Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 562. Membasmi


__ADS_3

Weng Lou memberitahukan alasan dirinya menerobos menuju rute milik Qianren pada gadis tersebut, dan alasan tersebut hanya membuat Weng Lou panggilan 'orang gila' oleh Qianren.


Meski sedikit kesal dengan panggilan tersebut, namun Weng Lou tidak membawa masalah tersebut lebih jauh dan memilih mengajak Qianren untuk ikut dalam rencananya. Menurutnya, gadis yang bersamanya ini telah memenuhi kriteria sebagai rekannya, paling tidak Qianren tidak akan terlalu menjadi beban untuknya, dan bisa mengisi waktu luangnya dengan mengobrol bersamanya.


Daripada terlihat seperti orang gila yang suka berbicara sendiri, Weng Lou lebih suka mencari lawan bicara yang lebih 'masuk akal' dari pandangan orang lain.


"Jadi, kau berusaha menghabisi semua siluman dan binatang buas, serta menyelesaikan semua rute khusus yang ada di Ujian Labirin ini sendirian, dan mengajakku untuk ikut bergabung dalam rencana gila itu? Kau pikir aku benar-benar tidak sayang dengan nyawa ku?? Maaf saja, tapi meski aku terlihat bersemangat dalam menghabisi para binatang buas dan siluman, aku masih cukup waras untuk tidak melakukan hal gila seperti itu!"


Mendengarkan kata-kata dari Qianren yang terus-menerus menyebutnya gila hanya membuat hati Weng Lou seperti ditusuk oleh sebuah duri kecil, tapi itu tidak cukup untuk mempengaruhi emosinya. Lagipula, dia sudah menduga jawaban tersebut. Memang benar tidak ada orang yang mau mempertaruhkan nyawanya demi sesuatu yang tidak pasti.


Weng Lou sudah menerangkan bahwa ada kemungkinan mereka mendapatkan poin bonus dengan menghabisi semua binatang buas serta para siluman dalam ujian ini, juga dia memberitahu kalau menyelesaikan tiap rute khusus akan mendapatkan sebuah hadiah acak. Dia tidak asal berbicara saat mengatakan bahwa akan ada hadiah acak saat menyelesaikan rute khusus di dalam Ujian Labirin, karena sebelum dia mencapai tempat Qianren, dia telah menyelesaikan setidaknya tiga rute khusus, termasuk dengan lorong yang dia lewati dimana dia mendapatkan peta khusus yang merupakan posisi dimana rute khusus lainnya berada.


Berpikir bahwa Qianren tidak akan mengikutinya tanpa adanya bukti sedikitpun, Weng Lou pun melempar sesuatu padanya dan segera ditangkap dengan mudah oleh Qianren.


Yang dilemparkan oleh Weng Lou adalah secarik lembaran dari kulit binatang yang sudah sangat kusam dan sangat kaku, namun pada kertas itu terdapat beberapa pola misterius yang mengandung kekuatan sangat besar. Wajah serius terlihat pada Qianren saat menatap kulit itu sambil menelan ludah berat.


Benda di tangannya adalah sebuah jimat yang telah berusia puluhan tahun dan merupakan sebuah jimat yang memiliki teknik perubahan unsur yang setidak berada di ranah Pembersihan Jiwa tahap 5 ke atas. Untuk membuatnya bisa bertahan lama, jimat dibuat menggunakan kulit binatang buas yang mampu menahan kekuatan dari teknik perubahan unsur yang dituliskan di atasnya.


Dengan cara ini, sebuah jimat bisa bertahan jauh lebih lama dibandingkan dengan jimat yang dituliskan pada kertas, dan tentu saja harganya juga jauh lebih mahal. Jimat yang ada di tangan Qianren saat ini paling tidak harus berharga lima ribu keping emas lebih dan bisa ditukarkan dengan senjata tingkat 2 pusaka.


"Glek...." Qianren menelan ludahnya. Memegang sesuatu yang sangat berharga seperti ini sungguh merupakan hal yang tidak dia bayangkan sama sekali.


Merasa umpannya telah digigit, Weng Lou pun memberikan penawaran yang sudah dia siapkan pada Qianren, "Aku akan memberikan jimat itu sebagai penjamin bahwa aku tidak berbohong. Dan itu juga bisa menjadi penjamin keselamatan mu. Bagaimana? Aku tidak akan memberikan tawaran yang lebih baik lagi, jika kau memang tidak mau aku akan pergi sendiri. Yah, tentu saja jimat di tanganmu itu akan ku ambil kembali tentunya."


"Aku ikut!!" seru Qianren dengan tegas dan memasukkan jimat itu ke balik bajunya.


"Hahaha... keputusan yang bagus! Kau tenang saja, meski kita menghadapi bahaya yang jauh di luar batas kemampuan kita, aku akan memprioritaskan keselamatan mu." Weng Lou menepuk tangannya, dan segera berjalan menelusuri lorong labirin yang menjadi rute milik Qianren dan diikuti dengan cepat oleh gadis itu dengan senyum kecil di sudut bibirnya.


***


Dini hari, dimana beberapa suara lolongan dan raungan dari siluman dan binatang buas terus menerus terdengar setiap waktunya. Sebuah pertarungan besar terjadi di salah satu lorong labirin.


*Husshh!! PRAKKK!!!!*


Sebuah tendangan yang sangat keras menghantam tanah dan menciptakan kawah kecil dimana sosok Qianren berada di pusatnya.


"Ck, aku mulai jengkel dengan ini!" Qianren menatap galak ke arah Weng Lou. Pemuda itu saat ini tidak menghiraukan perkataan gadis tersebut, dan hanya fokus mengejar sesosok bayangan yang bergerak sangat cepat diantara bayang-bayang.

__ADS_1


Sosok ini memiliki besar tidak lebih dari kepalan tangan Weng Lou, namun kecepatan dan kelincahannya benar-benar tidak sesuai dengan tubuh kecilnya tersebut. Qianren telah lima menit penuh mengejar dan menyerang bayangan itu, tapi sampai sekarang bayangan itu bisa dengan mudah menghindarinya.


"Hei, lakukan sesuatu! Stamina ku akan habis jika kita hanya terus mengejar tikus kotor itu!" umpat Qianren lagi dan Weng Lou pun menghela napasnya sebelum kemudian sosoknya menghilang sekejap mata, lalu dengan cepat menghadang bayangan itu dan membuatnya berhenti bergerak karena terkejut dengan kemunculan Weng Lou.


Bisa terlihat sosok asli dari bayangan itu yang merupakan tikus kecil berwarna hitam yang memiliki bentuk tubuh panjang dan dua pasang kaki yang memiliki besar tidak normal.


Itu adalah tikus yang sudah berevolusi, namun tidak sebagai siluman, melainkan binatang buas dengan kecepatan yang luar biasa. Kecepatannya itu berasal dari otot-otot kakinya yang mengalami perubahan sehingga bisa membuatnya berlari sangat cepat. Kelincahannya didapatkan dari bentuk tubuhnya yang memanjang, sehingga dia bisa lebih leluasa untuk bergerak.


"Maafkan aku, binatang kecil, tapi kau harus mati di sini," ucap Weng Lou namun tampak tidak menyesal sedikitpun.


"Ciiiit!!!" Tikus tersebut mengeluarkan suara yang sangat melengking, namun Weng Lou tidak terpengaruh sedikit pun. Dengan entengnya kakinya bergerak dan menginjak begitu saja tikus itu hingga mati begitu saja tanpa bisa melakukan perlawanan apapun.


Weng Lou mengangkat kakinya dan melihat tubuh tikus yang telah gepeng itu menempel di tanah dengan darahnya terciprat ke sekitarnya. Dia mengelap darah di kakinya pada tanah yang lebih bersih sebelum berjalan ke arah Qianren yang sedang mengatur napasnya.


"Itu yang terakhir, dengan ini kita bisa memulai memasuki lorong yang sebelumnya. Apa kau masih memiliki tenaga? Kita akan langsung masuk ke sana dan memberantas para roh gentayangan itu. Seperti yang kau tau, aku tidak memiliki Tenaga Dalam ataupun Qi, jadi aku memerlukan bantuan mu agar bisa menyerang mereka," jelas Weng Lou dengan suara tenang.


Qianren diam sejenak untuk mengambil napas panjang dan membuangnya dengan pelan sebelum akhirnya mengangguk.


"Aku masih memiliki banyak Qi yang tersisa di dalam tubuhku. Untungnya aku hanya menggunakan kekuatan fisik sepanjang hari ini sehingga Qi ku masih tetap penuh sampai sekarang," ungkapnya.


Mendengar nya Weng Lou mengangguk puas, lalu memberikan sebuah pil pada Qianren. Qianren melihat pil itu dan langsung menelannya tanpa banyak tanya. Begitu dia menelannya, dia bisa merasakan rasa lelah nya sedikit menghilang dan kekuatan nya telah pulih sedikit.


"Tidak perlu, aku masih memiliki banyak di sini. Pil-pil itu hanya kujadikan sebagai permen saja. Aku tidak bisa menyerap khasiat pil-pil seperti itu karena keterbatasan ku, jadi aku punya banyak di penyimpanan ku."


Qianren mengangguk-angguk mendengar penjelasan dari Weng Lou. Rasa pil ini sedikit manis dan ada aroma mint yang cukup menyengat sehingga bisa dijadikan camilan permen seperti yang Weng Lou lakukan. Meski sebenarnya harga dari satu pil ini adalah ratusan koin perak.


Setelah mereka berdiam selama beberapa menit, Weng Lou dan Nu Qianren pun akhirnya pergi kembali untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju ke salah satu rute khusus yang lokasinya tidak jauh dari tempat mereka saat ini. Kira-kira setelah berjalan selama lima menit lebih, mereka sampai di salah satu lorong labirin yang sangat gelap, dan tidak mendapatkan cahaya dari bulan dan bintang yang cukup.


Padahal, bulan dan bintang-bintang di langit bisa terlihat dengan jelas oleh mereka ketika mengadah ke atas, tapi cahayanya tidak mencapai lokasi mereka seperti ada penghalang khusus di sekitar mereka. Ketika mereka menginjakkan kaki di lorong labirin tersebut, secara tiba-tiba suhu udara menurun drastis dan perasaan ngeri serta napsu membunuh yang sangat besar memenuhi lokasi tersebut.


Wajah Weng Lou dan Qianren berubah menjadi serius dan mereka segera memasang posisi siaga. Mereka siap bertarung kapan saja, terutama Qianren yang telah membentuk beberapa pola tangan dengan gerakan cepat.


Qi miliknya mulai mengalir keluar, dan dengan arahan pola yang dibentuk oleh kedua tangannya, Qi tersebut membentuk sebuah pelindung disekitar mereka.


Mata Weng Lou hanya melihat sekilas gerakan pola yang dibuat oleh Qianren dan tidak terlalu tertarik melihatnya. Penggunaan Qi oleh beberapa Praktisi Beladiri di Kekaisaran Ryuan dan Kepulauan Huwa bisa dibilang terlalu kaku dan bahkan terkesan sangat ketinggalan jaman oleh Weng Lou. Untuk beberapa Praktisi yang masih berada di level dasar seperti Nu Qianren, perlu menggunakan pola tangan hanya untuk membuat sebatas pelindung Qi yang sangat sederhana seperti ini.


Bahkan Weng Lou sangat meragukan ketahanannya. Mungkin jika dia memukul hanya dengan menggunakan sepuluh persen kekuatan miliknya, pelindung tersebut bisa hancur berkeping-keping. Tapi Weng Lou tidak berkomentar apapun, dia tau tidak semua orang merupakan jenius sepertinya dan tiap hal memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing.

__ADS_1


Meski sebenarnya Weng Lou tidak yakin penggunaan Qi menggunakan pola tangan memiliki kelebihan. Namun tetap saja, tidak baik memberikan komentarnya. Lagi pula dia adalah 'Si Cacat' yang bahkan tidak memiliki sedikit pun Qi di dalam tubuhnya.


Tak berapa lama setelah pelindung Qi dibuat, suara-suara bisikan mulai terdengar dari dalam lorong itu. Weng Lou dan Qianren saling bertatapan satu sama lain, dan mereka pun berjalan perlahan memasuki lorong itu lebih dalam. Semakin mereka masuk, suara-suara bisikan itu terdengar semakin besar hingga terdengar seperti suara-suara orang yang sedang berbicara dan bersahut-sahutan, tapi tanpa tampak seorangpun yang menjadi sumber suaranya.


Begitu mereka berada di tengah labirin, keduanya berhenti berjalan dan menunggu.


"Bunuh......"


"Benar....bunuh mereka......"


"Tidak....lebih baik kita siksa saja....."


"""BAGAIMANA KALAU KITA SIKSA DAN MEMBUNUH MEREKA SAJA???!!!!"""


*Shuuu.......Whuuusshhhh!!!!*


Dari dalam tanah, dinding dan udara kosong, sosok-sosok transparan menunjukkan sosok satu persatu, dan menampilkan sosok mengerikan mereka yang dipenuhi dengan luka-luka yang sangat mematikan bagi manusia yang masih hidup.


"Mereka datang!!" seru Qianren yang sedikit gugup dan kedua tangannya tak berhenti bergetar.


Weng Lou menyadari hal ini dan langsung memegang kedua tangannya. "Jangan takut! Mereka tidak akan bisa menembus penghalang Qi selama kau tidak menunjukkan rasa takut dan tetap berkonsentrasi!"


Qianren menggigit bibir bawahnya dan menarik napas dengan lembut. Getaran pada kedua tangannya perlahan mereka, dan Weng Lou pun melepaskan pegangannya ketika merasa gadis itu sudah bisa mengontrol dirinya sendiri.


"Bagus, tetap seperti itu...jangan kehilangan konsentrasi mu..." ucap Weng Lou dengan tenang dan berusaha membuatnya merasa nyaman dan tenang.


Merasa bahwa Qianren sudah tenang, Weng Lou mengeluarkan salah satu pedang miliknya yang masih tersarung rapi sampai sekarang. Dia belum mendapatkan kesempatan untuk memakainya sejauh ini karena lawan-lawannya tidak cukup layak baginya.


Pedang yang terlihat seperti pedang yang dibuat dengan asal-asalan tersebut tampak remeh Dimata beberapa orang, namun bagi Weng Lou pedang yang dianggap remeh oleh mereka ini adalah senjata paling mematikan yang sudah membunuh beberapa ahli Ranah Penyatuan Jiwa, termasuk beberapa binatang buas lautan yang terkenal akan kekuatan mereka


Pedang itu diayunkan pelan dan diarahkan pada sosok roh jahat yang telah mencapai pelindung Qi di depannya.


Ketika Roh Jahat itu menyentuh pelindung Qi, secara aneh sosoknya tidak bisa menembus penghalang tersebut, dan Weng Lou langsung melayangkan serangannya begitu roh tersebut tertahan.


*Shingg!!* Pedangnya menebas kedepan dan menembus pelindung Qi, lalu memotong tubuh sang roh jahat tersebut hingga suara jeritan yang sangat menyedihkan dikeluarkan oleh roh itu. Namun jeritan itu tak berlangsung lama. Tubuhnya segera hancur menjadi partikel-partikel cahaya dan menghilang di udara.


Roh yang lain melihat hal tersebut dan meraung marah. Mata mereka berubah merah, dan segera mereka menabrakkan diri ke pelindung Qi. Tubuh Qianren terasa seperti ditabrak oleh sekawanan banteng, tubuh sedikit tersentak mundur namun dia tetap berkonsentrasi dan mempertahankan pelindung Qi miliknya.

__ADS_1


Weng Lou tidak mau membuang-buang waktu, dia sadar Qianren tidak sepertinya yang memiliki fokus luar biasa dan kekuatan mental yang sangat besar, sehingga akan kelelahan dalam waktu dekat. Dengan menggenggam erat pedang di tangan, Weng Lou mulai menghabisi satu persatu roh jahat itu dan membasmi mereka hingga berkeping-keping.


Roh Jahat hanya bisa dihabisi oleh serangan yang mengandung Qi dan Tenaga Dalam murni, serangan fisik pada dasarnya tidak berefek pada mereka. Namun hal ini sebenarnya tidak terlalu benar, karena saat Roh menyentuh Qi, mereka akan mendapatkan sifat padat mereka dan dapat di sentuh. Pada momen seperti inilah Weng Lou membunuh mereka dengan memanfaatkan pelindung Qi Qianren.


__ADS_2