
Du Zhe sedang asik membaca sebuah kitab teknik beladiri saat kemudian teriakan Weng Lou menggema dari luar kapal dan membuatnya langsung terjungkal karena sakit terkejutnya.
Reaksinya ini sama persis dengan para awak lain yang sedang beristirahat di dalam kapal. Mereka semua seakan mendapatkan mimpi buruk ketika suara Weng Lou itu membangunkan mereka.
Karena Du Zhe bertugas untuk mengoperasikan mesin, maka dialah yang pertama kali bereaksi. Dengan terburu-buru dia berjalan meski ke arah ruangan mesin kapal dan buru-buru menarik mundur tuas besar yang ada tepat di samping mesin dan membuat mesin itu berhenti bekerja sejenak sebelum kembali bergetar dan memutar kembali baling-baling kapal namun dalam arah yang sebaliknya.
Perlahan, kapal uap mereka mulai berhenti bergerak sebelum kemudian bergerak kebelakang. Weng Lou yang ada di geladak menelan ludah saat menyaksikan bahwa kapal mereka hampir saja masuk ke dalam sebuah mulut besar di depan mereka.
Kapal mereka saat ini berada tepat di ujung mulut besar itu, dan dengan perlahan mundur menjauhinya.
Sosok yang memiliki mulut besar itu seakan menyadari bahwa mangsanya telah berhasil menyelamatkan diri dan menutup mulutnya, membuat aliran air yang sebelumnya bergerak masuk ke mulutnya kini berhenti. Weng Lou merasa lega menyaksikan hal itu dan segera menyuruh untuk Du Zhe mengubah arah gerakan kapal sekali lagi.
"Sial! Besar makhluk itu diluar kapasitas dari kapal uap ini! Jika kita sampai berurusan dengannya, kapal ini tidak akan bertahan lama!" Weng Lou berseru panik sambil pergi masuk kembali ke dalam ruang kendali.
Dengan mengikuti instruksi dari Weng Lou, Du Zhe bersama dengan beberapa awak mulai memasukkan bahan bakar yang jauh lebih banyak ke dalam tungku mesin. Setir kapal di putar oleh Weng Lou, dan kapal uap mereka mengitari makhluk besar yang menghalangi mereka sebelumnya dan memperlihatkan wujudnya yang sebenarnya.
"Paus?! Apakah paus juga merupakan binatang buas?!" Weng Lou berseru dengan mulut terbuka lebar.
Paus, makhluk laut yang sudah tidak asing ditelinga sebagian besar pelaut. Mamalia laut ini memiliki tubuh yang besar dan biasanya bergerak secara berkelompok melintasi berbagai lautan. Mereka terkenal akan besar tubuh dan umur mereka yang panjang, juga keramahan mereka terhadap para pelaut.
Para paus sebagian besar hanya memakan ikan-ikan kecil dan plankton sebagai makanan mereka dan jelas tidak membahayakan manusia. Namun tetap ada beberapa jenis kecil yang memangsa ikan-ikan besar dan makhluk laut lainnya, bahkan manusia. Para paus ini biasanya bergerak secara individu dan tidak memiliki tubuh sebesar para paus yang hanya memakan ikan-ikan kecil dan plankton. Oleh sebab itu, paus tidak termasuk dalam kelompok binatang buas.
Tapi ada beberapa kasus khusus dimana seekor paus berukuran besar menyerang manusia. Paus seperti ini biasanya telah mendapatkan kecerdasan layaknya manusia dan menjadi binatang buas lautan berumur panjang. Contoh nyata dari kasus ini adalah paus yang telah menghadang kelompok Weng Lou saat ini.
Besar tubuh paus itu belasan kali lebih besar dari kapal mereka, dan bisa dengan mudahnya menenggelamkannya atau bahkan menelannya utuh-utuh. Jika bukan karena pemikiran cepat Weng Lou mereka semua pasti sudah menjadi santapan paus ini beberapa saat yang lalu.
"Kekuatannya setara dengan Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa tahap 3 puncak, dengan kekuatan ini dia jelas mampu bertarung dengan Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa tahap 4 dengan mudah," ujar Weng Lou dengan serius.
Kapal mereka dengan cepat melewati paus itu, sementara paus itu perlahan tubuhnya masuk kembali ke dalam air dan berenang jauh di bawah kapal uap kelompok Weng Lou.
Kera Hitam Petarung yang masih berada di luar segera memanjat naik ke atas ruangan kendali tempat Weng Lou berada dan mulai memperhatikan sekitar mereka. Dengan Weng Lou sebagai pengemudinya, kapal uap mereka melaju dengan kencang. Kini kapal tersebut telah mencapai kecepatan yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya.
Weng Lou sama sekali tidak peduli dengan ujung kapal mereka yang sedikit terangkat karena kecepatan mereka tersebut. Selama mereka bisa segera mencapai teritori binatang buas lain, seharusnya paus besar itu tidak akan bisa mengikuti mereka lagi.
Tapi, pemikiran Weng Lou ini telah salah besar. Setelah sepuluh menit, kapal uap mereka kini telah berlayar sejauh 2 kilometer lebih dan Weng Lou berpikir bahwa seharusnya paus itu tidak akan bisa mengejar mereka lagi, tapi hal itu segera terbantahkan saat itu juga ketika sebuah mata besar keluar dari dalam laut dan menatap tepat ke arah Weng Lou yang berada di dalam ruang kendali.
Kera Hitam Petarung tidak menunggu paus itu untuk menyerang mereka lebih dulu dan segera mengepalkan tangannya dengan erat.
*Push!!* Dia memukul ke udara dan sebuah serangan angin dengan cepat bergerak ke arah mata paus itu.
Akan tetapi, paus itu hanya menutup matanya saja untuk menghindar dari angin sepoi-sepoi tersebut sebelum kemudian dia membuka matanya kembali dan menatap Kera Hitam Petarung dengan tatapan marah.
"Ah, sial...."
Kera Hitam Petarung segera menutup kedua telinganya sambil berseru dengan cepat kepada Weng Lou dan yang lain, "Tutup telinga kalian!!!!"
Bersamaan dengan itu, sebuah gelombang suara yang memekakkan telinga keluar dari mulut paus itu dan langsung melewati kapal kelompok Weng.
Gelombang itu langsung membuat lentera besar yang terpajang di atas kapal pecah berkeping-keping, sementara Du Zhe dan orang-orang di dalam kapal menjerit kesakitan karena gelombang tersebut. Darah keluar dari telinga dan juga hidung mereka. Rasanya seakan tubuh mereka terkena pukulan keras dari dalam.
Saat ini dalam ruang mesin, Du Zhe menjerit kesakitan di atas lantai sambil menutup kedua telinganya. Dalam kondisi seperti ini, dia berusaha keras untuk bangkit dan memasukkan lebih banyak bahan bakar ke dalam mesin agar kapal bisa bergerak semakin cepat.
Sementara itu, Weng Lou yang ada di ruang kendali mengkertakkan giginya saat dia bergerak keluar sambil membawa sebuah busur di tangannya.
"Bajingan sialan!!!!! Tutup mulut mu itu!!!!!"
Weng Lou menempatkan satu anak panahnya pada busur, dan kemudian membidik ke arah mata paus tersebut.
__ADS_1
*Shu-* Panah itu dilepaskan dan dengan sangat cepat melesat ke arah kata paus tersebut. Paus itu seakan melihat kedatangan panah itu dan segera menutup matanya kembali, akan tetapi sesuatu yang tak terduga terjadi.
*Tsak!!!* Anak panah tersebut dengan ganas menembus kelopak matanya dan mengenai bola matanya. Gelombang suara yang sebelumnya segera berhenti, dan paus itu menjerit kesakitan.
"UAAARGHHH!!!!" Raungan besar dari paus itu menyebabkan gelombang di lautan. Untungnya kapal kelompok Weng Lou sudah bergerak dengan cepat pergi dari situ dan menghindari gelombang-gelombang tinggi yang hampir menyamai tinggi kapal mereka.
"Bagus sekali!" Kera Hitam Petarung memuji tindakan Weng Lou tapi ekspresi tidak berubah sedikitpun. Wajahnya tetap tampak serius saat melihat kapal mereka melewati paus itu sekali lagi dan dia melihat salah satu mata paus itu yang telah terluka karena terkena panah Weng Lou.
"Mau kemana kalian, huh?!" Pada saat yang sama, suara asing terdengar dari depan kapal dan membuat perhatian Weng Lou dan Kera Hitam Petarung teralihkan.
Keduanya segera menatap ke depan kapal dan melihat seekor ikan besar yang berjarak sekitar lima puluh meter saja dari kapal. Weng Lou dengan cepat menyuruh salah satu awak kapalnya untuk memegang kemudi kapal sementara dirinya dan Kera Hitam Petarung bersiap untuk bertarung.
*Huusss....* Kera Hitam Petarung segera berlari ke depan dan kemudian melompat ke arah ikan besar itu.
Menyaksikan hal ini, ikan itu pun mendengus dan membuka lebar mulutnya yang panjang dengan gigi-giginya yang panjang dan tajam.
"Sekarang!" Kera Hitam Petarung berseru dan melemparkan sesuatu dari tangannya yang ternyata adalah Weng Lou yang juga ikut bersama Kera Hitam Petarung. Sosoknya melesat cepat ke arah ikan itu, dan kedua tangannya telah memegang dua pedang kembarnya.
*Sringgg!!!!* Kedua pedang Weng Lou berbenturan dengan gigi ikan itu. Tapi hanya sebentar saja, karena dari belakang Kera Hitam Petarung telah sampai di depan ikan itu, dan pisau besarnya dengan cepat menusuk pada moncong ikan itu.
"Khuaargg!!! Dasar sialan!!! Akan kutenggelamkan kalian berdua!" Ikan besar itu meronta dan segera masuk ke dalam air. Namun, Kera Hitam Petarung segera menarik pisaunya dan dengan cepat membawa Weng Lou bersamanya kembali ke atas kapal.
"Siapa yang menduga kalau ikan paus itu akan memiliki teman!" seru Weng Lou dengan serius.
Kera Hitam Petarung hanya diam, dia melihat ke arah dalam air dan melihat cahaya keperakan yang berenang cepat dari bawah air.
"Berpegangan!!"
*BUCKK!!* Mendadak sesuatu dengan keras menabrak bawah kapal mereka dan membuat mereka semua terangkat hingga lima meter ke udara sebelum kemudian kembali terjatuh ke air.
"Manusia.....dan binatang darat sialan. Kalian berdua membuatku marah! Cepat beritahu aku dimana wanita sialan itu?!" Ikan besar itu berseru marah dan membuat raut wajah Weng Lou menjadi serius.
"Apa maksud mu? Tidak ada wanita di kapal kami!" Weng Lou membalas perkataan ikan itu tetapi jelas dia telah menembak wanita yang dimaksud oleh ikan itu pastinya wanita yang telah dikalahkan olehnya sebelumnya.
"Hm! Jangan berbohong! Aku pasti rekan dari wanita itu! Jika kau masih bersikeras maka jangan salahkan aku jika tubuhmu tidak bersisa sedikit pun!"
Dengan marah, ikan itu berenang ke arah kapal kelompok Weng Lou sekali lagi. Kali ini kecepatannya bertambah sangat cepat dan siap menabrak kapal mereka. Weng Lou mengetahui dengan jelas, mustahil kapal mereka bisa tetap utuh jika menerima tabrakan itu.
Dia pun memberi tanda pada Kera Hitam Petarung, dan dibalas anggukan olehnya.
"Hooaaa!!!" Kera Hitam Petarung dengan cepat kembali melompat dari kapal. Dia kali ini mendarat tepat di atas kepala ikan tersebut dan dengan cepat menusukkan pisau di tangan nya ke kepala ikan tersebut.
"Berbelok, sialan!" Kera Hitam Petarung memiringkan tubuhnya sambil memegang erat pisaunya yang menancap pada kepala ikan itu.
*Huush!!!* Tepat ketika kapal dan ikan itu akan saling bertabrakan, ikan tersebut segera berbelok mengikuti arahan dari Kera Hitam Petarung sambil berteriak marah padanya, "Turun dasar, monyet daratan!"
"Siapa yang kau panggil monyet, huh?!"
*Buk!!* Tangan Kera Hitam Petarung memukul keras ke mata ikan itu dan membuatnya semakin marah. Dengan jengkel dia segera berenang ke dalam air sementara Kera Hitam Petarung masih menggenggam erat pisaunya sehingga dia ikut masuk.
"Kera Hitam?!" Weng Lou berseru terkejut. Dia segera melihat ke bawah air dan melihat setitik cahaya perak yang segera tampak memudar seiring waktu. Terlihat jelas bahwa ikan itu berusaha membuat Kera Hitam Petarung menjadi lemas karena tidak bisa bernapas.
"Hei, anak kecil! Dimana wanita itu?!" Secara tiba-tiba, seekor belut besar mencuat keluar dari dalam air dan bergerak cepat mengikuti di samping kapal kelompok Weng Lou.
Dahi Weng Lou mengkerut menyaksikan kemunculan belut itu. Kedatangannya dan pertanyaan yang diajukannya membuat Weng Lou mulai mengutuk wanita yang menjadi perwakilan dari Kekaisaran Ryuan tersebut.
Jika dia tau hal seperti ini akan terjadi, dia tidak akan membunuh wanita itu dan malah akan membawanya bersamanya dan menjadikannya persembahan kepada para binatang buas ini.
__ADS_1
"Cih! Sudahku bilang, tidak ada wanita di kapal ini, dan aku tidak tau siapa yang kau cari!"
"Hmp! Tidak perlu berbohong! Kau sedang menuju ke arah dari datangnya wanita itu, berarti kau merupakan kenalannya! Cepat serahkan dia sebelum aku menenggelamkan kapal mu ini!"
'Ck! Dasar belut sialan! Mana mungkin aku menyerahkan orang mati kepadamu! Lagi pula tubuh wanita itu berada di Pulau Gui, mustahil aku pergi mengambilnya dan membawanya kembali lagi ke sini!' Weng Lou mengumpat kesal dalam hatinya.
Dia kemudian memejamkan kedua matanya dan menarik napas dalam. Membuka kedua matanya, Weng Lou pun segera menyambungkan kedua pedangnya.
"Jika kau masih tidak mau mendengarkan maka datang dan seranglah! Aku tidak takut padamu!" seru Weng Lou yang tanpa takut sedikitpun.
Mendengar itu, belut itu menertawakan kebodohan Weng Lou dan kemudian mendekatkan dirinya dengan kapal sambil mengayunkan ekornya ke arah kapal tersebut.
*Whushh!!!* Sebuah ekor panjang keluar dari dalam air dan bergerak cepat ke atas kapa, siap menghancurkannya dalam satu kali serangan. Namun Weng Lou tidak takut atau khawatir, dia menarik napas dalam dan memegang pedangnya yang telah disambungnya menjadi satu.
Dia mengambil kuda-kuda, dan dengan satu gerakan sosoknya pun melesat menyambut ekor belut itu.
"Sayang sekali! Aku tidak terlalu suka memakan belut!" Kedua pedang yang telah menyatu itu mulai diputar oleh Weng Lou dan kemudian segera bertabrakan dengan ekor besar itu.
Wajah belut itu tampak sombong dan menertawakan kebodohan Weng Lou. Dia sangat yakin Weng Lou akan dihempaskan dengan kuat olehnya dan menabrak kapalnya hingga hancur tak berbentuk.
*TSAAAHHH!!!!* Namun, diluar dugaan. Senjata Weng Lou berhasil menembus kulit belut itu dan mulai bergerak lebih dalam hingga akhirnya memotong ekor belut itu.
*Whusss.....plaashh!!!!!* Ekor besar milik belut itu jatuh ke dalam air, sementara Weng Lou mendarat kembali di atas geladak kapal dengan mudah. Ekspresi tak percaya ditunjukkan oleh belut itu dan dia pun seperti orang gila meraung kesakitan sambil bergerak mengejar Weng Lou.
"AAAHHHH!!!! DASAR ANAK SIAAALAAANNN!!!!" Mulutnya terbuka lebar, dan segera menerjang ke arah kapal dari samping dan membuat kapal terlempar beberapa meter namun berhasil tetap stabil berkat Weng Lou yang ada di atas kapal tersebut.
"AKU MAU KAU MATIIII!!!!" Sebuah gelombang tinggi tercipta dan segera mencapai kapal kelompok Weng Lou dari sampingnya.
"Putar setir kapal!!!! Jangan biarkan kapal terbalik!!!" Weng Lou memberi perintah pada awak kapalnya yang ditugaskannya untuk mengatur kemudi sementara dia berurusan dengan binatang buas lautan.
Kapal segera berbelok tajam dan membuat ombak tersebut berada tepat di belakang mereka. Belut raksasa yang telah kehilangan ekornya karena ulah Weng Lou segera melompat dari balik ombak dan siap menghancurkan kapal yang dinaiki oleh Weng Lou hingga berkeping-keping.
Dengan serius Weng Lou memegang senjatanya dan dia kembali memasang kuda-kudanya dan menyerang ke arah belut itu dengan sisi tumpul pedangnya tersebut.
*BUM!!!* Seperti menerima pukulan, kepala belut itu terhentak ke belakang dan dia segera masuk ke dalam air. Tampaknya dia tak sadarkan diri begitu menerima pukulan itu. Namun perhatian Weng Lou tak berada pada belut itu, melainkan pada gelombang air yang sedang bergerak di belakang mereka.
"Haa!!!!!" Weng Lou mengayunkan pedangnya, dan seketika sebuah tiupan angin pun berhembus kencang dan meniup gelombang itu hingga menghancurkannya.
Pada saat yang sama, kapal uap kelompok Weng Lou kembali berguncang. Raut wajah Weng Lou berubah kembali menjadi serius dan dia berpikir binatang buas mana lagi yang akan menyerang mereka, akan tetapi dia segera menatap lega saat melihat sebuah tangan yang dikenalinya sedang menggenggam erat pinggir kapal itu.
Weng Lou buru-buru berjalan ke arah tangan itu dan kemudian membantu sosok pemilik tangan besar itu untuk naik ke atas. Sosok Kera Hitam Petarung segera muncul dan kemudian terbaring lemas di atas kapal sambil memuntahkan air dalam jumlah besar dari mulutnya.
Namun wajah Weng Lou segera berubah menjadi suram saat melihat bahwa di sekujur tubuh Kera Hitam Petarung terdapat bekas luka gigitan yang sangat dalam dan darah mengalir keluar dari lukanya.
"Kau....sial, seharusnya aku membantumu tadi," ucap Weng Lou yang menyalahkan dirinya sendiri. Dia telah tersesat di tempat yang tidak diketahui lokasinya oleh Weng Lou dan hanya Kera Hitam Petarung satu-satunya yang berasal dari Pulau Pasir Hitam seperi dirinya.
Semenjak Ye Lao dan Qian Yu tidak bersamanya lagi, Kera Hitam Petarung inilah yang menjadi teman mengobrol nya karena pengetahuan mereka tidak berbeda jauh karena berasal dari tempat yang sama.
"Hmp? Apa yang kau sesali? Aku ini sudah bertarung secara jantan dengan menantang binatang buas lautan di wilayah kekuasaan mereka, seharusnya kau memberikanku pujian...." Kera Hitam Petarung itu tertawa melihat Weng Lou yang tampak muram.
"Haaah....mendengarmu yang masih bisa berbicara segera menghilangkan simpatiku. Sana, beristirahatlah, biar aku yang mengatasi sisanya sendiri." Weng Lou mengusir Kera Hitam Petarung itu dan segera pergi ke atas ruang kendali meninggalkannya sendiri di atas geladak kapal.
"Khuhuhu....aku hanya perlu satu atau dua jam untuk pulih. Kau tahan sebanyak mungkin serangan dari mereka, sementara aku memulihkan diri...." Kera Hitam Petarung segera pergi masuk ke dalam kapal. Dia tau dengan jelas bahwa kondisi tubuhnya tidak memungkinkannya untuk bertarung lagi, oleh sebab itu dia menyetujui ucapan Weng Lou untuk beristirahat.
Melihat Kera Hitam Petarung yang telah masuk kembali ke dalam kapal, Weng Lou menghela napasnya dan memilih untuk duduk bersila di tempatnya sambil menunggu serangan selanjutnya dari para binatang buas lautan itu.
Sejauh ini pertahanan mereka berhasil terjaga dengan baik dan sedikit lagi mereka akan keluar dari bagian dalam Lautan Mati. Jadi dia tidak boleh mengendorkan kewaspadaannya sebelum waktunya.
__ADS_1