Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 584,2. Petualangan Weng Ying Luan I (SPESIAL)


__ADS_3

Ini adalah cerita singkat mengenai bagaimana Weng Ying Luan sampai di Kota Tiesha. Saya tidak akan menjelaskan lagi di next chap, jadi terserah mau baca atau tidak.


Buat yang lupa tentang cerita mengenai Weng Ying Luan sebelumnya, bisa baca di chap 491.


***


Pulau Dongwu berlokasi di ujung perbatasan Daratan Utama bagian selatan, tepatnya di batas wilayah milik Keluarga Lin yang menguasai wilayah selatan Daratan Utama.


Posisinya sangat jauh dari pulau lain sehingga membuat pulau ini serta beberapa pulau lain didekatnya jarang kedatangan orang luar. Biasanya beberapa tahun sekali perwakilan dari Keluarga Lin akan datang memeriksa pulau-pulau ini dan penduduknya untuk membuat laporan.


Keluarga Lin membiarkan para penduduk Pulau Dongwu untuk membentuk sistem pemerintahan mereka sendiri karena mereka juga tidak terlalu membantu para penduduk di situ, namun sang raja harus tetap patuh pada hukum Keluarga Lin dan tidak melakukan pengkhianatan atau mereka akan membinasakan semua keluarga kerajaan di Pulau Dongwu itu.


Di dalam hutan tempat Weng Ying Luan terjatuh bersama gajah besar yang ikut terkirim ke pulau ini dengannya, dia bertarung melawan para binatang buas yang ada di dalam hutan itu sendirian.


Gajah berbulu yang bersamanya hanya menonton pertarungan tersebut dari awal hingga akhir. Dia sedang dalam keadaan terluka dan sebenarnya dia juga tidak berniat membantu Ying Luan karena tampak jelas di matanya bahwa pemuda itu sama sekali tidak membutuhkan bantuannya.


*BUCK!!!*


Tangan Weng Ying Luan dengan lembut memutar cakar seekor jaguar yang memiliki kekuatan di ranah Pembersihan Jiwa tahap 8 dan membuat beberapa binatang di sampingnya terkena cakaran itu. Beberapa binatang buas yang memiliki kekuatan di bawah sang jaguar langsung tewas terpotong menjadi tiga.


"Hei, aku bisa melakukan ini sampai pagi dan tidak akan kelelahan. Apa kalian yakin ingin terus bertarung melawan ku? Lagipula aku sama sekali tidak ingin bertarung melawan kalian. Aku hanya ingin tanya, sebenarnya dimana tempat ini, tapi kalian malah menyerang ku. Sudah syukur aku tidak melakukan serangan balik pada kalian," ucap Ying Luan dengan wajah santainya.


Hari sudah akan pagi beberapa menit lagi, dan dirinya sama sekali tidak memberikan serangan pada para binatang buas ini. Dia hanya menghindar dan membiarkan mereka terkena serangan mereka sendiri. Bisa dibilang tenaganya masih dalam keadaan penuh. Bahkan jika semua binatang buas di sini telah mati, dia ragu apakah dia akan merasa kelelahan atau tidak.


"Manusia!!! Setelah kau membunuh puluhan dari kami, kau baru menanyakan hal seperti itu?! Hanya kematian mu saja yang akan bisa meredakan amarah kami ini!!!"


Seekor singa berwarna putih bersih meraung ke arah Ying Luan. Para binatang buas yang berada di dekatnya pun segera memberikan jalan pada singa itu. Weng Ying Luan menatap sang singa dari atas sampai bawah dan mencoba mengingat-ingat nama binatang buas ini.


"Ah, sial. Mengingat nama-nama binatang buas adalah keahlian Lou, aku sama sekali tidak berbakat dalam hal mengingat," ucapnya dengan kesal.


Dia tidak mempedulikan aura membunuh yang dikeluarkan sang singa yang diarahkan padanya.


"Kau sepertinya adalah pemimpin mereka yang ada di sini. Bisakah kau menjawab pertanyaan ku? Dimana ini sebenernya? Apakah ini masih di Pulau Pasir Hitam?" tanya Ying Luan yang semakin membuat singa putih ini menjadi marah.


"Aku, sang Singa Putih, penguasa Hitam Darah, akan membunuh mu!"


*ROARRR!!!*


Singa Putih itu pun menerjang ke arah Ying Luan sambil meraung marah. Dia memperlihatkan cakar-cakar tajamnya dan hendak menerkam ke arah Ying Luan.


Melihat itu, Ying Luan pun melompat mundur, dan singa tersebut pun hanya mencakar angin. Namun tak disangka, tebasan dari singa itu menyebabkan bilah angin yang kemudian memotong semua pohon di belakang Ying Luan.


"Binatang buas dengan kekuatan di ranah Penyatuan Jiwa. Kau adalah yang terkuat dari mereka semua yang sudah aku lawan sebelumnya, berarti kau memang benar adalah pemimpin mereka." Weng Ying Luan berbicara tenang.


Dia melihat beberapa cahaya tipis di cakar-cakar milik Singa Putih tersebut, juga pada dua pasang gigi taringnya yang panjang. Melihat dari serangan sebelumnya, Ying Luan bisa menyimpulkan bahwa singa ini memiliki unsur angin pada dirinya.

__ADS_1


"Karena kau tidak mau menjawab ku, maka maafkan aku jika berbuat kasar padamu."


Qi berkumpul di dia telapak tangannya. Dia kemudian mengibaskan ke udara dan gelombang getaran bergerak ke arah sang singa. Singa Putih itu tidak bodoh, dia buru-buru melompat ke samping dan menghindar dari serangan Ying Luan.


*BAM!!!* Beberapa binatang buas yang berdiri di belakang singa itu mendadak meledak begitu saja saat gelombang getaran itu menerpa tubuh mereka.


Singa Putih itu tidak bisa melakukan apapun pada hal itu selain menambah amarahnya pada Ying Luan.


"KROAAA!!!! MATIII!!!"


Singa itu memberikan serangan raungannya ke arah Ying Luan. Badai bilah angin pun segera melesat ke arah Ying Luan. Dengan tenang Ying Luan menepuk tangannya, dan Qi miliknya sekali lagi terkumpul, lalu mulai membentuk sebuah pelindung Qi tipis di hadapannya.


*Sringg!!! TSH!! PASSHH!!!* Bilah-bilah angin yang menabrak dinding pelindung Qi nya membuat pelindung itu sedikit bergetar tapi segera stabil dalam beberapa saat.


Sebelum serangan bilah angin itu selesai dilancarkan oleh Singa Putih, Weng Ying Luan telah melakukan serangan balasannya. Qi disebarkannya ke atas tanah dan dalam sekejap sebuah retakan panjang yang mengarah lurus ke arah Singa Putih itu pun terbentuk. Tenaga Dalam Alam di sekitarnya mulai berputar dan dengan cepat diubah menjadi Qi oleh Ying Luan.


"Gelombang Penghancur, Penyebaran Gelombang."


Setelah dia mengatakan itu, Qi yang telah dia bentuk itu langsung menyebar ke depannya dan mengikuti retakan yang telah dibuat olehnya ke arah sang Singa Putih. Pada saat yang sama, tengah di sekitar retakan itu mulai bergetar hebat dan tampak seperti menerima hantaman sesuatu tak terlihat.


Tanah mulai hancur berantakan hingga menjadi butiran-butiran pasir dan dengan cepat mencapai Singa Putih itu serta lingkungan sekitarnya. Gelombang getaran tak terlihat oleh mata menjalar ke tubuh sang Singa Putih dan juga beberapa binatang buas di dekatnya.


Bagai sebuah virus, getaran itu langsung menyelimuti tubuh mereka. Para binatang buas itu tidak bisa meraung atau melolong kesakitan, ketika gelombang yang ada pada tubuh mereka mulai menghancurkan satu persatu bagian tubuh mereka.


Tidak ada darah yang terciprat. Semuanya hancur lebur dan menyatu rata dengan tubuh para binatang buas yang hancur seluruhnya.


Weng Ying Luan menghela napasnya dan menghilangkan pelindung yang dia buat ketika melihat pertarungan sudah berakhir dan dialah pemenangnya. Meski harus disayangkan, semuanya mati dan dia tidak mendapatkan jawaban apapun, itu lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa.


"Hei, apa kau sudah pulih? Aku akan pergi dari sini dan mencari pemukiman penduduk. Jika kau mau ikut, jangan jauh-jauh dariku! Ada banyak binatang buas yang kuat di hutan ini." Ketika Weng Ying Luan mengatakan itu, sorot matanya melihat ke arah beberapa pasang mata yang mengamati dirinya dari bayang-bayang pepohonan.


*Tak....* Gajah berbulu itu baru tersadar dari lamunannya ketika Ying Luan memanggil nya. Dia masih terpana dengan serangan yang dikeluarkan olehnya dan kalau boleh jujur, dia merasa sedikit takut.


Selama pertandingan Weng Ying Luan tidak memakai serangan barusan, yang berarti dia menyimpan kekuatan yang sebenarnya dia miliki. Dia yakin bahwa pemuda ini masih memiliki banyak teknik kuat di balik lengan bajunya dan siap menggunakannya kapan saja dia mau.


"Untuk sementara, ayo ikut dengannya. Binatang-binatang itu tampak tidak bersahabat sama sekali padaku," gumam sang gajah yang buru-buru pergi mengikuti Weng Ying Luan dari belakang.


****


Di luar tembok tinggi Kerajaan Singa Api. Sosok Weng Ying Luan menatap tembok tersebut sambil menganga lebar.


Hanya ada satu kata yang cocok untuk tembok itu. Besar. Tidak hanya tingginya bahkan mencapai lebih dari dua puluh meter, tapi lebarnya juga sampai tujuh meter lebih, nyaris sepuluh meter. Dia tidak tau mengapa ada sebuah tempat dengan tembok sebesar itu, tapi kemudian setelah memikirkan mengenai para binatang buas yang hidup hampir di segala penjuru hutan yang dia lewati, menurutnya hal itu mulai masuk akal.


Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih tiga jam, dia dan gajah berbulu akhirnya sampai di tembok Kerajaan Singa Api.


Namun dia agak ragu untuk berjalan mendekat lebih jauh. Hal ini dikarenakan pemandangan yang dilihatnya dari jarak tiga ratus meter dari tembok itu. Dia melihat beberapa anak berusia 12 tahun sampai yang seusia dengannya sedang berlatih di luar tembok tersebut.

__ADS_1


Ada beberapa prajurit berseragam lengkap yang mengawasi mereka dari samping, depan, dan bahkan belakang ketika sedang mempraktekkan teknik menombak.


Seorang gadis yang terlihat lebih muda dari 12 tahun melakukan sebuah kesalahan ketika melakukan 3 tusukan beruntun ke depan dan sebuah cambukan langsung diberikan padanya. Sebuah bekas cambukan panjang langsung tercipta di punggung gadis itu. Mulai dari bahu kanan, hingga ke pinggang kirinya, cambukan yang sebelumnya merobek bajunya dan membuat punggungnya itu menjadi lebam.


Meski tidak terlalu kuat, namun jelas sekali satu cambukan itu sudah membuat gadis tersebut kehilangan semua tenaganya dan dia pun jatuh ke atas tanah sambil menjerit kesakitan.


"Apa-apaan tempat ini?! Aku belum pernah mendengar tempat mengerikan seperti ini di Pulau Pasir Hitam sebelumnya. Apa jangan-jangan aku tidak berada di Pulau Pasir Hitam?" Weng Ying Luan mengerutkan keningnya dan mulai berpikir keras.


Jalan yang dia lewati dari Hutan Darah hingga ke tempat di mana dia berada sekarang sama sekali belum dia dengar. Meski dia tidak sanggup menghapal nama-nama binatang buas, namun berbeda cerita dengan daerah-daerah di Pulau Pasir Hitam.


Dia adalah mata-mata terlatih yang telah dilatih sendiri oleh ayah angkatnya. Bisa dibilang dia sangat hapal nama-nama tempat di Pulau Pasir Hitam. Bagaimana kondisinya, dan makhluk apa yang tinggal di dalamnya dia hapal dengan betul meski hanya sekedar membacanya dari buku. Sekte Langit Utara juga telah membantunya mendapatkan pengetahuan yang lebih luas mengenai Pulau Pasir Hitam.


"Tapi jika ini memang bukan Pulau Pasir Hitam, lalu dimana tepatnya?! Aku bahkan belum menjelajahi semua daerah Pulau Pasir Hitam, bagaimana aku bisa pulang jika berada di pulau lainnya?!"


Dia hampir merasa frustasi. Namun mendadak matanya terpaku pada gajah berbulu yang ikut terlempar bersamanya di pulau entah berantah ini. Sedikit perasaan lega menghampirinya.


"Hei, apa kau mau pergi ke tempat dengan tembok besar itu?" tanya gajah berbulu pada Ying Luan yang terus diam merenung.


"Entahlah, aku sendiri tidak yakin. Akan merepotkan kalau tempat itu ternyata dimiliki oleh sekelompok penjahat, atau sebuah perguruan sesat yang memaksa anak-anak untuk berlatih beladiri. Tapi aku juga ragu ada tempat lain yang dihuni oleh manusia di tempat ini."


"Menurut pemikiran ku, dengan lingkungan keras yang mana para binatang buas terdapat di mana-mana, tempat dengan tembok besar itu harusnya merupakan tempat satu-satunya yang dihuni oleh manusia. Kemungkinan mereka bersatu membentuk satu tempat tinggal yang sama agar mampu bertahan melawan para binatang buas."


Gajah berbulu tidak bisa tidak merasa kagum dengan pengamatan Ying Luan, pemuda yang bersama nya ini memiliki cara berpikir yang benar-benar hebat.


"Tapi tetap saja, jika belum dicoba kita tidak akan tau. Baiklah, aku ingin kau menunggu ku di sini sedangkan aku akan mencoba masuk ke dalam tempat itu. Seharusnya aku akan kembali dengan cepat, mungkin dalam satu atau dua hari," ujar Ying Luan yang menggosok dagunya.


"Itu tidak lama. Tapi ingat, jangan tinggalkan aku di sini terlalu lama. Para binatang itu. Mereka sepertinya sangat ingin memakan ku, padahal aku juga binatang buas," cibir gajah berbulu sambil menoleh ke belakang dan menatap ke beberapa arah di mana dia bisa merasakan beberapa aura kehidupan dari beberapa binatang buas setingkat dirinya.


"Oke, kalau begitu aku pergi. Jangan buat kericuhan yang menarik perhatian. Kita tidak mau jika sampai kau dijadikan target oleh orang-orang di tembok itu."


Weng Ying Luan segera turun dari tubuh besar gajah berbulu dan dengan cepat berlari menyusuri hutan.


Ketika dia sampai di ujung hutan, dia melambatkan laju larinya dan mulai berjalan pelan. Begitu dia keluar dari hutan, dia langsung tiba tepat di depan tembok besar yang dia lihat dari kejauhan sebelumnya.


Melihat sosok Weng Ying Luan yang keluar dari dalam hutan, para prajurit yang ada di luar tembok, termasuk anak-anak yang sedang dipaksa berlatih beladiri tampak menjadi waspada dan perlahan melangkah mundur menjauhinya.


"Siapa kau??!! Kenapa kau berjalan keluar dari dalam hutan??!!" Seorang prajurit yang paling dekat dengan Ying Luan berjalan mendekati nya sambil menarik keluar pedang di pinggangnya.


Weng Ying Luan buru-buru mengangkat kedua tangannya dan menunjukkan bahwa dia tidak memiliki niat jahat apapun. "Namaku Luan, aku adalah seorang petualang. Bisakah aku tau apa nama tempat ini?"


Pertanyaan Ying Luan membuat semua orang kebingungan dan saling tatap satu sama lain. Seorang petualang mungkin adalah hal biasa di dunia penuh orang belajar beladiri ini, namun berbeda cerita ketika kau berpetualang di Pulau Dongwu yang dihuni oleh para binatang buas mengerikan di dalam hutannya.


Dan juga, bagaimana bisa seorang petualang tidak tau tempat yang dia datangi? Hanya petualang bodoh yang melakukan petualangan lalu tersesat di dalam hutan seperti dirinya.


.

__ADS_1


__ADS_2