
Weng Lou memerlukan waktu beberapa menit untuk menjumlah semua barang yang didapatkan oleh Shan Hu.
Kira-kira isi sepuluh kotak kayu yang dibawanya itu bernilai paling tidak sepuluh ribu koin emas jika dijual. Tapi Weng Lou tentu tidak akan melakukan hal itu.
Dia jauh lebih menghargai barang-barang dibandingkan koin emas. Dia akan memanfaatkan obat-obatan, dan juga senjata yang di dapatkan oleh Shan Hu, sementara barang-barang berupa perhiasan dan benda-benda yang tidak ada hubungannya dengan beladiri akan Weng Lou jual bersama dengan tubuh-tubuh siluman serigala yang ia bawa.
"Ah, benar. Tubuh siluman serigala, aku belum menjualnya sama sekali. Untung saja aku mengingatnya. Hei, kau, siapa nama mu tadi?" Weng Lou bertanya kepada Sha Shou.
"Namaku adalah Sha Shou, Tuan."
"Benar, Sha Shou.....aku akan memanggilmu Shou saja. Shou apa ada semacam ruang bawah tanah atau sejenisnya yang masih menyimpan harta di kastil ini?" tanya Weng Lou padanya sekali lagi.
"Tidak ada, Tuan. Tapi aku memiliki sebuah cincin penyimpanan yang berisikan beberapa harta berharga yang telah lama aku kumpulkan sejak masih muda."
"Hmmm... menarik. Dimana kau menyimpan cincin itu? Bawa aku ke sana."
"Baik, Tuan."
Sha Shou segera berjalan dan melewati Weng Lou dan Shan Hu memasuki kastil yang telah dihancurkan oleh Shou, si pria bertubuh kurus yang dilawan oleh Shan Hu sebelumnya.
Dalam perjalanan, Weng Lou bisa melihat-lihat bangunan yang ada di dalam kastil itu lebih teliti lagi.
Struktur kastil ini disusun dengan menggunakan batu-batu gunung biasa yang dimasukkan sedikit Qi di dalamnya agar menjadi sedikit lebih kuat dari batu gunung biasa. Untuk membuatnya bisa tetap kokoh, hanya digunakan sejenis getah pohon yang tidak dikenali oleh Weng Lou.
"Pantas saja kastil ini langsung hancur begitu menerima ledakan dari orang yang dilawan Shan Hu, ini persis sama dengan kastil milik manusia biasa," komentar Weng Ying.
"Hei, Shou. Siapa yang membangun kastil ini?"
"Kelompok kami, Tuan. Dengan bermodalkan bukit-bukit batu di sekitar dan juga getah dari Pohon Kabut, kami membangun kastil ini daei nol."
"Itu cukup bagus, setidaknya bangunan ini tidak tercemar oleh kebusukan kalian."
"Itu benar sekali, Tuan."
Mereka bertiga pun terus berjalan hingga sampai di depan pintu masuk sebuah ruangan yang letaknya berada di tengah kastil, tepat di ujung bagian kastil yang menerima dampak ledakan.
Sha Shou membuka pintu dan memimpin masuk ke dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
Ruangan itu berisikan sebuah meja berukuran sedang dan juga tiga buah lemari kayu yang berisikan buku-buku tebal.
"Aku sudah masuk ke dalam sini, Tuan.Semua barang berharga telah aku ambil." Shan Hu membuka suara begitu mereka bertiga berada di dalam ruangan itu.
Weng Lou tidak memberikan jawaban apapun, dia tetao diam dan terus memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh Sha Shou selanjutnya.
Terlihat Sha Shou berjalan ke arah meja yang berada di sudut ruangan. Dia kemudian meraba-raba bagian bawah meja itu, dan bagian atas meja itu pun terbuka memperlihatkan sebuah kotak kayu kecil di dalamnya.
Sha Shou segera mengambil kotak kayu itu dan langsung menyerahkannya pada Weng Lou yang terus mengawasinya.
"Ini, Tuan. Cincin itu aku simpan di dalam kotak kayu ini."
Tersenyum kecil, Weng Lou pun mengambil kotak kecil yang terbuat dari kayu itu. Dia memeriksa setiap sisi kotak itu, dan melihat sebuah lubang kecil di bagian tengahnya.
Tanpa berpikir panjang, dia langsung menyentuhkan ujung jari telunjuknya pada lubang itu, dan mulai mengalirinya dengan Qi miliknya. Hening selama beberapa saat, Weng Lou kemudian menarik kembali jarinya dan bersamaan dengan itu terdengar bunyi suara 'klik' dari kota itu.
Weng Lou pun membuka kota itu dan memperlihatkan isinya yang mana hanya terdapat sebuah cincin tua usang karatan di dalamnya.
Tapi Weng Lou tak mempedulikannya. Dia langsung mengambil cincin itu dan memasukkan Qi kedalamnya, lalu memejamkan matanya.
Selama beberapa, Weng Lou tetap diam sebelum dia membuka kembali kedua matanya dan menoleh ke arah Sha Shou.
Weng Lou memasukkan kembali cincin itu kedalam kotak kayu sebelumnya, lalu kemudian menyimpannya dalam cincin penyimpanan yang ia pakai.
"Shou, kau dan anggota mu memerlukan waktu berapa lama membangun kastil ini?" tanya Weng Lou setelah dia memasukkan kotak kayu yang sebelumnya.
"Kami hanya memerlukan waktu 1 bulan, Tuan. Meski begitu, kami tidak membangunnya setiap hari karena selalu ada misi untuk kami kerjakan setiap beberapa hari sekali," balas Shou dengan suara hormatnya.
Kepala Weng Lou mengangguk-angguk mendengarnya. Dia pun beranjak keluar dari ruangan itu dan kemudian pergi kembali ke bekas lapangan kastil tersebut yang hanya berupa tanah berbentuk kawah dengan kedalaman sepuluh meter.
Membalik badannya, Weng Lou kemudian memperhatikan bangunan kastil yang rusak parah itu baik-baik. Dia mengelus dagunya yang kemudian segera menatap Sha Shou kembali setelah memperhatikan kastil selama hampir satu menit penuh.
"Shou, sekarang aku akan memberimu tugas sebuah tugas, apa kau akan menerimanya?"
"Tentu, Tuan. Aku siap menjalankan semua perintah mu meskipun itu mengorbankan nyawaku sendiri."
Senyum tipis tercipta begitu Weng Lou mendengarnya. Segel budak yang dia ciptakan kepada Sha Shou membuatnya terikat seutuhnya dibawah kendali Weng Lou tanpa menyisakan pemikirannya sendiri.
__ADS_1
Berbeda dengan Shan Hu yang masih bisa berpikir dan tetap sadar dengan kondisinya, Sha Shou sepenuhnya berada di bawah kendali Weng Lou. Kesadarannya telah dihilangkan oleh Weng Lou sehingga dia hanya akan melakukan apa yang dikatakan oleh Weng Lou saja.
"Baiklah jika kau mengatakan itu.....tugas.... untuk membangun kembali kastil ini dalam waktu satu bulan. Tidak perlu membangunnya dari nol, cukup perbaiki saja bagian yang rusak karena menerima ledakan, mengerti?"
"Ya, Tuan. Akan aku lakukan sesuai dengan perintah."
"Bagus. Sekarang.....Shan Hu, apakah di dalam kastil masih ada barang-barang lainnya yang bisa dipakai?" Weng Lou merubah perhatiannya pada Shan Hu.
Shan Hu mengangguk lalu mulai memberitahukan barang apa saja yang ada di tiap ruangan yang dia masuki untuk mengumpulkan barang-barang berharga di dalamnya.
"Pada ruangan-ruangan kastil, kebanyakan hanyalah perabotan-perabotan biasa saja seperti meja, kursi, tempat tidur dan lemari.
Pada beberapa ruangan khusus seperti dapur, masih banyak bahan makanan di dalamnya, juga peralatan memasak seperti panci dan wajan. Juga pada satu ruangan seperti ruang penyimpanan ada beberapa senjata biasa yang kutinggalkan karena menurutku tidak terlalu berharga.
Barang-barang lain juga cukup banyak di bagian gudang belakang kastil. Di sana terdapat alat-alat bangunan yang sepertinya digunakan oleh kelompok ini untuk membangun kastil ini dulunya," ucap Shan Hu yang selesai memberikan rincian kepada Weng Lou.
Dari penjelasan Shan Hu, setidaknya Weng Lou bisa mengerti bagaimana kondisi keseluruhan kastil ini.
Semua barang-barang yang ada seperti nya tidak mengalami kerusakan sama sekali karena ledakan sebelumnya.
"Nah, Shou. Kau bisa memakai barang-barang yang ada di dalam kastil untuk memperbaiki kembali kastil ini, mengerti?"
"Mengerti, Tuan."
"Pergilah, kau bisa mulai memperbaiki."
"Baik."
Sha Shou beranjak pergi dan bergerak menuju ke belakang bangunan kastil ke arah gudang dimana alat-alat bangunan yang dimaksud oleh Shan Hu berada.
Weng Lou dan Shan Hu memperhatikan punggungnya yang menghilang di kejauhan sebelum kemudian Shan Hu berbicara kepada Weng Lou.
"Tuan, apa anda yakin? Aku tidak terlalu percaya dia sanggup memperbaiki bangunan kastil ini." Shan Hu berbicara sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Tidak perlu dipikirkan, Sha Shou akan melakukan apa saja agar perintah yang kuberikan mampu dia lakukan, meski itu adalah mengorbankan nyawanya.
Sekarang, ayo kita kembali. Ying Luan dan yang lain sudah menunggu. Mereka pasti sudah makan-makan sekarang tanpa kita."
__ADS_1
"Baik, Tuan."
Weng Lou dan Shan Hu pun pergi meninggalkan bangunan kastil sambil membawa semua barang jarahan yang telah dikumpulkan oleh Shan Hu melewati lorong bawah tanah yang keduanya lewati bersama.