Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 612


__ADS_3

Perbatasan Daratan Utama, di suatu tempat yang amat jauh dari jangkauan Praktisi Beladiri.


Ini adalah sebuah wilayah, yang meski masih bersatu dengan Daratan Utama, namun tidak termasuk sebagai bagian darinya.


Tempat ini dikenal sebagai tempat yang menjadi tujuan para Praktisi Beladiri yang telah mencapai penghujung usia dan mencari kedamaian sejati di sisa-sisa umur mereka. Namun tidak semua orang bisa sampai ke tempat ini karena ada penghalang yang membuat orang di luar tidak bisa menemukannya mau seberapa keras pun mereka mencari.


Di tempat ini, terdapat hutan kecil yang ditumbuhi berbagai macam jenis pohon, serta tanaman-tanaman kecil. Ada juga binatang-binatang yang berkeliaran, burung-burung berkicau ria, seolah menampilkan sebuah surga yang tak terjamah oleh manusia.


Dalam pandangan pertama orang-orang akan mengira bahwa tempat ini seperti dunia dongeng, namun benar-benar ada.


Tepat di bagian tengah hutan, terdapat sebuah desa kecil yang mana tidak lebih dari dua puluh orang yang tinggal di dalamnya. Mereka semua adalah orang-orang lanjut usia, dan mereka menjalani kehidupan mereka dengan tenang dan damai tanpa terganggu segala urusan di dunia luar.


Di tengah desa, berdiri sebuah bangunan seperti pondok kecil yang mana terdapat sebuah patung seorang pemuda yang sedang duduk bersila dan memejamkan mata.


Wajah pemuda itu menunjukkan usia tidak lebih dari dua puluhan tahun. Namun aura yang dikeluarkannya berbanding terbalik, dan seperti menunjukkan waktu yang tak terhitung lamanya telah dijalaninya.


Pada tengah malam, patung yang selama ini tampak duduk tenang dan tak menunjukkan keanehan selama ini, mendadak bergetar hebat. Kedua mata patung itu perlahan terbuka, dan cahaya hitam dengan titik-titik putih seperti langit berbintang keluar dari kedua matanya.


"Waktunya sudah dekat, seluruh siklus seratus kehidupan akan bersatu dan masa depan akan berubah."


Suara kuno bergema dari dalam patung. Semua penduduk desa yang sedang beristirahat di rumah masing-masing, segera muncul satu persatu di depan pondok dan menatap dalam-dalam pada patung itu.


"Akhirnya.....penantian ribuan tahun yang telah kujalani, akan segera berakhir." Salah satu kakek tua bungkuk berkata dengan tubuh gemetaran, entah karena usianya atau karena emosinya sendiri.


"Yang Mulia akhirnya kembali, dan dia akan memusnahkan makhluk terkutuk itu!" seru seorang nenek tua yang memegang tongkat berbentuk seperti ular di kedua tangannya, membantunya untuk berdiri.


Pria tua dengan tubuh kurus, namun memiliki tinggi di atas yang lainnya, perlahan maju ke depan dan berdiri tepat di depan patung pemuda itu.


Dia membungkuk hormat dan kemudian berlutut di hadapannya. Tanpa mengangkat kepalanya, dia kemudian berbicara dengan penuh rasa hormat kepada patung pemuda itu.


"Yang Mulia, apakah kami harus pergi keluar dari sini dan mencari anda?"


Patung pemuda itu diam, tidak memberikan jawabannya. Pria tua itu juga tidak mengatakan hal lainnya dan memilih menunggu dengan sabar.

__ADS_1


Akhirnya setelah beberapa waktu, patung itu kembali bersuara.


"Tidak perlu, aku sendiri yang akan datang ke tempat ini, sama seperti kehidupan ku yang sebelum-sebelumnya. Karma telah mengikatku di tempat ini sejak lama. Selama 'makhluk' itu belum mati, maka masa depan tidak akan berubah, dan kehancuran akan tiba! Kalian semua telah lama mengabdikan diri menjaga segelnya. Namun tidak akan lama sampai belenggu itu akan lepas dari kalian semua, dan masa depan yang sesungguhnya akan tiba!"


***


Kembali di kediaman Keluarga Lin, tepatnya di bekas kediaman Keluarga Lin garis darah keturunan Phoenix yang memiliki sifat penyembuh.


Weng Lou membuka matanya dan merasakan sensasi cahaya matahari yang menembus celah-celah jendela dan mengenai wajahnya.


"Aku sudah pulih delapan puluh persen, sebaiknya aku pergi untuk melihat-lihat sejenak tempat ini sebelum mencari Du Zhe."


Dia melangkah turun dari tempat tidur dan berjalan keluar dari kamarnya. Begitu dia tiba di luar kamar, Weng Lou menemukan dirinya sedang berada di sebuah lorong yang cukup besar dan hampir di tiap dindingnya akan ada sebuah lukisan yang menghiasinya.


Semua lukisan yang dipajang adalah gambaran dari seekor burung Phoenix. Namun Phoenix di tiap lukisan berbeda-beda. Ada yang berwana jingga terang seperti kobaran api yang melahap segalanya, ada juga yang berwarna ungu atau pun biru dengan karakteristiknya yang unik masing-masing.


Weng Lou hanya melihat-lihat sebentar sebelum melanjutkan untuk berkeliling.


Dibandingkan menggunakan Qi atau pun Kekuatan Jiwa untuk melihat-lihat seperti ini, akan lebih menyenangkan untuk melihatnya dengan kedua matanya sendiri.


Setelah menghabiskan waktu setengah jam, Weng Lou baru menjelajahi seperempat dari bangunan itu. Dia sadar bahwa bangunan dia berada saat ini adalah sebuah rumah yang dibangun sedemikian rupa hingga menjadi sebuah istana. Banyak ruangan-ruangan yang kosong tanpa isi, berbeda dengan kamar tempat Weng Lou beristirahat sebelumnya.


Dia juga belum menemukan dimana kamar Du Zhe dan yang lainnya berada, sehingga membuatnya bertanya-tanya seberapa besar bangunan istana ini sebenarnya. Lorong-lorong yang dia lewati terus berubah seiring lantai demi lantai yang dia lewati.


Akhirnya, setelah berjalan kurang lebih satu jam, Weng Lou tiba di satu lantai dimana dia bisa mendengar suara-suara yang akrab di telinganya.


Setelah berjalan lagi selama beberapa saat, dia akhirnya menemukan dirinya berada di sebuah aula besar yang tidak lain adalah ruang perjamuan.


Banyak kursi dan meja yang disusun rapi berbaris. Di salah satu barisan, Weng Lou bisa melihat anak buahnya yang sedang menikmati makanan mereka dan berbicara ria.


"Aku baru kali ini makan di tempat mewah seperti ini! Piring dan peralatan makan lainnya benar-benar terbuat dari logam-logam berharga, seperti perak dan Logam Panas! Satu set peralatan ini saja sudah berharga ratusan koin emas! Kalian dengar?! Ratusan koin emas!!" seru seorang pada yang lainnya.


Yang lain yang sedang tampak jengkel mendengar kata-kata tak tau malu itu, dan dia mulai membalas perkataan orang itu. "Hei, apa kau ini seorang ahli logam atau semacamnya? Makan saja makanan mu! Memangnya kenapa dengan ratusan koin emas? Tidak seperti kau belum pernah memegangnya saja," cibirnya.

__ADS_1


"Hei, aku hanya mengatakan apa yang aku pikirkan. Lagipula memangnya kau sendiri pernah makan dengan barang-barang semewah ini sebelumnya, hah???"


"Kugh.....tidak ada yang spesial dari itu! Ini hanya peralatan makan, bahkan jika harganya sampai ribuan koin emas, itu tetaplah peralatan makan."


"Ya ya ya.....wajar mendengar itu dari mulutmu. Kau selama ini hanya pernah makan dari sendok bekas penuh karat, jadi apa yang kau tau? Hahahaha!"


"Hah?! Apa katamu?! Aku tantang kau untuk mengatakannya sekali lagi!"


"Apa kau tuli?! Aku bilang kau hanya makan dari sendok bekas karatan selama ini! Dan itulah faktanya!"


"Oke, sudah cukup! Kau sepertinya memang minta untuk dihajar! Rasakan ini!"


*Bugh!*


Tanpa ragu, salah satu dari mereka melepaskan pukulan dan mengenai tepat wajah lawan bicaranya.


Pria yang menjadi lawan bicaranya itu terjungkal ke belakang, namun tak berselang lama dia segera bangkit kembali dan langsung membalas tinju yang diberikan padanya.


Segera, sebuah perkelahian terjadi dan suasana di tempat itu langsung berubah menjadi semakin ramai.


Weng Lou tertawa pelan melihat itu. Dia tidak berniat untuk menghentikan mereka, setelah memastikan keduanya hanya berkelahi biasa tanpa menggunakan beladiri, Weng Lou pun kembali berjalan-jalan.


Setelah melewati ruangan perjamuan, dia kini sampai di aula istana yang menyatu dengan ruang singgasana.


Singgasana itu kosong, tidak ada yang duduk di atasnya, meski begitu ada tekanan tak terlihat yang diberikan dari singgasana itu yang membuat Weng Lou sedikit tergerak tapi segera dia berhenti dan pergi ke tempat yang lainnya.


Akhirnya, setelah berkeliling cukup lama, dia kini sampai di puncak bangunan dimana itu merupakan sebuah taman kecil yang benar-benar kosong tanpa ada apapun.


Di salah satu sisi, terlihat Du Zhe yang sedang berlatih seorang diri memperagakan gerakan tinju yang langsung Weng Lou kenali dalam sekali liat.


"Bagaimana perkembangan mu, Du Zhe? Apa kau mengalami hambatan?" tanya Weng Lou yang segera membuat fokus Du Zhe teralihkan.


Matanya berbinar begitu melihat sosok Weng Lou. Dia berlari dengan tubuh penuh keringatnya dan tersenyum pada Weng Lou.

__ADS_1


"Guru!"


__ADS_2