Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 652. Hutan Leluhur Ying


__ADS_3

Dengan dipimpin oleh Kambing Petapa, para binatang buas mulai memasuki kabut tebal.


Saat menyentuh kabut, Kambing Petapa langsung melepaskan Kekuatan Jiwa nya untuk memindai lokasi sejauh lima kilometer di sekelilingnya.


Segera kabut dalam radius lima kilometer darinya menghilang, dan membuat mereka bisa melihat dengan jelas di dalam lautan kabut, namun hanya dalam batas lima kilometer saja. Lebih dari lima kilometer hanya ada kabut yang menghalangi.


Ini adalah batas maksimal yang bisa Kekuatan Jiwa nya lakukan di dalam kabut tebal. Pada kondisi biasa, Kekuatan Jiwa nya akan dengan mudah memindai ribuan kilometer tanpa masalah sedikitpun, namun di dalam kabut, Kekuatan Jiwa nya ditekan hingga tidak lebih dari satu perseribu dari jangkauan yang bisa dia ambil.


"Aku hanya bisa melepaskan Kekuatan Jiwa ku sejauh ini, lebih dari ini maka aku akan menerima serangan balik." Kambing Petapa berkata pada Lin Mei tanpa mempedulikan Weng Ying Luan sedikitpun.


Dia tidak mau berbicara dengan Weng Ying Luan yang sudah membuka kartunya.


"En....itu sudah lebih dari cukup. Setidaknya dengan bantuan anda, kita bisa berjaga-jaga dari serangan menyelinap," ucap Lin Mei.


"Perintahkan mereka untuk berjalan sedekat mungkin dan jangan terlalu jauh dari Tuan Petapa." Lin Mei memberikan perintah kepada elang raksasa.


Pekikan sang elang terdengar, dan para binatang buas mulai berjalan ke belakang Kambing Petapa.


Dengan begitu mereka semua mulai berjalan masuk ke dalam kabut dengan Kambing Petapa berada di depan. Ratusan ribu binatang buas mengikuti tepat di belakangnya. Mereka saling berdekatan sehingga menyisakan ruang yang cukup luas di sekitar mereka.


Ruang ini untuk memberikan mereka jarak pandangan yang luas sehingga mereka bisa melihat jika seandainya ada serangan dari musuh.


Semua binatang buas berjalan mengikuti Kambing Petapa. Sementara di belakang mereka, elang raksasa yang ditunggangi oleh Lin Mei dan Weng Ying Luan dan Raja Singa berjalan mengikuti.


Raja Singa ikut melepaskan Kekuatan Jiwa nya sehingga bagian belakang memiliki wilayah seluas satu kilometer tambahan.


Di atas elang raksasa, Weng Ying Luan dan Lin Mei memandangi sekeliling mereka. Tempat yang mereka lewati saat ini adalah sebuah daerah hutan yang cukup luas. Menurut peta yang didapat oleh Weng Ying Luan dari seorang 'penggemarnya', tempat mereka ini disebut Hitam Leluhur Ying.


Hutan ini adalah salah satu dari empat tempat sakral milik Keluarga Ying.

__ADS_1


Dikatakan bahwa leluhur dari Keluarga Ying berasal dari hutan ini. Seperti yang diketahui oleh banyak orang di Daratan Utama, leluhur Keluarga Ying adalah seekor Ular Putih Berkepala Sembilan yang berubah wujud menjadi manusia setelah mendapatkan Kitab Kelicikan, salah satu Kota Surgawi.


Pemimpin Keluarga Ying saat ini adalah tidak lain adalah keturunan langsung dari Ular Putih Berkepala Sembilan yang telah berubah menjadi manusia. Dia adalah seorang di Kaisar Jiwa puncak akhir yang juga mewarisi Kitab Kelicikan dari leluhurnya.


Secara mengejutkan, Kitab Kelicikan telah diturunkan generasi demi generasi di dalam Keluarga Ying sehingga setiap Kepala Keluarga yang baru akan menjadi pemiliknya, sampai Kepala Keluarga yang baru ditunjuk.


Tidak ada yang tau kenapa, namun hal ini sudah berlangsung selama ribuan tahun.


Hutan Leluhur Ying ini dulunya adalah sebuah hutan yang menjadi rumah dari spesies jutaan jenis ular. Ada tiga penguasa di dalam hutan itu dahulu, Ular Putih Berkepala Sembilan adalah salah satunya. Karena suatu kebetulan, dia mendapatkan Kitab Kelicikan yang menjadi milik seorang Praktisi Beladiri terkenal di masa lalu, namanya adalah Ying Canren. Dahulu dia membuat banyak sekali masalah di Daratan Utama.


Mulai dari membunuh seseorang, sampai membunuh semua anggota sebuah keluarga beladiri yang cukup terkenal di masa lalu seorang diri. Semua itu demi meningkatkan Tingkat Praktik nya menggunakan Kitab Kelicikan. Kejahatan terakhir yang dia buat sebelum menghilang dari dunia beladiri adalah memenggal kepala dari Kepala Keluarga Yang waktu itu. Setelah itu tidak ada kabar tentangnya.


Ada yang mengatakan bahwa dia mati karena luka-lukanya yang dia dapatkan saat bertarung dengan Kepala Keluarga Yang. Terkahir kali dia terlihat adalah di Hutan Leluhur Ying ini. Kemungkinan besar Ular Putih Berkepala Sembilan membunuhnya dan mengambil alih kepemilikan dari Kitab Kelicikan dari Ying Canren. Setelah dia berubah menjadi manusia, Ular Putih Berkepala Sembilan mengambil nama Ying She sebagai namanya. Entah itu karena dia menghormati Ying Canren, atau karena hal lainnya, tidak ada yang tau.


Satu-satunya yang pasti adalah, bahwa tidak pernah ada pengumuman kematian Ying She, sehingga orang-orang mulai membuat spekulasi bahwa Ying She sebenarnya masih hidup sampai sekarang dan menjadi pelindung dari Keluarga Ying. Sekarang, Hutan Leluhur Ying menjadi tempat yang dipakai oleh Keluarga Ying untuk melakukan Ujian Kemampuan Tingkat Tinggi.


Tujuan Ujian Kemampuan Tingkat Tinggi ini adalah untuk membuat garis darah keturunan Ular Putih Berkepala Sembilan dalam tubuh anggota muda Keluarga Ying terbangkitkan lebih jauh. Tentu bukan anggota muda dari kalangan anggota luar, namun dari anggota utama yang memang memiliki garis darah keturunan Ular Putih Berkepala Sembilan dengan persentase melebihi tujuh puluh persen dalam tubuh mereka.


"Di dekat sini harusnya adalah wilayah dari Naga Ular Hijau. Dia memiliki kekuatan setingkat Raja Jiwa, dan terkenal paling agresif diantara dua penguasa Hutan Leluhur Ying. Kemampuan kamuflasenya sangat hebat dan biasanya akan menyerang siapa saja yang berani masuk wilayahnya," jelas Weng Ying Luan sambil membaca gulungan peta di hadapannya.


Semua informasi ini didapat oleh Weng Ying Luan seorang diri.


Karena dia bergerak seorang diri, dia bisa dengan bebas memeriksa seisi kota sebelum kemudian menghancurkannya. Dia mendapatkan banyak buku-buku sejarah milik pemimpin kota yang merupakan anggota utama Keluarga Ying di tiap kota yang dia datangi.


Selain meratakan semua tempat-tempat penting milik Keluarga Ying, dia akan sibuk membaca buku sepanjang waktu. Dia terbang dari satu tempat ke tempat yang lain sambil membaca buku-buku yang didapatkannya.


Biasanya, Weng Ying Luan tidak akan mau membaca buku-buku sejarah seperti ini. Weng Lou yang akan melakukannya, bukan dia. Namun karena dia merasa bertanggung jawab selama tidak ada Weng Lou, dia memutuskan untuk membaca buku-buku ini.


Butuh usaha untuk meyakinkan dirinya sendiri untuk mulai membaca satu buku saja, tapi akhirnya dia merasa tertarik karena dia merasakan ketertarikan pada asal-usul Keluarga Ying yang adalah seekor Ular Putih Berkepala Sembilan.

__ADS_1


Semenjak dia bisa mengendalikan Raja Singa menggunakan kemampuan garis darah keturunan nya, dia penasaran dengan asal usul dirinya dan ibunya.


Dia merasa jika dia memberikan minat lebih pada masalah ini, dia akan bisa mengetahuinya dengan cepat.


Ketika Weng Ying Luan masih bercerita kepada Lin Mei, Kambing Petapa yang memimpin pasukan binatang buas tiba-tiba berhenti melangkahkan kakinya dan segera memasang posisi waspada.


Dia menoleh ke kanan dan kirinya, seolah mencari sesuatu.


"Naga lumut sialan, kami hanya ingin lewat! Kami tidak memiliki niat sama sekali untuk bertempur denganmu dan bawahan-bawahan mu!" seru Kambing Petapa.


Suaranya yang dibantu dengan Kekuatan Jiwa bergema di seluruh hutan. Riak tercipta di udara saat menerpa ke depan dan menabrak suatu pelindung transparan.


Pelindung itu perlahan menghilang dan memperlihatkan wujud seekor ular hijau besar, sangat amat besar. Panjang tubuhnya tidak kurang dari satu kilometer. Dua taring panjangnya menghiasai mulutnya yang sedang tertutup.


Jika dilihat sekilas, kepalanya tampak seperti seekor naga sungguhan, dengan dua tanduk di atas kepalanya.


Di bawah ular besar itu, terlihat ratusan ular hijau lainnya yang memiliki tubuh jauh lebih kecil. Namun tubuh mereka semuanya memiliki panjang puluhan dan bahkan ratusan meter.


"Sayang sekali, aku dan beberapa bawahanku memiliki niat untuk bertempur dengan kalian semua. Jadi tidak perlu berpikir untuk pergi dari tempat ini."


Suara ular raksasa itu bergema membalas ucapan Kambing Petapa. Semua ular di bawahnya berdesis dengan suara yang memekakkan telinga.


Kambing Petapa menelan ludah saat mendengar suara Naga Ular Hijau. Hanya dari pertukaran kata-kata dia bisa merasakan bahwa kekuatan Naga Ular Hijau ini jauh melebihinya yang baru memasuki tahap Raja Jiwa.


Kekuatan Naga Ular Hijau haruslah berada di tahap akhir Raja Jiwa, nyaris menjadi Kaisar Jiwa.


Ketika Kambing Petapa sedang mencari jawaban yang tepat untuk diberikan kepada Naga Ular Hijau, sebuah suara lain terdengar dari belakang pasukan binatang buas.


"Kau menginginkan pertempuran? Maka kau akan mendapatkannya!"

__ADS_1


Kambing Petapa tersedak ludahnya sendiri begitu mendengar suara itu. Itu tidak lain adalah suara orang paling dibencinya saat ini.


Weng Ying Luan!


__ADS_2