
Anggota kelompok Weng Lou mendengarkan dengan baik-baik penjelasan dari Weng Lou.
Mereka setuju dengan pendapat Weng Lou, bahwa Yang Guang memiliki kekuatan yang cukup kuat untuk membuat mereka mewaspadainya.
Pasalnya, hanya Yang Guang yang sejauh ini belum mereka liat bertarung dengan cukup serius dan menggunakan teknik beladiri yang dia miliki, sehingga bayang-bayang akan teknik dan kemampuan yang dia miliki sama sekali tidak bisa mereka tebak.
"Lalu, apa saranmu untuk menghadapi nya?" Lin Mei bertanya pada Weng Lou.
Weng Lou diam sejenak, dan kemudian menghela napasnya.
"Sayangnya karena kekuatan, kemampuan, dan teknik beladiri yang dia miliki masih abu-abu, aku hanya bisa menyarankan untuk bertarung dengan serius sejak awal jika kalian menghadapinya. Ya aku tau cara ini juga tidak cukup, tapi setidaknya kalian akan sedikit siap nantinya," jawab Weng Lou yang tersenyum masam.
Di sisi lain, teman-temannya hanya diam tanpa membenarkan atau menyalahkan saran dari Weng Lou. Mereka sendiri tidak memiliki solusi yang jauh lebih baik daripada milik Weng Lou, sehingga mereka lebih memilih untuk tidak berkomentar sama sekali.
"Baiklah, aku rasa itu saja yang ingin aku katakan. Oh ya, ada satu lagi...... Mari kita bertarung dengan seluruh kekuatan kita, dan siapapun yang akan menang dan lanjut ke babak final nantinya, kita semua tetap akan menjadi teman."
Weng Lou mengepalkan tangan kanannya dan mengangkatnya ke depan. Dia tersenyum dan menatap satu persatu teman-temannya itu.
Teman-temannya ikut tersenyum melihat itu, mereka pun ikut mengangkat kepalan tangan kanan mereka, dan mendekatkan nya dengan Weng Lou.
"Ya, tentu saja," ucap Weng Ying Luan yang juga tersenyum lebar.
"Kita sampai kapanpun adalah teman." Weng Ning ikut berbicara.
"Selamanya kita akan berteman," kata Weng Hua.
"Em.... kita akan selalu berteman."
"Hahaha.... tidak peduli di manapun kita berada, kita semua adalah.... teman."
__ADS_1
Weng Lou melihat empat tangan temannya itu, lalu kemudian menoleh dan menatap ke arah Shan Hu yang hanya diam berdiri di belakang mereka semua.
"Kau juga, Shan Hu. Kau sudah bukan sekedar budak ku lagi, kita semua yang ada di sini, adalah teman," ucap Weng Lou pada Shan Hu.
Shan Hu terdiam mendengar ucapan Weng Lou, dan kemudian menatap tangan Weng Lou dan yang lainnya selama beberapa saat, sebelum akhirnya dia pun melangkah maju dan ikut memberikan tinjunya.
Tepat setelah Shan Hu memberikan tinjunya, sosok Zu Zhang kembali muncul di dalam kubah pembatas ciptaannya.
"Oke semuanya, waktu istirahat telah berakhir! Persiapkan diri kalian semua, kita akan masuk dalam tahap kedua babak semifinal!"
Zu Zhang dengan bersemangat berseru kepada semua orang yang ada di seluruh Bangunan Arena Pertandingan.
Dia kemudian menjentikkan jarinya, dan kubah pembatas ciptaannya pun menghilang, lenyap begitu saja.
"Pada tahap kedua ini, kalian, 10 peserta yang telah lolos pada tahap pertama akan berduel tanpa pembatas seperti sebelumnya. Tidak ada batasan sama sekali bagi kalian untuk bertarung, kalian bebas menggunakan seluruh lapangan arena sebagai tempat pertarungan kalian.
Selama kalian tidak keluar dari lapangan, maka kalian tidak akan didiskualifikasi. Oh ya, benar. Untuk ketinggian di langit memiliki batasan, yaitu sampai setinggi atap bangunan Arena Pertandingan ini.
Dengan gerakan cepat, Shan Hu mengibaskan tangannya ke atas, dan dua nama peserta pun muncul di atas arena.
"Yah....aku memang sudah menduga keduanya akan saling bertarung di tahap kedua ini, tapi siapa yang sangka keduanya justru bertarung paling pertama." Weng Lou tersenyum melihat dua nama di atas arena.
Lin Mei dan Weng Ning saling bertatapan satu sama lain, dan keduanya pun tersenyum bersama. Dua nama peserta yang akan bertarung pertama kali di tahap kedua babak semifinal ini, tidak lain adalah Lin Mei dan Weng Ning.
"Semoga beruntung," ucap Lin Mei kepada Weng Ning.
"Kau juga," balas Weng Ning.
Mereka kemudian berjalan maju dan sama-sama ke tengah lapangan dimana Zu Zhang berada saat ini.
__ADS_1
Zu Zhang menatap mereka berdua yang berjalan ke arahnya, lalu kemudian membuka mulutnya.
"Kalian bebas ingin bertarung dari mana, tidak perlu menanyakan arahan dariku, aku hanya bertugas memulai pertarungan kalian berdua saja," ucap Zu Zhang pada merkea berdua yang bahkan belum menyampai dirinya.
"Dan untuk kalian peserta yang belum bertarung, silahkan pergi ke tempat duduk yang sudah aku siapkan khusus untuk kalian semua." Zu Zhang menunjuk ke arah atas tempat duduk para penonton, dimana terlihat sepuluh kursi kosong yang melayang di atas para penonton yang sedang duduk di tempat duduk mereka.
Weng Lou dan para peserta yang lain segera menatap kursi-kursi tersebut, sebelum kemudian mereka semua pun segera bergerak ke arah kursi-kursi itu berada
Tak berapa lama, di lapangan arena hanya tersisa Weng Ning, Lin Mei dan Zu Zhang saja. Zu Zhang kembali menatap Lin Mei dan Weng Ning yang sudah mengambil tempat mereka masing-masing, yaitu di tengah lapangan arena dengan mengambil jarak lima puluh meter masing-masing.
Melihat keduanya yang sudah siap untuk bertarung, Zu Zhang pun berniat untuk memulai pertarungan keduanya, namun tepat sebelum dia melakukan itu, Lin Mei melakukan sesuatu yang tak terduga sama sekali.
Dengan santainya dia membuka topeng miliknya yang mana membuat wajahnya terlihat oleh semua orang yang sedang menonton.
Wajahnya yang terdapat bekas luka tersebut membuat para penonton menjadi terkejut sekaligus merasa kecewa.
Sebelumnya, mereka semua berpikir Lin Mei adalah wanita yang sangat cantik, bahkan jauh lebih cantik dibandingkan dengan Weng Ning yang merupakan peserta tercantik di Turnamen Beladiri Bebas ini, menurut para penonton.
Tapi siapa sangka, pada wajah Lin Mei justru terdapat sebuah luka yang mana memiliki ukuran cukup besar hingga benar-benar merusak citra cantiknya saat mengenakan topengnya.
Namun meski begitu, Lin Mei tampak tidak terganggu sama sekali, dia bahkan terlihat tersenyum bahagia bisa melepas topeng yang telah dia kenakan terus menerus tersebut.
Di sisi lain, Weng Ning yang melihat itu tidak terkejut sama sekali. Lin Mei sudah memperlihatkan wajahnya itu padanya jauh sebelum Turnamen Beladiri Bebas ini dimulai. Jujur saja, dia justru merasa simpati terhadap Lin Mei, karena wajah merupakan aset terpenting bagi seorang wanita seperti mereka.
Tidak berhenti hanya dengan melepaskan topengnya, Lin Mei kemudian melepaskan baju luarnya, dan membuatnya hanya mengenakan baju tanpa lengan saja.
Weng Lou dan Weng Ying Luan yang sudah berada pada tempat duduk mereka melihat tindakan Weng Ying Luan itu dengan cukup terkejut. Mereka tidak terkejut dengan Lin Mei yang melepaskan topengnya, namun karena dia melepaskan baju luarnya.
Keduanya paham apa arti dari tindakan Lin Mei itu, yaitu dia akan bertarung dengan serius.
__ADS_1
Sementara itu, Weng Ning menanggapi tindakan Lin Mei itu dengan melipat lengan pakaiannya hingga mencapai setengahnya saja.
Merkea berdua sama-sama akan bertarung dengan serius, untuk melihat siapa yang terbaik diantara mereka, bukan untuk bisa lolos ke babak final.