
Di pinggiran wilayah Daratan Utama, terdapat sebuah kepulauan yang terdiri dari belasan pulau berukuran kecil yang dihuni oleh puluhan bajak laut yang bertanggung jawab atas aksi teror di lautan Daratan Utama.
Mereka dipimpin oleh seorang bajak laut yang sangat kuat dan membuat tidak ada yang berani macam-macam dengan para bajak laut ketika berada di wilayah Kepulauan Doulou.
Dikatakan bahwa pemimpin bajak laut ini telah sangat lama berada di puncak ranah Penyatuan Jiwa dan kekuatannya hampir menyamai seorang Penguasa Jiwa sejati. Meski hanya sekedar rumor tanpa bukti, namun Empat Keluarga Klan Besar tidak ada yang memilih untuk membasmi mereka dan membuat rumor ini terdengar semakin nyata.
Di ujung selatan Kepulauan Doulou, terdapat sebuah wilayah perairan yang mana terdapat tempat yang memiliki bangkai-bangkai kapal di dalamnya. Bangkai-bangkai kapal ini telah membentuk bukti-bukti kecil di dalam laut dan beberapa diantara sampai mencuat keluar dari air dan membuat kapal terkadang karam karena menabrak bangkai-bangkai kapal ini.
Saat ini, di tempat bangkai-bangkai kapal itu, kapal Po Tian sedang berlayar dengan kecepatan tetapnya yang sedikit laju dan menghiraukan segala bangkai kapal di bawah mereka. Kapal uap mereka dibangun dari logam-logam yang sangat kuat di bagian terluarnya, bangkai-bangkai kapal itu hanyalah batu yang sedikit lebih keras saja baginya.
"Kapten, kita sudah memasuki daerah baru, haruskah aku mengurangi kecepatan kapal?" Li bertanya dari dalam ruangan kendali pada Weng Lou yang ada di atas atas kapal.
"Tidak perlu, terus saja melaju." Weng Lou menjawabnya dengan tenang.
Dia melihat beberapa bangkai kapal di depan mereka. Sesekali dia melihat beberapa sosok yang bersembunyi diantara bangkai-bangkai tersebut dan sedang mengawasi kapal mereka.
Selain dijadikan sebagai pemakaman kapal, tempat ini sangat strategis ketika dipakai untuk menyergap sebuah kapal lain. Bangkai-bangkai kapal yang timbul di atas laut bisa dijadikan sebagai tempat persembunyian oleh kapal yang berukuran lebih kecil dan bahkan bisa dijadikan sebagai markas para bajak laut yang menunggu datangnya mangsa.
"Dengar baik-baik perintahku, apapun yang terjadi, jangan pernah meninggalkan kapal mulai dari sekarang. Sampai kita sampai di Daratan Utama, dan sampai aku izinkan, kalian jangan pernah keluar, atau bahkan turun dari kapal, mengerti?!"
Nada suara Weng Lou tampak berubah dan menjadi seperti sebuah ancaman pada seluruh awak kapalnya, bahka tersamasuk Du Zhe yang saat ini sedang latihan di atas dek kapal. Dia pun segera merapikan pakaiannya lalu berjalan masuk ke dalam kapal, begitu juga semua awak kapal yang lain.
Setelah beberapa saat, seluruh dek kapal itu pun menjadi sepi. Hanya tersisa Weng Lou seorang yang sedang berdiri dengan santai di atas dek sambil tersenyum lebar ke arah empat buah kapal berukuran setengah dari kapal mereka yang sedang berlayar menuju ke arah kapal mereka.
***
Bajak Laut Empat Bersaudara adalah sebuah kelompok bajak laut yang dipimpin oleh empat kapten dengan empat kapal yang berbeda-beda. Keempat kaptennya merupakan saudara kandung yang telah berlayar dan menjadi bajak laut yang terkenal di Kepulauan Doulou.
Mereka selalu bergerak dengan empat kapal mereka yang dipimpin masing-masing satu orang kapten.
Beberapa saat yang lalu, pengintai mereka menemukan sebuah kapal yang sedang berlayar di wilayah pemakaman kapal dan tampak sangat aneh. Kapal itu tidak memiliki layar dan bergerak jauh lebih cepat dari rata-rata kapal layar biasanya.
Namun tidak ada yang merasa heran akan hal itu. Di Daratan Utama, kapal yang ditarik oleh binatang buas lautan merupakan hal biasa, dan biasanya mereka yang memakai cara ini berasal dari sebuah kelompok besar atau berasal dari salah satu Keluarga Klan Besar di Daratan Utama.
Setelah memastikan bahwa tidak ada satu pun bendera dari kelompok besar atau pun Keluarga Klan di Daratan Utama pada kapal uap kelompok Weng Lou, mereka pun memutuskan untuk segera berlayar menuju ke kapal uap tersebut.
"Kakak Pertama! Kapal itu benar-benar bukan berasal dari kelompok besar manapun di Daratan Utama! Kita mendapatkan tangkapan besar!" Salah satu kapten di keempat kapal yang merupakan pria kurus dan ringkih yang sekujur tubuhnya bau alkohol berbicara.
"Hahaha! Benar adik ketiga! Ini hari keberuntungan kita! Melihat dari bahan kapal itu, seharusnya kapal itu adalah milik pedagang yang cukup kaya! Kita bisa bersenang-senang malam ini!" Seorang kapten di kapal lain berseru senang.
Dia merupakan pria bertubuh cukup besar dan berotot dengan janggut dan kumis yang tumbuh berantakan tak terawat membuat dirinya tampak kejam dan menakutkan. Sebuah luka cakaran menghiasai wajahnya di mata kirinya.
"Kakak, pelacak kita tidak menemukan seekor pun binatang buas lautan yang berukuran cukup besar untuk menarik kapal sebesar itu! Aku memiliki firasat yang sedikit meragukan soal ini!" Kapten lainnya yang adalah seorang perempuan yang tampak berusia tiga puluhan berbicara sambil menatap suatu piringan di tangannya. Dia mengenakan penutup mata di mata kirinya.
"Ha! Kau hanya penakut saudari ku! Lihat saudara kembar mu ini! Aku akan menaklukan kapal itu hanya dengan kapal dan awak ku saja! Apa tidak apa-apa Kakak Pertama?"
Kali ini seorang kapten yang memiliki paras sama dengan kapten perempuan sebelumnya yang berbicara. Dia mengeluarkan pedangnya dan bertanya pada Kakak Pertamanya, yang merupakan pemimpin mereka diantara keempat kapten.
Kakak Pertama mereka itu diam sejenak sambil mengamat-amati sebelum kemudian mengangguk. "Pergilah! Bawakan kita semua seluruh kapal itu! Dilihat dari bahannya, kapal itu haruslah memiliki harga yang cukup mahal dipelelangan."
"Siap, Kakak! Hei, kalian mendengar apa Kakak ku bilang, bukan?! Cepat kencangkan layar! Kecepatan penuh!"
__ADS_1
Layar kapal di tarik, dan kapal segera berlayar dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dari sebelumnya. Para awak kapal itu berseru dan tertawa layaknya seorang bajak laut.
Ketika kapal mereka sudah dekat dengan kapal uap milik Weng Lou, akhirnya mereka bisa melihat sosok Weng Lou yang sedang berdiri tenang di atas dek kapal dan tersenyum lebar pada mereka semua.
"Seorang pemuda? Dimana awak kapal lainnya? Jangan bilang mereka semua sudah bersembunyi atau kabur dari kapal?" tanya Kapten bajak laut yang berada tepat di depan kapal uap Weng Lou itu.
Dia menatap sosok Weng Lou dengan kebingungan. Dengan cepat dia menyuruh awak kapalnya untuk melemparkan pengait ke kapal Weng Lou, dan mereka pun satu persatu mulai naik ke kapal Weng Lou.
*Duk....bduk...* Para bajak laut itu mengelilingi Weng Lou sambil mengangkat senjata yang diarahkan padanya.
"Hei nak, kenapa hanya ada kau sendiri? Dimana awak kapal yang lain?" tanya sang kapten bajak laut itu.
Dia berdiri tepat di depan Weng Lou dan mengarahkan pedangnya tepat di lehernya. Weng Lou menatapnya dan hanya tersenyum misterius, yang mana malah membuat kapten tersebut merasa kesal. Dia menyentuhkan pedangnya pada leher Weng Lou, dan mendekatkan wajahnya pada Weng Lou.
"Hei, apa kau tuli? Aku bertanya padamu, dimana awak kapal yang lain? Jika kau tidak mau membuka mulut, kau akan kubunuh. Asal kau tau, kau bukan pemuda pertama yang pernah berada dalam posisi seperti ini ketika berhadapan denganku, jadi jangan bertingkah dan segera jawab pertanyaan dariku," ancamnya sambil berbicara tepat di muka Weng Lou.
Bau busuk dari mulut kapten itu bisa tercium jelas oleh Weng Lou. Baunya sangat busuk sampai bisa membuat seseorang pingsan hanya karena tidak sengaja menciumnya, namun untungnya Weng Lou terbiasa dengan bau seperti ini.
Dengan tenang, Weng Lou mengipas wajahnya yang tekena bau busuk dari mulut kapten bajak laut itu. Kapten itu mengerutkan wajahnya melihat tindakan Weng Lou, pemuda itu dengan sangat jelas mengejeknya.
Ketika dia hendak menggorok lehernya, salah satu awak kapalnya segera berbicara dan mengalihkan perhatiannya.
"Kapten! Ada seseorang di ruang kendali! Aku tidak bisa masuk, dia mengunci pintunya sangat rapat!" seru awak kapal itu.
"Huh? Pecahkan saja kacanya, dasar bodoh! Yang begitu saja kau tidak becus, dasar!"
"Su-Sudah Kapten! Tapi kacanya tidak tergores sedikitpun! Bahkan setelah kami pukul dengan bantuan Tenaga Dalam dan Qi sekalipun!"
"Haaa....kalian ini tidak memiliki sopan santun sama sekali, kalian tau? Naik ke kapal orang lain dan mengancam pemiliknya, lalu bahkan berusaha menerobos masuk ke dalamnya, ckckck...." Weng Lou menggelengkan kepalanya. Dia mendorong dengan pelan pedang yang ada di lehernya lalu berjalan melewati para bajak laut yang mengelilinginya.
Para bajak laut itu terlihat keheranan dan bingung dengan sikap tenang Weng Lou. Baru kali ini mereka melihat orang yang di serang bajak laut masih bisa berbicara santai seolah-olah mereka bukanlah ancaman. Jika Weng Lou bukanlah seorang Praktisi Beladiri yang kuat, maka dia pasti adalah seorang idiot yang terbelakang.
*Sring.....*
"Jalan lebih jauh lagi, kepalamu akan hilang dari tempatnya."
Salah satu bajak laut yang merupakan seorang pemuda yang terlihat seumuran dengan Weng Lou menarik pedang dan menempatkannya di leher samping Weng Lou dari belakang.
Langkah kaki Weng Lou berhenti. Dia menoleh dan menatap pemuda itu. Usianya harusnya sekitar tujuh belasan, dan kekuatan yang dia pancarkan sekitar ranah Pembersihan Jiwa tahap 4 dan 5. Untuk seorang bajak laut, dia bisa dibilang merupakan orang yang kuat. Tapi tidak di mata Weng Lou.
"Apa kau tau cara menggunakan pedang? Dari kuda-kuda mu, kau tampaknya tidak memiliki ilmu beladiri yang cukup bagus untuk tingkat kekuatan mu. Apa kau memakan obat-obatan beladiri hanya untuk naik tingkat dengan cepat?" tanya Weng Lou sambil menatap pemuda itu dari atas hingga bawah.
"Ka-Kau!"
"Berhenti!"
Tepat ketika pemuda itu akan mengayunkan pedangnya, tangan kaptennya sudah lebih dulu menghentikannya.
"Kau bilang kau adalah pemilik kapal ini? Apakah itu benar?"
"Hm? Tentu saja. Aku yang merancang dan membuatnya dengan tangan ku sendiri. Kapal ini bahkan dapat menahan serangan binatang buas lautan di ranah Penyatuan Jiwa," jawab Weng Lou dengan bangga.
__ADS_1
Mendengarkan jawaban Weng Lou, para bajak laut itu segera berbisik-bisik satu sama lain. Ada yang percaya ada juga yang mengatakan Weng Lou hanya membual. Namun ekspresi dari kapten mereka sepertinya mempercayai perkataan Weng Lou, bisa dilihat dari senyum lebarnya.
"Lalu apa kau mau memberikannya padaku? Aku berjanji akan merawatnya dengan sebaik mungkin," ucapnya pada Weng Lou.
"Berapa banyak kau bisa membayarku?" tanya Weng Lou dengan cepat.
"Bagaimana dengan.....nyawa mu?" Senyum sang kapten melebar dan dia menjilat bibirnya seperti orang yang sedang menatap mangsanya.
"Cih, bilang saja kalau kau itu miskin. Buang-buang waktu saja. Cepat pergi dari kapalku, aku tidak ingin berbisnis dengan orang miskin seperti mu."
Weng Lou mengusir para bajak laut itu sambil mengayunkan tangannya, seperti sedang mengusir serangga yang menganggu pemandangannya.
Urat-urat kesal terlihat di wajah para bajak laut itu, termasuk sang kapten yang telah memegang erat pedangnya. Dia memberi kode kepada bawahannya dan berjalan mundur.
"Habisi dia, lalu cari cara untuk masuk ke dalam kapal," kata sang kapten.
"Baik bos! Serahkan saja pada kami!"
"Hehehe....bocah, hari ini kau akan mati."
"Tolong jangan langsung mati yah, kami ingin bersenang-senang dengan mu."
Satu persatu para bajak laut itu berjalan mendekat ke arah Weng Lou. Senjata di tangan mereka digenggam dan siap menyerang Weng Lou kapan saja. Alis Weng Lou terangkat menatap mereka semua. Dia menghela napasnya dan segera menghentikan jarinya.
Pedang kembarnya muncul di kiri dan kanannya dan melayang di udara. Melihat kedua pedang itu, para bajak laut tampak sedikit waspada namun tetap berjalan mendekat. Tenaga Dalam serta Qi mulai dialirkan pada senjata dan tubuh mereka.
Weng Lou merasa cukup kagum pada para bajak laut ini karena mereka sepertinya sudah ahli dalam pertarungan, berbeda jauh dengan para prajurit Kekaisaran yang sudah dia lawan selama ini.
"Aku tidak suka mengotori kapal ku dengan darah, jadi kalian tidak akan kubunuh di atas kapal ini," ucapnya.
Selesai dia mengatakan hal itu, Kekuatan Jiwa mengalir keluar dari dalam tubuhnya, dan langsung menyelimuti semua orang di atas dek kapal.
Kapten bajak laut yang ada di situ juga kaget karena hal itu, dia segera menatap Weng Lou dengan tatapan ngeri karena baru menyadari mangsanya tenyata adalah seorang Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa. Namun sudah terlambat untuk menyesal. Detik berikutnya setelah Weng Lou mengeluarkan Kekuatan Jiwanya, tubuh semua bajak laut itu segera melayang dan dipindahkan oleh Weng Lou kembali ke kapal milik mereka.
"Nah, sekarang aku ucapkan selamat tinggal."
Selesai mengatakan itu, kedua pedangnya pun mulai terbang dengan kecepatan tinggi dan menyerang para bajak laut itu dengan brutal. Satu serangan dari pedang nya akan mencabut satu nyawa bajak laut. Tidak perlu waktu lama, semua bajak laut termasuk sang kapten telah mati dan menyisakan kapal mereka yang lenggang karena sepi tanpa awak yang tersisa.
Beberapa puluh meter dari situ, ketiga kapal bajak laut yang lain melihat dengan sabar ke arah kedua kapal yang sedang tergabung itu dalam diam. Tiga kapten bajak laut masing-masing kapal menatap dengan serius ke arah kapal sambil menatap satu sama lain. Mereka merasakan sesuatu yang buruk telah terjadi.
"Saudara Keempat sudah terlalu lama pergi, suara mereka juga tidak terdengar sama sekali. Aku khawatir sesuatu telah terjadi di kapal itu," ucap Kapten perempuan yang merupakan saudari kembar kapten yang telah dihabisi Weng Lou.
"Aku setuju dengan mu Adik Ketiga, ada yang janggal dengan menghilangnya suara-suara mereka," ujar sang Kapten yang merupakan saudara tertua.
"Perintahkan semuanya untuk menurunkan layar, kita harus melihat apa yang sebenernya terjadi. Adik Keempat tidak biasanya selama ini." Kali ini si saudara kedua yang berbicara. Meski seperti pemabuk berat, ternyata isi kepalanya masih ada.
Ketiga layar kapal pun di turunkan dan kapal mereka segera mendekat.
Tidak perlu waktu lama untuk ketiganya mencapai kedua kapal tersebut. Akan tetapi wajah mereka segera menjadi suram ketika melihat apa yang terjadi di atas kapal adik mereka. Seluruh awak kapal kini telah mati dengan mengenaskan. Darah menghiasi seluruh dek kapal, dan mayat dari para bajak laut itu terlihat putus asa dengan mata yang masih terbuka.
"Adik.....Adik Keempat!!!!"
__ADS_1
Kapten yang merupakan saudara tertua berseru kaget melihat adik keempatnya yang dalam kondisi telah mati dan mayatnya tergantung di jaring pinggiran kapal. Sepertinya dia hendak melarikan diri ketika kemudian dirinya terbunuh tanpa sempat melakukannya.