
"Lou?!" Tanpa sadar, Weng Ying Luan berseru kaget dan segera menarik pehatian semua orang.
Mereka menoleh ke langit-langit ruangan dimana Ying Luan sedang melayang bebas. Weng Lou yang mendengar namanya dipanggil pun menoleh dan ikut menatap Ying Luan.
Dia berkedip sejenak sebelum kemudian ekspresi nya menjadi terkejut dan mulutnya terbuka lebar sambil tidak bisa menahan diri untuk segera ikut terbang dan saling berhadapan dengan Ying Luan.
"Luan!!! Hahahaha!!! Jadi kau benar-benar ikut terlempar ternyata!"
Keduanya saling bersalaman sebelum kemudian berpelukan layaknya seorang saudara yang telah lama tidak saling berjumpa. Weng Lou tidak tau harus bagaimana dia melukiskan kebahagiaan nya saat ini. Temannya, tidak, sahabatnya yang bersama-sama dia dari Keluarga Utama Weng dan bersama-sama menjadi bagian dari Sekte Langit Utara tidak dia duga malah bertemu dengannya di tempat seperti ini!
Selama berbulan-bulan melakukan petualangan tanpa sahabat-sahabatnya, membuat Weng Lou merasa kesepian. Tidak ada orang yang bisa dia ajak berbicara mengenai Pulau Pasir Hitam selain Kera Hitam Petarung.
"Sudah kuduga aku tidak mengigau saat melihat mu semalam! Kupikir aku mabuk dan mengigau, sialan! Ahahaha!"
Ketika Weng Lou dan Weng Ying Luan masih bercakap-cakap sejenak di atas orang-orang yang berada di ruangan pembuatan senjata itu, orang-orang mengerutkan keningnya ketika melihat Weng Lou yang melayang di tanah.
Hanya mereka yang berada di ranah Penyatuan Jiwa ke atas saja yang bisa melakukan hal itu, yang berarti Weng Lou berada di ranah Penyatuan Jiwa. Dan yang paling mengejutkan mereka adalah, Weng Lou melakukan nya tanpa bantuan Qi, alias dia menggunakan Kekuatan Jiwa murni untuk terbang.
"Dia ternyata seorang Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa!"
"Tapi bagaimana dengan Qi nya? Aku tidak bisa merasakan sedikitpun Qi di dalam tubuhnya!"
"Sssttt!! Kecilkan suara mu! Apa kau tidak melihat siapa yang sedang bersama anak itu?! Dia si Petarung Luan! Petarung terhebat di Arena Pertarungan!"
"Apa?! Petarung Luan?! Jadi dia benar-benar hanya seorang pemuda yang terlihat berusia awal dia puluhan?! Sialan, dia sangat hebat!"
Orang-orang pun saling berdiskusi satu sama lain, sementara Weng Lou dan Weng Ying Luan sudah selesai melepas rindu mereka berdua. Weng Lou menoleh ke bawah dan menyaksikan orang-orang itu sedang asik berdiskusi dengan segala macam pemikiran mereka.
"Tunggu sebentar, aku harus menyelesaikan pekerjaan ku. Aku tidak bisa meninggalkan dua puluh ribu koin emas begitu saja saat aku memiliki kesempatan," ucap Weng Lou yang segera kembali ke tempatnya membuat senjata.
Dia dengan cepat memasukkan logam yang sebelumnya sudah selesai dia murnikan ke dalam tungku api dan membuatnya meleleh menjadi cairan logam berwarna merah terang.
Weng Lou kemudian berjalan ke arah cetakan yang dia masukkan cairan logam yang pertama. Dia membuka cetakan dan mengambil sebuah belati dari dalamnya. Belati itu masih tampak kasar dan tidak terlihat seperti sebuah senjata yang berguna sama sekali. Namun Weng Lou tidak mempedulikan itu.
Belati kasar itu di masukkan nya ke dalam api dan menunggunya sampai berubah merah karena panas sebelum kemudian mengeluarkannya kembali. Dia pun mulai melakukan pemurnian pada belati tersebut menggunakan palunya.
Pada umumnya pemurnian logam dilakukan pada sebuah logam utuh yang belum dibentuk, karena jika sudah dibentuk menjadi senjata maka bentuk senjata akan rusak atau cacat. Tapi sepertinya Weng Lou tidak peduli dengan itu. Tangannya terus mengayunkan palu nya dengan keras dan membuat suara nyaring di seluruh ruangan.
Weng Ying Luan yang sedang menonton dari atas tampak terpana dengan cara Weng Lou membuat senjatanya. Dia selalu malas ketika Weng Lou ingin mengajaknya belajar membuat senjata atau sekedar menemaninya di ruangan menempa. Tapi sesekali dia juga ikut menonton Weng Lou membuat senjatanya, dan dia akui Weng Lou adalah seorang penempa senjata yang sangat hebat.
__ADS_1
Akan tetapi, apa yang dia lihat dulu sekarang telah berubah, meski dalam keadaan baik bukan buruk.
Weng Lou memang tetap hebat membuat senjatanya, namun tidak hanya hebat saja sekarang, dia bisa bilang itu luar biasa! Kekuatan ayunan palu Weng Lou seakan memukul bumi dan mengguncangnya dengan kuat.
Hatinya bergetar tiap kali palu dipukulkan kepada belati yang dimurnikan Weng Lou.
"I-Ini.... benar-benar hebat....apakah Lou sehebat ini dulu? Ti-Tidak....aku sangat yakin, meski dia dulu memang hebat membuat senjatanya tapi dia selalu memasang ekspresi serius seolah-olah dirinya tidak boleh gagal. Namun sekarang, wajahnya itu... hahaha....wajah itu mengatakan padaku bahwa yang dia lakukan sekarang adalah sebuah kesenangan baginya. Kau pasti sudah melewati banyak hal, Lou....."
***
Satu jam pun berlalu dengan sangat cepat.
Di ruangan pembuatan senjata, Weng Lou memoles sebuah belati yang menyerupai pedang pendek dengan dua warna yang berbeda. Pada bagian dalam belati memiliki warna perak terang dengan beberapa pola diukirkan di atasnya. Lalu di bagian pinggir belati memiliki warna coklat gelap yang mengkilat karena telah dipoles oleh Weng Lou.
Setelah selesai memolesnya, Weng Lou pun memberikan sentuhan akhir dengan memasang ujung pegangan belati berupa kulit binatang buas yang memiliki kekuatan ranah Penyatuan Jiwa. Setelahnya, dia pun memasukkan belati tersebut ke sarung yang dia buat menggunakan kulit binatang buas juga, dan tentunya yang memiliki kekuatan di ranah Penyatuan Jiwa.
Dia tersenyum puas melihat belati tersebut dan kemudian menoleh ke belakang dimana banyak orang menontonnya.
Tangannya dengan santai melemparkan belati tersebut ke pembawa acara lelang yang sebelumnya dia menyuruhnya untuk menilai belati buatannya.
Tanpa ragu-ragu sang pembawa acara lelang tersebut pun mencabut keluar belati tersebut dari sarungnya, lalu memandangi belati itu dengan mata penuh kekaguman. Baru kali ini dia melihat sebuah senjata yang baru saja selesai dibuat. Tidak hanya tampilannya saja yang luar biasa, namun aura yang dikeluarkan oleh belati itu juga membuatnya menelan ludahnya.
Pembawa acara lelang itu berjalan maju dan kemudian mulai memeriksa tiap sudut belati tersebut. Dia memeriksa sudutnya, ketajamannya, dan juga beratnya. Bahkan dia menilai tekstur pegangan belati tersebut.
"Ini....belati ini luar biasa. Beratnya memang hampir sama seperti pedang pendek pada umumnya, tapi ketika sedang diayunkan, itu secara otomatis membelah angin sehingga dengan mudah membuatnya bergerak di udara tanpa terhambat angin. Tapi aku tidak bisa menilai senjata tanpa mengetahui kekuatannya, bolehkah aku mengetes nya?" tanya nya pada Weng Lou dengan wajah serius.
Tanpa menjawab apapun, Weng Lou segera melemparkan sebuah pedang dari dalam Kalung Spasial nya, itu adalah salah satu tiruan Pedang Naga Malam miliknya yang merupakan senjata tingkat 3. Kekuatannya menyamai Senjata Spiritual tingkat 1 namun ketahanannya hanya menyamai senjata tingkat 3 pusaka, sehingga membuatnya tidak terlalu berharga di mata Weng Lou.
Pembawa acara lelang itu terpana saat melihat pedang yang dilemparkan oleh Weng Lou padanya. Pedang itu sangat berat, dan juga memiliki kualitas yang sangat bagus menurutnya. Orang-orang yang menonton juga mengomentari tiruan Pedang Naga Malam milik Weng Lou, senjata itu sepertinya bukan senjata sembarang menurut mereka.
"Pakai itu untuk mengujinya, walau hanya senjata tingkat 3, tapi kekuatannya tidak kalah dengan Senjata Spiritual tingkat 1. Harusnya layak untuk dipakai sebagai bahan uji," jelas Weng Lou.
Mendengar ucapan Weng Lou, semua orang di tempat itu tidak bisa tidak terkejut. Sebuah senjata tingkat 3 yang menyamai kekuatan Senjata Spiritual tingkat 1? Memangnya ada senjata sehebat itu? Jika memang ada, hanya orang gila saja yang mau memakainya sebagai bahan uji coba.
Harga tiruan Pedang Naga Malam itu haruslah paling tidak mendapatkan 10.000 koin emas di pasar, dan mungkin mencapai 20.000 koin emas lebih di pelelangan. Menggunakan benda seberharga itu sebagai bahan uji coba, menurut mereka Weng Lou hanya menghamburkan uangnya.
Pembawa acara lelang tersebut sedikit ragu sejenak, dia juga paham harga benda yang dia pegang itu. Namun demi mengetes belati buatan Weng Lou, dia perlu melakukan ini.
"Huff.....baiklah, aku akan mulai."
__ADS_1
Belati di pegang di tangan kiri, dan pedang di tangan kanan. Kedua sisi tajamnya saling diarahkan satu sama lain sebelum akhirnya diayunkan dan beradu satu sama lain.
*Clang.....*
Dengan mudahnya, belati itu memotong tiruan Pedang Naga Malam dan membuat potongannya terjatuh ke lantai. Weng Lou tersenyum puas melihat itu, dia pun segera mengambil kembali belatinya dari tangan sang pembawa acara lelang sebelum kemudian berjalan ke arah pria yang menantangnya sebelumnya.
"Berikan uang ku, sekarang," ucap Weng Lou sambil mengulurkan tangannya, dia tersenyum lebar pada pria itu. Pria tersebut mengepalkan tangannya, dia tidak menyangka Weng Lou benar-benar mampu membuat sebuah Senjata Spiritual.
Dan perlu diingat dengan baik, dia membuatnya dalam waktu 1 jam saja! Itu adalah sesuatu yang belum pernah terdengar sebelumnya! Bahkan seorang penempa paling terkenal di Kota Tiesha butuh setengah hari untuk membuat sebuah Senjata Spiritual!
Dengan rasa terpaksa, pria itu pun mengeluarkan sekantong uang dari dalam cincin penyimpanan nya dan memberikannya pada Weng Lou. Dia tampak enggan memberikannya, namun dirinya sadar mustahil untuk mengingkari janjinya sementara banyak orang di sini yang menonton nya bertaruh dengan Weng Lou.
Setelah memberikan semua uangnya, dia pun segera pergi dari situ secepatnya. Dia sudah tidak bisa menatap orang-orang di situ lagi dengan hancurnya harga dirinya setelah kalah bertaruh dengan Weng Lou.
Weng Lou mengecek isi kantung uang yang diberikan pria itu padanya. Dia cukup terkejut saat tau isinya lebih dari uang yang pria tersebut pertaruhkan dengannya.
Senyum puas menghiasi wajah Weng Lou. Dia pun memasukkan kantung itu ke dalam Kalung Spasial nya lalu mengajak Weng Ying Luan pergi dari situ. Dia dan rekan seperjuangan nya ini memilik banyak cerita yang harus mereka bagikan satu sama lain.
Ketika akan pergi, sang pembawa acara lelang yang sebelumnya mendadak menahan Weng Lou sambil memasang wajah seriusnya.
"Tu-Tuan! Jika anda berkenan, maukah anda menjual belati itu kepada kami? Tidak, melelangnya! Biarkan kami membantu anda melelangnya! Kami hanya akan mengambil du, tidak, satu persen pendapatan nya saja! Saya mohon Tuan, percaya pada saya, saya akan membuat anda mendapatkan harga yang benar-benar layak untuk belati itu!"
Secara mengejutkan, pembawa acara lelang tersebut berlutut di hadapan Weng Lou dan Weng Ying Luan membuat keduanya kebingungan harus berbuat apa.
Dari banyaknya hal yang sudah Weng Lou pernah lakukan dengan senjata-senjata buatannya, menjualnya untuk mendapatkan keuntungan bukanlah salah satunya. Ada alasan tersendiri mengapa dia tidak melakukannya, dan jelas dia tidak mau melakukannya dalam situasi biasa.
Namun saat ini dirinya membutuhkan uang dalam jumlah banyak, Ying Luan di sampingnya juga memberikan tanda untuk menerima tawaran tersebut. Mereka berdua tau bahwa harga senjata di benua Daratan Utama jauh lebih mahal dibandingkan di Pulau Pasir Hitam. Mungkin saja, mereka akan menjadi orang sangat kaya hanya dengan menjual senjata.
Karena dibujuk oleh dua orang sekaligus, Weng Lou pun akhirnya memperbolehkan pembawa acara lelang itu untuk melelang belatinya.
"Terima kasih, Tuan! Anda tidak akan menyesal sudah memberikan belati ini pada kami. Jika anda mau, anda bisa mengikuti pelelangannya, pelelangan itu bukan dilakukan di toko ini, tapi di pusat kota. Ada banyak orang lain yang ikut dalam pelelangan, dan Keluarga Lin akan menjadi penanggung jawab acara pelelangan tersebut."
"Toko kami menjadi salah satu dari beberapa toko yang diperbolehkan untuk mengurus barang-barang pelelangan. Jadi anda bisa mengatakan bahwa kami memiliki kursi khsus dalam pelelangan tersebut. Jika anda ingin datang, pelelangannya akan dimulai empat hari lagi, waktunya tengah hari." Pembawa acara lelang tersebut menjelaskan dengan bersemangat sambil mendekatkan wajahnya pada Weng Lou.
Weng Lou mendorong mundur kepala pembawa acara lelang itu dan segera berjalan pergi dari situ sambil melambaikan tangannya. "Aku akan datang jika memiliki waktu. Jangan lupa dengan janjimu, aku tidak mau jika sampai mendapatkan uang dibawah 50.000 koin emas!"
"Ba-Baik Tuan! Saya mengerti!! Hati-hati di jalan!!"
Weng Lou dan Weng Ying Luan pun segera pergi dari toko itu. Weng Lou tidak memiliki minat lagi untuk mencari bahan-bahan mineral pembuatan dan penguatan kapal di lantai tiga toko tersebut. Ada Ying Luan sekarang bersamanya, masalah lain bisa dia lakukan kapan-kapan.
__ADS_1
Yang lebih penting, dia harus membuat pesta pertemuan keduanya!