan tegak, menunjukkan bahwa mereka adalah prajurit terlatih.
"Seperti yang kalian dengar dengan telinga kalian, lonceng bahaya sudah berbunyi yang berarti pasukan penjaga pantai telah ditembus! Kini giliran kita yang bertugas untuk menjaga keamanan Pulau Perbatasan ini! Aku ingin semua yang ada di sini mengambil peralatan dan senjata kalian dengan segera! Setelah itu, dengan arahan ku kita akan membereskan orang-orang yang berani menyerang para pasukan penjaga di Pulau Perbatasan kita!" seru pria tersebut. Setiap kata-katanya mengandung perintah mutlak yang harus diikuti oleh semua prajurit yang ada.
Tepat ketika para prajurit akan melaksanakan perintah yang diberikan oleh pria tersebut, sebuah suara memecahkan keheningan dan menarik semua perhatian para prajurit di tempat itu, bahkan pria paruh baya yang berada di hadapan barisan prajurit ikut menatap asal suara tersebut.
"Wahwahwahwah.....bukankah pulau ini terlalu kecil untuk menampung prajurit sebanyak ini? Kalian ini bertugas menjaga atau ingin pergi berperang?" Weng Lou berbicara tanpa berusaha menyembunyikan dirinya sedikitpun dari atas tembok yang mengelilingi bangunan markas para pasukan penjaga utama Pulau Perbatasan.
__ADS_1
Tangannya terkepal dan dia tersenyum lebar kepada mereka, "Para prajurit di pantai tadi sama sekali tidak bisa mengatasi kekesalan di hati ku ini. Aku harap kalian disini bisa membantu untuk mendinginkannya."