Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 662. Bertemu Kembali


__ADS_3

Weng Ying Luan menarik napas dalam. Dia kemudian terbang menuju ke arah kapal kayu berada saat ini.


Lin Mei mengikutinya dari belakang, sementara Kambing Petapa dan Naga Ular Hijau tetap diam di tempat mereka. Raja Singa sedari tadi tidak terlalu mempedulikan keberadaan kapal kayu berisikan lebih dari satu Kaisar Jiwa itu.


Dia sudah tidak terlalu terkejut melihat kemunculan beberapa Kaisar Jiwa pada saat-saat seperti ini.


"Bukankah tujuan kita untuk memusnahkan Keluarga Ying? Tidakkah kau berpikir bisakah sebuah Keluarga Besar seperti Keluarga Ying dihancurkan oleh dua Penguasa Jiwa belaka seperti kita? Ah, mungkin lebih tepatnya, seorang Penguasa Jiwa, dan dua Raja Jiwa. Bahkan jika kita berdua sebelumnya telah berada di tingkat Kaisar Jiwa, akan mustahil bagi kita untuk memusnahkan Keluarga Ying.


Paling tidak kita harus memiliki lebih dari lima orang Kaisar Jiwa untuk melakukan hal seperti itu. Sebuah Keluarga Besar seperti Keluarga Ying pasti memiliki banyak sistem pertahanan yang telah diciptakan semenjak masa kepemimpinan Ular Putih Berkepala Sembilan. Beberapa Kaisar Jiwa belaka tidak akan mungkin menembus pertahanan mereka, apalagi menghancurkan Keluarga Ying yang telah ada ribuan tahun lamanya."


Raja Singa berbicara dengan tenang dan terdengar sangat masuk akal. Dari analisisnya dia mengetahui bahwa Keluarga Ying setidaknya memiliki lebih dari satu Kaisar Jiwa yang menjaga kediaman mereka saat ini agar kekuatan luar tidak bisa menembus formasi pertahanan mereka.


Juga, dia mengingatkan bahwa mereka saat ini tidak tau dengan pasti, apakah Ular Berkepala Sembilan, Ying She masih hidup atau tidak.


Jika dia masih hidup sampai sekarang, maka umurnya telah lebih dari seribu tahun. Yang mana itu berarti hanya satu hal saja, dia telah mencapai ranah Deva dan menjadi seorang dewa. Akan gawat jika hal tersebut benar-benar terjadi, karena saat ini mereka berada di dalam wilayah kekuasaan Keluarga Ying dan jika Ying She mampu mengeluarkan kemampuan Domain di ranah Deva, maka tamat riwayat mereka semua.


Naga Ular Hijau menarik napas dingin, dia menoleh ke arah dimana Kediaman Keluarga Ying berada. Meski dia tidak bisa melihatnya, namun dia yakin mereka tindakan mereka semua saat ini sedang dilihat oleh seseorang yang tidak mereka sadari.


"Karena aku sudah bergabung dengan kalian, jadi akan kukatakan saja yang sejujurnya. Menurut apa yang aku ketahui, Leluhur Keluarga Ying, Ular Putih Berkepala Sembilan masih hidup sampai sekarang dan mengontrol seluruh Keluarga Ying dari balik bayang-bayang. Informasi ini kudapatkan dari penguasa Naga Ular Hijau sebelumnya, yaitu ayahku.


Meski aku tidak tau kebenaran dari informasi ini, namun aku yakin ayahku tidak memiliki alasan untuk berbohong pada ku. Cerita yang kudengar darinya waktu masih muda dulu adalah mengenai Ying She, sang Ular Putih Berkepala Sembilan telah mencapai ranah Deva tepat di penghujung umurnya sebagai seorang Kaisar Jiwa. Berkat itu, dia kembali menjadi muda dan usia hidupnya bertambah.


Ayahku mengatakan, ketika dia naik menjadi Kaisar Jiwa, kehendak dari Ying She turun ke atasnya dan dia diberikan dua pilihan. Patuh padanya dan menjadi penjaga di dalam Hutan Leluhur Ying, atau mati. Karena dia hanya berniat melindungi kami, Naga Ular Hijau yang masih muda dan perlu banyak arahan, akhirnya ayahku mengambil pilihan untuk menjadi penjaga dari Hutan Leluhur Ying.


Sayangnya, karena insiden perang besar lima ratus tahun lalu, dia mengalami luka-luka yang cukup serius. Meskipun dia berhasil memulihkan diri, namun luka-luka dalamnya tidak bisa dipulihkan seratus persen. Umurnya hanya tersisa beberapa tahun saja sebelum kemudian dia mati empat ratus tahun yang lalu. Sebelum dia mati, ayahku mengirimkan ku sebuah pesan melalui telepati, dia mengatakan bahwa ketika aku menjadi Kaisar Jiwa, aku bebas mau membuat pilihan apa, Ying She tidak akan membatasi ku di hutan ini karena dia ternyata dalam keadaan setengah tidur yang diakibatkan oleh luka-luka yang dia dapat dari pertarungan melawan seorang Dewa dari Keluarga Yang."

__ADS_1


Naga Ular Hijau menghela napas panjang dan kemudian menatap ke arah kapal kayu. Weng Ying Luan dan Lin Mei terlihat sudah sangat dekat dengan kapal kayu.


***


Di atas kapal kayu, sosok perwakilan Keluarga Weng menatap dengan tersenyum tipis pada sosok Weng Ying Luan dan Lin Mei yang sedang terbang ke arah mereka.


Dia mengayunkan tangannya, kabut yang menghalangi jalan menuju kapal kayu segera menghilang dan membentuk sebuah jalan.


Weng Ying Luan dan Lin Mei tidak terkejut melihat jalan diantara kabut itu yang tiba-tiba muncul. Keduanya segera menambah laju terbang mereka dan setelah beberapa saat akhirnya keduanya sampai di depan kapal kayu.


Terlihat sebuah lapisan penghalang menghentikan keduanya untuk terbang mendekati kapal kayu lebih jauh.


Keduanya tampak tenang saat menatap pelindung itu. Tidak ada perasaan bahaya yang ditimbulkan dari lapisan itu, namun keduanya tetap tidak berusaha untuk menyentuhnya.


"Hmmm......Ying Luan, ayah mu menitipkan pesan bahwa kau harus memenuhi tugasmu sebagai anggota Keluarga Weng. Apa pendapatmu tentang ini? Apakah kau akan ikut bersama kami dalam bertarung melawan Keluarga Ying hingga titik darah penghabisan atau pulang saat ini juga bersama dengan Putri Mei kembali ke Pulau Pasir Hitam?"


Saat itu Weng Ying Luan sangat sering menyusup ke dalam wilayah kediaman dan tidak jarang dia mendapatinya secara terang-terangan berusaha masuk ke dalam istana tempat tinggal keluarga inti.


Weng Ying Luan muda menganggap bahwa dirinya adalah seorang pembantu di dalam kediaman sehingga tidak takut dengannya. Dia juga tidak terlalu menganggap perilaku yang ditunjukkan oleh Weng Ying Luan kurang ajar, karena pada dasarnya orang-orang di wilayah kediaman Istana Leluhur Weng juga menganggapnya seperti itu, seorang pria tua yang bekerja sebagai pembantu di kediaman Keluarga Leluhur Weng.


"Hai kakek, bisakah kau tidak memberitahu siapa-siapa jika aku menyelinap masuk ke dalam kawasan istana? Aku janji akan mentraktir mu makan saat aku kembali!" Itu adalah kata-kata yang sering Weng Ying Luan katakan ketika sosoknya ketahuan oleh pria tua itu sedang berusaha masuk ke dalam istana.


Weng Lao De hanya akan menggelengkan kepalanya saat mendengar kata-kata itu dari Weng Ying Luan. Menurut nya Weng Ying Luan adalah anak yang sangat menarik.


Bukan karena Weng Ying Luan yang masih sangat muda berusaha untuk menyusup memasuki istana, namun karena dia melihat sosok Weng Ying Luan yang memiliki semacam aura yang terasa aneh pada dirinya. Dia tidak yakin aura apa itu, namun setiap kali dia melihatnya, sosok Weng Ying Luan semakin menarik perhatiannya.

__ADS_1


"Hahaha....Kakek De, kau tau aku ini anak yang berbakti kepada orang tua, bukan? Aku pasti akan mengikuti apa yang ayahku katakan padaku," jawab Weng Ying Luan sambil tersenyum riang.


Dia sudah lama mengetahui identitas Weng Lao De. Ayah angkatnya yang memberitahunya. Namun dia tidak merasa terganggu sedikitpun karena dia merasa Weng Lao De juga tidak masalah dengan tindakannya.


Weng Lao De mengangguk mengerti, lalu dia menoleh pada Lin Mei. Dia berkedip dan kemudian ekspresi sedikit terkejut muncul di wajahnya.


"Putri Mei? Tidak kusangka aura mu akan begitu kuat, kau mengejutkan ku. Sepertinya kau telah berhasil membangkitkan lebih jauh kemampuan garis darah keturunan Phoenix milik mu sejak terkahir kali aku datang mengunjungi Kediaman Keluarga Lin. Aku ucapkan selamat. Ah, benar. Apakah kau ingin ikut dengan kami? Pasukan binatang buas yang berhasil kau tundukkan akan sangat membantu dalam rencana kita," ucap Weng Lao De pada Lin Mei.


Lin Mei mengangguk dengan lembut. Meski dia bersikap meledak-ledak terhadap orang-orang terdekatnya seperti Weng Lou dan Weng Ying Luan, namun dia tidak melupakan identitasnya sebagai seorang putri dari Kepala Keluarga Lin yang perkasa.


Dia bisa bersikap begitu impulsif, namun juga bisa bersifat dengan anggun layaknya seorang putri sejati.


"Aku akan melakukannya, sebagai anggota Keluarga Lin. Sudah tugasku untuk menegakkan sumpah yang mengikat kita semua para Praktisi Beladiri yang tinggal di Pulau Pasir Hitam. Aku akan membunuh orang-orang Keluarga Ying dan membuat semua orang di Daratan Utama tau, bahwa ini adalah ganjaran yang akan didapatkan jika berani melanggar sumpah."


Weng Lao De mengangguk puas mendengar jawaban dari Lin Mei. Kedua tangannya mengepal keras. Dia memusatkan fokusnya pada pelindung di depan Weng Ying Luan dan Lin Mei, setelah beberapa saat, lapisan itu bergetar selama beberapa saat sebelum kemudian lubang selebar dua meter terbentuk.


"Masuklah, kita akan membicarakan rencana yang sudah kami buat selama beberapa bulan ini kepada kalian," ujar Weng Lao De dengan dahi sedikit mengerut. Mengendalikan lapisan pelindung tersebut bukanlah tugas yang mudah baginya, karena ini di buat oleh sang Penasehat Keluarga Weng yang merupakan seorang Praktisi Beladiri di ranah Deva.


Tanpa ragu sedikitpun, Weng Ying Luan melangkah melewati lapisan pelindung, diikuti dengan Lin Mei di belakangnya yang wajahnya sedikit gelap saat melihat sosok Lin Ao Man.


Dia jelas mengenali sosoknya, dia adalah salah satu dari banyaknya Tetua dia Keluarga Lin yang secara terang-terangan menunjukkan sikap tidak hormatnya terhadap dirinya dan selalu mengatakan segala hinaan kepadanya ketika dia selalu berpapasan dengan Lin Mei di Kediaman Keluarga Lin.


Lin Mei tidak pernah mengadu kepada ayah atau ibunya jika seseorang bersikap seperti Lin Ao Man kepadanya. Dia paham bahwa dirinya hanya akan membuat ayahnya kehilangan muka jika dia malah membuat ayahnya turun tangan untuk menghukum Lin Ao Man, begitu juga jika dia mengadu kepada ibunya.


Karena itu, dia hanya menendang segala kemarahan dan rasa tidak senangnya selama ini. Dia selalu berharap bahwa suatu hari nanti, dirinya bisa membuat orang-orang seperti Lin Ao Man terdiam dan menelan ludah mereka sendiri ketika dia sudah menjadi sangat kuat untuk berdiri sendiri tanpa bayang-bayang dari ayah dan ibunya.

__ADS_1


"Jadi orang yang dikirim Keluarga Lin ke tempat ini adalah kau, Lin Ao Man. Sepertinya aku tidak perlu menunggu sampai kembali ke Pulau Pasir Hitam untuk membalas perbuatan mu selama ini kepadaku."


__ADS_2