
Tidak seperti kota 7 yang berada di tengah-tengah rawa, kota 4 dan 5 berada di sekitar lereng pegunungan yang saling bersebelahan.
Jarak keduanya dengan Kota 3 hanya sekitar sepuluh kilometer, sehingga membuat kelompok Weng Lou dapat sampai dengan cepat.
Kota pertama yang didatangi oleh keduanya adalah Kota 4 yang memang berada di balik pegunungan yang menghadap ke arah.
Weng Lou tetap diam duduk bersama dengan Du Zhe di atas tubuh si Kera Hitam Petarung, sementara hujan anak panah mengarah pada mereka.
Sebuah pelindung langsung tercipta ketika ratusan anak panah itu akan mengenai mereka berdua, sementara Kera Hitam Petarung hanya diam di tempatnya tanpa mengkhawatirkan sedikit pun panah-panah yang mengenainya.
Dia merupakan seekor binatang buas yang memiliki kekuatan yang berada di ranah Penyatuan Jiwa, senjata biasa bahkan tidak akan terasa sama sekali baginya. Bahkan senjata tingkat 2 hanya akan sedikit membuat lecet pada kulitnya jika ditambahkan dengan Qi sekalipun.
"Lumpuhkan semua prajurit, jangan bunuh mereka. Aku akan memutuskan apa yang akan aku lakukan pada mereka setelah mendapatkan informasi dari para budak," ucap Weng Lou pada Kera Hitam Petarung.
Dia dan Du Zhe pergi meninggalkan kera itu sendiri bersama para prajurit yang mengepungnya. Karena itu adalah perintah dari Weng Lou, kera itu hanya bisa mengiyakan dan melakukan seperti yang diperintahkan padanya.
Weng Lou bersama Du Zhe kemudian pergi ke tempat para budak berada.
Seperti biasa, Weng Lou tersenyum pada mereka semua lalu bertanya apakah mereka ingin tunduk padanya atau tidak. Bagi mereka yang tidak mau dan malah melakukan perlawanan padanya, langsung Weng Lou lumpuhkan dan pisahkan dari budak yang lain. Dia tidak membutuhkan mereka yang tidak mau patuh padanya, terlebih yang melawannya.
Jika hanya tidka mau tunduk, maka dia akan langsung melepaskannya, tapi berbeda dengan melawannya. Jika ada sebuah bibit perlawanan diantara kelompok yang kau pimpin, maka sebaiknya singkirkan sebelum tumbuh menjadi sebuah pohon yang akan sulit ditebang nantinya.
Meski begitu, mau seberapa besar pohonnya nantinya, Weng Lou bisa dengan mudah memotongnya. Dia bukan lagi Weng Lou yang lemah seperti dulu, sehingga tidak akan memikirkan terlalu jauh masalah seperti ini. Tapi dia tetap harus membuat sebuah pencegahan, agar dia tidak perlu repot-repot melakukan pekerjaan yang dihasilkan dari perlawanan budak-budak ini.
Hanya beberapa menit kemudian, Weng Lou telah selesai membagi para budak menjadi tiga kelompok.
Yang pertama adalah yang mau tunduk padanya dan mengakuinya sebagai pemimpin yang baru, yang kedua adalah mereka yang tidak mau tunduk dan memilih untuk bebas, sementara kelompok lainnya adalah mereka yang menolak sekaligus melakukan perlawanan padanya.
Mereka yang tidak mau tunduk, Weng Lou berikan kesempatan untuk keluar dari kota, tapi kemudian ternyata tidak ada satupun yang mau melakukan itu, sehingga pada akhirnya mereka memilih untuk tunduk pada Weng Lou.
Untuk mereka yang melakukan perlawanan, Weng Lou menggabungkan mereka dengan para prajurit yang telah dilumpuhkan oleh si kera dalam kurung waktu tidak sampai lima menit.
Jumlah prajurit di kota ini hanyalah dua ratus lima puluh orang, dan kebanyakan mereka hanya berada di Dasar Pondasi tingkat 1 sampai 2. Bahkan tanpa mengeluarkan usaha sedikitpun, Kera Hitam Petarung sudah menumbangkan mereka semua.
"Kalian semua, aku minta maaf, tapi aku membutuhkan banyak aura membunuh dari kalian, jadi semoga kalian mati dalam keadaan tenang."
Ucapan Weng Lou itu bagai sebuah pedang tajam yang langsung menusuk jantung para prajurit dan budak yang melawannya sebelumnya.
Mereka semua berencana kabur, tapi kemudian Pisau Pencabut Nyawa bergerak dengan sangat cepat melewati mereka semua. Detik berikutnya, semua prajurit terjatuh ke tanah dalam kondisi tak bernyawa, begitu juga dengan para budak yang bersama mereka.
Sebuah lubang terlihat pada dada dan kepala mereka karena dilewati oleh Pisau Pencabut Nyawa milik Weng Lou.
Setelah membunuh mereka semua, Weng Lou bisa merasakan bahwa aura kemerahan menjalar masuk ke dalam tubuhnya. Itu adalah aura membunuh yang berada dari semua tubuh para prajurit dan budak yang dia bunuh.
Jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan ketika dia membunuh para prajurit di Kota 7 sebelumnya. Yang membuktikan bahwa mereka semua telah banyak melakukan pembunuhan sebelumnya, entah itu membunuh binatang buas atau manusia sekalipun.
"Baiklah tugas kita di sini sudah selesai, ayo kita datangi pemimpin mereka," ucap Weng Lou seperti tanpa beban lalu pergi ke satu arah dimana terdapat sebuah bangunan berukuran cukup besar di pinggiran kota.
Dia tidak menyadari wajah pucat Du Zhe yang ada di sampingnya saat ini setelah melihat Weng Lou yang menghabisi para budak prajurit sebelumnya.
__ADS_1
Glek.....
Du Zhe menelan ludahnya, dan segera pergi mengikuti Weng Lou.
Tubuh para prajurit yang telah tan bernyawa ditinggalkan oleh mereka begitu saja, sementara para budak lain yang telah menonton dari kejauhan mengucurkan keringat dingin pada seluruh tubuh mereka.
Weng Lou menemukan pemimpin para prajurit sedang bersembunyi di ruangan bawah tanah yang ada di bangunan markasnya, dan memaksanya untuk mengatakan semua informasi yang dia tau mengenai para Praktisi Beladiri yang ada di Pulau Fanrong.
Siapa yang terkuat, dan apakah ada kelompok Praktisi Beladiri lain selain Perguruan Iblis Merah. Semua Itu ditanyakan oleh Weng Lou kepada pemimpin prajurit Kota 4 itu yang kemudian dengan cepat dia mendapatkan jawaban darinya.
Sayangnya, setelah mendapatkan jawaban, Weng Lou merasa kecewa karena semua yang dikatakan olehnya telah dia dengar dari Biantai di Kota 7, serta informasi pemberian dari Wuyong yang ada di gulungan kertas yang kini berada di tangan Du Zhe.
Weng Lou mengakhiri pertanyaannya dengan membunuh pemimpin prajurit itu, dan mendapatkan aura membunuh yang cukup banyak.
Du Zhe melihat semua itu dalam diam. Dia pernah mendengar bahwa jalan beladiri adalah jalan yang penuh dengan darah. Hari ini dia telah melihat bahwa perkataan itu adalah kebenaran yang bahkan jauh lebih mengerikan dari pikirannya sebelumnya.
Mereka, Weng Lou dan Du Zhe pun keluar dari bangunan markas itu, lalu kembali pada para budak yang telah mau tunduk padanya.
"Baiklah, aku tidak akan berlama-lama di sini, tapi yang pasti aku melepaskan status budak pada kalian semua, dengan beberapa syarat, kalian dilarang pergi dari kota ini selain untuk memenuhi kebutuhan seperti makanan dan minum kalian semua.
Kalian bebas menggunakan senjata apa saja yang ada di sini untuk berburu, tapi tidak boleh untuk saling melukai, apalagi saling membunuh satu sama lain. Jika ada yang melanggar apa yang aku katakan, jangan salahkan aku jika aku juga membunuh kalian seperti para prajurit di sana," jelas Weng Lou pada mereka semua sambil menunjuk ke arah para prajurit yang telah tak bernyawa lagi di tanah.
Glek.
Mereka semua pun segera mengangguk dengan cepat mengiyakan.
"Bagus, kalau begitu aku akan pergi terlebih dahulu. Ah benar, jangan lupa kubur semua tubuh prajurit itu, atau jika tidak mau kelelahan, kalian bisa membakar tubuh mereka semua setelah mengambil peralatan mereka," lanjut Weng Lou.
Weng Lou melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan pada Kota 4, tapi bedanya dia tidak menghabisi semua prajurit yang ada melainkan hanya membunuh kurang lebih 3/4 nya saja dan tidak membunuh mereka yang menyerah sedari awal kemunculannya.
Tidak perlu waktu lama Weng Lou memilah para budak yang ada dan memberikan kebebasan mereka memilih seperti para mantan budak di Kota 4. Hasilnya, semuanya mau berada di bawah perintah Weng Lou d an tidak ada satu budak pun yang dibunuhnya.
Dia juga tidak mendapatkan informasi yang berguna dari pemimpin prajurit di kota itu, sehingga memilih untuk membunuh nya saja karena pemimpin prajurit itu telah berani berusaha membunuhnya dengan memasukkan racun pada teh yang dihidangkannya pada Weng Lou.
Sebelum Weng Lou berangkat pergi dari Kota 5, dia membuat beberapa pengaturan pada kota itu, lalu kembali berangkat pergi menuju kota selanjutnya yaitu Kota 6.
Hanya sekitar dua puluh menit, Weng Lou menghabiskan waktunya di kota 4 dan kota 5. Sebuah prestasi yang sangat memukau jika diketahui oleh orang-orang yang berada di Pulau Pasir Hitam.
***
Sore hari, di sebuah lembah yang terdapat padang rumput yang luas, sebuah kota yang berukuran cukup besar berdiri di tengah-tengahnya.
Kota ini adalah Kota 1, kota dengan ukuran dan keamanan tertinggi kedua di wilayah kumuh Pulau Fanrong ini, dengan yang pertama diduduki oleh Kota Heishin.
Biasanya, Kota 1 ini selalu sibuk dengan berbagai macam kegiatan pekerjaan para budak.
Pekerjaan budak di Kota 1 ini bisa dibilang merupakan yang paling berat diantara sepuluh kota lainnya di wilayah kumuh, yaitu menambang mineral yang berada pada dekat kolam lava yang ada di beberapa meter di bawah tanah.
Ada juga beberapa pekerjaan lainnya seperti bertani, dan berternak yang dilakukan di luar kota.
__ADS_1
Wilayah nya yang sangat strategis membuat Kaisar secara pribadi meminta untuk memaksimalkan pekerjaan yang dapat dilakukan di Kota 1 ini oleh para budak. Bahkan meski para budak yang ada tidak memenuhi jumlah yang dibutuhkan untuk melakukan semua pekerjaan itu, kaisar tidak peduli sedikit pun.
Selama penghasilan yang didapatkan semakin bertambah, Kaisar tidak peduli apakah 0ara budak mati, sekarat atau sakit. Budak sudah selayaknya diperlakukan seperti budak pada umumnya.
Budak ada untuk bekerja dan memenuhi keinginan tuannya, itulah kata-kata yang selalu dipegang teguh oleh sang kaisar dan para bawahan yang menyatakan setia kepadanya.
Namun, kota yang seharusnya sedang sibuk-sibuknya oleh segala macam pekerjaan yang dilakukan oleh para budak, kini tampak sangat sepi, dengan asap yang mengepul di dalam kota.
Pada saat ini, tembok besar yang menjadi batas Kota 1, kini telah rubuh di bagian gerbang depannya.
Di dalam kota, Kera Hitam Petarung yang telah menjadi binatang tunggangan Weng Lou sedang duduk santai di dekat tumpukan mayat para prajurit kota.
Bukan kera itu yang membunuh mereka semua.
Pada bagian kepala mereka, sebuah lubang berbentuk memanjang terdapat pada kepala dan dada mereka semua, yang tidak lain disebabkan oleh Pisau Pencabut Nyawa milik Weng Lou.
Pada atap sebuah bangunan, Weng Lou berdiri di samping tubuh seorang pria yang kini telah terbujur kaku tak bernyawa, dengan sebuah lubang besar terdapat pada dadanya.
Weng Lou menatap ke bawah, dimana terdapat ratusan budak yang berdiri menatapnya dengan tatapan kosong. Tatapan mereka semua seperti tidak memiliki kehidupan di dalamnya.
Bahkan Du Zhe yang berada di dekat mereka merasa sedikit takut dan ngeri melihat mata dengan tatapan kosong mereka semua.
"Sepertinya mereka telah melewati berbagai macam penyiksaan selama ini. Tatapan kosong mereka menunjukkan bahwa mereka sudah lama tidak mengharapkan lagi pertolongan seseorang.
Kehidupan mereka pasti sangat berat di sini. Mental mereka benar-benar dibuat rusak karena kelelahan bekerja," ucap Ye Lao yang terdengar seperti sedang mendengus.
Dia merupakan salah satu Absolute yang sangat menjunjung tinggi keadilan ketika dia masih berkuasa dulu. Sistem perbudakan sama sekali tidak ada diterapkan pada satupun dimensi miliknya.
Ketika ada di dalam dimensi ciptaannya, salah satu orang saja yang menerapkan sistem perbudakan ini, maka dia akan langsung menghancurkan dimensi itu tanpa berkedip sedikitpun.
Ya meski sebenarnya dia sudah mulai tidak peduli lagi dengan hal itu lagi semenjak kalah dari Zhi Juan dan berakhir bersama Weng Lou sepanjang waktu.
"Yaa...aku baru kali ini melihat tatapan seperti itu, menurut mu apa yang harus aku lakukan?" tanya Weng Lou.
"Aku biasanya akan memperbaiki mental mereka sewaktu masih seorang Absolute. Tapi dengan kekuatan ku sekarang, mustahil melakukanya. Coba kau bebricara dengan menggunakan kekuatan jiwa mu, suara mu akan bisa terdengar langsung ke dalam diri mereka semua meski aku kurang tau bagaimana reaksi mereka nantinya," balas Ye Lao cepat.
Weng Lou mengangguk, dia kemudian menarik napasnya, dan mulai kembali berbicara dengan bantuan kekuatan jiwanya.
"Halo, semuanya. Aku adalah pemimpin baru kalian! Aku telah membunuh semua prajurit yang ada di kota ini, jadi kalian tidak perlu lagi melakukan pekerjaan kalian sebagai seorang budak! Sekarang kalian telah bebas dari status budak kalian!" seru Weng Lou.
Semua budak yang ada di seluruh kota bisa mendengarkan suara Weng Lou dengan sangat jelas. Suaranya menggema di dalam kepala mereka semua.
Beberapa detik berlalu, tidak ada reaksi dari satupun diantara mereka. Sepertinya mental mereka sudah hancur melebihi perkiraan Ye Lao.
Di saat Weng Lou dan Ye Lao menunggu reaksi para budak, dari salah satu gang, seorang remaja laki-laki yang terlihat berusia dua belas tahun bergegas berlari ke arah dimana Weng Lou berada.
Ketika dia sampai, dia mengangkat kepalanya dan menatap Weng Lou sambil dengan napas yang masih tersengal-sengal.
"Apa....APA YANG KAU KATAKAN BENAR?!" tanyanya dengan sambil sedikit berteriak.
__ADS_1
Sebelah alis Weng Lou terangkat dan dia tersenyum, sepertinya tidak semua orang yang mentalnya rusak di kota ini.