
Weng Lou berjalan menuruni tangga, mengikuti kakek tua pemilik penginapan dari belakang.
Dengan dituntun olehnya, Weng Lou pun terus berjalan ke bagian belakang dari penginapan, hingga sampai di sebuah ruangan yang mana adalah sebuah ruangan berisikan banyak barang-barang yang ditutupi oleh kain-kain berdebu.
Jika dilihat baik-baik, ruangan ini mirip sebuah gudang karena melihat dari kondisinya yang agak kotor dan berdebu.
Tapi meski begitu, barang-barang yang ada di dalam sini tersusun dengan rapi meski Weng Lou tidak bisa melihat nya secara langsung karena semuanya tertutupi oleh kain.
Dia dan kakek tua pemilik penginapan itu terus berjalan hingga sampai di ujung ruangan, dimana ada sebuah meja kosong yang cukup lebar.
Berbeda dengan barang-barang lain yang ada di ruangan itu, meja ini terlihat sangat bersih seperti baru saja dipakai, dan tidak ada juga kain kumal dan berdebu yang menutupinya.
"Nah, coba kau perlihatkan padaku barang-barang jarahan mu itu. Biarkan aku menentukan harga yang pas untuk mereka semua."
Kakek tua itu mendadak membuka suara begitu mereka berdua sampai di depan meja itu.
Weng Lou diam sejenak sebelum akhirnya melakukan apa yang dikatakan oleh kakek tua itu. Dia mengayunkan tangannya di atas meja itu, dan lima dari sepuluh kotak kayu yang dirinya dan Shan Hu bawa dari markas Kelompok Darah muncul di atas meja tersebut.
Dia tidak mengeluarkan semuanya karena sebelumnya sudah sempat memilah-milahnya, antara barang-barang yang ingin dia jual dan tidak.
Semua yang dia keluarkan diatas maja adalah barang-barang berupa perhiasan.
Senjata dan beberapa teknik beladiri yang mereka dapatkan tidak dia keluarkan karena akan dipakai untuk membangun kelompok beladiri miliknya sendiri di masa depan. Lebih baik menyiapkan segalanya mulai sekarang pikirnya.
"Hm? Hanya ini saja yang ingin kau jual?" tanya kakek tua itu sambil tersenyum kepada Weng Lou.
Senyumnya itu seakan bisa mengetahui bahwa barang-barang yang Weng Lou tunjukkan padanya ini hanyalah sebagian dari semua yang ia miliki.
"Kakek tua ini......padahal sudah bau tanah tapi dia masih bisa mengetahui banyak hal," pikir Weng Lou.
"Hanya ini saja yang aku ingin jual. Barang lainnya....aku bisa menggunakannya untuk keperluan pribadi ku."
Weng Lou menjawabnya dengan jujur. Menurutnya tidak ada untungnya dia berbohong saat ini. Lagi pula, yang dia katakan pada kakek tua ini bukanlah kebohongan.
"Ya terserah mu saja. Biarkan aku menghitung harganya terlebih dahulu, kau tunggu sebentar," ucap kakek tua itu yang kemudian mulai memeriksa satu persatu barang-barang yang telah dikeluarkan oleh Weng Lou di atas meja.
Dengan teliti, dia memeriksa satu persatu barang-barang tersebut, membuat Weng Lou mulau berpikir kembali apakah kakek tua ini benar-benar memiliki kemampuan untuk menentukan harga barang-barang yang dia bawa.
Tidak mau mengambil pusing, Weng Lou pun memilih untuk berkeliling di ruangan tersebut sambil melihat-lihat barang apa saja yang ada di situ. Tentu saja dia melakukannya dengan diam-diam, dia tidak yakin kakek tua pemilik penginapan ini akan membiarkannya.
Srrrrt....
Perlahan, Weng Lou mengangkat salah satu kain yang menutup barang di dekatnya. Dia melihat barang apa yang ada dibalik kain itu.
Tapi kemudian baru setengah kain itu terangkat, tangannya segera terhenti membuka kain penutupnya.
Keringat dingin mendadak membasahi sekujur tubuhnya saat melihat tangan kakek tua pemilik penginapan yang sebelumnya sedang memeriksa barang-barang yang ia bawa, sudah mencengkram erat tangannya yang membuka kain penutup yang hendak ia buka.
"Aku meminta mu menunggu, anak muda. Bukan memeriksa barang-barang milikku." Kakek tua itu berbicara kepada Weng Lou.
__ADS_1
Meski nada bicaranya tidak dingin dan memiliki napsu membunuh, tetapi Weng Lou bisa merasakan jiwanya bergetar hebat hanya karena ucapannya.
Terlebih tangannya yang memegang tangan Weng Lou, itu sangatlah erat. Bahkan Weng Lou tidak bisa menggerakkannya sama sekali.
Baru kali ini Weng Lou merasakan sebuah kekuatan sebesar ini secara langsung, selain dari Yi Chen yang pernah ia lihat bertarung dengan seseorang waktu Ujian Masuk ke Sekte Langit Utara.
"Kakek tua ini....dia kelihatan sangat renta, tapi kekuatan sebenarnya benar-benar mengerikan," pikir Weng Lou.
"Jangan melakukan sesuatu yang bodoh lagi nak, atau dia akan membunuhmu dalam sekejap. Aku bisa merasakan kekuatan orang ini hampir sama dengan mantan Patriak di Sekte Langit Utara mu."
Ye Lao mendadak berbicara dan memperingatkan Weng Lou, membuat Weng Lou semakin terkejut bukan main.
"Tidak, kekuatan dari orang ini masih dibawahnya, tapi kecepatannya hampir dua kali lebih cepat darinya," Qian Yu ikut memberikan komentarnya.
"Ma-Maafkan aku..." Weng Lou berusaha meminta maaf kepada kakek tua itu.
Dia berpikir bahwa pastinya situasinya saat ini sedang dalam bahaya, tapi kemudian apa yang dikatakan oleh kakek tua itu selanjutnya malah membuat Weng Lou terdiam.
"Kenapa kau malah meminta maaf? Aku tidak mengatakan kau tidak boleh melihatnya, hanya apa kau berniat untuk membelinya?" tanya kakek tua pemilik penginapan itu sambil tersenyum penuh makna kepada Weng Lou.
Weng Lou tersedak napasnya sendiri mendengar pertanyaan darinya. Dia tidak habis pikir, bagaimana jalan pikiran kakek tua ini.
"A-Ah ya... tentu... tentu! Aku ingin melihat-lihat karena berniat untuk membelinya! Iya, benar! membelinya! Hehe...."
Meskipun situasinya tidak sesuai dengan perkiraannya, tapi Weng Lou akan menggunakannya untuk keluar dari permasalahan yang sedang dia hadapi.
Jika membeli barang milik kakek tua ini bisa membuat situasi nya kembali seperti biasa, dan dia terbebas dari masalah, maka itu bukanlah hal besar.
Dengan cepat kakek tua itu melemparkan sekantung uang kepada Weng Lou.
Tanpa memeriksanya Weng Lou segera memasukkannya kedalam ruang penyimpanan miliknya.
"Nah, jadi yang mana ingin kau beli? Di sini aku memiliki hampir semua barang-barang yang berguna untuk beladiri," ucap kakek tua pemilik penginapan dengan wajah senang.
Dia melangkahkan kakinya, dan dalam sedetik telah membuka semua kain yang menutup barang-barang yang ada di ruangan tersebut.
Weng Lou hanya bisa terdiam saat melihat barang apa saja yang ada di balik kain lusuh yang menutupinya dari debu itu.
Semua barang-barang ini, sesuai seperti yang dikatakan oleh kakek tua pemilik penginapan, adalah barang-barang yang berguna dalam beladiri. Bahkan ada dua barang yang langsung tertangkap oleh mata Weng Lou, dan benar-benar membuatnya langsung membelalak.
!!!!
""Itu!!??""
Qian Yu dan Ye Lao berseru kaget. Apa yang mereka lihat adalah salah dua benda yang menjadi tujuan Weng Lou dan yang lainnya berpetualang di Pulau Pasir Hitam.
"Pasir Jiwa Kehidupan, dan Giok Emas Langit....." ucap Weng Lou dengan wajah yang sudah tersenyum sangat lebar.
"Hohoho.... sepertinya kau benar-benar seorang jenius sejati, nak. Sampai mengetahui nama dari dua benda yang bisa membuat dua kerajaan saling berperang berperang satu sama lain, pengetahuan mu sangat luas.
__ADS_1
Tapi sayang sekali, dua benda ini tidak akan bisa kau beli, bahkan dengan nyawamu sekalipun sebagai bayarannya."
Pernyataan dari kakek tua itu membuat Weng Lou tersadar kembali. Dia tidak terkejut mendengarnya, karena pasalnya satu dari kedua benda ini saja memang tidak akan bisa ia bayar dengan seluruh kekayaan miliknya sekalipun.
Dia menggigit bibir bawahnya dan memutar otaknya. Dua benda ini jika menurut peta milik mereka, berada di dua tempat berbeda.
Pasir Jiwa Kehidupan, berada di sebuah dasar danau yang terletak di Wilayah Timur, sementara Giok Emas Langit terletak di sebuah pulau misterius di Wilayah Utara yang dikenal dengan nama Pulau Langit karena secara mister pulau itu melayang di atas langit, dengan ketinggian 100 meter dari atas tanah.
Masing-masing dua tempat ini sudah sangat berbahaya, bahkan bagi mereka yang berada di ranah Penyatuan Jiwa sekalipun. Jika dia dan yang lainnya harus pergi ke kedua tempat tersebut, maka hanya kematian yang akan menanti mereka.
Maka, dia harus bisa mendapatkan dua benda ini dari kakek tua pemilik penginapan ini.
"Akan kulakukan apapun!" seru Weng Lou tiba-tiba, membuat kakek tua pemilik penginapan itu terdiam dan mengangkat sebelah alisnya.
"Apa yang baru saja kau katakan nak?"
"Suruh aku melakukan apa saja, dan akan kulakukan! Sebagai gantinya kau harus membayar ku dengan dua benda itu!" jelas Weng Lou dengan wajah seriusnya.
Tidak punya pilihan lain. Satu-satunya pilihannya adalah ini. Dia tidak bisa membahayakan nyawanya dan kedua temannya.
"Hei nak, apa kau mengerti dengan apa yang baru saja kau katakan? Aku bisa saja memintaku untuk mati loh."
"Maaf! Tapi aku tidak boleh mati!"
"Heee..? Bukankah kau bilang akan melakukan apapun yang aku suruh?" Kakek tua pemilik penginapan itu mulai tampak tertarik dengan pernyataan dari Weng Lou.
"Ya, akan kulakukan apapun! Tapi aku juga tidak boleh mati! Jika aku mati, maka orang yang ku kenal sedih, jadi aku tidak boleh mati."
"Hahahaha....anak muda yang menarik. Dunia beladiri itu penuh dengan darah dan kematian, setiap harinya selalu ada saja yang mati, entah karena apapun itu. Sekarang kau bilang bahwa kau tidak boleh mati? Jangan bercanda nak..."
"Aku tau itu, meski begitu. Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mati!" Weng Lou menjawabnya dengan tegas.
Apapun yang terjadi pada Weng Lou, dia sudah memutuskan untuk tidak mati, setidaknya sampai dia bisa menemukan adiknya.
"Baiklah nak, kata-kata mu sedikit menggerakkan ku. Sesuai dengan yang kau katakan, aku akan menyuruh mu melakukan satu perintahku, dan tentu saja, bayaran dariku adalah satu toples Pasir Jiwa Kehidupan dan segenggam Giok Emas Langit milikku ini......"
Glek....
Weng Lou menelan ludahnya, dia sedikit gugup dengan apa yang akan disuruh oleh kakek tua pemilik penginapan ini padanya.
"Menangkan."
"???"
"Menangkan Turnamen Beladiri Bebas, yang akan diadakan beberapa minggu lagi. Itu saja, jika kau bisa menang, maka akan kuberikan dua benda ini."
Berkedip beberapa kali, Weng Lou berusaha meyakinkan dirinya bahwa dia tidak salah dengar.
"Ada apa? Kau takut? Maka tidak perlu berpikir untuk mendapatkan dua benda berharga ku ini."
__ADS_1
"Tidak....akan kuterima. Kau tidak perlu menyuruh ku untuk menang, karena memang aku akan memenangkannya meski tanpa kau suruh sekalipun."