Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 535. Tukang Kayu Choi


__ADS_3

Weng Lou merasa dia tidak bisa terlalu mengandalkan jalannya rencananya itu berdasarkan keberuntungan dan waktu belaka.


Dia perlu melakukan sesuatu agar jika seandainya rencana pertama, yaitu menunggu kedatangan seseorang dari Kekaisaran Ryuan gagal, dia masih memiliki rencana cadangan yang masih bisa dijalankan.


*Shuuuu....*


Sosok Weng Lou dengan cepat meloncati satu demi satu pohon di dalam hutan yang dipenuhi dengan kabut ilusi.


*Tap." Kedua kaki Weng Lou berhenti, dan kemudian berjongkok di depan sebuah sosok besar yang terlihat sedang tertidur pulas di atas sebuah batu besar.


Senyuman muncul pada wajah Weng Lou saat melihat sosok itu, dia pun segera melompat dan mendarat di atas sosok besar itu.


!!!!!


*Auum!* Sosok besar itu tersentak kaget karena tindakan Weng Lou. Dia langsung terbangun dari tidur pulas nya itu dan langsung bangkit berdiri sambil menatap dengan tatapan penuh amarah pada sosok seorang anak kecil yang sedang duduk manis di punggungnya.


Napsu membunuh yang sangat besar dikeluarkannya dan suara-suara binatang yang berada dalam radius seratus meter dari sosok itu segera berhamburan dan berlari menjauh secepat mungkin begitu merasakan napsu membunuh itu.


"Hehehe....kucing yang pintar. Kau memang layak menjadi tunggangan ku!" seru Weng Lou dengan ringan.


*Roooaaarrrrr!!!!!*


Sosok besar itu mengaum dengan marah dan menghentakkan tubuhnya agar Weng Lou terjatuh, namun hal itu sama sekali tidak terjadi. Weng Lou masih duduk tanpa masalah sama sekali di punggungnya.


*Grrrrrr!!!!*


"Wow, kau ini terlalu bersemangat! Aku tau kau sangat merindukan ku, tapi tidak perlu bersemangat seperti itu! Hahahaha...."


Sosok yang sedang diduduki oleh Weng Lou adalah seekor cheetah dengan tubuh sebesar seekor gajah dewasa. Cheetah ini merupakan binatang buas dengan kekuatan di ranah Pembersihan Jiwa tahap 7 puncak dan merupakan salah satu makhluk terkuat yang ada di hutan sekitar lembah Perguruan Iblis Merah.


Hong Mugui berhasil menempatkannya di sini karena telah menyediakan makanan yang cukup baginya dan cheetah itu sendiri merasa cukup puas sehingga mau dengan senang hati tinggal di sini.


Dua minggu yang lalu, tepat seminggu setelah penaklukan Weng Lou, dirinya tanpa sengaja bertemu dengan Weng Lou yang baru saja selesai bertarung melawan beberapa Praktisi Beladiri di ranah Pembersihan Jiwa tahap 5 sampai dengan tahap 8. Ketika itu dia sedang menikmati makan malamnya berupa seekor rusa besar saat kemudian Weng Lou menimpa dirinya dan malah membuatnya marah.


Namun dia malah berakhir menjadi tunggangannya begitu dia menerima sebuah pukulan oleh Weng Lou yang langsung membuatnya merasa tak berdaya.


"Hei, tatapan itu tidak enak dipandang. Lebih baik kau membawaku ke Kota Rengu, kau akan ku lepaskan setelah itu," ucap Weng Lou yang tersenyum penuh arti.


Mendengar itu, cheetah itu pun termenung sejenak, dan tanpa berpikir panjang sosoknya melesat melewati hutan. Kecepatannya itu menyamai kecepatan Kera Hitam Petarung bahkan bahkan sedikit lebih cepat. Tubuhnya yang lentur dan ramping mampu menghindari pepohonan meski tubuhnya sangat besar.


Hal ini yang membuat Weng Lou memilih menjadikan cheetah ini sebagai tunggangannya setiap kali dia berniat pergi keluar dari lembah Perguruan Iblis Merah.


Weng Lou mengangguk beberapa kali ketika mereka berhasil keluar dari kawasan hutan hanya dalam kurun waktu tak sampai dua puluh menit dan memasuki daerah padang rumput yang amat luas. Pemandangan beberapa binatang berlarian di rerumputan dan langit biru yang cerah membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa takjub.


Setelah melewati padang rumput selama lima menit, mereka kemudian memasuki hutan kembali, namun ini adalah hutan yang berbeda dengan sebelumnya. Ini merupakan hutan buatan yang diciptakan untuk menjadi habitat beberapa hewan khusus. Tidak ada satupun binatang buas di dalamnya, sehingga hutan ini sangatlah tenang, jauh berbeda dengan kebanyakan hutan yang pernah Weng Lou masuki.


Tapi Weng Lou telah melewati hutan ini beberapa kali selama tiga minggu ini, dan dia sudah tidak merasa aneh ketika masuk ke dalamnya.


Dalam diam dan keheningan, cheetah berlari kencang tanpa mengurangi kecepatannya. Weng Lou yang duduk di atasnya tampak tidak ada masalah sama sekali, dan dia dengan santai memeriksa peta di tangannya.


"Jika menghitung waktu dari aku muncul ke Kepulauan Huwa, maka seharusnya tidak lama lagi genap satu bulan aku dilemparkan ke sini. Perwakilan atau apapun itu, setidaknya perlu waktu paling sebentar dua bulan atau lebih untuk sampai ke sini jika dihitung waktu perjalanan dari pulau perbatasan ini. Tapi itu jika memang dia sanggup melewati Lautan Mati, ada begitu banyak bahaya di lautan ini menurut banyak catatan dan informasi yang diberikan Hong Mugui. Jika seandainya orang yang dikirim ke sini bisa sampai dengan selamat, paling tidak dia pasti mengalami beberapa serangan dari binatang buas lautan."

__ADS_1


Weng Lou dengan serius berpikir lalu memeriksa jalur yang sering dipakai oleh beberapa pelaut nekat untuk melewati Lautan Mati. Dia tidak bisa berhenti mendecakkan lidahnya saat melihat banyak sekali rintangannya, dan waktu yang diperlukan untuk sampai.


"Haaahh....meski pun jalur ini memang merupakan jalur yang benar, tapi jalur ini memakan waktu tempuh yang terlalu lama. Dua bulan di atas laut, tidak ada persediaan makanan yang bisa bertahan selama itu kecuali dimasukkan kedalam cincin penyimpanan. Meski begitu, rintangan yang harus dilewati juga terlalu banyak, aku dengan yakin percaya bahwa sebelum sampai, kapal-kapal yang melewati rute ini pasti sudah tenggelam ke dasar laut." Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu dan segera memasukkan kembali petanya, lalu menatap ke depan.


"Kapal yang cocok untuk melewati rute ini adalah kapal perang besar atau kapal penjelajah seperti yang Ye Lao sering perlihatkan padaku dulu. Tapi kapal-kapal besar memerlukan waktu yang bukan main lamanya untuk dibuat. Harapanku satu-satunya adalah pada orang itu, jika dia juga tidak bisa, maka aku hanya bisa menunggu kedatangan orang yang tidak pasti itu."


***


Kota Rengu, barat Pulau Gui.


Kota yang sekaligus merupakan sebuah pelabuhan besar ini dibangun tepat di atas laut oleh para ahli kayu atau lebih sering dipanggil tukang kayu terbaik Pulau Gui.


Kota ini merupakan kota yang menjadi tempat dibuatnya kapal-kapal terbaik dengan kualitas paling terjamin di Kepulauan Huwa. Tidak ada kapal yang tidak bisa berlayar jika dibuat oleh para tukang kayu di kota ini. Kehebatan para tukang kayu di kota ini bahkan diakui oleh para tukang kayu di kelima pulau lain yang merupakan bagian dari Kepulauan Huwa.


Diantara para tukang kayu yang terkenal ini, ada seorang tukang kayu yang sangat terkenal. Bukan terkenal karena kehebatannya, melainkan karena kegilaannya.


Dia adalah seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun yang dipanggil dengan sebutan Tukang Kayu Choi. Setiap harinya, dengan otaknya yang tidak kenal waktu, dia selalu merancang sesuatu yang mustahil untuk dibuat bahkan oleh tukang kayu nomor satu di Kepulauan Huwa sekali pun. Mulai dari sebuah ketapel raksasa yang mampu menembakkan sesuatu dengan jarak ratusan kilometer, kereta kayu yang tidak perlu ditarik oleh kuda, dan bahkan sebuah kapal yang tidak memerlukan layar untuk bergerak.


Semua itu adalah ide gila yang dia keluarkan dari kepalanya. Hal-hal seperti ini tidak pernah membuatnya merasa lelah atau bosan, malah dia semakin tertantang tiap harinya untuk bisa menciptakan sesuatu yang lebih gila lagi.


Meski terkesan seperti seorang penghayal, namun tidak ada satupun tukang kayu yang meremehkan Tukang Kayu Choi ini karena dia adalah putra dari tukang kayu nomor satu di Kepulauan Huwa yang telah berhasil merancang Kota Rengu dan membangunnya di atas laut.


Walau semua ide-idenya itu terdengar gila, namun tidak sedikit ada beberapa benda yang berhasil dia buat menjadi nyata dan perlihatkan pada orang-orang. Contohnya adalah sebuah katrol raksasa yang bisa mengangkat dengan mudah sebuah kapal besar dengan hanya perlu beberapa puluh orang saja yang menariknya.


Para tukang kayu pun sepakat bahwa Tukang Kayu Choi ini pasti mewarisi kejeniusan dari ayahnya, hanya saja dalam cara yang berbeda.


Saat ini, di dalam sebuah gudang berisikan banyak peralatan tukang, Choi sedang sibuk menggambar sebuah cetak biru yang terlihat menyerupai sebuah kapal dengan model yang sangat rumit.


"Fyiuh, bagian deknya sudah selesai. Sekarang tinggal memikirkan bagaimana cara agar kapalnya bisa tahan saat terkena terjangan ombak besar. Dan juga, aku masih belum bisa memikirkan sesuatu yang mampu menggerakkan benda ini tanpa memakai layar sekalipun."


Choi mengelap keringatnya dan kemudian mengambil air di samping meja kerjanya lalu segera meneguknya sampai habis tak bersisa.


"Haaah....sebaiknya aku keluar mencari udara segar, siapa yang tau mungkin aku bisa menemukan lebih banyak ide dengan berjalan-jalan," ucapnya yang kemudian keluar dari gudang tersebut lalu menutup rapat-rapat pintunya dan memerintahkan seorang tukang kayu yang ada di situ untuk memastikan bahwa tidak ada yang masuk ke gudang yang merupakan ruangan kerja pribadinya tersebut.


Kediaman Choi adalah sebuah rumah besar yang tepat disampingnya terdapat sebuah bengkel yang dijadikan sebagai tempat kerja ayahnya yang merupakan tukang kayu. Ayahnya memiliki lebih dari sepuluh tukang kayu yang bekerja di bawahnya.


Dia berjalan keluar dari bengkel dan segera disambut oleh seorang pria yang berusia hampir lima puluh tahun namun memiliki tubuh yang masih sangat sehat dan dipenuhi dengan otot-otot pada tubuhnya.


Choi segera berjalan mendekat pada pria itu dan berbicara padanya, "Ayah, apa kabarmu?"


Ayahnya itu menatap putranya selama beberapa saat lalu mendengus, "Apa yang kau harapkan? Kau mengetahui dengan jelas umurku sudah tidak lama lagi. Dengan penyakit yang ku derita ini, paling lama aku hanya bisa bertahan hidup empat sampai lima tahun lalu."


Mendengar balasan ayahnya, Choi hanya bisa tersenyum masam. Terkadang ucapan ayahnya ini begitu tajam dan tidak sesuai dengan umur serta kondisinya.


"Kalau begitu istirahat lah ayah, biar aku yang mengurus pekerjaan mu mulai sekarang," ucapnya yang dengan tatapan tulus di matanya.


"Lalu membiarkan mu membuat barang-barang tak berguna mu itu? Hmp, lupakan! Aku lebih baik mati sambil bekerja dibandingkan membiarkan mu melakukannya!" cibir Ayah Choi yang kemudian berjalan melewati putranya tersebut.


"Itu bukan barang tak berguna, ayah!" Choi tampak sedikit tersinggung mendengar kata-kata ayahnya.


Meski barang-barang yang dia gambar dalam cetak biru semuanya merupakan barang-barang yang terkesan aneh, namun itu semua adalah mahakarya yang dia ciptakan dengan susah payah!

__ADS_1


"Lalu katakan itu pada semua kayu ku yang berharga yang telah kau buang-buang itu! Satu bulan ini, kau sudah menghabiskan satu stok penuh kayu ku! Setidaknya jika kau mau membuat barang-barang anehmu itu, pakailah uang mu sendiri dasar pemalas!"


Ayah Choi dengan jengkel menendang bokong Choi hingga membuatnya harus menghindar karena tendangan yang ayahnya lepaskan itu memiliki kekuatan yang cukup untuk menerbangkannya sejauh tiga sampai lima meter.


Mungkin terdengar berlebihan, tapi hal ini adalah kebenarannya. Para tukang kayu merupakan orang-orang terlatih yang memiliki kekuatan fisik sangat besar. Semakin lama mereka menjadi tukang kayu, pada dasarnya kekuatan mereka juga terus bertambah hingga bahkan menjadi seorang praktisi beladiri tanpa berlatih beladiri sekalipun.


Walau ayahnya adalah tukang kayu, namun Choi sebenarnya bukan tukang kayu karena dia tidak bisa melakukan pekerjaan berat seperti para tukang kayu pada kebanyakannya. Oleh sebab itu Choi hanya menciptakan barang-barang nya berupa cetak biru belaka, karena dia sendiri tidak bisa membuatnya. Barang-barang yang pernah dia buat sebelumnya, semuanya menggunakan bantuan dari para tukang kayu yang bekerja pada ayahnya.


Ini yang menjadi alasan utama kenapa ayahnya enggan memberikan pekerjaan nya pada putra satu-satunya itu.


Ayah mana yang mau melihat putra, dan anak satu-satunya meninggal karena pekerjaan yang diberikannya sendiri?


"Lihat saja, ayah! Sebelum kau menghembuskan napas terakhir mu itu, kau akan menyaksikan mahakarya terbaik ku dan merasa bangga padaku!" seru Choi yang buru-buru berlari pergi dari bengkel begitu melihat ayahnya sudah mengambil sebuah kayu besar yang siap untuk memukulnya.


"Dasar anak sialan! Lebih baik kau pergi mencari pasangan, agar aku setidaknya bisa menggendong cucu sebelum aku mati!" kutuk ayah Choi sambil melemparkan kayu di tangannya itu ke arah Choi yang sedang berlari.


*Bum!!*


Kayu itu menghantam pagar dengan keras, dan sosok Choi berhasil pergi tepat waktu.


Di jembatan besar yang menjadi penghubung antara Kota Rengu dengan daratan, sosok Weng Lou berjalan dengan santai sambil menikmati angin laut yang berhembus menerpa dirinya.


Dia telah berhasil tiba di sini hanya dalam waktu satu jam lewat sepuluh menit, hampir satu jam lebih cepat dari perkiraan nya. Cheetah yang menjadi tunggangannya sudah lama pergi meninggalkan begitu tiba di depan jembatan itu. Dia tidak mau berlama-lama bersama dengan Weng Lou yang mungkin saja akan menyuruh membawanya ke tempat lain lagi.


Weng Lou yang berjalan dengan santai kemudian berpapasan dengan seorang pemuda yang terlihat sedang duduk melamun menatap lautan.


Perhatian Weng Lou segera terarah padanya saat melihat bahwa pemuda ini tidak tampak seperti seorang tukang kayu sama sekali karena tubuhnya yang tidak sebesar atau berotot seperti para tukang kayu pada umumnya.


"Permisi, apa anda tinggal di sini?" Pertanyaan Weng Lou segera memecahkan lamunan pemuda tersebut.


Dia menoleh dan menatap Weng Lou dari atas sampai bawah. Dirinya cukup terkejut saat melihat seorang remaja berjalan seorang diri di sekitar sini.


Setelah melihatnya selama beberapa saat, dia pun mengangguk, "Ya, aku tinggal di sini. Apa kau baru pertama kali ke sini?"


"Ya, ini adalah pertama kalinya aku ke sini. Aku ada perlu di sebuah bengkel kayu milik seseorang," jawab Weng Lou sambil tersu mengamati.


"Oh, bengkel siapa yang ingin kau datangi itu? Apa kau berniat menjadi tukang kayu juga? Aku katakan padamu, mereka semua itu hanya orang-orang berotot tak tau apa-apa dengan pemikiran yang sempit!" Choi berbicara sambil tanpa sadar melepaskan emosinya.


Sebelah alis Weng Lou terangkat, dia cukup tertarik dengan pemuda di depannya ini. Meski lebih tua darinya, tapi pemuda ini terlihat sangat kekanak-kanakan.


"Aku ingin pergi ke bengkel Tukang Kayu Choi, apa kau letaknya? Bisa membawaku menuju Tukang Kayu Choi?"


Pemuda itu terkejut mendengar tujuan Weng Lou dan menyipitkan matanya, menatap Weng Lou dengan lebih teliti sambil berbicara, "Aku tau dimana itu, tapi apa tujuanmu datang ke bengkel ku?"


Dia bertanya dengan wajah serius. Baginya, Weng Lou tampak seperti anak-anak remaja pada umumnya, namun tidak ada anak remaja yang akan tertarik menuju ke bengkelnya kecuali ini adalah lelucon yang diciptakan oleh orang-orang yang ingin mengejeknya.


"Ah! Jadi anda adalah Tukang Kayu Choi? Sepertinya ini adalah takdir! Aku datang ke sini, untuk memintamu membuatkan ku sebuah kapal. Kapal yang sanggup berlayar melewati Lautan Mati!"


Ucapan Weng Lou seketika membuat Choi terdiam dan menatap tak percaya pada Weng Lou.


"Apa kau gila?"

__ADS_1


__ADS_2