
Setelah mengurusi semua keperluannya, Weng Lou pun pergi kembali ke kota 3.
Sebelum dia pergi, dia mengangkat Liu Ning sebagai penggantinya sementara di Kota 7, hal itu membuat Liu Ning dan Li Min kebingungan karena pasalnya Weng Lou telah menolak mentah-mentah permintaan mereka berdua sebelumnya.
Weng Lou melakukan itu sebenarnya karena dia melihat hanya Liu Ning dan Li Min yang memiliki sifat kepemimpinan sejati diantara para mantan budak yang lainnya. Dia mengetahui ini setelah memeriksa mereka semua waktu berada di atas langit.
Dalam perjalanannya pulang, Weng Lou menemukan beberapa binatang buas lemah sejenis banteng berukuran cukup besar dalam satu kawanan yang berjumlah sekitar 12 ekor. Dia pun membunuh 3 diantaranya dan membawanya bersamanya dalam perjalanan pulangnya.
Sesampainya dia di Kota 3, dia segera disambut oleh Wuyong yang telah menunggunya sejak dia pergi. Beberapa prajurit yang melihat Weng Lou berusaha sebisa mungkin untuk tidak melakukan kontak mata dengannya karena takut akan mendapatkan hukuman yang jauh lebih berat dari tugas yang mereka lakukan saat ini.
"Tuan, aku sudah mengumpulkan semua informasi yang kau mungkin inginkan. Karena berpikir mungkin anda sama sekali tidak mengenal mengenai Pulau Fanrong ini, aku menuliskan banyak informasinya, dan juga informasi beberapa pulau lain yang bertetangga dengan Pulau Fanrong."
Wuyong bebricara dengan nada hormat dan tersenyum lebar pada Weng Lou, dan mengekor padanya seperti serangga yang membuat Weng Lou sedikit jengkel.
"Kenapa kau mengikuti ku?" tanya Weng Lou dengan nada tidak senang.
"Ah, tidak apa-apa Tuan. Aku hanya berpikir mungkin anda tertarik dengan informasi yang aku katakan itu," jelas Wuyong.
"Aku tertarik dengan itu, jadi sekarang pergilah. Ada yang harus aku lakukan, kembali ke tempat mu, dan siapkan aku informasi yang kau ketahui tentang Perguruan Iblis Merah sebanyak mungkin."
Mendengar itu membuat langkah kaki Wuyong terhenti seketika.
Weng Lou tau tentang Perguruan Iblis Merah? Bagaimana bisa? Apa dia sudah mengetahui mengenai kekaisaran ini lebih jauh?
Satu-satunya penjelasan yang masuk akal bagi Wuyong adalah, Weng Lou mendapatkan informasi setelah tiba dia Kota 7. Kemungkinan dia mendapatkan semua informasi itu dari Biantai, pemimpin prajurit yang ditugaskan di kota tersebut, pikir Wuyong.
Setelah diam selama beberapa saat, Wuyong pun bergegas pergi kembali ke ruangannya dan menyiapkan informasi sebanyak mungkin mengenai Perguruan Iblis Merah yang diinginkan oleh Weng Lou.
Dia tidak peduli apakah yang dia lakukan adalah pengkhianatan atau tidak, karena dirinya sangat yakin bahwa meski dengan kekuatan penuh Kekaisaran Fanrong, mustahil bisa mengalahkan Weng Lou, bahkan dengan bantuan dari Perguruan Iblis Merah sekali pun.
Bukan dia meremehkan kekuatan Perguruan Iblis Merah, namun dari apa yang dia lihat, Weng Lou jelas memiliki kekuatan yang jauh lebih besar yang belum dia perlihatkan padanya sampai sekarang, dan kekuatan itu telah diperlihatkan nya di Kota 7, dengan membantai seluruh prajurit yang ditugaskan di sana.
Weng Lou berjalan sejauh beberapa meter dan sampai di tengah kota, dimana terlihat Du Zhe yang terduduk di tanah dengan lima orang pria yang bertarung melawannya sebelumnya kini telah terkapar di tanah tak sadarkan diri.
Melihat itu membuat Weng Lou menganggukkan kepalanya. Entah bagaimana caranya Du Zhe dapat mengalahkan mereka berlima, yang jelas kelima orang itu telah kalah dan Du Zhe yang menang.
Seusai perjanjiannya, Du Zhe seorang saja yang akan diangkatnya menjadi murid, dan diajarkannya beladiri.
"Kerja bagus Du Zhe, kau membuktikan padaku bahwa kau memang berbakat dalam beladiri dan layak menjadi muridku," ucap Weng Lou dengan suara cukup senang.
Du Zhe menoleh ke belakang dan melihat sosok Weng Lou dengan senyum lebarnya. Terlihat dia terengah-engah dalam bernapas yang membuktikan bahwa kemenangan yang dia dapatkan tidaklah mudah.
"Kakak Lou!" seru Du Zhe yang buru-buru bangkit berdiri dari tempatnya.
"Tidak perlu bersemangat begitu, istirahat lah terlebih dahulu. Aku tau kau pasti sangat lelah sekarang."
Weng Lou melemparkan dia sebutir pil dari dalam ruang penyimpanannya, dan segera ditangkap oleh Du Zhe secara refleks.
__ADS_1
Menatap pil itu dan Weng Lou secara bergantian, Du Zhe tidak mengerti mengapa Weng Lou memberikannya pil tersebut.
"Makan itu, pil itu bisa memulihkan kekuatan dan stamina mu kembali."
Mendengarnya, Du Zhe pun langsung tanpa ragu memasukkan pil tersebut ke dalam mulutnya, lalu dengan cepat menelannya.
Gleekk....
Setelah beberapa saat, pil itu mulai bekerja. Du Zhe pun merasakan sebuah energi yang mengalir ke sekujur tubuhnya, dan napasnya kembali normal seperti biasanya.
Dia tampak terpana oleh kehebatan pil itu, dia seperti baru saja memakan sebuah pil yang sangat amat berharga dari Weng Lou.
"Ke-Kenapa kau memberikan nya padaku, pil ini pasti sangat mahal," ucapnya dengan sedikit ketakutan. Dia sangat yakin bahwa pil yang barus aja dia telan itu memiliki harga yang sangat mahal, meski dia tidak tau berapa harga pastinya.
Weng Lou yang memberinya begitu saja padanya, membuat dia merasa sangat tidak layak memakannya.
"Apa yang kau pikirkan? Aku memiliki lebih dari seratus pil seperti itu. Harganya juga hanya lima puluh koin perak, jadi tidak berarti sama sekali bagiku." Weng Lou mengatakan dengan menggelengkan kepalanya pada Du Zhe.
Sikapnya menurut Weng Lou sangat berlebihan. Tapi berpikir kembali bahwa Du Zhe sangatlah awam dengan dunia beladiri, Weng Lou pun merasa bahwa itu mungkin sikap yang sewajarnya.
Di sisi lain, Du Zhe yang mendengar harga dari pil yang dia baru saja telan seketika memucat seperti sebuah mayat hidup.
Dengan mulut menganga lebar, dia terdiam di tempatnya, dan membuat Weng Lou menjadi terkejut karena berpikir bahwa pil yang dia telan mungkin tidak cocok dengan tubuh Du Zhe.
"Hei?! Kau baik-baik saja?! Du Zhe?!"
Weng Lou memanggil-manggil namanya sambil menggoyangkan tubuh Du Zhe.
Saat ini, nyawa Du Zhe seperti sedang ditarik keluar karena mendengar harga dari pil yang telah dia telan.
"Bagaimana...bagaimana bisa aku menerima pil semahal itu?! Aku harus memuntahkannya! Tunggu sebentar! Ooeekkk!!!"
Du Zhe berusaha memuntahkan kembali pil yang dia telan, dan berakhir menerima sebuah jitakan keras dari Weng Lou.
"Hentikan itu! Apa yang kau pikirkan?! Itu hanya sebuah pil!" ucap Weng Lou dengan dahi berkerut.
"Tidak tidak! Harganya sangat mahal! Mana berani aku menelan pil seberharga itu. Tunggu sebentar, aku akan mengembalikannya padamu! Oeekk!!"
Bek!
Sekalu lagi Weng Lou menjitak kepala Du Zhe, kali ini dengan sedikit kekuatannya, sehingga membuat Du Zhe sampai terbanting ke tanah.
Weng Lou sedikit panik karena dia terlalu banyak menggunakan kekuatannya. Dia pun buru-buru membantu Du Zhe untuk bangkit berdiri kembali, dan memulihkannya dengan Qi miliknya.
"Ah, maaf. Aku sedikit terlalu kuat tadi."
"Ti-Tidak, bukan apa-apa!" balas Du Zhe cepat.
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu. Dengarkan aku Du Zhe, aku memiliki dua peraturan yang harus kau ikuti agar kau bisa kupanggil sebagai muridku. Jika kau tidak bisa menaatinya, maka aku akan membatalkan janjiku sebelumnya, dan tidak akan mengangkat mu menjadi murid ku."
"To-Tolong jangan begitu! Akan ku taati! Pasti akan ku taati! Jaid tolong jangan buang aku!" rengek Du Zhe dengan panik mendengar Weng Lou akan batal mengangkat nya menjadi muridnya.
"Oke, kalau begitu dengarkan dua peraturan ku. Yang pertama, kau harus menerima apapun yang aku berikan tanpa tanpa menolaknya sedikit pun. Entah itu pil, senjata, atau teknik beladiri, kau harus menerimanya dan tidak beh menolaknya.
Peraturan yang kedua, kau dilarang mengajari siapapun teknik beladiri yang aku berikan atau pun yang kau miliki kecuali suatu hari nanti kau mengangkat seorang murid juga, baru kau boleh mengajari teknik beladiri mu. Apa kau mengerti?" jelas Weng Lou.
Du Zhe terdiam dan sedikit menundukkan kepalanya. Semua yang dijelaskan oleh Weng Lou adalah peraturan sederhana yang sebenarnya diterapkan hampir pada semua tempat pengajaran beladiri dimana pun.
Hanya saja Du Zhe kembali mengingat pil yang telah diberikan oleh Weng Lou padanya.
Lima puluh koin perak, mungkin terdengar sangatlah sedikit bagi Weng Lou, tapi bagi Du Zhe dan penduduk biasa yang tinggal di Pulau Fanrong, uang sejumlah itu adalah uang yang sangat banyak sekali yang cukup untuk membuat perut sebuah keluarga sederhana kenyang selama satu tahun penuh.
Jika satu mangkuk bubur penuh di Pulau Pasir Hitam seharga sepuluh sampai dua puluh koin perak, maka di Pulau Fanrong ini harganya mungkin paling mahal hanya lima koin perak saja.
Penghasilan sebuah keluarga petani di pulai ini rata-rata seratus sampai dua ratus koin perunggu, atau satu sampai dua koin perak tiap bulannya. Jumlah ini sepadan dengan biaya pengeluaran mereka tiap bulan untuk makan dan lainnya. Bisa dibilang, penghasilan dan pengeluaran mereka tidaklah berlebih atau kurang, sehingga ini yang membuat Pulau Fanrong ini dipanggil dengan nama Pulau Makmur.
Setelah diam berpikir selama beberapa saat, akhirnya Du Zhe pun mengangguk setuju dengan peraturan Weng Lou.
"Baik...aku akan mengikutinya....Guru," ucap Du Zhe.
Senyum kecil menghiasi wajah Weng Lou, dia menepuk pundak kecilnya, lalu mengajaknya untuk pergi bersamanya untuk memberikan 3 tubuh banteng yang telah dia bunuh sebelumnya pada para prajurit untuk dimasak.
Du Zhe cukup bingung mendengar Weng Lou yang ingin memberikan tubuh banteng karena tidak melihat satu pun tubuh banteng yang bersama dengan Weng Lou.
Alangkah terkejutnya dia saat melihat Weng Lou yang mengayunkan tangannya dan setelah itu tiga tubuh banteng berukuran besar muncul di hadapannya dan beberapa prajurit yang ada di dapur.
Mereka tidak bisa menahan diri untuk tidak menjerit kaget karena hal tersebut. Ini adalah pertama kalinya mereka melihat sesuatu seperti cincin penyimpanan yang memiliki ruang penyimpanan sehingga hal itu membuat mereka sedikit ketakutan.
"Gu-Guru....apakah ketika aku sudah menjadi seorang Praktisi Beladiri sejati, aku bisa melakukan teknik seperti itu juga?" tanya Du Zhe dengan bersemangat.
Alis mata Weng Lou terangkat mendengarnya.
"Yaa... sebenarnya ini bukan termasuk teknik beladiri apapun, malainkan karena cincin penyimpanan ini. Tapi kau paling tidak harus berada di ranah Pembersihan Jiwa agar bisa memakainya, karena memerlukan Qi agar bisa menggunakannya," jelas Weng Lou sambil memperlihatkan cincin penyimpanan di kedua tangannya.
Du Zhe menganggukkan kepalanya Dnegan bersemangat. Matanya bercahaya melihat cincin penyimpanan yang dipakai oleh Weng Lou. Weng Lou terpikirkan sesuatu ketika melihat reaksi Du Zhe tersebut.
Dia kemudian mengeluarkan sebuah cincin penyimpanan dari dalam ruang penyimpanan pada Kitab Keabadian nya, lalu memberikannya pada Du Zhe.
"Ini, ambillah. Itu adalah hadiah mu, karena sudah menjadi muridku."
Tangan Du Zhe bergetar hebat melihat cincin penyimpanan kosong yang ada di tangannya.
"Ta-Tapi.... Guru...ini...."
"Ingat peraturan pertama?"
__ADS_1
Du Zhe langsung tertegun, itu benar. Dia harus mematuhi peraturan yang dikatakan oleh Weng Lou, karena dia adalah muridnya mulai sekarang. Tangannya pun segera bergerak memasang cincin itu pada jari telunjuknya, dan itu sangat pas karena yang diberikan oleh Weng Lou adalah ukuran paling kecil yang dia miliki, yang biasanya dia pakai pada jari kelingkingnya.
"Bagus, sebagai murid ku kau harus membanggakan diri mu sendiri mulai sekarang. Cincin penyimpanan itu hanyalah sebagian kecil yang akan kau dapatkan setelah menjadi muridku."