
Di dalam kapal Bajak Laut Karang Hitam. Weng Lou sedang duduk berhadapan dengan sang Kapten dari Bajak Laut Karang Hitam, Hei Shanhu.
Keduanya hanya terpisahkan oleh sebuah meja bundar yang mana terdapat dua cangkir teh herbal hangat yang disajikan kepada mereka berdua. Hei Shanhu menikmati teh miliknya begitu juga dengan Weng Lou setelah dia menkonfirmasi bahwa teh tersebut aman dan tidak mengandung sesuatu yang berbahaya bagi tubuh.
"Kau jelas bukan berasal dari wilayah Daratan Utama. Apa kau berasal dari Kekaisaran Ryuan?" tanya Shanhu yang meletakkan cangkir teh nya kembali ke atas meja.
Weng Lou meminum sedikit lagi teh nya dan ikut menaruhnya kembali sebelum menjawabnya, "Kau bisa mengatakannya seperti itu, tapi tempat asalku juga bukan Kekaisaran Ryuan. Kau bisa bilang aku adalah seorang petualang yang menginginkan petualangan bebas tanpa seorangpun yang menghalangi ku."
Jawaban Weng Lou itu hanya dibalas dengan anggukan kecil oleh Hei Shanhu. Dia mengambil teko berisi teh dan mengisi kembali cangkir Weng Lou yang sudah tinggal setengah isinya.
"Terima kasih."
"Tidak perlu, teh ini adalah salah satu barang utama dalam perdagangan gelap di wilayah Daratan Utama dan kami Bajak Laut Karang Hitam merupakan kelompok yang mendistribusikan nya setelah menerimanya dari klien kami. Kau bisa bilang bahwa teh ini menjadi satu-satunya harta berharga di Daratan Utama yang tidak terlalu berharga di Pulau Karang Bintang. Aku bisa memberikannya padamu beberapa jika kau menginginkan nya," jelas Shanhu dengan gamblangnya.
Weng Lou mengangguk mengerti. Dia pun minum kembali tehnya. Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya teh di cangkirnya dan milik Shanhu telah habis. Mereka pun masuk dalam pembicaraan yang sebenernya dan atmosfer disekitar mereka telah berubah sepenuhnya.
"Baiklah....anak muda. Katakan padaku apa yang mau perdagangkan dengan ku? Kau mengirim gelombang pesan menggunakan Kekuatan Jiwa dari daerah pemakaman kapal menuju ke pulau ini. Untung saja Pulau Karang Bintang merupakan pulau terdekat dari tempat itu atau jika tidak, orang-orang bau di pulau lain pasti lebih dulu mendatangi mu," kata Shanhu sambil menyipitkan matanya.
Dia menatap Weng Lou seperti melihat sebuah bom waktu berjalan yang bisa membawa masalah padanya kapan saja.
Weng Lou tertawa pelan sambil mengangkat kedua bahunya. "Aku bisa mengatasi mereka dengan mudah jika memang terjadi seperti itu. Lagi pula hanya ada satu orang di ranah Penyatuan Jiwa tahap 9 puncak di Kepulauan Doulou."
"Hoo.... sepertinya kau memiliki cukup infomormasi mengenai tempat ini. Kalau begitu aku tidak perlu lagi memberikan peringatan padamu, sekarang dekat katakan apa yang kau inginkan?"
"Hehe....aku ingin membuat Tablet Identitas untuk diriku agar bisa berkeliling di Daratan Utama. Tentu aku akan membayar mahal kepada mu jika kau membantuku." Weng Lou tersenyum sambil menjelaskan mengenai maksud kedatangannya.
Hei Shanhu diam dan berpikir keras. Permintaan Weng Lou bukanlah sesuatu yang mudah karena dia ingin membuat Tablet Identitas palsu untuk dirinya yang mana hal itu adalah salah satu pelanggaran berat di Daratan Utama, dan orang yang berani melakukannya akan mendapatkan hukuman berat dari Empat Keluarga Klan Besar yang merupakan penguasa sejati dari Daratan Utama.
Bahkan bagi mereka yang berada dalam wilayah Kepulauan Doulou yang dilindungi seorang Praktisi Beladiri di puncak ranah Penyatuan Jiwa akan takut dengan hukuman yang diberikan.
Namun Weng Lou mengatakan dia berasal dari luar Daratan Utama, maka seharusnya akan sulit menemukan identitasnya. Terlebih lagi, dia sepertinya memiliki sesuatu yang sangat berharga bersamanya sehingga begitu percaya diri. Tapi dia tidak akan maju lebih dulu, di sini Weng Lou yang lebih membutuhkan nya, bukan dia yang membutuhkan Weng Lou.
"Ini cukup sulit....hukuman paling ringan dari pelanggaran ini adalah hukuman mati. Kau tau nyawa adalah hal yang paling berharga bagi seorang Praktisi Beladiri." Shanhu berbicara pelan sambil memasang wajah seperti berpikir keras.
Tidak perlu pintar untuk mengetahui maksud Shanhu. Weng Lou sendiri juga menyadari bahwa dia yang membutuhkan bantuan di sini, tapi permasalahannya, Hei Shanhu bukanlah orang satu-satunya yang bisa membantunya di Kepulauan Doulou. Sebelas pulau yang berbeda di Kepulauan Doulou dipimpin oleh masing-masing satu orang kapten yang memiliki kekuatan di ranah Penyatuan Jiwa, mereka jelas memiliki pengaruh yang sama dengan yang dimiliki Shanhu, meski membuat Tablet Identitas merupakan keahliannya, namun bukan berarti orang lain tidak bisa membuatnya.
"Hei....jika kau berpikir untuk memeras ku, maka lupakan saja hal itu. Aku bisa dengan mudah pergi ke kapten lain untuk mendiskusikan hal yang sama, kau bukanlah yang terbaik dari mereka semua," ejek Weng Lou.
Hei Shanhu terdiam. Weng Lou benar-benar memiliki pola pikir yang hebat dan tajam. Dia mau tidak mau harus menurunkan egonya demi mendapatkan keuntungan yang berada di depan matanya.
"Hahaha....baiklah baiklah. Aku akan membiarkannya, tapi aku harus tau, harga seperti apa yang berani kau bayarkan kepadaku."
Weng Lou hanya melambaikan tangannya sebagai balasan kepada Shanhu. Sebuah kotak kayu yang memiliki gambar unik dan teleihat dipernis mengkilap. Samar-samar Shanhu bisa mencium bau obat yang sangat kuat dari celah kotak kayu itu, dan entah mengapa dia menelan ludahnya karena tidak bisa membayangkan obat seperti apa yang ditunjukkan oleh Weng Lou.
__ADS_1
Tangannya bergerak untuk mengambil kotak kayu di depannya, akan tetapi dengan cepat kotak itu kembali mengehilang setelah Weng Lou mengayunkan tangannya sekali lagi. Shanhu mendecakkan lidahnya dan menatap Weng Lou yang menyeringai padanya.
"Setidaknya biarkan aku melihat isinya!"
"Tidak, khasiatnya akan berkurang jika dibuka. Kau harus langsung memakannya begitu membuka kotaknya. Tenang saja, ketika kau selesai membuatkan aku Tablet Identitas yang aku inginkan, kotak yang sebelumnya akan menjadi milik mu beserta isinya."
Berpikir sejenak, akhirnya Shanhu setuju. Weng Lou pun memberikannya beberapa informasi untuk diisi ke Tablet Identitas nya. Seperti nama, jenis kelamin, asal/bagian dari kelompok mana, beserta tingkat praktiknya.
Untuk namanya, Weng Lou tidak merubahnya. Dia memilih untuk tetap memakai nama aslinya karena dia ingin melihat apakah Keluarga Weng memiliki hubungan terentu dengan Empat Keluarga Klan Besar di Daratan Utama. Adapun jenis kelamin, Weng Lou tidak memiliki niatan merubahnya, bahkan sebenarnya dia tidak pernah memikirkan mengenai menyembunyikan jenis kelaminnya.
Lalu tempatnya berasal, dia memilih menyerahkan nya pada Hei Shanhu untuk memikirkannya sendiri, dan untuk tingkat praktik, dia menyuruh Shanhu menuliskan ranah Penyatuan Jiwa tahap 3 awal. Weng Lou tidak bisa memperkirakan kekuatannya yang sebenarnya karena dia tidak memiliki Qi, namun harusnya jika dihitung berdasarkan banyaknya Kekuatan Jiwa nya, maka harusnya tingkat praktik ranah Penyatuan Jiwa tahap 3 sudah cukup.
Shanhu pada awalnya tidak percaya dengan tingkat praktik Weng Lou, namun Weng Lou menyuruhnya untuk tulis saja seperti yang dia katakan sambil melepaskan Kekuatan Jiwa nya untuk menekan tubuhnya ke lantai.
Pada akhirnya, beberapa hari kemudian berlalu. Weng Lou berada di atas kapal Bajak Laut Karang Hitam dan menghadap kelompok Bajak Laut Karang Hitam. Hei Shanhu dan wakilnya serta beberapa anggota utama dalam kelompok mereka tampak diam melihat Weng Lou yang saat ini berdiri dengan senyum santai di wajahnya.
Hari ini adalah hari transaksi mereka. Tablet Identitas yang dijanjikan oleh Shanhu sudah jadi dan itu berarti dia dan Weng Lou akan melakukan pertukaran yang telah dijanjikan.
Untuk mencegah beberapa hal yang tidak diinginkan, Hei Shanhu telah memanggil semua anggota inti di kapalnya yang terpencar di berbagai tempat di seluruh wilayah Kepulauan Doulou. Meski dia tau tidak akan bisa menang jika Weng Lou berniat melawan mereka, namun setidaknya Weng Lou akan berpikir dua kali karena pasti akan kesusahan keluar bersama kapalnya yang berukuran cukup besar itu.
"Kalian ini mau berbisnis atau berperang, huh?" Weng Lou bertanya sambil menggelengkan kepalanya.
"Mohon dimaklumi, kami tidak ingin klien kami melakukan beberapa kesalahan karena kurangnya kesiapan kami," jawab Shanhu sambil tersenyum polos, namun di dalam hatinya dia masih mengutuk Weng Lou karena telah membuatnya bertekuk lutut ke tanah hanya dengan Kekuatan Jiwa nya.
Weng Lou mengangkat tangannya dan kotak kayu yang dikeluarkan nya beberapa hari yang lalu muncul di tangannya itu. Hei Shanhu menelan ludahnya ketika dia menatap kotak kayu tersebut. Dia juga mengangkat tangannya dan mengeluarkan sebuah tablet dari logam berwarna perak namun jelas bukan logam perak. Dari kelihatannya logam itu haruslah logam yang hanya ada di Daratan Utama karena dia tidak bisa mengenalinya sama sekali.
"Baiklah, kita akan sama-sama menaruhnya ke lantai, dan mengambil apa yang menjadi milik kita," ucap Shanhu sambil menyipitkan matanya namun tetap tersenyum.
Dia sedikit membungkuk, dan diikuti oleh Weng Lou. Mata keduanya saling menatap satu sama lain. Tanpa aba-aba, mereka berdua melepaskan benda di tangan mereka dan mengambil benda yang menjadi incaran mereka.
Dengan cepat keduanya berdiri tegak dan melihat masing-masing benda yang ada di tangan mereka.
Weng Lou menatap tablet di tangannya itu dengan senyum lebar. Dia merasakan bahwa tablet ini memiliki sesuatu yang spesial di dalamnya yang mana membuatnya sangat berharga. Sementara itu, Shanhu mengamat-amati kotak di tangannya.
Dia ingin cepat-cepat membukanya dan melihat isinya, namun teringat perkataan Weng Lou bahwa dia hanya bisa membukanya jika memang ingin langsung memakannya. Sat itulah dia memberikan tanda pada para kru nya untuk berdiri mengelilinginya.
Kotak kayu itu dibukanya perlahan, aroma obat-obatan herbal langsung keluar dari dalam kotak itu, membuat semua orang di dek kapal bisa menciumnya dengan sangat jelas. Bahkan beberapa bajak laut di bawah kapal bisa menciumnya dengan jelas. Bau obat yang sangat kuat itu menandakan bahwa obat tersebut memiliki kualitas yang sangat baik, terutama jika memiliki bau obat yang terasa manis.
Di dalam kotak, sebuah pil berwarna kuning transparan diletakkan dengan rapi di atas bantalan yang dilapisi oleh kain merah bersih tanpa noda. Tangan Shanhu mengambil pil itu dan segera menghirup baunya tepat di kedua hidungnya. Aroma tanaman herbal dan manis segera masuk ke dalam paru-paru nya. Otaknya segera menjerit ingin dia memakan pil itu dan dia pun melakukannya.
Air liurnya mengalir deras di dalam mulut ketika sensasi manis dan dingin bergerak masuk melewati tenggorokannya dan masuk ke dalam perutnya.
*Bdum!* Ledakan kecil terjadi setelah pil itu di telan olehnya. Dengan cepat Hei Shanhu duduk bersila dan memulai meditasinya, sementara Weng Lou hanya tertawa melihat reaksi dari Shanhu. Pil yang dia makan merupakan salah satu pil yang tidak berguna untuknya.
__ADS_1
Pil itu memiliki khasiat meningkatkan tingkat praktik seseorang di ranah Penyatuan Jiwa tahap 1-5. Pil itu akan membuat Kekuatan Jiwa pemakannya menjadi bergejolak dan terasa seperti mendidih.
Ketika Kekuatan Jiwa seseorang sedang bergejolak atau sedang berada di titik tertingginya, orang tersebut bisa memurnikan Kekuatan Jiwa nya jauh lebih mudah dan cepat. Akan tetapi, diperlukan Qi untuk memurnikan dengan cara ini sehingga Weng Lou memilih untuk menukarkan pil tersebut dengan barang yang lebih dia butuhkan dari Shanhu.
"Baguslah jika kau mengerti cara kerjanya, kalau begitu sampai jumpa lagi, mungkin beberapa waktu kedepan aku akan mengunjungi kalian lagi," ucap Weng Lou sambil melambaikan tangannya dan terbang pergi dari atas kapal itu dengan bantuan pedang di bawah kakinya.
Para kru Shanhu tidak ada yang menghentikan Weng Lou karena menerima perintah langsung dari kapten mereka untuk tidak melakukan hal tersebut.
"Kalian hanya akan mati sia-sia jika menghadapinya," ucapnya kepada para kru nya sebelum transaksi dengan Weng Lou dilakukan.
Jelas para kru nya itu tidak akan berani melanggar perintah sang kapten. Mereka sudah bersama-sama dalam satu kelompok yang sama selama bertahun-tahun. Perintah kapten mereka adalah hal yang mutlak dan harus dilaksanakan oleh semua kru.
***
Saat ini di dalam kapal uap kelompok Weng Lou.
Kera Hitam Petarung mendengus di hadapan Weng Lou ketika pemuda itu berjalan masuk ke tempatnya yang hanya bisa terus-menerus berbaring karena tidak diperbolehkan untuk keluar oleh Weng Lou.
"Kau sudah mendapatkan nya?" tanya Kera Hitam Petarung.
Weng Lou tidak mengatakan apapun dan menunjukkan tablet yang dia dapat dari Shanhu padanya. Mata Kera Hitam Petarung itu menatap tablet tersebut sekilas sebelum kemudian mendengus sekali lagi.
"Kalau begitu apa yang kau tunggu? Bawa keluar kapal ini dari sini. Punggung ku sudah pegal berbaring selama berhari-hari."
"Hehehe...bersabar saja. Kita baru akan berangkat. Tapi sepertinya kau tidak perlu menunggu kita keluar dari wilayah kepulauan ini untuk keluar dari kapal," ucap Weng Lou sambil tersenyum penuh makna.
Kera Hitam Petarung terdiam. Matanya bergerak dan menatap ke beberapa arah. Dia akhirnya tertawa ketika menyadari maksud perkataan Weng Lou. Beberapa lalat akhirnya terpancing oleh aroma bunga yang beracun.
Di beberapa pulau kecil di dekat Pulau Karang Bintang. Beberapa kelompok bajak laut terlihat sedang mengawasi dermaga dimana kapal uap Weng Lou saat ini berada.
Mereka semua adalah perwakilan dari kesepuluh pulau utama lainnya di Kepulauan Doulou. Masing-masing dari mereka membawa bendera bajak laut yang memimpin pulau-pulau itu dan menunjukkan permusuhan satu sama lain terhadap kelompok-kelompok yang berbeda.
"Komandan, target telah memasuki kapal. Kita hanya tinggal menunggu dia keluar dari wilayah Pulau Karang Bintang sebelum kemudian melakukan penyerangan." Seorang pria kurus ringkih memberikan laporan pada seorang pria berjanggut lebat yang sedang asik bermain dengan beberapa wanita di sampingnya.
Pria yang dipanggil sebagai komandan itu menatap orang yang memberikan laporan padanya. Dia segera bangkit berdiri meninggalkan para wanita yang bermain dengannya lalu beranjak menuju ke dek kapal sambil memegang sebuah teropong sepanjang setengah meter.
Dia menempatkan teropong tersebut di mata kanannya dan memeriksa ke arah dermaga. Bisa dia lihat kapal uap Weng Lou mulai mengeluarkan kepulan asap di atasnya, tak lama kemudian kapal itu bergerak mundur, berputar sebelum kemudian bergerak maju pergi dari dermaga.
*Srak!* Teropong itu dilipat, dan komandan dari kelompok bajak laut itu segera memberikan perintahnya.
"Turunkan layar! Kita akan mengejar target kita dengan kecepatan penuh! Isi semua meriam, dan jangan lupa siapkan beberapa bom yang Kapten telah berikan pada kita. Bom-bom itu hanya boleh dipakai ketika target tidak kau menyerahkan diri, jika seandainya target memilih untuk menyerah, kita dilarang menggunakannya! Apakah kalian mengerti apa yang aku katakan?!"
""DENGAR, KOMANDAN!!""
__ADS_1
"Bagus!!! Kita berlayar!!!"