Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 519. Penangkapan


__ADS_3

Sementara pria yang ditendang kakinya saat ini sedang menjerit kesakitan di atas tanah, Weng Lou mengalihkan pandangannya pada pria yang sedang duduk di atas takhta dan terlihat sangat ketakutan.


Weng Lou bekum pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya, namun dia mengenali wajahnya dalam pandangan pertama.


Pria itu tidak lain adalah sang Kaisar Kekaisaran Fanrong, Kaisar Shengshi Huangdi. Orang yang melakukan kudeta dan mengambil gelar sebagai kaisar setelah membunuh saudara iparnya sendiri. Weng Lou sudah melihat banyak lukisan wajahnya di tiap-tiap kota yang ada di Wilayah Kumuh sebelumnya.


Sedangkan pria satunya lagi, yang saat ini sedang berguling di atas tanah adalah perwakilan dari Perguruan Iblis Merah yang ditempatkan untuk menjaga sang Kaisar setiap waktu. Kekuatannya secara mengejutkan telah berada di ranah Pembersihan Jiwa tahap 1 awal. Meski tidak bisa dibandingkan dengan kekuatan Weng Lou, namun hal ini berbeda jauh dari yang diketahui oleh Weng Lou.


Menurut informasi yang dia dapatkan dari cabang Perguruan Iblis Merah yang ada di Kota Heishin, orang terkuat yang ditempatkan di istana kaisar adalah salah satu tetua utama di Perguruan Iblis Merah. Kekuatan tetua itu harusnya hanya berada di Dasar Pondasi tingkat 12 menengah, dan masih jauh dari puncak tingkat 12.


Informasi ini sebenarnya tidak salah, tapi itu sebelum Kaisar Shengshi Huangdi belum mendengar tentang pergerakan di Wilayah Kumuh.


Shengshi Huangdi adalah orang yang sangat penakut dan tidak akan melakukan apapun jika menurut nya sesuatu itu bisa membahayakannya. Oleh sebab itu, ketika dia mendengar tentang kejadian-kejadian yang terjadi di Wilayah Kumuh, dia dengan senang hati membukakan ruang penyimpanan istana pada tetua yang bertugas menjaganya.


Alhasil, tetua itu memanfaatkan kesempatan tersebut dan secara ajaib naik mencapai ranah Pembersihan Jiwa hanya dalam kurun waktu tidak mencapai 2 hari.


Meski kekuatan nya belum cukup stabil untuk saat ini, namun untuk menangani seorang pengacau seperti Weng Lou, seharusnya itu cukup mudah, pikirnya.


Hal itu memang bisa berhasil jika seandainya Weng Lou hanya berada di Dasar Pondasi tingkat 12 atau di ranah Pembersihan Jiwa tahap 1 awal, namun saat ini Weng Lou telah berada di ranah Penyatuan Jiwa tahap 2 awal, dan kekuatannya terus berkembang seiring waktu.


Kekuatan tetua tersebut hanya lelucun baginya, belum lagi Weng Lou telah membuka segel garis darah keturunan miliknya dan membuat kekuatan nya bertambah lagi.


"Aku tidak tau apakah kau ini bodoh atau terlalu percaya diri. Hanya dengan seorang Praktisi Beladiri di ranah Pembersihan Jiwa tahap 1 awal kau dengan bodohnya tetap duduk di singgasana mu itu. Bahkan seorang anak kecil jauh memiliki akal dibandingkan denganmu," ejek Weng Lou pada Shengshi Huangdi yang menelan ludahnya.


Dia telah diminta untuk pergi dari Pulau Fanrong sebelumnya, tapi karena tidak memperkirakan kekuatan lawannya yang sangat mengerikan, dia memutuskan untuk tetap tinggal dan mengamati bagaimana lawannya akan mati


Sayangnya, situasi yang diharapkan tidak terjadi dan apa yang ada dihadapannya justru sebaliknya.

__ADS_1


"Ka-Kau! Ketua kami tidak akan membiarkan mu! Aku adalah Tetua Ketiga dari Perguruan Iblis Merah! Menyerang ku sama saja dengan menyatakan perang kepada seluruh Perguruan Iblis Merah!"


Perwakilan Perguruan Iblis Merah itu telah berhasil menenangkan dirinya, dan mengamcam Weng Lou dengan mata memerah nya. Sebelumnya dia begitu sombong dan percaya diri, tapi sekarabg dia tidak lebih dari seekor anjing yang hanya bisa menggonggong tanpa berani mengigit.


"Ck ck ck ck! Ketahuilah kondisimu sendiri. Bukannya aku sombong atau apa, tapi coba kau pikirkan baik-baik kenapa Ketua mu tidak datang ke sini meski dia pasti telah menerima laporan tentang diriku?" Weng Lou bertanya sambil tersenyum penuk makna pada pria itu yang tertegun seketika dan menatap dengan tak percaya pada Weng Lou.


"Benar! Dia takut! Hahaha!"


Weng Lou tertawa pelan sebelum kemudian melangkahi tubuh pria itu dan berjalan mendekat ke arah Shengshi Huangdi yang masih diam di tempatnya.


Tangan Weng Lou bergerak, dan membuat semua prajurit itu membukakan jalan baginya. Dia selangkah demi selangkah berjalan ke arah Shengshi, dan tiap langkah mendekat membuat keringat semakin mengucur daras dari tubuh Shengshi Huangdi.


"Ku-Kumohon ampuni aku! A-Akan ku berikan apapun pada Anda, Tuan!"


Sebelum Weng Lou mencapai tempat nya, Shengshi Huangdi sudah turun darj tempatnya dan berlutut memohon ampun kepada Weng Lou.


Menerima tatapan seperti itu, tubuh Shengshi Huangdi bergetar hebat dan terduduk di tanah.


Weng Lou tiba di hadapanku, dan berjongkok menatap kedua mata sang Kaisar Kekaisaran Fanrong tersebut sebelum berbicara kepadanya, "Kau seperti nya salah sangka, aku datang bukan untuk mengadili mu, tetapi hanya sekedar menangkap mu saja. Ada orang lain yang lebih layak untuk memutuskan hukuman kepadamu, dan orang itu sebentar lagi datang ke tempat ini jadi kau tidak perlu merasa khawatir."


"O-Orang lain? Apa maksud anda?" tanya Shengshi Huangdi dengan penuh kebingungan.


Tapi tak lama kemudian, dia ingat bahwa Weng Lou datang dari Wilayah Kumuh, tempat dia menempatkan para budak untuk dipekerjakan secara tidak manusiawi. Dia juga mengingat seorang anggota keluarganya yang dia buang ke tempat itu karena takut anggota keluarganya itu akan melakukan hal yang sama seperti ketika dia mengambil alih kekaisaran. Dia segera mengerti maksud perkataan Weng Lou itu dan hatinya terasa seperti mati begitu tau apa kemungkinan yang terjadi begitu orang yang dimaksud Weng Lou itu tiba di sini dan memberikannya hukuman.


"Tu-Tuan! Tuan!! Aku tau Tuan adalah orang yang baik hati dan berhati hangat!!! Tolong lepaskan aku Tuan! Akan kuberikan semua kekayaan ku, anak-anak ku dan istriku! Ambil saja kekaisaran ini dari tangan ku, tetapi bebaskan aku Tuan!" Shengshi menjerit dengan panik kepada Weng Lou dan mencium kakinya.


Menyaksikan itu, Weng Lou tidak bisa menahan dirinya dan menatap pria itu dengan penuh hina.

__ADS_1


*Daack!*


Dengan satu hentakan kaki nya, tubuh Shengshi Huangdi terlempar mundur dan mendarat tepat di atas takhta singgasana yang dia puja-pujakan itu hingga tega membunuh saudara iparnya sendiri.


Tubuhnya yang menghantam takhta dari emas murni tersebut menyebabkan bunyi nyaring dan membuat matanya memerah karena kesakitan.


"Khock!"


Weng Lou tampak tidak peduli sama sekali dengan rasa sakit yang dialami oleh Shengshi Huangdi, dia dengan santainya menyentuh tangan kanan Shengshi dan memegangnya dengan 'lembut'.


*Krack!*


Bunyi berderik terdengar di seluruh ruangan. Mata Shengshi melebar, dan dia melihat tangan kanannya yang sudah bengkok hanya karena digenggam 'lembut' oleh Weng Lou.


Napasnya tidak beraturan dan dia pun berteriak sekencang-kencangnya, membuat semua yang ada di ruangan itu merasa telinga mereka sakit karena mendengar jeritannya tersebut.


"Cih, kau terlaku berisik!" cibir Weng Lou.


Tangannya bergerak lincah dan melepaskan tekanan ringan pada Shengshi yang mana langsung membuatnya kehilangan kesadarannya begitu saja.


Shengshi Huangdi bukanlah seorang Praktisi Beladiri, sehingga apa yang dilakukan Weng Lou padanya adalah hal baru baginya, dan dampak yang diterimanya benar-benar berbeda dengan para Praktisi Beladiri.


Mata Weng Lou menatap sosok pria itu dalam diam dan dia pun mulai mengendalikan Qi miliknya, lalu mengijat Shengshi Huangdi di takhtanya itu.


"Kau tunggu di sini, pekerjaan ku masih belum selesai," ucap Weng Lou yang segera mendekat ke arah Tetua dari Perguruan Iblis Merah.


Dia tanpa berkedip segera menginjak dada Tetua itu dan menghancurkan tulangnya dan membuat jantunga berhenti seketika itu juga.

__ADS_1


"Orang-orang dari Perguruan Iblis Merah seperti mu itu hanya membawa petaka bagi orang-orang, mati lah ditempat ini."


__ADS_2