
Setelah kelompok Weng Lou membereskan kembali tenda dan barang-barang mereka yang lain, mereka pun melanjutkan jalan mereka memasuki Hutan Kabut Melawati sebuah jalanan yang berjarak lima ratus meter dari lokasi perkemahan mereka semalam.
Kereta mereka bergerak dan menelusuri sepanjang kedalaman Hutan Tanpa masalah selama kurang lebih empat puluh menit sebelum kemudian Pang Baicha menghentikan jalan kuda-kuda mereka tepat di dekat sebuah pohon besar yang tidak asing bagi mereka.
Raut wajahnya terlihat serius, begitupun dengan mereka yang lain.
Jalan ini telah mereka lewati sebanyak dua kali, dan pohon besar itu juga ada di situ pada saat yang sama mengartikan mereka bergerak dalam satu jalur memutar. Meskipun sekitar mereka berkabut, namun mereka bisa memastikan hal itu.
"Teknik Ilusi...." ucap Jian Qiang yang sedang bersemedi dan membuka kedua matanya.
Dia melangkah keluar dari dalam kereta dan duduk di samping Pang Baicha sebelum kemudian mulai mengalirkan Qi pada kedua tangannya dan kemudian menggerakkannya.
Kabut yang ada di sekitar mereka mendadak bergerak dan berputar dalam satu gerakan yang sama seperti gerakan tangan Jian Qiang.
Beberapa detik kemudian, semua kabut di jalur depan mereka pun terangkat, dan memperlihatkan cabang jalan yang membuat mereka menjadi terkejut.
Selama ini mereka tidak menyadari percabangan jalan itu dikarenakan kabut disekitar mereka yang ternyata melemahkan fungsi Indra mereka.
Bersamaan dengan menghilangnya kabut di jalan, sekelompok orang-orang berpakaian hitam pun melompat turun dari atas pohon dan mengepung kereta mereka.
Jian Qiang hanya menatap mereka santai, sebelum kemudian sesuatu yang sangat cepat terbang memutari kereta, detik berikutnya tubuh orang-orang itu pun terjatuh ketanah dalam kondisi tak bernyawa.
Ini adalah perbuatan Pisau Pencabut Nyawa milik Weng Lou yang tanpa menunggu sinyal dari Jian Qiang, telah diterbangkan olehnya dan membunuh semua orang-orang itu yang jelas merupakan penjahat yang berniat merampok atau bahkan membunuh mereka.
"Kecepatan penggunaan mu semakin baik, kemungkinan kau akan bisa membuatnya melesat sangat cepat hingga tak bisa diikuti oleh mata orang yang berada di bawah ranah Pembersihan Jiwa tahap 5 dalam waktu dekat," ucap Jian Qiang memuji Weng Lou.
__ADS_1
Mereka pun melanjutkan kembali perjalanan mereka setelah beberapa menit mereka meluangkan waktu untuk memeriksa semua tubuh orang-orang itu dan mengambil banyak sekali barang-barang berharga seperti senjata dan beberapa pil, dan obat-obatan.
Untuk sekelas penjahat seperti orang-orang ini, mereka sudah termasuk kaya karena semua orang ini hanya berada di ranah Pembersihan Jiwa tahap 1 sampai 3 saja.
Sementara Weng Lou dan yang lainnya sedang melewati Hutan Kabut, di Daerah Huangwu, tepatnya di Kota Liming, terlihat kelompok Weng Wan dan yang lainnya telah sampai di depan gerbang kota.
Perjalanan mereka bisa dibilang sangat cepat dikarenakan mereka tidak memakai kereta yang ditarik oleh kuda, yang mana pastinya akan jauh lebih lambat jika dibandingkan dengan berjalan kaki. Kecepatan rata-rata dari seorang Praktisi Beladiri di ranah Pembersihan Jiwa ada lah 150 kilometer perjam, sedangkan kuda hanya sanggup 80 kilometer perjam saja.
Itu hampir dua kali lipat dari seekor kuda! Kecepatan rata-rata kelompok Weng Wan adalah 200 km perjam karena yang terlemah dari mereka berada di ranah Pembersihan Jiwa tahap 5, itu sudah lebih dari dua kali pusat. Tidak heran mereka bisa sampai di Kota Liming dalam waktu tak sampai sejam.
Sedangkan untuk kereta kuda yang ditarik oleh dua kuda seperti milik kelompok Weng Lou, hanya sekitar 30 kilometer saja karena banyaknya penumpang di atasnya. Terlebih kelompok Weng Lou selalu berhenti untuk mengistirahatkan kuda mereka, sehingga mereka memakan waktu seharian perjalanan.
Kelompok Weng Wan yang baru saja sampai, tampak kebingungan ketika melihat tidak ada penjaga yang bertugas di gerbang kota, dan memilih untuk langsung masuk ke dalam kota.
Begitu mereka masuk, napas mereka langsung terhenti begitu saja begitu melihat kondisi kota yang sangat kacau balau. Semua bangunan tampak rusak parah seperti baru saja terkena terjangan badai.
Tetua yang menjadi pemimpin kelompok mereka menyuruh agar Weng Wan dan yang lainnya menunggu dirinya di gerbang kota, sementara dirinya pergi menanyakan apa yang terjadi kepada kota ini.
Pria yang merupakan tetua dari Keluarga Leluhur Weng itu pun berjalan dan mendekat ke arah sebuah bangunan terdekat yang mana terlihat beberapa orang sedang bekerja di situ.
"Maaf mengganggu kalian, tapi apa yang terjadi dengan kota ini? Apa badai besar terjadi dan memporak-porandakannya?" tanya pria itu kepada seorang pria tua yang sedang memalu papan pada dinding bangunan yang berlubang.
Pria tua itu menoleh dan menatap pria dari Keluarga Leluhur Weng itu sambil menyipitkan matanya, dia bukan seorang Praktisi Beladiri, sehingga penglihatannya sudah kabur karena dimakan usia tuanya.
"Apa? Apa yang kau katakan? Coba ulangi!" Pira tua itu berseru kepada pria itu dan membuatnya berusaha menahan emosinya.
__ADS_1
Meskipun dia adalah seorang tetua dari Keluarga Leluhur Weng, bukan berarti dia dapat bertindak semaunya, terlebih di Kota Liming ini cukup banyak Praktisi Beladiri yang tersembunyi dan mungkin saja jauh lebih kuat darinya.
Pria itu pun menghela napasnya, dan dengan sabar mengulang kembali pertanyaannya.
"Ah! Kalian pasti pendatang baru! Dua malam yang lalu, kota ini diserang habis-habisan oleh seekor monster raksasa berkaki empat yang muncul secara tiba-tiba di tengah-tengah kota. Monster itu membunuh hampir setengah dari semua penduduk kota di sini. Aku sendiri harus kehilangan seorang menantu dan cucuku karena tragedi itu," jelas pria itu yang kemudian tampak murung.
Dahi pria dari Keluarga Leluhur Weng itu mengerutkan dahinya, dan tampak terkejut bukan main.
Seekor monster yang memporak-porandakan sebuah kota semegah dan seketat Kota Liming? Bahkan berhasil membunuh hampir setengah penduduk? Monster macam apa itu?!
"Bisakah anda memberitahu bagaimana cara monster itu menghabisi para penduduk yang ada?" tanya pria itu dengan penasaran. Dia perlu mengetahui apa sebenarnya yang menyebabkan kehancuran ini.
Pria tua itu terdiam selama beberapa saat sebelum kemudian kembali bercerita kepada pria itu.
"Kau mungkin akan menganggap ku gila, tapi pada malam itu, monster raksasa itu menghujani kami dengan duri-duri tanah sepanjang tiga meter lebih yang menghancurkan apa dan siapa saja yang terkena olehnya.
Menantu dan cucu ku waktu itu sedang berusaha untuk pergi keluar dari kota, sampai kemudian salah satu duri tanah tersebut menimpa dan menghancurkan mereka berdua.
Tidak hanya itu saja, tetapi saat pertarungan antara monster itu dan beberapa pendekar, monster itu kabur dan menginjak banyak sekali orang-orang yang sedang berusaha untuk pergi meninggalkan Kota Liming ini."
Pria yang merupakan tetua dari Keluarga Leluhur Weng itu pun terdiam seribu bahasa. Dia mengetahui monster apa yang dimaksudkan oleh pria tua di hadapannya ini, itu adalah seekor Naga Tanah!
Tapi bagaimana makhluk seperti itu muncul di tengah-tengah kota secara mendadak?
Dia saat ini berpikir bahwa dirinya perlu untuk mencari tau kebenaran dari hal ini, dan memberitakannya kepada para tetua lainnya di Keluarga Leluhur Weng.
__ADS_1
Ini adalah sebuah informasi penting karena seekor Naga Tanah sangatlah langka.