
Weng Ying Luan dengan kesal melempar tongkat di tangannya ke samping.
Tongkat dari Qi itu mengalami kerusakan berat karena mengenai api yang dilemparkan oleh Lin Mei, sehingga ketika lepas dari tangan Weng Ying Luan, tongkat itu langsung hancur berkeping-keping, kembali ke wujudnya yang semula, yaitu Qi.
Lin Mei mendengus melihat itu.
"Aku memang berusaha membunuhmu, memangnya kenapa? Siapa yang membuatku sampai harus menunggu satu bulan di sini, hah?!"
Bukannya merasa bersalah Lin Mei malah menjadi semakin marah. Weng Ying Luan sampai terdiam dan menelan ludahnya.
Jika dia melanjutkan permasalahan ini, kemungkinan besar Lin Mei tidak akan menahan diri seperti sebelumnya dan akan benar-benar membakarnya dengan Api Phoenix.
"Ehem.... baiklah, aku tidak akan mempermasalahkan kau yang melempari ku dengan Api Phoenix. Sekarang kita impas, puas?"
Lin Mei tidak membalas. Dia mendengus jengkel dan mengalihkan tatapannya kepada kabut tebal di wilayah pusat.
Weng Ying Luan juga tidak membahas masalah sepele itu lebih jauh dan ikut menatap kabut tebal. Seluruh wilayah pusat tertutup oleh kabut sehingga mustahil melihat apapun di dalamnya dari luar.
Ketika seseorang memasuki kabut dia hanya akan bisa melihat dalam jarak yang terbatas dalam jarak lima meter.
Dalam jarak lima meter ini, akan sulit untuk bergerak maju atau pun mundur. Seseorang juga akan rawan terhadap serangan menyelinap dari musuh yang mungkin tersembunyi di dalam kabut.
Dari sekali lihat, sudah jelas bahwa kabut yang menutupi seluruh wilayah pusat merupakan sesuatu yang dibuat oleh orang-orang Keluarga Ying. Ini kemungkinan adalah pertahanan terluar yang dibuat oleh Keluarga Ying untuk mencegah musuh masuk lebih dalam ke wilayah mereka.
Hanya dengan melihat kabut ini, orang-orang bisa tahu bahwa Keluarga Ying hanya peduli dengan anggota keluarga mereka sendiri, sedangkan orang-orang yang tinggal di wilayah mereka, mereka tidak peduli sedikitpun.
Tidak perlu orang-orang yang bukan anggota Keluarga Ying, bahkan anggota luar biasa tidak dipedulikan oleh mereka. Ini bisa dilihat dari banyaknya anggota Keluarga Ying yang terbunuh di wilayah timur oleh orang-orang di atas kapal kayu.
__ADS_1
Semua anggota utama Keluarga Ying hampir semuanya selamat, hanya beberapa yang terlambat mengungsi ke wilayah pusat saja yang telah mati. Entah itu di tangan Weng Ying Luan, para binatang buas, ataupun oleh sepuluh Kaisar Jiwa di atas kapal kayu.
"Kabut ini..... unik. Bagaimana aku harus mendeskripsikannya, yah? Yah.....yang jelas, aku telah terbang di sekitar kabut selama perjalananku ke tempat ini dan mencoba berbagai macam cara untuk melihat lebih jauh ke dalam kabut, namun tidak berhasil. Kekuatan Jiwa, Qi, bahkan Tenaga Dalam alam tidak bisa digunakan untuk memindai dua puluh meter di dalam kabut.
Satu-satunya yang mungkin bisa memasuki kabut ini dan melaluinya dengan mudah adalah orang-orang di ranah Penguasaan Jiwa. Tidak, bahkan seorang Penguasa Jiwa belaka tidak akan bisa berbuat banyak di dalam kabut ini. Kau setidaknya harus menjadi seorang Raja Singa untuk bisa bergerak dengan leluasa di dalam kabut."
Meski tampak cuek, Lin Mei tetap mendengarkan dengan sungguh-sungguh pada penjelasan Weng Ying Luan.
Dia paham kemampuannya dalam memeriksa hal-hal seperti ini adalah yang paling bawah di dalam kelompok mereka yang terdiri dari dirinya, Weng Ying Luan, dan Weng Lou.
Ini bukan salahnya, dia sedari kecil memang lemah dalam mengatasi hal-hal rumit seperti ini. Dia lebih suka mengandalkan orang lain daripada harus berusaha sendiri mencaritahu.
"Lalu bagaimana sekarang? Tidak ada satupun diantara kita yang memiliki kekuatan di Raja Jiwa. Memasuki kabut sama saja dengan bunuh diri kalau begitu," ujar Lin Mei sambil mengerutkan keningnya.
Weng Ying Luan tersenyum mendengar Lin Mei. Tatapannya mendadak beralih darinya ke sosok Kambing Petapa yang sedang berbaring di dalam celah besar di atas tanah yang dibuatnya sendiri.
Tatapan mata Weng Ying Luan segera disadari oleh sang Kambing Petapa. Dia membuka matanya dan menoleh pada Weng Ying Luan. Tatapan matanya menunjukkan ketidaksukaan dan permusuhan.
Weng Ying Luan menyeringai mendengarnya. Dia menjentikkan jarinya dan mendadak Raja Singa yang berbaring tidak jauh dari Kambing Petapa bangkit dan menyerang ke arah Kambing Petapa.
Kambing Petapa tidak memperkirakan akan menerima serangan mendadak dari Raja Singa. Dia dengan cepat melepaskan kekuatannya dan dengan paksa mendorong kembali tubuh Raja Singa di udara begitu saja.
Itu jelas sekali adalah kekuatan seorang Raja Jiwa. Jika hanya Penguasa Jiwa belaka, mustahil Kambing Petapa bisa mendorong tubuh Raja Singa tanpa menyentuhnya. Bahkan jika dia berada di puncak tahap Penguasa Jiwa, mustahil untuk melakukannya.
Itulah perbedaan besar antara seorang Raja Jiwa dan Penguasa Jiwa!
"Ugh....bajingan terkutuk."
__ADS_1
Kambing Petapa mendapati dirinya baru saja dijebak oleh Weng Ying Luan. Dia mengutuk Weng Ying Luan dalam hatinya karena bisa mengetahui bahwa dia telah menjadi seorang Raja Jiwa. Dia juga tidak lupa mengutuk Raja Singa yang entah bagaimana caranya malah melaksanakan perintah dari Weng Ying Luan.
Di atas, Lin Mei menyaksikan semuanya dalam diam. Kama tetapi tatapan matanya menusuk dan bisa diketahui oleh Kambing Petapa. Hatinya terasa pahit. Dia ingin membela dirinya, namun menyadari bahwa semua ini adalah kesalahannya sendiri karena sudah menyembunyikan peningkatan Tingkat Praktik miliknya, bahkan menyangkalnya ketika Weng Ying Luan membongkarnya.
"Aku....Aku berpikir akan bagus jika aku menyembunyikan kekuatan ku, sehingga bisa menjadi senjata pamungkas jika seandainya kita berada dalam masalah yang cukup serius," katanya pada Lin Mei.
Lin Mei berkedip. Setelah beberapa saat, dia pun mengangguk mengerti. Meski dalam hatinya sebenarnya dipenuhi dengan perasaan muak, namun dia tidak bisa menunjukkannya.
Kambing Petapa adalah salah satu bagian dari pasukan binatang buas. Dia adalah satu dari dua kekuatan utama pasukan binatang buas yang dipimpin olehnya. Jika dia kehilangan Kambing Petapa dalam pasukannya, maka itu tidak akan bagus untuk moralitas binatang buas.
Hal yang paling buruk adalah jika banyak dari bawahan ataupun pendukung Kambing Petapa ternyata akan melakukan pengkhianatan terhadap sesama binatang buas hanya untuk berebut puncak kekuasaan.
"Aku mengerti, Tuan Petapa. Tolong gunakan kekuatan mu untuk membantu dan membimbing kami semua melewati kabut menuju ke Kediaman Keluarga Ying."
Kambing Petapa yang mendengar perkataan Lin Mei mengangguk. Dia sadar juga pada posisinya sekarang ini.
Dengan Weng Ying Luan yang sekuat seorang Penguasa Jiwa, Raja Singa, dan bahkan Lin Mei, akan mustahil baginya untuk menang apabila mereka bertempur. Firasatnya mengatakan bahwa Weng Ying Luan tau jauh lebih banyak lagi tentang dirinya yang tidak pernah dia ceritakan kepada orang lain selain beberapa orang dekatnya.
"Bagus sekali, terima kasih banyak Tuan Petapa. Aku menghargai bantuan yang anda berikan. Elang, beritahu semuanya untuk menyusun seratus barisan, kita akan mulai memasuki wilayah pusat."
Elang yang ditungganginya memekik sebagai balasan. Dia segera memberitahukan perintah Lin Mei pada semua binatang buas di atas tanah.
Dengan cepat, ratusan ribu binatang buas segera membentuk seratus baris yang terdiri dari ribuan binatang buas tiap barisnya. Menyaksikan barisan itu, Weng Ying Luan bergegas menuju ke punggung elang raksasa dan duduk di samping Lin Mei.
"Tuan Petapa, kami semua sudah siap, tolong pimpin kami menuju kediaman Keluarga Ying," ucap Lin Mei dengan suara datar.
Kambing Petapa tersenyum kecut dalam hatinya. Dia tidak menyangka malah harus berakhir seperti ini. Kekuatan Raja Jiwa nya sebelumnya hendak dia rahasiakan sampai semua masalah Keluarga Ying ini diselesaikan dan dia berencana membawa gerombolan binatang buas kambing nya untuk tinggal di Wilayah Timur Daratan Utama.
__ADS_1
Tidak ada maksud tertentu dari dirinya yang menyembunyikan Tingkat Praktik nya kepada Lin Mei. Lagipula mereka semua memiliki rahasianya masing-masing. Kenapa dia tidak boleh merahasiakan kekuatannya sendiri?
Bukankah ini tidak adil?