
Tidak jauh dari lembah tempat Perguruan Iblis Merah, sosok-sosok yang mengikuti kelompok Weng Lou sebelumnya saat ini sedang terdiam menatap peristiwa yang terjadi di hadapan mereka dengan mulut yang terbuka lebar.
"Ini....apakah aku sedang bermimpi?" ucap salah atau dari mereka. Dia mencubit dirinya sendiri dan memastikan bahwa ini bukanlah mimpi dan apa yang terjadi adalah kebenaran.
Dia kemudian menoleh ke samping dan melihat orang-orang yang datang bersamanya. Ekspresi wajah mereka juga terlihat terkejut dan seakan melihat kemunculan seekor monster.
"Apakah ini kehancuran bagi Perguruan Iblis Merah? Tidak kusangka akan berakhir seperti ini....." Wanita yang merupakan Praktisi Beladiri ranah Pembersihan Jiwa tahap 3 itu menghela napas panjang lalu kemudian dirinya seperti baru menyadari sesuatu.
"Sial! Cepat pergi dari sini!" Wanita itu dengan panik berbicara pada mereka semua yang bersamanya di situ dan buru-buru melompat mundur.
Bersamaan dengan peringatan yang diberikannya, sebuah kilatan cahaya terlihat melesat ke arah tempat mereka itu dan menghantam tanah dengan keras. Orang-orang yang tidak sempat mendengarkan peringatan dari wanita itu dengan telak ikut terkena ledakan dari hantaman sesuatu itu.
*Shuuuu!!!!* Kepulan debu naik ke udara. Beberapa orang yang berada paling dekat dengan tempat hantaman itu terpaksa terlempar mundur sementara sisanya hanya bisa mengandalkan Qi mereka untuk menciptakan sebuah pelindung untuk melindungi mereka dari ledakan hantaman tersebut.
Wanita yang sebelumnya kini berdiri dengan waspada dan menatap dengan serius tempat terjadi hantaman tersebut. Saat itu, sebuah sosok berjubah hitam dilempar dengan menyedihkan dari dalam kepulan debu dan mengenai sebuah pelindung Qi yang diciptakan oleh wanita tersebut. Mata wanita itu menatap sosok berjubah itu yang merupakan salah satu dari mereka.
Kepulan debu itu perlahan tertiup oleh angin dan menampilkan sebuah kubah yang memiliki kedalaman setengah meter dan sosok seorang pemuda yang berdiri dengan tegak di tengahnya. Sosok Weng Lou menatap dengan senyum lebar kepada mereka semua dan senyuman itu membuat semua yang ada di situ merasa kaku dan dalam bahaya.
'Aku harus kabur!' Tanpa berbasa-basi, wanita itu langsung berbalik dan melesat pergi sekuat tenaga dan meninggalkan lainnya jauh di belakang hanya dalam hitungan detik.
Akan tetapi, baru saja dia mencapai jarak dua ratus meter, sebuah sensasi dingin muncul di pundaknya. Wajahnya menoleh dan melihat Weng Lou yang berada di atasnya dengan kaki kanannya sudah bergerak hendak menendang pundaknya.
'Aku tidak boleh terkena tendangan ini, jika tidak aku akan dalam bahaya!' jeritnya dalam hati. Setengah dari Qi di dalam tubuhnya segera keluar dan menciptakan lapisan demi lapisan pelindung pada pundaknya yang akan terkena tendangan dari Weng Lou tersebut.
Namun apa yang diperkirakan oleh wanita itu salah besar, karena pada kenyataannya Weng Lou telah mengecoh nya. Tangan kanan Weng Lou terbuka dan dengan ringan dia menggenggam kepala wanita itu, lalu menghantamkannya ke atas tanah.
*Bruack!!!* Dengan kepalanya yang menghantam tanah seperti itu, wanita itu sudah kehilangan tenaganya dan langsung tak sadarkan diri. Terlihat darah mulai mengalir keluar dari luka di kepalanya karena hantaman itu.
"Aku sudah mengumpulkan kalian ke sini, jangan berpikir untuk pergi. Kalian merupakan bagian penting dari rencana ku," ucap Weng Lou seakan tidak peduli pada kondisi wanita tersebut dan menatap pada orang-orang lain yang datang bersama wanita itu.
Mereka semua saling pandang satu sama lain dan kemudian mengangguk. Sosok mereka semua segera berpencar dan pergi dengan cepat dari situ. Mereka yakin meski Weng Lou yang tampak seperti monster bertubuh anak-anak itu bisa membunuh mereka dengan mudah, namun tetap mustahil untuk mengejar mereka semua jika mereka berpencar seperti ini.
Pada dasarnya pemikiran mereka tidak salah, namun sayangnya Weng Lou tidak melakukan rencananya seorang diri. Saat ini, sosok bayangan besar melesat jauh lebih cepat dari Weng Lou dan menciptakan sebuah jalur yang menghancurkan pepohonan.
*Bam!* Sosok Kera Hitam Petarung menangkap dua sosok berjubah dalam satu gerakan tangan dan kemudian mulai melesat ke arah yang berbeda lalu menggerakkan tangan kirinya dan menangkap satu orang lain.
Weng Lou tidak hanya diam di tempatnya dan menonton, dia dengan satu langkah kakinya melesat sangat cepat ke arah lain dimana seorang pria botak dengan begitu gesitnya melewati pepohonan dan mencoba mengecoh Weng Lou yang sedang mengejarnya. Sayangnya usahanya itu bukanlah penghalang bagi Weng Lou sama sekali. Dengan satu pukulan, sebuah pohon dihempaskan dan menabrak pohon-pohon lainnya yang kemudian segera menutup jalur dari pria botak itu.
__ADS_1
"Ck! Sialan!!!" Pria itu meraung dengan frustasi dan menoleh ke belakang dimana Weng Lou sudah berjarak sepuluh meter saja darinya.
"Kau yang memaksaku!!!" Sebuah kertas yang memiliki beberapa pola pada salah satu bagiannya dikeluarkan oleh pria botak itu dan diarahkan pada Weng Lou.
Mata Weng Lou menyipit melihatnya dan detik berikutnya pola-pola pada kertas itu bercahaya terang dan kemudian sebuah kobaran api yang sangat besar muncul begitu saja. Kobaran api itu berwarna merah sedikit kehitaman dan mengeluarkan aura yang mencekam. Weng Lou tidak sempat untuk menghindar, kobaran api itu segera menyambar dirinya dan dia masuk ke dalam kobaran api tersebut.
Di dalam kobaran api itu, Weng Lou tampak tenang dan mengamati sekitarnya. Dia merasakan sensasi hangat pada kulitnya, namun selain itu tidak ada yang terjadi. Tidak ada yang terjadi padanya dan dia masih baik-baik saja. Bahkan dirinya sendiri agak sedikit bingung.
Pada dasarnya, Weng Lou masih bisa terluka jika terkena serangan-serangan dari Praktisi Beladiri di ranah Pembersihan Jiwa, namun dampak serangan yang mengenainya akan berkurang jika hanya menyerang pada satu titik karena daya tahan tubuhnya yang luar biasa. Serangan perubahan unsur api yang menyerang sekujur tubuh seperti ini seharusnya bisa memberikannya beberapa luka memar paling tidak, namun dia tidak merasakan apapun selain kulitnya yang sedikit terasa hangat.
Sebuah pola-pola berwarna hitam mendadak muncul pada sekujur tubuhnya dan warna-warna gelap pada api yang membakarnya terasa seperti sedang terhisap pada tubuhnya.
"Ini adalah.....kemampuan bawaan dari garis darah keturunan ku?" Weng Lou berbicara kebingungan. Pola-pola gelap pada tubuhnya itu seperti menjadi sebuah pelindung baginya dan pada saat yang sama, sensasi hangat yang dirasakannya perlahan kembali berubah menjadi panas saat warna gelap pada api yang menyelimutinya mulai menghilang karena terserap oleh pola pada tubuhnya.
"Kemampuan adaptasi dari elemen kegelapan, ini pasti ada hubungannya dengan asap-asap berwarna hitam yang bisa aku keluarkan waktu itu. Tapi kemampuan ini hanya berlaku pada serangan yang mengandung elemen unsur kegelapan saja, selain itu maka dampak serangan akan kurasakan seperti biasanya," ucapnya yang telah selesai memastikan kemampuan yang baru disadarinya itu.
Karena sensasi panas mulai dirasakannya, Weng Lou pun mulai bergerak keluar dari kobaran api sambil menatap tajam ke satu arah.
Di luar kobaran api, sosok pria botak yang sebelumnya mengeluarkan jimat berisi serangan api dan kegelapan itu sudah kembali pergi tanpa menunggu sama sekali. Kondisi hutan yang gelap dimanfaatkan olehnya sebaik mungkin dan dengan cepat dia sudah hampir tiba di pinggiran penghalang ilusi.
"Jimat itu aku beli untuk Hong Mugui, tidak kusangka malah kupakai untuk menghadapi monster mengerikan itu! Aku harus bisa pergi dari sini dan meninggalkan Pulau Gui." Pria botak itu terus melaju tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.
Jantung pria botak itu terasa seperti akan berhenti saat mendengar suara Weng Lou. dia hendak untuk pergi ke arah lain, namun tangan kanan Weng Lou sudah dengan cepat menarik belakang baju pria itu, dan membuatnya berhenti seketika. Meski begitu, dia tidak menyerah begitu saja dan hendak melepaskan bajunya agar bisa kabur, namun tangan kiri Weng Lou sudah bergerak dan memukul wajahnya dengan telak dan membuatnya tak sadarkan diri seketika itu juga.
***
Bangunan utama Perguruan Iblis Merah. Bangunan yang dibangun pertama kali ketika Perguruan Iblis Merah dibangun oleh Hong Mugui dan beberapa orang Tetua Utama.
Pada awalnya, bangunan ini difungsikan sebagai tempat berkumpulnya para anggota perguruan, dan seiring waktu bangunan ini pun dialih fungsikan menjadi tempat berkumpulnya para tetua saja dan orang yang berkepentingan untuk membahas seputar permasalahan yang dialami oleh perguruan.
Di lantai teratas bangunan ini, terdapat sebuah ruangan yang menjadi ruangan khusus milik Hong Mugui yang biasanya dia pakai untuk menyambut tamu-tamu penting seperti pemimpin dari organisasi-organisasi yang memiliki kekuatan Praktisi Beladiri di ranah Pembersihan Jiwa saja. Ruangan ini dibangun dengan beberapa bahan khusus yang mampu menahan serangan kekuatan Pembersihan Jiwa tahap 1 puncak dan memiliki beberapa barang berharga yang merupakan koleksi pribadi milik Hong Mugui.
*Pam.....* Weng Lou dengan tenang menjatuhkan dirinya ke lantai dan duduk bersila sambil menatap beberapa orang yang saat ini berada di depannya.
Hong Mugui, yang merupakan pemilik ruangan ini duduk dengan patuh di sudut ruangan dan diam menatap sosok Weng Lou.
Di hadapan Weng Lou, sosok Tetua Kedua, wanita yang memiliki kekuatan di ranah Pembersihan Jiwa tahap 3 dan beberapa orang yang sebelumnya ditangkap olehnya dan Kera Hitam Petarung saat ini duduk dalam diam dan menatap Weng Lou dengan perasaan takut sekaligus cemas.
__ADS_1
Tidak ada dari mereka yang memiliki kondisi yang baik ataupun tanpa luka kecuali Hong Mugui. Tetua kedua Perguruan Iblis Merah terlihat dipenuhi oleh luka dan tubuhnya ditutupi oleh darahnya sendiri, wanita yang kepalanya dihantamkan ke tanah oleh Weng Lou tampak seperti bermandikan darah, sementara orang-orang yang lain memiliki beberapa luka tapi tidak separah keduanya.
"A-Apa yang kau inginkan dari kami? Aku tidak peduli apa yang kau inginkan dari kami, tapi aku tidak akan diam saja jika kau berniat melakukan sesuatu pada Kelompok Tentara Bayaran ku....." Saat ini, seorang pria berambut keputihan namun memiliki tubuh kekar duduk dengan tubuh gemetar ketakutan saat berbicara kepada Weng Lou yang ada di depannya.
Mata Weng Lou menatapnya selama beberapa saat, sebelum dia pun tertawa dalam hatinya.
"Kau pikir apa yang akan kulakukan pada organisasi kecil seperti kalian? Tenang saja, aku ini bukan orang jahat yang tidak memiliki hati. Aku bertindak sesuai apa yang aku terima. Jika aku menerima hadiah dari seseorang, maka aku akan membalasnya dengan memberinya hadiah yang setara atau bahkan lebih, namun sebaliknya jika ada seseorang yang menyerang ku, aku tidak akan segan memberikan serangan balik yang bahkan jauh lebih besar," ucap Weng Lou dengan mempertahankan senyuman di wajahnya.
Senyuman itu tampak sangat menakutkan ditambahkan dengan omongan dari Weng Lou.
Tetua Kedua bernapas dengan tersengal-sengal dan mendecakkan lidahnya saat mendengar ucapan Weng Lou.
*Phui....* Dia meludahkan darah di depan Weng Lou dan menatapnya tanpa rasa takut, "Maka bunuh saja aku! Aku bukanlah pengecut yang akan memohon pengampunan dari m-"
*Bruack!!!*
Secara mengejutkan, Hong Mugui bergerak sangat cepat dari tempatnya duduk dan memukul perut Tetua Kedua hingga membuat napasnya menjadi sesak.
"Tutup mulutmu. Apa kau ingin semua anggota Perguruan Iblis Merah dibantai habis karena ulahku?" bisik Hong Mugui dengan suara dingin tepat di telinga Tetua Kedua.
"Ughh!!!" Tetua Kedua menatap kedua mata Hong Mugui dengan amarah namun dia segera menahan emosinya yang meledak-ledak itu dan menundukkan kepalanya.
Weng Lou mengangguk melihat itu, setidaknya dia tidak perlu lagi berbuat lebih jauh untuk menundukkannya. Meski Perguruan Iblis Merah adalah sebuah penyakit yang menyebabkan beberapa masalah di Kepulauan Huwa, tapi tenaga dan kekuatan mereka tetap akan berguna baginya itu sebabnya dia hanya menghajar Tetua Kedua saja, dan untuk anggota-anggota Perguruan Iblis Merah yang telah mati, itu seratus persen bukanlah kesalahan Weng Lou. Dia hanya menghindar, dan menghentikan serangan yang diberikan padanya.
Wanita yang memiliki kekuatan di ranah Pembersihan Jiwa tahap 3 kemudian menghela napasnya dan mulai berbicara, "Kalau begitu, apa yang mau kau lakukan kepada kami? Kami bahkan tidak menyerang mu sebelumnya, tapi kau sudah menghajar kami dan bahkan menangkap kami seperti ini."
"Tidak, kalian semua telah menyerang ku sebelumnya." Weng Lou segera membantah pernyataan wanita itu segera melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Kalian harus tau, memata-matai ku bahkan jauh lebih buruk dari menyerang ku. Kalian menempatkan diri kalian dan menggunakan sepasang mata kalian itu untuk melihat-lihat dan mengamati diriku. Jika seandainya aku tidak sekuat ini atau bahkan sedang terluka waktu itu, aku seratus persen yakin kalian akan menyerang ku," ujarnya sambil menunjukkan sebuah senyum yang bahkan lebih lebar dan jauh lebih menakutkan.
Wanita yang berbicara dengan Weng Lou sampai tersedak napasnya sendiri dan segera menahan napasnya begitu merasakan aura membunuh yang sangat besar dari diri Weng Lou.
Dia belum pernah merasakan aura membunuh sebanyak ini sebelumnya. Aura membunuh yang bahkan bisa menekan dirinya seperti ini, dia hanya pernah memimpikan hal itu tanpa merasakannya secara nyata. Dan teror yang diberikannya benar-benar membuat rasa percaya dirinya seketika itu juga menjadi ciut.
Seorang anak yang berusia di bawah dua puluh tahun, namun sudah memiliki aura membunuh yang begitu mengerikan, dia hanya bisa membayangkan betapa banyaknya nyawa yang sudah direnggut oleh kedua tangan Weng Lou.
"Satu-satunya alasan aku tidak membunuh kalian dan malah membawa kalian ke sini adalah karena aku membutuhkan kalian semua agar rencana ku terlaksana." Weng Lou kembali berbicara dan kemudian bangkit berdiri.
__ADS_1
Kakinya melangkah dan dia pun berjalan ke jendela yang menghadap ke timur di ruangan tersebut. Tatapannya itu seakan bisa melihat sesuatu yang berada ribuan kilometer jauhnya.
Dia kemudian berbalik dan menampilkan tatapan yang mengandung misteri, "Aku ingin kalian semua mengaku setia kepadaku dan menjadi bawahan ku. Aku ingin menjadi penguasa atas Kepulauan Huwa ini, dan kalian akan membantuku mengurusnya."