Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 558. Si Cacat Berbakat


__ADS_3

*Klang!!*


Suara palu bergema di dalam sebuah ruangan gelap yang hanya bermodalkan bara api panas sebagai penerangan.


Sebuah palu besar diayunkan dan menghantam keras pada sebuah logam berukuran sebesar kepala orang dewasa yang telah dipanaskan. Logam itu memercikkan percikan api saat palu besar itu menghantamkannya, namun terlihat tidak ada perubahan yang terjadi pada logam tersebut.


Namun meski demikian, palu besar itu tetap kembali diayunkan dan menghantam terus menerus logam panas tersebut. Setengah jam berlalu, akhirnya palu itu pun berhenti di ayunkan, dan sosok yang mengayunkannya memilih untuk menaruhnya di atas sebuah meja dari batu.


Sosok itu kemudian berjalan ke arah satu arah dimana pintu masuk ruangan berada.


*Cyyiiiit.....*


Pintu pada ruangan itu terbuka, dan memperlihatkan sebuah tangga yang mengarah lurus ke atas. Tanpa basa-basi, sosok itu pun memanjat naik dan tiba di atas dan segera di sambut oleh sebuah ruangan gudang yang tertutupi oleh debu seluruhnya.


"Hachiiuu!!!" Weng Lou bersin saat debu masuk ke hidungnya, dan membuat debu-debu di sekitarnya langsung terbang ke udara.


Dengan cepat, Weng Lou menutupi hidungnya dan melangkah keluar dari gudang itu dan menutup pintu gudang tersebut rapat-rapat, agar debu tidak keluar dari dalamnya.


"Uhuk....bukankah seharusnya tempat ini memiliki pembantu yang membersihkan semua ruangan di kediaman? Kenapa selama dua bulan lebih ruangan itu selalu berdebu dan tampak tak pernah dibersihkan?!" Weng Lou mengomel ketika membersihkan debu-debu di sekujur tubuhnya.


Dirinya berjalan pergi dari gudang itu dan melintasi lorong lantai satu kediaman Tetua Meigui menuju ke halaman belakang kediaman dimana terdapat lapangan yang digunakan oleh para murid Tetua Meigui untuk berlatih tiap harinya.


"Kau sudah selesai berlatih? Apa kau sudah siap?" Secara tiba-tiba, sosok Tetua Meigui muncul di sampingnya dan dengan tenang berjalan keluar bersamanya. Weng Lou tidak terkejut dan hanya mengangguk sebagai jawaban.


Sudah hampir tiga bulan dia bergabung di dalam Sekte Bambu Giok dan menjadi murid Tetua Meigui. Tepat dua bulan dia bergabung, Tetua Meigui selesai mencari semua latar belakangnya dan tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan selain dirinya yang muncul di pelabuhan yang dikuasai oleh Gubernur Haido dan dilihat oleh beberapa anggota biasa sekte.


Praktisi Beladiri yang bergabung dengan kelompok penjahat seperti bajak laut bukanlah sesuatu yang aneh, justru hampir lebih dari setengah Praktisi Beladiri yang ada di dunia pasti memiliki andil bagian dalam tindakan kejahatan, entah itu mereka sadari atau tidak. Membunuh para penjahat sebenarnya termasuk suatu kejahatan yaitu membunuh, dan para Praktisi Beladiri tidak bisa lepas dari namanya pembunuhan.


Setelah memastikan bahwa Weng Lou memiliki latar belakang yang cukup aman sejauh Tetua Meigui dapatkan, akhirnya diputuskan bahwa Weng Lou boleh mencoba untuk bergabung dalam jajaran para Murid Inti Sekte Bambu Giok, dan hari ini dia akan mengikuti tes nya yang diadakan oleh beberapa Tetua Inti dan dihadiri oleh semua para Murid Inti lainnya.


Perlu diketahui, semua murid Tetua Meigui telah bergabung dalam Murid Inti, kecuali dua orang murid perempuan yang baru menjadi murid Tetua Meigui selama beberapa bulan. Tingkat praktik mereka masih terlalu lemah sehingga Tetua Meigui sama sekali tidak memiliki niat untuk mengikutkan mereka berdua ke dalam ujian ini dalam beberapa bulan, setidaknya sampai mereka dia anggap sudah layak.


"Aku mengharapkan yang terbaik untukmu, semoga kau bisa lolos tanpa masalah." Tetua Meigui mulai mengenakan penutup wajahnya lalu dalam sekejap mata sosoknya menghilang dari samping Weng Lou.

__ADS_1


Senyum kecil Weng Lou terlihat di sudut bibirnya, dan dia pun mulai membuka pintu belakang kediaman, dimana terlihat para murid Tetua Meigui yang lain telah berkumpul dan terlihat saling berbincang-bincang satu sama lain.


Ketika sosok Weng Lou tiba, perhatian mereka segera terarah pada Weng Lou dan mereka semua menyapanya dengan ekspresi yang berbeda. Ada yang tersenyum lebar, kecil, ada juga yang mendecakkan lidahnya begitu melihat muka Weng Lou, juga ada yang segera berlari kecil ke arahnya dan menyapanya.


"Kau lama sekali, Junior Lou! Kami sudah lama menunggu mu di sini!" seru Jiu De yang langsung merangkul belakang leher Weng Lou.


Weng Lou tertawa pelan dan meminta maaf pada mereka semua lalu segera mengajak mereka semua untuk pergi bersama menuju tempat dimana tes Murid Inti akan diadakan.


***


Dua bulan di Sekte Bambu Giok tidaklah Weng Lou habiskan hanya dengan berlatih saja. Dia telah menggunakan kemampuannya untuk mengumpulkan segala macam informasi, entah itu dari buku ataupun dari pembicaraan orang-orang yang dia dengarkan dengan diam-diam.


Dia juga telah membuat beberapa prestasi bagi dirinya di dalam sekte tersebut yang mana membuat namanya menjadi terkenal di seluruh Sekte Bambu Giok.


Di dalam Sekte Bambu Giok, terdapat sebuah pertarungan di dalam arena yang mana memiliki hadiah besar bagi para peringkat sepuluh besar. Pertandingan ini dinamakan Pertarungan Hidup dan Mati, yang mana sistemnya hampir sama dengan Pertarungan 100 tantangan yang diadakan oleh Sekte Langit Utara.


Pada pertarungan ini, peserta akan melakukan pertarungan terus menerus hingga mencapai batas dan totol berapa pertarungan yang sanggup dia jalani akan menjadi penentu peringkatnya.


Sosok Weng Lou yang merupakan murid baru di dalam sekte, tidak terlalu menarik perhatian saat dirinya mengikuti pertarungan ini. Di pertarungan pertama hingga kesepuluhnya, dia hanya dianggap seperti lalat yang numpang lewat oleh para penonton, dan bisa dikalahkan kapan saja begitu muncul lawan yang cukup kuat untuk dia hadapi.


Saat ini, di sebuah tanah lapang yang berada di sebuah tempat di Gunung Bambu Giok.


Beberapa panggung yang menjadi tempat duduk ratusan orang dibangun melingkar dan membuat lapangan yang memiliki luas hampir seribu meter persegi.


Di lapangan tersebut, Weng Lou berpisah dengan para seniornya dan menuju ke tengah lapangan sementara Senior-Seniornya itu segera pergi menuju ke salah satu panggung dimana terlihat para Murid Inti yang telah duduk di situ serta beberapa Tetua di barisan terdepan.


Weng Lou yang pergi ke tengah lapangan melihat beberapa murid lain sepertinya yang juga ingin mengikuti tes Murid Inti hari ini. Ada yang terlihat lebih muda darinya, ada juga yang terlihat jauh lebih tua dengan yang paling tua berusia akhir dua puluhan dan paling mudah tiga belas tahun.


"Lihat siapa yang sudah datang, Si Cacat Berbakat, hahaha!!" Seorang murid laki-laki dengan tubuh besar dan perut yang buncit mengejek saat Weng Lou tiba di tempat mereka.


Mendengar ejekan murid itu, Weng Lou tersenyum kecil dan dengan 'lembut' menghentakkan kaki kanannya dan menyebabkan retakan di tanah. Murid itu langsung tersedak napasnya sendiri dan perlahan menjauh dari Weng Lou.


Hal seperti ini sering terjadi pada Weng Lou, dimana beberapa murid yang tidak senang dengan prestasi luar biasanya mengejek dirinya yang tidak memiliki Dantian, dan terkesan seperti seorang Praktisi Beladiri palsu. Ya, fakta bahwa Weng Lou yang tidak memiliki Dantian tidak disembunyikan sama sekali oleh Weng Lou, dan justru malah dimanfaatkan nya untuk membantunya mendapatkan popularitas yang luar biasa.

__ADS_1


Bahkan secara ajaib, Weng Lou memiliki beberapa kelompok yang mendukungnya karena memiliki kekuatan fisik yang luar biasa diluar keterbatasan yang ada padanya.


"Saudara Lou, senang melihatmu tidak datang terlambat seperti yang biasanya kau lakukan di area pelatihan fisik." Terdengar suara seorang murid perempuan yang kemudian mendekat ke arah Weng Lou.


Itu adalah seorang murid yang Weng Lou temui dalam beberapa minggu ini di kawah tempat para murid melatih fisik mereka menggunakan tekanan dari meteor aneh. Murid perempuan ini, secara tanpa sengaja akrab dengan Weng Lou karena dirinya juga melatih fisiknya ketimbang Qi miliknya.


Dia bernama Nu Qianren, dan dia berada di ranah Pembersihan Jiwa tahap 1 menengah saat ini setelah satu bulan yang lalu dia secara resmi menerobos naik ke ranah Pembersihan Jiwa. Bisa dibilang, kekuatan fisik miliknya di atas rata-rata dan Weng Lou cukup terkesan karena dedikasinya untuk memperkuat tubuhnya seperti itu setiap harinya.


"Saudari Qian, aku tidak tau kau bisa menyapa ku lebih dulu. Harusnya kau melakukan itu sejak kita bertemu beberapa minggu lalu," goda Weng Lou.


Qianren tampak kesal dengan ucapan Weng Lou tersebut, dan dengan cukup kuat dia menendang tulang kering Weng Lou hingga membuatnya menjerit kesakitan, walau sebenarnya itu hanya reaksi alami dari Weng Lou.


"Hei, aku hanya bercanda, tidak perlu menggunakan kekerasan!" protes Weng Lou yang mengelus tulangnya itu.


Keduanya pun berbincang-bincang sebentar sebelum kemudian orang yang telah semua orang tunggu akhirnya tiba dan segera semua orang memberi hormat padanya.


Di atas langit, sosok pria tua yang tidak lain adalah Patriak Sekte Bambu Giok terbang pelan dan berdiri tepat di tengah-tengah lapangan.


""SALAM KEPADA PATRIAK!!!""


""""SALAM KEPADA PATRIAK!!""""


Seruan hormat menggema di seluruh lapangan dan terlihat pria tua itu mengangguk pelan sebagai balasan. Segera, semua suara pun menghilang dan hanya menyisakan suara dari sang Patriak itu sendiri.


"Selamat pagi Sekte Bambu Giok, kita hari ini berkumpul di tempat ini untuk mengadakan Tes Murid Inti yang diadakan tiap beberapa bulan sekali. Kali ini, lebih dari seratus murid ikut dalam tes yang berlangsung hari ini. Diantara seratus murid ini, kalian akan tereliminasi dan sisanya akan terus maju hingga akhirnya menjadi bagian dari Murid Inti.


Kalian semua tau, bahwa Tes ini bukan sekedar tes biasa, namun tes yang akan mempertaruhkan nyawa kalian sendiri. Tes ini akan menjadi penentu apakah kalian layak menerima lebih dari apa yang telah kalian dapat selama ini, atau akan tetap seperti itu sampai akhir hayat kalian.


Untuk itu, aku minta kalian semua, siapa pun yang hatinya belum siap, silahkan beranjak pergi dari lapangan dan bergabung dengan orang-orang di panggung. Aku tidak ingin ada dari kalian yang mati dengan konyol hanya karena masalah kesiapan kalian."


Patriak Sekte Bambu Giok itu berbicara dengan tenang, tapi suaranya bisa masuk ke dalam kepala semua orang dan membuat Weng Lou menatapnya dengan tatapan serius.


"Ranah Penyatuan Jiwa tahap 9 puncak, setengah langkah menuju ke langit, para Penguasa," gumam Weng Lou sambil mengepalkan tangannya dengan keras.

__ADS_1


Para penguasa yang dimaksud oleh Weng Lou adalah mereka yang telah berada di ranah Penguasaan Jiwa dan merupakan ranah tertinggi yang diketahui oleh Weng Lou sejauh ini. Itu adalah tingkat kekuatan yang dia incar, dan dia pasti akan mencapainya seperti Yi Chen.


__ADS_2