
Daratan Utama dibagi menjadi empat daerah secara garis besar.
Daerah yang dikuasi oleh Keluarga Klan Besar Yang, Ying, Wang, dan Lin. Keluarga Yang menguasai daerah di barat Daratan Utama, Ying timur, Wang utara, dan Lin selatan.
Masing-masing wilayah mereka memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Wilayah Keluarga Yang hampir setengahnya merupakan wilayah kepulauan, sementara Keluarga Wang, Ying, dan Lin memiliki karakteristik nya sendiri.
Di bagian selatan Daratan Utama, kapal uap Weng Lou berlayar dengan kecepatan tinggi melewati gelombang-gelombang ombak yang tidak terlalu tinggi. Mereka menghabiskan waktu dua hari untuk lari dari pengejaran Keluarga Yang dan akhirnya berhasil lolos setelah memasuki wilayah selatan Daratan Utama yang dikuasai oleh Keluarga Lin.
Wilayah Keluarga Lin terdiri dari satu wilayah daratan luas yang adalah benua Daratan Utama itu sendiri dan beberapa pulau berukuran kecil yang memiliki banyak gunung berapi aktif di dalamnya. Sesekali kapal kelompok Weng Lou melewati wilayah laut yang di bawahnya terdapat gunung api bawah laut. Buih-buih dari air mendidih membuat seluruh awak kapal tidak bisa tahan berada di dalam kapal terus menerus dan memilih untuk beristirahat di dek kapal.
Mereka akan bergantian untuk mengisi bahan bakar kapal setelah beberapa menit sementara yang lain akan mendinginkan tubuh di luar.
"Ayo Du Zhe, kau bisa melakukannya. Palu itu tidak berat sama sekali, hanya seperseratus dari palu yang aku gunakan untuk latihan sekarang. Sepuluh ayunan seharusnya bukan apa-apa bagimu, ayo teruslah berusaha," ucap Weng Lou memberikan semangat.
Weng Lou sedang mengayunkan dua palu kembar di dua tangannya sementara Du Zhe di sampingnya sedang berusaha mengangkat palu pemberiannya dan mengayunkannya tanpa harus menjatuhkannya ke lantai.
"TUUUJUUUUHHHHH!!!!! "
"DEELAAAAAPPPAAANNNN!!!!"
"SEEEMMMBBIIIILAAAANNNNN!!!!!"
"Ayo Du Zhe!!! Kau pasti bisa!!!!" Para awak kapal yang sedang beristirahat di luar ikut menyemangati Du Zhe yang saat ini wajahnya telah berubah menjadi semerah buah tomat.
Kedua tangannya yang menggenggam palu sampai bergetar hebat ketika dia berusaha mengangkat palu itu untuk mengayunkannya sekali dan terakhir kali.
"OOAAARRRGGHH!!!!! SEEEEPUULUUHHHH!!!!!"
*Bdum!* Palu di tangannya segera terjatuh ke lantai dan meninggalkan sedikit keretakan pada lantai kapal. Tubuh Du Zhe jatuh ke belakang dengan lemas dan pernapasannya tampak tidak beraturan, sekujur tubuhnya kini telah basah oleh keringatnya. Pandangannya tampak kabur selama beberapa saat sebelum akhirnya kembali normal.
Dia menatap Weng Lou yang menggelengkan kepalanya, "Ckckck....kau sampai seperti ini hanya karena mengayunkan sepuluh kali palu kecil itu. Ini karena kau kurang melakukan latihan fisik. Mulai sore nanti aku akan melatih fisik mu, bukan lagi Kera itu."
Napas Du Zhe hampir terhenti ketika mendengar bahwa Weng Lou akan melatih fisiknya. Selama satu minggu lebih, Kera Hitam Petarung lah yang mengatur latihannya, dan itu bahkan disesuaikan nya layaknya seekor binatang buas agar Du Zhe mendapatkan hasil maksimal. Akan tetapi Weng Lou masih mengatakannya kurang berlatih.
Jika latihan yang dia lakukan bersama Kera Hitam Petarung bukanlah apa-apa, lalu bagaimana kerasnya latihan fisik Weng Lou? Du Zhe nyaris pingsan hanya karena memikirkannya.
Weng Lou terkekeh melihat reaksi Du Zhe. Dia pun menghentikan latihannya ketika mencapai seribu ayunan. Dia menyimpan kembali kedua palu nya itu dan beranjak pergi ke ruangan kendali. Li, yang adalah salah satu awak kapalnya terlihat sedang memegang kendali kapal ketika Weng Lou masuk ke dalam ruangan itu.
"Kau bisa beristirahat, aku yang akan mengambil kendali sekarang. Seharusnya malam nanti kita akan sampai ke tujuan selanjutnya kita. Kita pasti akan melewati pemeriksaan yang dilakukan oleh prajurit yang menjaga wilayah ini," ucap Weng Lou pada Li yang dibalas anggukan olehnya.
Li segera keluar dari ruangan dan berjalan menuju dek kapal sebelum kemudian ikut berlindung di sebuah pondok kecil yang dibangun oleh para awak untuk berteduh dari sinar matahari. Tanpa pikir panjang dia membuka bajunya dan ikut berbaring ke lantai seperti awak kapal yang lainnya.
Di ruangan kendali, Weng Lou duduk dengan tenang sambil menatap laut biru. Cahaya matahari siang hari membuat awan-awan di langit terpantul di laut yang bagai cermin.
"Haaa....jika dipikir-pikir kembali, perjalanan ku di luar sini ternyata jauh lebih lama dari pada waktu yang kuhabiskan semenjak menjadi murid Sekte Langit Utara. Banyak hal yang tidak aku alami di Pulau Pasir Hitam telah aku alami selama di luar sini," ucap Weng Lou sambil tersenyum kecil.
Kapal uap pun terus berlayar selama kurang lebih tiga jam dan waktu pun sudah sore. Matahari di barat terlihat akan tenggelam di dalam lautan. Ketika itulah, sebuah kapal dengan bendera burung Phoenix terlihat muncul di kejauhan dan Weng Lou segera berjalan keluar dari kapal, setelah menyuruh Li untuk kembali mengambil kendali.
Kapal uap mereka pun akhirnya saling berpapasan dengan kapal tersebut. Weng Lou bisa melihat beberapa prajurit di atas kapal itu dan memandang ke arah Weng Lou serta para awak kapal yang lain dengan cermat.
Salah seorang prajurit yang mengenakan pakaian tempur lengkap dan sepertinya pemimpin para prajurit yang lain di kapal itu melompat lalu mendarat di atas kapal kelompok Weng Lou.
"Selamat sore, maaf menggangu pelayaran kalian, tapi kami harus melakukan pemeriksaan sebelum kalian bisa pergi lebih jauh. Ku harap kalian tidak keberatan, dan mau bekerja sama," ucap prajurit itu dengan suara yang tampak dalam.
Meski dia terdengar sangat sopan, tapi pada kenyataannya dia sama sekali tidak memandang Weng Lou dan para awaknya yang sedang berada di dek itu.
"Siapa kapten kapal ini?" tanyanya kepada Weng Lou dan yang lainnya.
__ADS_1
Weng Lou pun segera berjalan maju tanpa berlama-lama. Prajurit itu menatap Weng Lou dari atas sampai bawah selama beberapa saat, dia tampak tidak percaya dengan Weng Lou.
Namun sebelum dia bisa berbicara lebih lanjut, Weng Lou sudah mengeluarkan Tablet Identitas miliknya dan memberikannya pada prajurit itu. Mata sang prajurit langsung melebar dan dia menatap Weng Lou dengan pandangan yang sangat berbeda. Dia langsung menundukkan kepalanya sambil meminta maaf pada Weng Lou.
"Tolong maafkan ketidaksopanan ku, Tuan. Ku harap anda tidak menyimpannya di hati," ucap prajurit itu dengan gugup.
Untungnya Weng Lou tidak mengatakan apapun dan hanya menyuruh prajurit itu melakukan pekerjaannya. Prajurit itu mengangguk lalu memanggil dua orang bawahannya untuk turun ke kapal dan memeriksa seluruh kapal Weng Lou.
"Ah, aku sarankan kalian tidak memeriksa bagian kabin utama. Jika kalian masih sayang dengan hidup kalian," kata Weng Lou sambil tersenyum lembut.
Pemimpin prajurit yang sebelumnya berbicara pada Weng Lou itu berkedip. Perkataan Weng Lou sama seperti seorang penjahat yang sedang mengancam mereka, para prajurit Keluarga Lin. Namun dia menganggap perkataan Weng Lou itu sebagai sebuah saran, mengingat kekuatan Weng Lou yang dituliskan di Tablet Identitas nya adalah ranah Penyatuan Jiwa tahap 3 yang bahkan jauh lebih kuat dari kapten pasukan penjaga seperti dirinya.
"Glek.....tolong biarkan kami memeriksanya sebentar saja." Prajurit itu berkata pada Weng Lou setelah mengumpulkan cukup keberanian.
Dia takut jika Weng Lou marah dan dia harus menanggungnya bersama dengan kru nya.
"Ya terserah kalian saja. Aku hanya memberikan saran. Jika kalian mau memeriksa, silahkan."
Prajurit tersebut tampak ragu, namun dia memantapkan hatinya dan perlahan berjalan menuju pintu logam besar yang berada di tengah dek kapal. Dia menatap kedua prajurit yang lain dan mengangguk bersama-sama.
"Dalam hitungan ketiga. Satu....dua....tiga!!!"
*Cyyyiiiittt!!!!!* Pintu logam terbuka. Namun hanya ada ruangan gelap di dalamnya. Ketiga prajurit itu tidak bisa melihat apapun. Pemimpin mereka mengarahkan tangan kanannya ke bawah, dan sebuah bola api merah terang pun terbentuk lalu masuk ke ruangan gelap itu secara perlahan.
Akan tetapi, napas ketiganya terhenti seketika saat melihat sosok monster di dalam ruangan itu dan sedang menatap ketiganya dengan mata merahnya yang haus akan darah.
"AAAHHH!!!!" Ketiga prajurit itu menjerit kaget dan langsung menutup kembali pintu logam itu rapat-rapat sementara para awak kapal Weng Lou menertawakan mereka, termasuk Du Zhe yang ada tidak jauh dari situ.
Dengan perasaan takut, prajurit sebelumnya segera mengembalikan Tablet Identitas Weng Lou dan berpamitan pergi dari situ. Mereka segera mengizinkan Weng Lou untuk lewat, sementara kapal Keluarga Lin yang mereka naiki itu sudah buru-buru berlayar menjauh.
"Bhahaha!!! Kalian lihat wajah prajurit tadi? Hahaha!!!"
"Padahal sebelumnya mereka terlihat meremehkan kita, tapi begitu melihat Tuan Kera Hitam, nyali mereka langsung ciut!"
"Sudah-sudah, kalian juga sama seperti mereka waktu pertama kali melihatnya, bahkan ada yang pingsan saking takutnya," ucap Li yang menghentikan tawa semua orang.
Mereka memasang wajah malu dan buru-buru pergi masuk kembali ke dalam kapal sedangkan Du Zhe malah menertawai mereka.
***
Kota Tiesha, sebuah kota megah yang berdiri tepat di bawah kaki sebuah gunung berapi raksasa yang memiliki status aktif.
Kota ini adalah salah satu dari beberapa Kota Utama yang dikelola oleh Keluarga Lin di wilayahnya yang berada di benua Daratan Utama. Sebuah kota yang memiliki luas yang luar biasa ini merupakan kota perdagangan utama yang dimiliki oleh Keluarga Lin dan merupakan tempat barang-barang yang berasal dari pulau lain di datangkan.
Di kota ini, terdapat sebuah dermaga yang sangat besar dan merupakan dermaga terbesar yang pernah Weng Lou lihat sejauh ini. Kapal-kapal pengangkut dan kapal pengunjung semuanya berlabuh di dermaga besar ini dengan rapi.
Pada salah satu sudut dermaga, kapal uap kelompok Weng Lou telah berlabuh dan diparkiran dengan rapi oleh para pekerja di dermaga itu.
Mereka melemparkan rantai-rantai berukuran kurang lebih setebal tubuh orang dewasa yang dipasangkan pada pengait di kapal mereka.
Dengan dipimpin oleh Weng Lou, para awaknya mulai turun satu persatu dari atas kapal. Weng Lou menghampiri seseorang yang adalah pemimpin para pekerja di dermaga itu dan memberikannya sekantong koin emas yang isinya tidak kurang dari seratus koin emas.
"Hahaha!! Anda terlalu baik hati, Tuan Muda. Mari-mari, aku antarkan kalian keluar dari dermaga. Aku tidak menyangka akan bertemu orang murah hati seperti anda hari ini, benar-benar berkat dari Leluhur Lin!" ucap pria gemuk dengan tubuh setinggi Weng Lou yang merupakan salah satu pemimpin pekerja yang mengatur kapal di dermaga itu.
Pria itu terus mengajak Weng Lou mengobrol sampai mereka keluar dari dermaga dan berpisah. Untungnya pria itu adalah tipe yang mau buka mulut demi sekeping koin emas.
Berkatnya Weng Lou mengetahui keadaan di Kota Tiesha ini. Mereka harus menuju gerbang masuk kota yang terhubung dengan dermaga dan melakukan pemeriksaan sebelum mereka boleh masuk ke kota.
__ADS_1
Belasan prajurit penjaga gerbang tampak berdiri dengan gagah menggunakan baju jirah berwarna merah terang ketika mereka satu persatu memeriksa identitas orang-orang yang datang dari dermaga. Tidak perlu waktu lama untuk kelompok Weng Lou mendapatkan giliran pemeriksaan.
Untuk boleh masuk ke dalam kota. Seseorang harus memiliki Tablet Identitas. Namun di kelompok mereka, hanya Weng Lou sendiri yang memiliki Tablet Identitas. Tablet ini hanya dimiliki oleh penghuni asli Daratan Utama, tapi bukan berarti semua orang yang tinggal di dalam Daratan Utama memilikinya.
Sebagai contoh, mereka yang berasal dari pulau-pulau kecil yang tersebar di benua Daratan Utama kebanyakan tidak memiliki nya, hanya para pemimpin pulau mereka saja yang punya. Oleh karena itu, di tiap kota di benua Daratan Utama akan disediakan tempat pembuatan Tablet Identitas.
Dengan satu syarat yang cukup mudah, minimal mereka memiliki seseorang dengan Tablet Identitas yang bersama mereka.
***
Di dalam pos penjaga dekat gerbang, Du Zhe meneteskan darahnya ke dalam tablet logam di depannya dan tablet itu pun mengeluarkan suara seperti air mendidih selama beberapa saat.
"Ini, total harganya seribu koin emas, sudah termasuk biaya masuk kota yang seharusnya kalian bayar sebelum memasuki kota." Seorang prajurit menyerahkan tablet logam itu pada Du Zhe setelah menuliskan identitas nya.
Weng Lou mengangguk dan memberikan satu kantung koin emas pada prajurit itu. Prajurit itu tidak memeriksa lagi, dia langsung memasukkan nya ke dalam cincin penyimpanan. Dia telah melihat Tablet Identitas milik Weng Lou dan dia tidak akan bohong bahwa Weng Lou mungkin adalah salah satu dari sepuluh orang terkuat di kota ini saat ini.
Setelah selesai membayar, Weng Lou bersama kelompoknya pun beranjak pergi dari pos itu. Memakan waktu satu jam untuk membuat Tablet Identitas untuk mereka semua dan semua uang yang dipakai adalah milik Weng Lou.
Waktu pembuatan Tablet Identitas di kota ini jauh lebih singkat ketimbang ketika Hei Shanhu membuatkan Weng Lou Tablet Identitas untuknya. Hal ini karena Tablet Identitas hanya bisa dibuat oleh Empat Keluarga Klan Besar di Daratan Utama. Dengan bermodalkan jalur koneksinya Shanhu sendiri pergi untuk membuatkan Tablet Identitas untuk Weng Lou.
"Guru, apa yang akan kita lakukan di kota ini?" tanya Du Zhe dengan penasaran. Ini pertama kalinya dia memasuki kota sebesar Kota Tiesha. Keramaian yang sangat baru baginya ini benar-benar membuat dia tidak terbiasa sama sekali.
"Untuk pertama, kita akan mencari penginapan terlebih dahulu. Lalu setelah itu aku akan pergi membeli beberapa bahan logam yang berkualitas. Aku dengar Kota Tiesha ini adalah kota yang menghasilkan logam-logam berkualitas di Daratan Utama. Kita harus meningkatkan kapal sampai waktu yang tidak diketahui, jadi aku pikir kita akan berjalan-jalan setelah semua urusan penting selesai," jelas Weng Lou sambil memegang erat tangan Du Zhe.
Kota Tiesha ini sangat ramai dan terkadang mereka harus melewati kerumunan orang-orang agar bisa lewat. Tidak akan heran jika seseorang akan tersesat karena kurang hati-hati ketika berjalan-jalan di kota ini.
Sementara Weng Lou dan kelompoknya sedang mencari penginapan. Di sebuah bangunan arena pertarungan, seorang pemuda berambut hitam tampan terlihat sedang bertarung melawan empat ekor binatang buas dengan tangan kosong.
Binatang-binatang itu menyerangnya dengan brutal dan berusaha mencabik-cabik dirinya. Namun pemuda itu hanya memasang kuda-kuda dan mendorong kedua telapak tangannya ke udara.
Sebuah gelombang getaran yang sangat kuat bergerak dan melewati tubuh binatang-binatang itu. Sedetik kemudian, mereka semua tumbang ke tanah dalam kondisi mengenaskan. Darah keluar dari mata, hidung, mulut, dan juga telinga mereka.
Pemuda itu menghembuskan napasnya dan suara sorakan pun terdengar dari tempat duduk penonton yang berada di sekitar lapangan pertarungan.
"""""'Luan!!! Luan!!! Luan!!! Luan!!!""""""
Nama pemuda itu disorakkan hingga menggema di seluruh bangunan arena pertarungan. Pemuda itu hanya tersenyum mengejek pada para binatang buas yang mencoba melawannya sebelumnya kemudian berjalan pergi menuju lorong di sisi pembatas lapangan arena.
Lorong itu membawanya menuju ke ruangan besar dimana terlihat para Praktisi Beladiri yang berpakaian mirip dengannya sedang duduk menunggu giliran untuk bertarung dengan para binatang buas.
"Hei, Luan! Tadi itu benar-benar pertandingan yang luar biasa! Kau sekali lagi mempertahankan rekor mengalahkan menyelesaikan pertandingan dalam satu serangan mu!"
Seorang pria yang sedang bersandar di tiang batu berbicara pada pemuda itu yang berjalan ke arahnya. Dia duduk di samping pria itu dan ikut bersandar ke tiang batu.
"Haaa....hari ini sangat melelahkan, aku melakukan sepuluh pertarungan lebih dan hadiah yang diberikan oleh pemilik arena hanya dua pertiga dari perjanjian yang telah kami buat, sialan!"
"Hahahaha....jangan mengeluh begitu, lagi pula pekerjaan ini adalah satu-satunya yang cocok untuk kita para pendatang yang memiliki kekuatan," ucap pria itu berusaha menghibur pemuda di sebelahnya.
"Ya aku tau, tapi jika terus begini entah kapan aku bisa melakukan rencana ku."
"Rencana mu? Maksudmu meninggalkan Daratan Utama dan kembali ke pulau asalmu yang kau ceritakan itu?"
"Iya, benar." Pemuda itu menatap ke langit-langit ruangan tunggu yang gelap sebelum kemudian menghela napas panjangnya. Rasa gusarnya mulai sedikit menghilang karena bercerita dengan pria di sampingnya.
"Kenapa kau ingin sekali untuk pulang? Bukankah kau bilang kau suka tantangan dan petualangan? Tidak ada tempat yang lebih cocok dari itu selain Daratan Utama, temanku! Banyak yang menghabiskan waktu mereka untuk bisa sampai di Daratan Utama, jadi jangan sia-siakan kesempatan mu ini!"
"Ck, kau tidak mengerti apapun! Pulau tempatku berasal itu adalah pulau yang tidak kalah maju dibandingkan dengan seluruh kota yang berada di Daratan Utama! Banyak petualangan juga yang belum aku lakukan di sana, seperti menjelajahi Pulai Langit, Danau Kematian, dan banyak lagi! Pulau Pasir Hitam adalah pulau yang tidak kalah menariknya dibandingkan semua pulau yang ada di Daratan Utama!"
__ADS_1
Pemuda itu pun memejamkan matanya dan mengingat-ingat kembali wajah orang-orang yang telah lama tidak dia lihat dan mulai dia rindukan.
"Ah sialan, Lou, Mei, kuharap aku bisa bertemu kalian secepatnya. Melakukan petualangan sendirian ternyata tidak menyenangkan sama sekali."