Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 436. Sang Raja Pencuri, Gouwang Zie (III)


__ADS_3

Ruang bawah tanah tempat kelompok Pang Baicha berada saat ini merupakan 1 dari sedikitnya pasar gelap yang ada di Wilayah Tengah, bahkan Pulau Pasir Hitam.


Kota Hundan, meski merupakan kota hampir tanpa hukum, akan tetapi sesuatu seperti pasar gelap tetap merupakan suatu hal yang tabu bagi orang-orang yang tinggal di kota itu untuk dibicarakan. Seperti namanya, pasar gelap menjual segala sesuatu yang tidak diperjualbelikan oleh orang-orang pada umumnya, dan kebanyakan yang dijual adalah barang-barang yang memang tidak boleh diketahui oleh khalayak ramai.


Sebut saja organ tubuh manusia, serta binatang-binatang buas yang sudah langkah. Atau bahkan benda hasil curian dari suatu kelompok tertentu, yang jika informasinya sampai diketahui oleh orang banyak kemungkinan akan menyebabkan sesuatu yang tidak akan bisa selesai dengan mudah. Seperti perang contohnya.


Oleh sebab itu, pasar gelap jumlahnya hanya ada sedikit saja di seluruh Pulau Pasir Hitam. Hal ini demi kerahasiaan lokasinya tetap terjaga.


Pasar gelap yang ada di bawah tanah Kota Hundan ini memiliki luas sekitar sepersepuluh dari luas Kota Hundan. Dengan tinggi lantai dan langit-langit mencapai 10 meter, bisa dibilang pasar gelap ini adalah salah satu yang terbesar di Pulau Pasir Hitam, karena pada umumnya pasar gelap tidak bisa dibuka dengan luas karena pasti akan menarik perhatian.


Oleh sebab itu, pasar gelap ini dibangun di bawah tanah, sehingga hanya mereka yang mengetahui tempat ini yang bisa datang kemari. Tapi sepertinya untuk kali ini adalah pengecualian, karena Pang Baicha dan Jian Qiang berhasil mengetahui mengenai tempat ini.


Di dalam perjalan mereka, Pang Baicha melihat tidak sedikit orang yang ada di tempat ini. Ada beberapa orang yang telah ia lihat sebelumnya berada di sini dan sepertinya sedang membeli sesuatu.


"Hei Baicha, kau sudah pernah ke tempat sebelumnya?" Jian Qiang bertanya pada Pang Baicha yang ada di dekatnya.


Mendengarnya, Pang Baicha pun langsung menggelengkan kepalanya.


"Ini adalah pertama kalinya aku ke sini. Memang dari beberapa rumor yang aku dengar, ada pasar gelap di Kota Hundan ini, hanya saja meski aku berusaha mencarinya setengah mati, aku tidak juga berhasil menemukannya. Tidak menyangka karena mencari keberadaan si bajingan itu, kita justru berhasil menemukan keberadaan dari pasar gelap ini," balas Pang Baicha cepat.


Mereka terus menelusuri tempat itu sambil mengikuti pria yang menuntun Pang Baicha dan Jian Qiang menuju ke tempat dimana Gouwang Zie berada.


Beberapa saat pun berlalu, dan mereka pun sampai di depan bangunan 1 lantai yang berukuran cukup besar.


Pria yang membawa Pang Baicha dan Jian Qiang terlihat terduduk di tanah dan mencoba mengatur napasnya.


"Pelelangan?" ucap Jian Qiang yang membaca tulisan di atas bangunan tersebut.


Dia dan Pang Baicha diam selama beberapa saat, sebelum kemudian menoleh kembali ke pria yang menuntun mereka ke sini.


"Dimana dia?" tanya Pang Baicha.


"Di-Di dalam! Bos ada di dalam! Dia sedang mengikuti pelelangan. Sebentar lagi dia pasti akan keluar!" jawab pria itu dengan cepat.


Keduanya pun kembali menatap bangunan itu selama beberapa saat sebelum akhirnya mereka memilih untuk menunggu di luar saja. Mereka tidak mau terlalu gegah, karena lingkungan ini sama sekali tidak mereka kenali. Ada kemungkinan mereka akan diserang jika mereka lengah sedikit saja.


"Kurang ajar kau, Pang Baicha!!! Memanfaatkan anggota ku yang takut akan kematian, kau benar-benar seorang pengecut!!" Wanita yang dibawa oleh Pang Baicha berseru marah dan berusaha menyerangnya.


Pang Baicha tersenyum mengejek, dan menahan kembali kedua tangan wanita itu sebelum dia bisa melepaskan serangannya.

__ADS_1


"Wanita sialan, akhirnya kau mengingat namaku juga, yah? Waktu itu kau dan teman-teman mu tanpa ampun merampokku dan membiarkan aku sendiri di dalam Hutan Kabut, sudah cukup baik aku tidak membunuh kalian semua, seharusnya kau berterima kasih padaku," ucap Pang Baicha sambil mengalirkan Qi miliknya, dan menciptakan tali Qi yang kemudian dia pakai untuk mengikat wanita itu dan juga pria yang membawa mereka ke tempat ini.


Kkrrckk-


"Hmp, sebaiknya kau tidak melakukan banyak gerakan yang sia-sia, tali itu tidak akan bisa kau putuskan begitu saja selama masih terhubung dengan tubuhku."


"Cih! Pengecut sialan!! Kau akan mendapatkan balasanmu karena mengikat ku seperti ini!! Jika bukan karena kau yang sudah berada di ranah Penyatuan Jiwa, aku pasti sudah menghajar mu lagi seperti waktu itu!!!"


"Ya ya ya...terserah kau ingin mengatakan apa, aku tidak peduli. Lagi pula aku sudah tidak tertarik lagi balas dendam padamu. Aku lebih tertarik untuk menghabisi Gouwang Zie yang jauh lebih pengecut dariku."


Pang Baicha dan Jian Qiang pun pergi ke salah satu bangunan di dekat situ, dan menunggu Gouwang Zie untuk keluar dari bangunan pelelangan.


Kehadiran mereka sudah cukup banyak menarik perhatian dengan datang ke pasar gelap tersebut, jika mereka berbuat lebih jauh lagi di bangunan pelelangan itu, entah apa yang terjadi nantinya.


***


Sementara Pang Baicha dan Jian Qiang sedang sabar menunggu Gouwang Zie keluar dari bangunan pelelangan, salah satu anggota Kelompok Ular Pencuri yang bertugas sebagai pengintai di luar bangunan pelelangan telah melihat kedatangan kelompok Pang Baicha dan buru-buru masuk ke bangunan pelelangan lewat jalur rahasia untuk memberitahukan hal itu pada Gouwang Zie.


Di dalam bangunan pelelangan, di sebuah, tampak puluhan kursi yang disusun rapi menghadap ke arah bagian ruangan yang luas.


Kursi-kursi tersebut diisi oleh beberapa orang yang mengenakan tudung untuk menutup wajah mereka, agar tidak terlihat oleh orang lain. Mereka duduk saling berjauhan yang menandakan mereka bukanlah satu kelompok yang sama.


"Nah kita masuk ke barang terkahir, para tamu semua!! Ini adalah barang lelang utama kita hari ini!! Harap kencangkan kantong uang kalian semua, tamuku sekalian!


Diambil dari salah satu makam paling dijaga di seluruh Pulau Pasir Hitam, Makam Kaisar Pertama Wilayah Utara, sebuah bunga yang dikatakan jika kau memakannya maka kau akan mendapatkan umur tambahan sebanyak 50 tahun dan juga mampu menyembuhkan semua luka dalam paling serius sekali pun selama kau masih berada di ranah Penyatuan Jiwa!


Inilah dia, Bunga Ekor Phoenix!! Bunga ini hanya hidup di tempat yang sangat panas saja, sehingga sangat sulit untuk bisa mendapatkannya!!!"


Pria tua itu berseru dengan bersemangat sambil membuka sebuah kotak kaca yang tertutup oleh kain hitam di dekatnya.


Di dalam kota kaca itu, sebuah bunga yang memiliki kelopak berwarna merah terang dan mengeluarkan hawa panas darinya dipajang dengan rapi. Pada bagian kelopak bunga itu, terdapat beberapa corak berwarna keemasan, yang membuatnya tampak sangat cantik.


Orang-orang bertudung yang duduk dan melihat itu tampak sedikit ribut dan membicarakan tentang bunga tersebut.


Terlihat senyuman dari wajah pria itu yang merasa bahwa orang-orang itu sangat tertarik dengan bunga yang dia perlihatkan.


Bunga Ekor Phoenix, salah satu dari banyaknya bunga yang sudah hampir menghilang dari Pulau Pasir Hitam ini terkenal akan kecantikan dan khasiatnya. Lokasi hidupnya yang sangatlah ekstirm membuatnya terus mengalami evolusi seiring waktu.


Tempat yang memiliki suhu sangat panas biasanya mengandung Tenaga Dalam atau bahkan Qi berunsur api murni sehingga Bunga Ekor Phoenix menyerapnya dan membuatnya mengalami evolusi. Agar bisa terus tumbuh, Bunga Ekor Phoenix akan menyerap bagian dari unsur api tersebut yang tidak merusak sehingga bunga tersebut akan memiliki khasiat penyembuhan layaknya seekor Phoenix.

__ADS_1


"Baiklah, seperti yang kalian lihat, ini adalah Bunga Ekor Phoenix yang asli! Bunga ini didapat oleh seseorang yang identitasnya tidak ingin dibuka, sehingga kita panggil saja sebagai Tuan X. Tuan X adalah seorang pencuri makam, dia mendapatkan bunga ini setelah menjelajahi isi dari makam Kaisar Pertama Wilayah Utara.


Tentunya untuk dia mendapatkan bunga ini sangat tidak mudah, banyak hal yang harus dia korbankan demi berhasil sampai di tempat ini! Untuk itu kami memasang harga yang sesuai dengan perjuangannya itu.


Pelelangan dari Bunga Ekor Phoenix akan kami buka dengan harga 10.000 emas, dan harga jual langsung, 20.000 koin emas!!! Setiap kelipatan harga lelang, sebesar 500 koin emas!!


Apakah ada dari para tamuku yang ada di sini berminat untuk memilikinya?! Jika anda tidak menginginkannya, anda bisa membelikannya untuk teman, atau lun keluarga anda! Kenapa?! Karena ini adalah Bunga Ekor Phoenix satu-satunya yang didapat selama 20 tahun!!!


Kalian tidak akan mendapatkan kesempatan lain lagi seperti ini! Aku jamin! Ini mungkin adalah kesempatan terkahir kalian untuk bisa memiliki bunga ini!"


Suara pria tua itu menggema di seluruh ruangan, dan membuat orang-orang bertudung itu semakin merasa tertarik akan Bunga Ekor Phoenix tersebut.


"11.000 koin emas!!" Orang yang berdiri di paling depan mengangkat tangannya dan menyerukan tawaran harganya.


"11.000!!! Apakah ada yang ingin menawar lebih tinggi lagi?!"


"11.500!!!"


"13.000! Jangan berani kalian mengambilnya dari ku!"


"Omong kosong!!! 14.000!!! Aku yang akan memilikinya!!!"


"14.500!!! Akulah yang akan memilikinya!! Dengan Bunga Ekor Phoenix tersebut aku akan memiliki kesempatan untuk bisa sampai ke ranah Penguasaan Jiwa!!"


"15.000! Jangan banyak membual, pemimpin kamilah yang akan memilikinya!"


Satu demi satu orang-orang bertudung itu saling memperebutkan Bunga Ekor Phoenix tersebut.


Sementara itu, di sudut ruangan, salah satu orang bertudung hanya diam menonton orang-orang itu. Dia terus memperhatikan mereka semua dan memasnag senyum jahatnya.


Tap....tap....


Mendadak, orang itu menoleh ke sampingnya dan melihat sosok seorang pria yang berjalan mendekat ke arahnya.


Dia adalah anggota Kelompok Ular Pencuri yang sebelumnya melihat kedatangan dari kelompok Pang Baicha di luar bangunan pelelangan. Menunduk hormat, pria itu pun kemudian memberitahukan semuanya pada orang bertudung yang ada di hadapannya.


"Bagus, segera beritahu anggota lainnya. Beritahu mereka, kita sudah menemukan mangsa kita hari ini," ucap orang bertudung itu dengan suara yang terkesan berat.


Entah itu disamarkan atau memang suaranya yang berat seperti itu, yang jelas setelah mendengarnya, pria yang menunduk hormat itu segera pergi kembi dan melaksanakan perintah ornag bertudung itu yang tidak lain adalah Sang Raja Pencuri, Gouwang Zie.

__ADS_1


"Hehehe.... sepertinya aku akan mendapat untung besar lagi kali ini."


__ADS_2