Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 548. Memata-matai


__ADS_3

Di dalam sebuah restoran yang terletak tidak jauh dari penginapan yang disewa kelompok Weng Lou, kelompok Sekte Bambu Giok memutuskan untuk di sini sementara Weng Lou dengan diam-diam mengikuti mereka.


Orang-orang itu tidak ada yang menyadari kehadirannya, bahkan saat dia memilih untuk duduk sekitar dua meja dari tempat mereka. Menyamar sekaligus menghilangkan kehadirannya adalah keahlian yang telah dilatih oleh Weng Lou di Sekte Langit Utara. Ketika dia masih memiliki Qi, dia mampu menekan Qi miliknya hingga tak terdeteksi oleh Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa tahap 5 ke bawah. Dia juga mampu membuat kekuatan jiwanya tidak dirasakan oleh lawannya.


Namun, setelah tidak memiliki Qi, Weng Lou bisa menghilangkan hawa kehadirannya pada tingkat yang jauh lebih tinggi. Dia tidak akan bisa dideteksi oleh lawannya lewat pemeriksaan Qi atau pun Tenaga Dalam. Satu-satunya cara untuk dia ditemukan hanyalah dengan pendeteksian melalui bau atau pencarian jiwa.


Duduk di salah satu meja, Weng Lou dengan tenangnya mendengarkan pembicaraan kelompok Sekte Bambu Giok. Dengan melipat kedua tangannya di depan dadanya, Weng Lou menyeringai saat dia mendengarkan keluhan pemuda yang sebelumnya mencari perkara dengannya mengenai dirinya dan juga 'pamannya'.


"Senior, bukankah tidak baik jika kita melepaskan orang-orang itu begitu saja? Mau ditaruh dimana wajah kita jika ada orang dari dua sekte lain yang mengetahui ini?! Mereka akan menertawakan kita karena telah melepaskan orang-orang yang berani menjelekkan kita di depan umum!" Pemuda itu berbicara kepada wanita yang dipanggil sebagai Senior Nuan.


Nuan hanya diam mendengarkan keluhan dari pemuda itu sebelum kemudian menatapnya dengan tatapan dingin dan membuat pemuda itu terdiam di tempat duduknya.


"Kau ingin aku melakukan apa? Menyerang mereka yang bahkan tidak menyerang kita? Kita yang salah karena telah mengganggu mereka. Mereka tidak melakukan kesalahan, jadi lupakan saja. Dan juga, kau seharusnya berterima kasih kepadaku, karena berhasil membawa mu keluar dari situ hidup-hidup," ucap Nuan dengan wajah serius.


Dia meminum teh hijau nya dengan anggun dan mulai memikirkan kembali tatapan mata yang diberikan oleh Weng Lou padanya. Tatapan itu, dia merasa seperti ditatap oleh seekor binatang buas berwujud manusia yang siap mencabiknya kapan saja dia mau. Perasaan itu sama sekali tidak bisa hilang dari hatinya, dia terus merasa gelisah dan memikirkan bagaimana jika Weng Lou tidak melepaskan mereka sama sekali dan akan memberikan pembalasan pada mereka semua.


Namun tidak ada yang menyadari mengenai hal ini selain Nuan, semua anggota Sekte Bambu Giok yang ada di situ menatapnya dengan heran saat mendengarkan penjelasan yang dia berikan pada pemuda itu. Dia berbicara seolah-olah pemuda itu bisa mati jika tidak dibawa pergi dari tempat itu.


"Apa maksudnya, Senior? Kau mengatakan ada orang yang akan membunuh ku? Siapa? Apa orang itu dari Sekte Pemuja Iblis yang kita bunuh beberapa hari lalu?" Pemuda itu tampak penasaran. Dia sebelumnya tidak merasakan napsu membunuh sama sekali, sehingga merasa cukup terkejut dengan perkataan senior nya ini.


Namun jawaban dari seniornya justru sebaliknya, "Bukan, tapi anak yang berbicara dengan mu sebelum nya yang akan membunuhmu. Jika saja kau melakukan serangan mu tadi dan tidak aku hentikan, aku bisa menjamin kau pasti akan langsung mati di tempat karena anak itu."

__ADS_1


"Apa?! Dia bahkan bukan seorang Praktisi Beladiri! Dia bahkan tidak memiliki sedikit pun Tenaga Dalam pada dirinya! Bagaimana bisa dia membunuh ku yang telah berada di Dasar Pondasi tingkat 6 ini? Aku bahkan sudah bisa melakukan serangan energi murni dari jarak jauh!"


Tentu saja pemuda itu tidak percaya dengan yang dikatakannya, bahkan semua orang yang ada di situ juga mengatakan hal yang sama, namun Nuan tidak memberikan penjelasannya dan memilih untuk diam dan menikmati makanannya. Melihat itu, yang lain pun tidak meneruskan masalah ini lebih jauh dan juga mulai menyantap makanan mereka.


"Hmmm.... sepertinya instingnya cukup bagus juga. Ya, siapa pun akan memiliki perasaan takut saat menatap mata seseorang yang telah mencabut ratusan nyawa. Tapi sekte ini cukup aneh, aku mendengar mereka hanya menerima para Praktisi Beladiri Dasar Pondasi tingkat 3 yang belum berusia 12 tahun, hampir sama dengan Keluarga Utama Weng di Kota Bintang Putih. Namun kekuatan orang-orang ini termasuk lemah jika menurut informasi yang aku dapat dari markas di Pulau Perbatasan.


Seharusnya jika mereka pergi secara berkelompok seperti ini, harus ada anggota yang berada di ranah Pembersihan Jiwa sebagai penjaga mereka, tapi dari yang aku lihat, kekuatan terkuat hanya berada di Dasar Pondasi tingkat 12 awal, yaitu wanita yang dipanggil sebagai Senior Nuan tersebut.


Mereka pasti dilindungi secara diam-diam. Dari pakaian yang dikenakan Senior Nuan ini, dia harusnya anggota inti Sekte Bambu Giok yang berharga. Harusnya penjaga mereka berada di tahap 3 atau 4 kalau begitu aku akan terus mengamat-amati mereka secara diam-diam sebelum memutuskan langkah selanjutnya."


Weng Lou segera bangkit berdiri dari tempatnya dan melempar sebuah koin emas pada pelayan yang ada di dekat mejanya. sebelum melangkah keluar.


"Ah, Guru! Aku mencarimu ke seluruh penginapan tapi tidak menemukan mu, darimana saja Guru?" Du Zhe langsung menyambut Weng Lou begitu dia kembali ke penginapan.


Terlihat Du Zhe sepertinya masih sibuk sarapan di tempatnya sebelumnya memesan makanan. Sepertinya para awak yang lain menggunakannya agar tidak perlu bersusah payah mencari tempat.


Weng Lou menepuk kepala Du Zhe dan mengatakan bahwa dia baru saja berjalan-jalan, lalu menyuruh Du Zhe untuk kembali makan sementara dia telah kembali ke kamarnya. Namun, seseorang sudah berdiri menunggunya di depan pintu kamarnya dan segera berjalan mendekati dirinya begitu melihatnya.


"Ini jalur yang kau inginkan. Aku sudah memberi tanda pada semua bahaya yang perlu dihindari dan juga beberapa jalur khusus jika seandainya terjadi sesuatu dalam perjalanan kalian." Orang yang menunggunya adalah pemimpin kelompok bajak laut yang kemarin ditemui oleh Weng Lou.


Dia menyerahkan sebuah peta yang terlibat masih baru pada Weng Lou sebelum kemudian segera berjalan pergi secepatnya dari situ. Wajah ketakutan dari pria itu tidak bisa disembunyikan dari mata Weng Lou. Weng Lou tau bahwa pria ini pasti pergi mengecek kapal mereka kemarin dan pastinya melihat sosok Kera Hitam Petarung yang ada di kapal itu. Namun Weng Lou tidak menghiraukan hal itu, dia memang sengaja membiarkan orang-orang itu karena ingin mereka tau batasan yang bisa mereka lakukan pada kelompok mereka.

__ADS_1


*Tap....* Pintu kamar tertutup, dan Weng Lou berjalan menuju ke sebuah meja dan meletakkan peta yang baru saja dia bawa di atas meja itu, lalu membukanya.


Beberapa gambaran yang sangat detail dapat terlihat dari peta itu begitu Weng Lou membukanya. Terdapat beberapa gambar yang memiliki penjelasan mengenai nama tempatnya dan beberapa garis yang merupakan jalur yang bisa ditempuh di peta itu. Peta ini bisa dibilang adalah sebuah peta yang cukup lengkap dan Weng Lou harus mengakui bahwa kerja yang dilakukan oleh pria yang sebelumnya sangat memuaskan.


"Mari kita lihat....Sekte Bambu Giok....Bambu Giok.... ah, ini dia! Hmm....jadi lokasinya memang sangat terpencil dan tersembunyi seperti informasi yang kudapatkan. Tapi ada jalur khusus di sini yang bisa sampai dalam dua hari dari pelabuhan ini, namun ini cukup mencurigakan. Sebuah jalur khusus biasanya tidak akan bisa dilalui dengan mudah, pasti ada sejenis pengaman yang ada di sini.


Sedangkan untuk jalur utama, aku harus memutar cukup jauh jika lewat darat dan baru bisa sampai dalam satu minggu perjalanan. Hmmm.... sepertinya aku memang harus mengikuti kelompok itu. Untuk Du Zhe..... mungkin aku bisa membujuknya untuk menungguku di sini." Weng Lou kemudian mulai menandai beberapa jalan yang memiliki kemungkinan adalah perangkap atau memiliki bahaya yang dilewatkan oleh pria yang memberikan peta ini pada Weng Lou.


Waktu pun berlalu, dan tiba sore hari.


Suasana pelabuhan seiring berubah menjadi sepi, dan hanya ada beberapa orang yang berlaku lalang mengangkut barang-barang. Weng Lou mengamat-ngamati pergerakan kelompok Sekte Bambu Giok dari atas sebuah bangunan yang berada di depan penginapan yang ditempati oleh kelompok itu sambil duduk santai.


Karena urusan memantau kelompok ini, Weng Lou telah memberikan beberapa arahan pada awak kapalnya dan juga pada Du Zhe.


Senua awak yang ikut dengan nya dari Kepulauan Huwa ikut karena ingin melakukan petualangan mereka di Pulau Fenshu ini. Namun karena perjalanan mengerikan yang mereka lalui, membuat perasaan kekeluargaan mereka mulai terjalin meski hanya beberapa bersama.


Hasilnya, separuh dari mereka memilih untuk tetap tinggal dan terus ikut dengan Weng Lou, sementara sisanya tetap melakukan rencana awal mereka untuk memulai petualangan mereka sendiri. Weng Lou tidak menolak pilihan mereka yang memilih untuk tinggal, karena dia sebenarnya ingin menawarkan hal yang sama pada mereka semenjak dia berencana untuk pergi ke Sekte Bambu Giok.


**Catatan Penulis:


Author ada acara hari ini, jadi tidak sempat untuk update lebih dari 2k kata. Jadi mohon maaf🙏**

__ADS_1


__ADS_2