Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 598. Danau Lahar


__ADS_3

Wilayah Kediaman Keluarga Klan Lin terletak di tengah-tengah kawah gunung berapi raksasa yang sangat aktif.


Jika dilihat dari penampilannya, gunung itu seolah-olah bisa meletus kapan saja, namun faktanya kediaman ini telah dibangun sejak ratusan tahun lamanya dan gunung yang menjadi tempatnya berdiri belum pernah meletus hingga sekarang ini. Hal tersebut bisa terjadi karena Keluarga Lin telah mengatur aliran lava di dalam gunung dan dengan rutin mengalirkannya melalui beberapa rute khusus yang langsung mengarah keluar di kaki gunung, sehingga bisa dibilang lokasi Kediaman Keluarga Klan Lin tersebut dikelilingi oleh danau lahar panas.


Tidak ada rute darat untuk mencapai kediaman itu. Pilihannya hanyalah dia, melewati lahar panas atau terbang di atasnya. Tentu bagi kebanyakan orang, terutama mereka yang berada di ranah Penyatuan Jiwa tidak akan kesulitan sama sekali untuk melewati nya dengan cara terbang, tapi bagaimana dengan yang memiliki tingkat praktik dibawahnya?


Mungkin pilihan untuk menggunakan binatang buas yang bisa terbang sebagai kendaraan adalah pilihan terbaik, tapi sebanyak apa binatang buas yang mampu terbang di atas lautan lahar panas yang memiliki suhu amat panas seperti itu? Untuk alasan seperti inilah manusia diberkahi dengan akal dan kepintaran jauh di atas makhluk hidup lainnya.


Keluarga Lin yang menguasai seluruh wilayah selatan telah mengembangkan sebuah kapal besar yang bisa mengangkut cukup banyak orang, dan yang paling penting, mampu berlayar di atas lahar panas yang mendidih. Kapal tersebut dikendalikan oleh belasan Praktisi Beladiri di ranah Pembersihan Jiwa yang menggunakan Qi mereka untuk membuat kapal bergerak, dan membentuk pelindung yang mengelilingi seluruh kapal agar hawa panas dari luar tidak masuk dan membunuh para awaknya.


Karena hanya ada satu kapal saja, pelayaran hanya dilakukan sekitar seminggu sekali, dan tiket untuk naik ke atas kapal juga sangatlah mahal, bahkan cukup untuk menghabiskan seluruh kekayaan sebuah keluarga kecil terpandang di Pulau Pasir Hitam.


Saat ini, setelah satu minggu berlayar di atas kapal uap milik Weng Lou, Lin Bei dan Pasukan Pengejar yang dipimpinnya itu telah sampai di ujung sungai utama yang menjadi penghubung danau lahar.


Di situ, banyak kapal lainnya yang terlihat berlabuh di pinggiran sungai. Orang-orang berjalan mengarah ke satu tempat yang sama, yaitu Pelabuhan Phoenix yang merupakan tempat berlabuhnya kapal besar yang bisa membawa orang-orang menuju ke gunung berapi di tengah-tengah danau lahar.


"Lihat siapa yang datang, Kapten Pasukan Pengejar, Lin Bei! Hahaha.....jenius hebat dari Keluarga Lin, benar-benar tak terduga."


Di pelabuhan itu, seorang pria yang mengenakan pakaian berwarna merah yang menjadi ciri khas pakaian anggota Keluarga Lin berjalan mendekat ke arah kapal uap Weng Lou. Di atas dek, Lin Bei berdiri di dampingi dengan Lin Gou.


Nada bicara pria itu terdengar mengejek saat dia kemudian melompat naik ke atas kapal dan mendekat ke arah Lin Bei. Anggota Pasukan Pengejar yang lain menatap tidak senang pada pria itu, namun tidak ada yang bisa mereka lakukan. Kapten mereka telah mengatakan untuk tidak terlalu mempedulikan perkataan pria di hadapan mereka ini jauh sebelum mereka sampai di tempat itu.


"Paman Fei, senang melihatmu tetap terlihat muda meski umur mu sudah hampir menyentuh angka seratus," ucap Lin Bei sambil memberi hormatnya.


Pria di depannya ini adalah Lin Fei Ming, orang yang ditugaskan menjadi pemimpin Pelabuhan Phoenix, dan dia adalah paman jauh Lin Bei dari ayahnya. Akan tetapi status pamannya ini sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan keluarganya karena dia berhasil menikahi anak dari Tetua Keluarga Lin.

__ADS_1


Mungkin secara jabatan, status Lin Bei jauh lebih tinggi dari pamannya ini, namun istri pamannya itu membuat hal itu tidak berarti. Terlebih lagi, garis darah Phoenix pada pamannya memang lebih tinggi darinya dan juga kedua orang tuanya, sehingga dia sangat sombong terhadap keluarganya.


"Cih, anak kurang ajar, meski umurku seratus tahun pun aku akan terlihat muda seperempat ini karena garis darah Phoenix ku yang lebih kuat dibandingkan dengan mu dan kedua orang tua mu itu." Lin Fei Ming mencibir.


Suasana di atas kapal berubah menjadi panas, tapi bukan karena suhu danau lahar di dekat mereka. Lin Gou yang melihat keduanya saling menunjukkan tatapan tidak senang memilih untuk menengahi.


"Tuan Fei, kami ingin melewati danau, apakah 'kapal itu' sedang berlabuh?" tanya Lin Gou sambil menarik mundur kaptennya ke belakang.


Lin Fei Ming mendengus lalu berjalan ke ujung kapal sambil berbicara, "Kalian beruntung, kemarin ada salah satu keluarga inti yang sedang keluar dari kediaman dan memilih menggunakan kapal, jadi 'kapal itu' digunakan tidak sesuai dengan jadwalnya. Sore nanti kapal tersebut akan berlayar kembali mengangkut dua ratus penumpang."


Mendengar penjelasan Lin Fei Ming membuat Lin Gou tersenyum puas. Ini benar-benar hari keberuntungan mereka. Sangat jarang kapal yang mereka bicarakan itu berangkat tidak sesuai dengan jadwalnya, sehingga situasi seperti sekarang ini membuat Lin Gou menjadi senang.


"Kalau begitu, apakah masih ada ruang untuk memasukkan kapal ini? Kami akan membayar lebih tenang saja." Lin Gou bertanya lagi.


Senyum licik Lin Fei Ming terbentuk. Dia berbalik dan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban pertanyaan Lin Gou.


"Lagi pula, bukankah kalian ini ditugaskan untuk mengejar pengkhianat yang mencuri harta pusaka Keluarga Lin kita? Kenapa kalian kembali? Jangan bilang kalian telah kehilangan jejaknya dan ingin pergi ke kediaman untuk meminta maaf?"


Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Lin Fei Ming semuanya tepat sasaran, namun alasan mereka kembali ke kediaman bukanlah untuk meminta maaf, melainkan untuk menunjukkan Kera Hitam Petarung yang berhasil mereka tangkap di pelabuhan Kota Tiesha.


"Tuan Fei, aku yakin anda tidak memiliki kewajiban untuk menanyakan urusan pasukan kami untuk kembali ke kediaman." Lin Gou berbicara sambil menyipitkan matanya.


"Hahaha....lihat anak sombong ini. Ya, terserah saja. Yang jelas kapal pengangkut telah penuh, dan kalian tidak bisa menaikinya. Kenapa kalian tidak memakai kapal ini saja? Kelihatannya kapal ini bukanlah kapal biasa, kalian bisa menggunakannya untuk melewati danau. Meski itu hanya setengah perjalanan saja, sebelum kalian semua ditenggelamkan oleh para binatang buas yang tinggal di dalam danau, hahahaha....."


Lin Fei Ming tertawa mengejek, lalu melompat turun dari kapal, meninggalkan Lin Bei dan pasukannya yang telah menahan maraj sejak tadi. Ketika Lin Fei Ming sudah pergi, anggota Pasukan Pengejar mulai mengutuk pria itu.

__ADS_1


Lin Gou yang sebelumnya tampak senang karena kapal pengangkut sedang berlabuh di Pelabuhan Phoenix pun juga ikut menampilkan wajah tidak senangnya, sementara Lin Bei hanya diam dan mengepalkan tangannya dengan erat.


"Jadi apa yang akan kita lakukan, Kapten? Kita tidak bisa menunggu sampai satu minggu lagi di sini." Salah satu anggota pasukan Lin Bei berjalan mendekati Lin Bei akan tetapi sang kapten hanya diam, tidak memberikan jawaban apapun.


Melihat Lin Bei yang diam tidak menjawab, Lin Gou segera menyuruh anggotanya itu untuk pergi dan melakukan pekerjaannya sementara dia memutuskan untuk berdiskusi dengan Lin Bei.


"Kapten, apa kau baik-baik saja?"


Lin Bei menoleh pada Lin Gou, "Haaah....aku baik-baik saja, hanya sedikit kesal saja. Pria tua itu benar-benar menjengkelkan seperti biasanya."


"Hahahaha.....jangan terlalu dipikirkan, kapten. Yang terpenting sekarang ini, apa yang akan kita lakukan? Seperti yang paman mu katakan, kita tidak bisa menggunakan kapal pengangkut untuk menyebrangi danau lahar di depan kita."


Satu-satunya tranportasi yang mereka harapkan kini tidak bisa mereka pakai, mereka perlu membuat rencana ulang.


"Ada berapa banyak koin emas yang kalian semua bawa?" Lin Bei tiba-tiba bertanya.


Alis Lin Gou terangkat, sedikit kebingungan dengan pertanyaannya. Namun tidak lama kemudian dia paham mengapa kaptennya menanyakan berapa banyak koin emas mereka.


"Aku hanya memiliki lima puluh ribu, itu sudah termasuk dengan semua tabungan ku yang kubawa saat ini, tapi jika ditambah dengan yang dimiliki anggota yang lain, mungkin akan terkumpul seratus ribu."


"Seratus ribu yah........jumlah itu sudah lebih dari cukup untuk membeli binatang buas terbang yang memiliki kekuatan di ranah Penyatuan Jiwa...." ucap Lin Bei dengan suara pelan.


Bekedip. Lin Gou menggeleng kepalanya. Dia tidak setuju jika mereka harus membeli binatang buas terbang hanya untuk melewati danau lahar. Bukan karena jumlah uang yang harus mereka keluarkan, namun karena mustahil ada binatang buas terbang yang memiliki tubuh cukup besar untuk mengangkut kapal uap Weng Lou.


Tidak hanya besarnya yang di atas rata-rata, namun kapal uap Weng Lou juga memiliki berat yang luar biasa, terutama karena terdapat Kera Hitam Petarung di dalamnya. Tidak ada binatang buas dengan kekuatan di ranah Penyatuan Jiwa yang akan mau mengangkut seekor binatang buas lainnya yang memiliki kekuatan sama dengannya.

__ADS_1


"Kalau begitu, kita tidak memiliki pilihan lain. Segera persiapkan kapal, kita akan berlayar melewati danau lahar dengan kapal ini."


__ADS_2