Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 483. Rahasia Dari Sang Ular! Amukan Dari Dua Binatang Buas!


__ADS_3

Di wilayah timur, beberapa puluh meter di tempat sebelumnya Weng Lou dan yang lainnya berkumpul bersama.


Seekor ular raksasa sedang berbaring sambil melingkarkan tubuhnya. Sesekali lidah ular itu keluar dan membuat orang biasa yang melihatnya pasti akan menjadi ngeri.


Ular ini memiliki warna kuning kecoklatan dengan perpaduan warna putih pada bagian bawahnya. Dengan ukuran tubuh yang menyamai tiga binatang buas yang keluar dari dalam Tas Binatang Tunggangan milik Zu Zhang, ular ini memiliki panjang tubuh yang mencapai kurang lebih seratus meter.


Yang mana jika dibandingkan dengan tiga lainnya, maka dialah yang terbesar.


Meski begitu, yang terkuat bukanlah dia, melainkan sang Kera Hitam Petarung yang telah dikalahkan oleh Yang Guang di wilayah selatan arena sana.


Walau bukan yang terkuat, bukan berarti dia akan kalah jika bertarung melawan kera tersebut, karena kemenangan dari sebuah pertarungan bukan hanya ditentukan oleh kekuatan saja, melainkan oleh kepintaran juga. Dan jelas sekali, dialah yang terlicik diantara empat binatang buas dari tas Zu Zhang.


"Ssshhhhsss...."


Ular itu sekali lagi mendesis dan mengeluarkan lidahnya, lalu kemudian membuka kedua matanya dan menolehkan kepalanya ke arah dimana terlihat sosok Ying She sedang berlari ke arahnya dengan tangan kanan telah dilapisi oleh Qi padat miliknya.


Dalam beberapa detik, sosok Ying She telah tiba dihadapan ular besar itu dan bersiap meninjukan tangan kanannya itu ke arah tubuh ular tersebut.


Namun dengan santainya ular itu menghindarinya dan kemudian langsung melilit tubuh Ying She.


"Sshhhh.....coba lihat siapa ini, seorang anak kecil yang berusaha memukul ku, huh? Sshhhh.... sepertinya kau sudah cari mati nak."


Ular itu berbicara sambil mendesis dan menjilati tubuh Ying She.


Akan tetapi, setelah dia menjilati tubuh Ying She, ular itu seketika berhenti bergerak, dan dia menatap Ying She dengan kedua mata reptilnya.


"Aku merasakan sesuatu yang tidak asing dari tubuhmu nak. Beritahu aku namamu...sshhh...." ucap ular itu sambil mendesis kembali seperti sebelumnya.


Ying She terlihat santai, dan kemudian dia mulai mengencangkan otot-otot pada kedua tangannya.


Dia pun dengan paksa keluar dari lilitan tubuh ular itu, lalu melompat ke arah kepalanya dan siap meninjunya seperti yang dia lakukan beberapa saat yang lalu.


Tapi sama seperti sebelumnya, ulat itu bergerak lincah, dan kemudian ujung ekor panjangnya dicambuk kan pada tubuh Ying She dan membuat dia terhempas dan menghantam tanah dengan sangat kuat.


BAMMM!!!


"Kau memilih tindakan yang salah nak, bahkan jika kau jauh lebih kuat dariku, tapi aku ini jauh lebih memiliki otak dibandingkan denganmu." Ular itu mengangkat ujung ekornya, lalu Dnegan cepat melesatkan nya ke arah Ying She dan sukses menghantam sekali lagi tubuhnya yang ada di tanah.


Setelah memberikan serangannya itu, ular raksasa itu membiarkan ekornya menimpa tubuh Ying She dan kemudian kembali melingkar kan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya.


Akan tetapi, sbelum dia bisa menutup sepenuhnya kedua matanya, ekornya yang menimpa tubuh Ying She mendadak tehempas dan mengenai kepalanya sendiri.


Ular itu memcingkan matanya dan menatap Ying She yang sedang bangkit kembali berdiri secara perlahan.


Sudut mata ular itu tanpa sengaja melihat lambang lotus emas pada belakang pakaian Ying She, dan dia pun tampak sangat terkejut dan buru-buru menundukkan kepalanya di hadapan Ying She.

__ADS_1


"Maafkan kelancanganku, Tuan Muda!" serunya dengan suara panik.


Di sisi lain, Ying She tampak tidak mempedulikannya dan kemudian segera melangkah maju ke arah ular itu, lalu melompat tinggi hingga tepat berada di depan wajah ular tersebut.


"Kau baru meminta maaf sekarang?"


BAMMM!!!


Dengan seluruh tenaganya, Ying She memukul kepala ular itu dan membuatnya terbanting ke tanah.


Tidak ada erangan ataupun protes dari ular tersebut, dia sepenuhnya menerima pukulan dari Ying She tersebut karena memang dia layak menerimanya.


Setelah beberapa detik kemudian, dia kembali mengangkat kepalanya dan menunduk hormat kembali ke arah Ying She.


"Saya mohon maaf, Tuan Muda. Ular bodoh ini tidak bisa mengenali anggota Keluarga Ying yang sangat hebat seperti anda, karena terlalu lama berada di dalam Tas Binatang Tunggangan milik Zu Zhang!" Ular itu terlihat memohon ampun kepada Ying She dan terus memanggil nya dengan sebutan 'Tuan Muda'.


"Hmp, aku tidak peduli dengan itu. Yang lebih penting, kenapa bisa Ular Jinzi seperti mu ada di Pulau Pasir Hitam ini, dan bahkan menjadi binatang peliharaan salah satu Praktisi Beladiri nya?" tanya Ying She sambil mengerutkan dahinya.


Ular itu diam selama beberapa saat, dan menuleh ke atas dimana Zu Zhang dengan mata tajamnya menatap mereka berdua yangs Edang berbicara satu sama lain..


Ying She menyadari hal tersebut dan memejamkan matanya, lalu menghela napasnya.


"Baiklah, tidak perlu kau jelaskan padaku lagi. Nanti saja, saat ini aku membutuhkan kekuatanmu untuk menyelesaikan misiku."


Setelah berkata seperti itu, Ying She pun kembali melompat, dan mendarat di atas kepala ular raksasa tersebut.


Sosok tersebut tidak lain adalah Weng Lou. Dan kedatangannya jelas untuk mengalahkan Ying She dan memenangkan Turnamen Beladiri Bebas ini.


***


Di tempat Lin Mei berada sekarang. Adalah wilayah di bagian utara arena dimana rusa raksasa yang dia ceritakan pada gajah besar yang mengikutinya terus dari belakang berada.


Mereka berdua telah menyusuri sungai untuk mencapai tempat ini, meski begitu tidak ada tanda-tanda kelelahan sama sekali dari Lin Mei atau pun gajah yang bersamanya.


Lin Mei sedikit menoleh ke belakang dan melihat kedua mata merah gajah itu yang sepertinya tidak bisa dihentikan oleh apapun saat ini.


"Ah, ya sudahlah. Lagipula tinggal sedikit lagi aku sampai. Aku tinggal menjatuhkan dia jika tidak mau menjadi tunggangan ku," ucap Lin Mei dalam hatinya.


Tak berapa lama, mereka pun akhirnya sampai di tengah wilayah utara, dimana tempat rusa yang keluar dari dalam tas mik Zu Zhang sebelumnya seharusnya berada.


Begitu Lin Mei dan gajah yang bersamanya sampai, terlihat sosok rusa itu sedang minum di pinggir sungai dan menoleh ke arah mereka ketika berjarak sekitar seratus meter darinya.


Matanya menyipit melihat sosok Lin Mei sejenak dan kemudian tatapannya terpaku pada gajah besar yang ada di belakang Lin Mei dan sepertinya dalam keadaan yang tidak baik.


"Mao Xiang, apa yang kau lakukan di sini? Kita sudah mendapatkan pembagian wilayah sendiri-sendiri oleh Zu Zhang, dengan kau berani masuk wilayah ku berarti kau sudah menantang ku."

__ADS_1


Rusa itu berbicara dengan suara yang terdengar jauh lebih dalam dibandingkan dengan suara gajah besar itu ketika dia berbicara, menurut Lin Mei.


Mendengar perkataannya, gajah yang sedang berlari dalam kecepatan penuh dibelakang Lin Mei sekali lagi meniupkan belalainya dan kecepatannya mendadak bertambah lalu melewati sosok Lin Mei begitu saja.


"Diam kau, Jiaolo! Beraninya kau menyebut rambut pada sekujur tubuhku ini bau seperti bangkai! Akan kuremukkan seluruh tubuhmu itu!" seru gajah yang dipanggil Mao Xiang oleh rusa tersebut.


Rusa yang dipanggil Jiaolo mengerutkan dahinya. Dia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Mao Xiang padanya. Tepat ketika dia ingin mengatakan sesuatu sebagai balasan perkataan Mao Xiang, tubuh Jiaolo sudah lebih dulu ditabrak olehnya, dan membuat dirinya terlempar ke belakang karena tabrakan itu.


!!!!


SRAAKKKK!!!!!!


Jiaolo segera mendaratkan kedua kakinya ke tanah, dan kemudian menoleh ke arah Mao Xiang yang baru saja menabraknya.


"Kau?! Beraninya kau!!" Jiaolo berseru nyaring dan membuat angin yang ada di sekitarnya tertiup dengan kencang.


"Aku yang seharusnya mengatakan itu, dasar rusa bertanduk cacat! Kau berani mengatakan rambut-rambut ku ini sangat bau, bukan? Lalu akan ku patahkan dua tanduk kesayangan mu itu sebagai balasan dariku!"


"Ha?! Kau gila! Apa yang sebenarnya kau bicarakanlah?!"


"Diamlah! Dan terima pembalasan ku ini!!!"


Mao Xiang mengayunkan belalai panjang di udara, dan kemudian sebuah bilah air berukuran raksasa melesat ke arah Jiaolo.


Jiaolo yang tidak siap akan hal itu hanya bisa menghindarinya akan tetapi yang dia lakukan sedikit terlambat dan membuat ujung tanduk kanannya sedikit terpotong oleh bilah air milik Mao Xiang tersebut.


"DASAR KURANG AJAR!!!!"


Secara tiba-tiba Jiao berseru marah, napsu membunuh yang tak terbendung keluar dari dirinya dan memenuhi sekitarnya. Dia pun menghentakkan kedua kaki depannya ke tanah dan kemudian dua buah akar berukuran raksasa melonjak keluar dari dalam tanah, lalu dengan cepat menghafal ke Mao Xiang dan melilit tubuhnya.


"Kau sudah kelewatan kali ini, Mao Xiang! Aku tidak pernah melayani mu selama di dalam tas itu bukan karena aku tidak berani melawan mu, tetapi karena aku tidak ingin membuang waktu dengan gajah bodoh seperti mu!


Tetapi sepertinya kau tidak memahami kedudukan mu sendiri dan berlagak seperti yang terkuat diantara kita semua. Dasar gajah bodoh bau!!!"


"Sudah aku katakan bukan.....aku akan mematahkan kedua tanduk mu itu karena sudah menyebut ku bau!!!!"


Mao Xiang yang dalam keadaan terlilit, memberontak dan memutuskan akar raksasa yang melilit tubuhnya, lalu sekali lagi berlari ke arah Jiaolo dan menabraknya dengan kedua gading panjangnya.


Akan tetapi, kali ini Jiaolo tidak membiarkannya begitu saja, dia segera menundukkan kepalanya, dan menyambut Mao Xiang dengan tanduk miliknya tersebut.


BAAMMM!!!!


Benturan keras terjadi, angin pun bertiup kencang di sekitar mereka berdua karena itu.


Sementara itu, Lin Mei yang ada di tempat itu dengan santainya menonton pertarungan keduanya, dan bersiap untuk ikut masuk ke dalamnya.

__ADS_1


"Hahaha....rencana ku berjalan jauh lebih mudah dari perkiraan ku, sepertinya."


__ADS_2