Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 357. Pagi Hari Setelah Pertarungan


__ADS_3

Beberapa bulan yang lalu, Weng Ning, Weng Hua, dan Weng Wan datang ke Keluarga Leluhur Weng sebagai murid baru di sana.


Ketiganya ditempatkan pada sebuah asrama yang mirip seperti asrama pada Sekte Langit Utara, yaitu dua bangunan terpisah untuk asrama laki-laki dan perempuan.


Mereka bertiga memulai pelajaran mereka di sana dengan cukup sulit, karena tidak ada satu pun yang mau berinteraksi dengan ketiganya pada awalnya, kecuali beberapa murid laki-laki yang terpesona oleh kecantikan dari Weng Hua dan Weng Ning, selebihnya tidak ada.


Bahkan Weng Wan yang mengingat jelas perkataan dari Weng Lou, yang mana membiarkan dirinya ditindas dan dipukuli, justru tidak mendapatkan itu semua.


Semua murid di sini hanya mementingkan tujuan utama mereka, yaitu berlatih, dan berlatih.


Tiada hari tanpa berlatih bagi mereka.


Tapi itu semua berubah setelah Weng Hua dan kedua lainnya genap satu bulan di tempat itu.


Mendadak sikap dari murid-murid yang lebih dulu ada di tempat itu mulai menindas ketiganya, terutama Weng Wan. Mereka terkejut atas perubahan yang sangat mendadak ini dari mereka semua, dan akhirnya menemukan sebuah informasi penting.


Murid-murid baru yang ditempatkan pada kastil Keluarga Leluhur hanya akan dianggap sebagai murid resmi setelah satu bulan. Para murid resmi yang ada tidak boleh mengganggu atau menindas mereka sampai satu bulan ini, yang menurut para tetua keluarga adalah tindakan yang bagus untuk membiarkan para murid baru untuk terbiasa dilingkungan mereka terlebih dahulu.


Tingkat praktik Weng Wan, Weng Hua, serta Weng Ning bisa dibilang merupakan yang terendah di tempat itu, sehingga mereka sama sekali tidak bisa memberikan perlawanan kepada orang-orang yang menindas mereka.


Weng Wan selama satu minggu lebih selalu dipukuli oleh para murid laki-laki karena mereka cemburu Weng Wan yang sangat dekat dengan Weng Hua dan Weng Ning.


Sementara Weng Hua dan Weng Ning akan sering menerima tindakan-tindakan kejam dari para murid perempuan yang menganggap keduanya sebagai wanita yang merebut orang-orang yang mereka sukai. Hal ini bisa dibilang terjadi karena keduanya merupakan murid tercantik pertama dan ketiga.


Weng Ning pertama, sedangkan Weng Hua ketiga. Murid tercantik kedua dipegang oleh seorang murid perempuan berusia sembilan belas tahun, dan kekuatannya berada di ranah Pembersihan Jiwa tahap 2, dia merupakan salah satu murid yang menindas keduanya, atau lebih tepatnya Weng Ning.


Meskipun ketiganya mendapatkan sumber daya rutin setiap minggunya, nyatanya mereka kesulitan untuk mengejar Tingkat Praktik dari murid lainnya.


Dalam satu bulan, Weng Hua dan Weng Ning hanya berhasil sampai di Dasar Pondasi tingkat 10 dan itu hanyalah Tingkat Praktik dari rata-rata murid seusia mereka yang ada di sana. Para murid jenius semuanya sudah berada di ranah Pembersihan Jiwa.

__ADS_1


Sedangkan Weng Wan, dirinya sama sekali tidak menggunakan sumber daya yang diberikan kepadanya, dan memilih untuk menyerahkannya pada Weng Hua dan Weng Ning.


Tentu hal ini membuat keduanya terkejut sekaligus terheran-heran, namun keduanya tetap memilih untuk mengambil pemberian Weng Wan itu, mereka membutuhkan sumber daya dalam jumlah banyak agar bisa terus meningkatkan Tingkat Praktik mereka.


Dua minggu berlalu, muncul hal yang sangat mengejutkan bagi Weng Hua dan Weng Ning, yaitu Weng Wan berhasil naik ke ranah Pembersihan Jiwa, dan itu tanpa menggunakan sumber daya miliknya sama sekali.


Dia setiap harinya hanya menerima pukulan, tendangan, dan dijadikan sebagai objek latihan teknik beladiri oleh murid-murid senior yang ada di sana. Rutinitas tambahannya hanyalah berlatih menggunakan teknik beladiri yang dibuatkan Weng Lou kepada dirinya.


Karena hal ini, Weng Wan pun diberikan jauh lebih banyak sumber daya latihan kepadanya. Sumber daya itu pun diberikannya kepada Weng Hua dan Weng Ning badan membuat keduanya bisa menyusul naik ke ranah Pembersihan Jiwa satu minggu kemudian.


Setelah kedua berhasil naik ke ranah Pembersihan Jiwa, peningkatan tingkat praktik mereka bertiga pun mendadak menjadi sangat mulus dan berhasil mencapai ke ranah Pembersihan Jiwa tahap 6 dan 7 hanya dalam 4 bulan selanjutnya.


Hal ini pun membuat kegemparan di Keluarga Leluhur Weng, karena pasalnya tidak ada satu pun murid yang seberbakat ketiganya sebelumnya.


Para tetua pun mulai tertarik pada mereka bertiga, dan sumber daya mereka ditingkatan.


Di Keluarga Leluhur Weng ini, tidak ada keluarga yang mendominasi selain Keluarga Leluhur itu sendiri, yaitu keluarga asli ayah Weng Lou dan Weng Lou, selain mereka semuanya dianggap setara, dan hanya dianggap tinggi jika tingkat praktik mereka memang termasuk dua puluh teratas.


Beberapa minggu yang lalu, sebelum mereka sampai di Kota Yulong, sepuluh murid paling berbakat di Keluarga Leluhur dikumpulkan dan diperintahkan untuk pergi ke Kota Hundan dan mengikuti Turnamen Beladiri Bebas yang diadakan di sana untuk memperbanyak pengalaman mereka.


Dengan seorang Tetua yang memiliki kekuatan di ranah Pembersihan Jiwa tahap 2 sebagai pengawal, mereka pun mulai berangkat ke sana.


***


Pagi hari di pinggiran Hutan Kabut, Weng Ying Luan yang tertidur sepanjang malam terbangun ketika merasakan cahaya matahari pada tubuhnya.


Mengusap kedua matanya, dia pun bangkit berdiri dan menatap lingkungan sekitarnya yang sudah mulai terang.


Dia menatap Weng Lou yang sedang tidur dengan terlelap di atas atap kereta.

__ADS_1


Menyipitkan matanya, dia pun mencibir, "Dasar tukang tidur, ini sudah pagi dan dia bahkan belum bangun."


Weng Ying Luan pun melompat naik ke atas atap kereta dan berniat untuk menendang bokong Weng Lou namun kemudian sebuah pelindung keemasan tipis menghalangi tendangannya.


Alis Weng Ying Luan terangkat melihat itu.


"Bagaimana caranya dia bisa membuat pelindung dalam kondisi tidur seperti itu?" Dia hanya bisa menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sebelum kemudian memilih untuk turun, lalu berjalan dan mencari udara segar.


Beberapa menit setelah Weng Ying Luan pergi, Lin Mei menyusul bangun lalu dilanjutkan dengan Shan Hu dan Pang Baicha yang tidur di atas kereta semalam, dan yang terakhir adalah Man Yue.


Lin Mei yang tidur menggunakan sejenis pelindung dari nyamuk mulai membereskan barang-barangnya dan tanpa sengaja melihat ke arah Weng Lou yang sedang tidur di atas atap kereta.


Dia hanya menatapnya selama beberapa saat sebelum kemudian melanjutkan apa yang sedang ia lakukan saat ini.


Setelah selesai, dia pun segera naik ke atas atap kereta dan berniat untuk membangunkan Weng Lou yang masih tertidur itu.


Dengan pelan dia melangkah dan tanpa ia sadari dia telah melewati pelindung keemasan milik Weng Lou. Dia tidak menyadari hal ini sama sekali, dia bahkan tak mengetahui bahwa ada pelindung yang melindungi Weng Lou sepanjang malam.


Lin Mei kemudian berjongkok dan menatap wajah Weng Lou yang sedang tertidur pulas sambil tersenyum kecil.


"Oi... bangun dasar pemalas..." ucapnya sambil tersenyum dan menunjuk-nunjuk pipi Weng Lou dengan gemas.


Mulut Weng Lou tampak bergerak, dan kemudian tangannya bergerak dan menyentuh tangan Lin Mei yang usil mengganggunya.


"Iya iya aku bangun...." Weng Lou membuka matanya dan menoleh ke arah Lin Mei yang tepat berada di depannya.


"Aku puas sekarang?" tanyanya sambil merubah posisinya menjadi duduk.


"Em," Lin Mei mengangguk senang, lalu melangkah turun dari atas kereta.

__ADS_1


Weng Lou menatap punggungnya sejenak sebelum kemudian menghela napas panjang. Dia bahkan tak bisa menikmati waktunya yang sedang beristirahat meski dia sudah melindungi mereka semua tadi malam.


__ADS_2