
Dewa.
Siapa yang belum pernah mendengar tentang Dewa? Bahkan anak kecil yang belum pernah melihat dunia luar mengetahui tentang dewa.
Mereka adalah orang-orang yang menciptakan segala sesuatu di dunia, mereka merupakan penguasa dari berbagai elemen penciptaan dalam dunia dan mengatur jalannya dunia.
Definisi dari dewa mungkin berbeda-beda di tiap tempat, namun ada satu kesamaan, yaitu dewa adalah entitas tertinggi yang diketahui oleh semua orang.
Kepala Keluarga Weng diketahui adalah salah satu dewa yang diketahui oleh beberapa orang di Daratan Utama dulu. Meski sebenarnya dia bukanlah dewa, melainkan lebih tinggi dari itu. Weng Lou dalam setiap kehidupannya berhasil mencapai ranah Absolute, satu tingkat di atas Deva.
Orang-orang yang berada di ranah Deva sering disebut sebagai Dewa. Hal ini dikarenakan kekuatan mereka yang diluar batas nalar manusia pada umumnya.
Dikatakan bahwa mereka bisa dengan mudahnya menghancurkan dan menciptakan kembali pegunungan, sungai, danau, dan bahkan menciptakan suatu ekosistem yang dapat ditinggali oleh makhluk hidup. Tentu orang-orang setingkat Kaisar Jiwa juga bisa menciptakan hal yang sama, namun hal yang tidak bisa dilakukan oleh seorang Kaisar Jiwa namun bisa dilakukan oleh Dewa adalah memiliki Domain mereka sendiri yang berukuran berkali-kali lipat dibandingkan Domain biasa milik Kaisar Jiwa.
Domain mereka mampu mencakup satu wilayah kekuasaan dari Keluarga Besar dan bisa mengendalikannya sesuka hati mereka.
Sejauh sejarah yang ada di Daratan Utama, hanya beberapa orang yang pernah mencapai ranah Deva dan tidak diketahui apakah masih hidup sampai sekarang oleh orang-orang banyak. Meski begitu, tiap Keluarga Besar dan kekuatan besar lainnya mengetahui bahwa para Dewa itu benar-benar ada dan mereka hidup di pengasingan untuk bisa mencapai ranah yang jauh lebih tinggi lagi dari ranah Deva, yaitu ranah Absolute.
Salah satu orang yang diketahui oleh beberapa kekuatan besar berada di ranah Deva adalah sang Penasehat Kepala Keluarga Weng saat ini, serta seekor binatang buas yang ikut dengan Keluarga Weng meninggalkan Daratan Utama lima ratus tahun lalu.
Itu adalah Kucing Neraka Sembilan Ekor.
Di Daratan Utama saat ini, tidak diketahui apakah ada seorang Dewa lainnya, namun menurut informasi yang dimiliki oleh Keluarga Weng, Ular Kegelapan yang hidup di Hutan Leluhur Ying memiliki kekuatan yang hampir menyentuh ranah Deva saat terakhir kali terlihat. Tidak ada yang tau apakah dia telah menjadi seorang Dewa setelah ratusan tahun.
Untungnya, dia tertidur karena terluka parah setelah
Oleh sebab itu, para perwakilan dari Pulau Pasir Hitam tidak mau Ular Kegelapan yang tinggal di Hutan Leluhur Ying sampai
"Kendalikan kapal, aku akan membuka jalan kita."
__ADS_1
Perwakilan Keluarga Weng mengangkat kedua tangannya tinggi. Gelombang Kekuatan Jiwa langsung dilepaskan ke depannya dan melewati kabut hingga mencapai jarak lebih dari lima puluh kilometer dengan sangat mudahnya.
"Ayo, tidak ada apapun yang memiliki kekuatan untuk menjadi ancaman bagi kita. Aku akan memberitahu jika ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi," ujarnya kepada sembilan Kaisar Jiwa.
Setelah itu kapal kayu pun bergerak kembali setelah berbulan-bulan berada di atas langit tepat di tengah wilayah pusat.
Kapal kayu terbang dengan kecepatan luar biasa. Satu kilometer ditempuh hanya dalam sekejap mata. Jarak lima puluh meter berhasil dilewati hanya dalam waktu beberapa detik saja. Perwakilan Keluarga Weng terus mengangkat kedua tangannya dan Kekuatan Jiwa nya terus membukakan jalan ke depan.
Setelah beberapa saat, mereka akhirnya sampai di dekat tempat Weng Ying Luan, Lin Mei, dan pasukan binatang buas berada.
Kemunculan kapal kayu di atas langit tidak disadari oleh ratusan ribu binatang buas, namun Weng Ying Luan, Lin Mei, Naga Ular Hijau, Raja Singa, dan Kambing Petapa langsung menyadari kemunculan kapal itu.
Kapal kayu berada di ujung bagian yang dibuka oleh Kambing Petapa dan Naga Ular Hijau dari kabut tebal, sehingga tidak bisa dilihat oleh binatang buas yang memiliki tingkat di bawah ranah Penguasaan Jiwa. Bahkan Elang Raksasa yang memiliki mata yang bisa membuatnya melihat hal-hal di kejauhan tidak bisa melihat kapal kayu itu.
Kambing Petapa dan Naga Ular Hijau adalah yang paling pertama menyadari kemunculan Kapal kayu, disusul Raja Singa dan Weng Ying Luan, lalu Lin Mei.
Naga Ular Hijau terdiam di tempatnya dan menatap tajam pada kapal kayu itu. Dia tau bahwa Keluarga Ying telah memutuskan untuk bertahan di dalam kediaman mereka, dan tidak ada seorang anggota pun diizinkan untuk keluar dengan alasan apapun.
"Mereka bukan berasal dari Keluarga Ying! Siapa orang-orang ini?!" Naga Ular Hijau bersiaga penuh.
Apa yang paling membahayakan dalam kondisi ini adalah kedatangan pihak ketiga yang berusaha mengambil keuntungan dari mereka yang baru saja selesai bertarung.
Weng Ying Luan menatap dengan tenang pada kapal itu. Matanya fokus pada sebuah lambang yang terukir di bagian depan kapal selama beberapa saat sebelum kemudian menghela napas panjang.
"Tidak kusangka mereka malah mendatangi kami daripada menunggu kami mencapai tempat mereka," kata Weng Ying Luan yang segera menarik perhatian semuanya yang bisa merasakan kapal kayu itu.
"Kau tau siapa orang-orang di atas kapal ini?!" Kambing Petapa bertanya dengan suara terkejut.
"Hm? Tentu saja aku tau, mereka berasal dari tempat asal ku," jawab Weng Ying Luan.
__ADS_1
Jawaban Weng Ying Luan membuat Kambing Petapa diam untuk sesaat sebelum kemudian matanya terbelalak tak percaya.
Pulau Pasir Hitam!
Kambing Petapa bagai tersambar petir dan mulutnya menganga lebar. Dia baru sadar bahwa Weng Ying Luan berasal dari Pulau Pasir Hitam setelah mengaitkan Lin Mei dengan dirinya.
Dia tau Keluarga Lin telah terpecah menjadi dua dan salah satunya pergi meninggalkan Daratan Utama untuk pergi bersama dengan Keluarga Weng. Kaisar Phoenix selalu berasal dari Keluarga Lin yang pergi bersama dengan Keluarga Weng, jadi dia bisa menghubungkannya dengan cepat.
Di sisi lain, Naga Ular Hijau tampak tidak mengerti apa-apa. Dia selalu berada di Hutan Leluhur Ying sampai saat ini.
Belum pernah dia menginjakkan kaki keluar dari hutan, sehingga informasi yang dia miliki tentang dunia luar tidak sebanyak yang dimiliki oleh Kambing Petapa.
"Apa yang kalian berdua bicarakan? Memangnya darimana asal mu?" tanya Naga Ular Hijau dengan penasaran.
Weng Ying Luan tidak memberikannya jawaban. Lin Mei di sisi lain telah turun kembali dari elang raksasa dan berdiri bersama-sama dengan Weng Ying Luan.
"Aku bisa merasakan salah satu anggota Keluarga Lin di atas kapal itu, dia pasti perwakilan yang dikirim oleh Keluarga Lin bersama dengan sembilan perwakilan lainnya," kata Lin Mei dengan suara serius.
Naga Ular Hijau yang masih tidak mengerti tampak mencoba menghubungkan sendiri tiap kata-kata yang didengar olehnya, "Keluarga Lin? Apakah ada orang lain selain Kepala Keluarga Lin yang berada di tingkat Kaisar Jiwa?!"
Kambing Petapa tersenyum mengejek mendengar tebakan Naga Ular Hijau. "Sudah kukatakan padamu, kau ini terlalu lama di hutan dan tidak pernah melihat dunia luar sama sekali. Orang-orang di kapal kayu itu, mereka semua berasal dari Pulau Pasir Hitam. Apa kau juga tidak tau apa itu Pulau Pasir Hitam?"
"Aku tau Pulau Pasir Hitam! Tidak perlu mengejekku seperti itu." Naga Ular Hijau berkata dengan jengkel. Dia hanya membuat tebakan dari apa yang dia dengar dan ketahui.
Mengenai Pulau Pasir Hitam, dia jelas tau walau tidak pernah keluar dari Hutan Leluhur Ying sebelumnya. Siapa yang tidak tau tentang Keluarga Weng di Daratan Utama? Orang-orang yang memilih jalan beladiri pasti sering mendengar cerita tentang kehebatan Keluarga Weng di masa lalu ketika mereka memerintah Daratan Utama.
Bahkan Naga Ular Hijau tau lebih banyak dari beberapa orang tentang Pulau Pasir Hitam karena dia mengenal seseorang yang memiliki hubungan dengan Keluarga Weng.
Seseorang yang dia maksud tidak lain adalah Ular Kegelapan yang juga adalah salah satu dari dua penguasa Hutan Leluhur Ying saat ini.
__ADS_1