Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 484. Pertarungan Penentuan, Ying She Melawan Weng Lou


__ADS_3

Beberapa waktu berselang dan telah banyak yang terjadi di dalam babak final Turnamen Beladiri Bebas.


Di selatan arena, tempat Weng Ying Luan dan Yang Guang berada.


Terlihat bukit tempat mereka sebelumnya memulai pertarungan kini telah hancur seluruhnya. Tubuh Kera Hitam Petarung tergelatak dalam kondisi lemah di sungai, sementara sekitarnya juga telah hancur lebur karena pertarungan.


Sementara itu, di atas langit terlihat sosok Weng Ying Luan dengan sebuah sayap hitam legam di punggung kanannya, melayang di atas udara dan menghadap ke arah sosok seorang pemuda yang terkapar di tengah kawah besar di tanah.


Sosok pemuda itu tidak lain adalah Yang Guang. Terlihat sekujur tubuhnya dipenuhi dengan luka, bahkan pada wajahnya terdapat sebuah luka sayatan yang menggores mulai dari dagu hingga alis mata kanannya.


Yang Guang menatap Weng Ying Luan dengan senyuman lebar, meski saat ini kondisinya sedang sangat dalam kondisi buruk.


"Khokkk....uhuk! Uhuk! Uhuk!!!"


Dia terbatuk keras dan memuntahkan darah dalam jumlah cukup banyak lalu menghela napasnya.


"Sebuah pertarungan yang hebat, huh?"


Napasnya tersengal-sengal dan perlahan pandangan dirinya menjadi semakin pudar.


"Tentu saja! Kau bahkan memaksaku untuk memakai kekuatan garis darah keturunan milikku, padahal aku belum pernah memakainya semenjak diangkat menjadi anak dari ayah angkatku. Aku akui, kau lawan terkuat yang pernah aku lawan sejauh ini!" Weng Ying Luan berbicara dengan penuh rasa kebanggaan pada dirinya.


Sayap pada punggung kanannya terkepak, dan dia menundukkan badannya. Weng Ying Luan pun terbang turun lalu mendarat tepat di samping Yang Guang berada.


Tap....


"Garis darahmu......jelas sekali itu bukan sembarang garis darah..." ucap Yang Guang dengan suara lemah.


"Tidak perlu membahasnya lagi, aku akan segera pergi dari sini. Terima kasih sudah menemani ku bertarung," balas Weng Ying Luan.


Dia pun melemparkan sebuah pil ke dalam mulut Yang Guang yang kemudian langsung ditelan begitu saja olehnya.


Glekk...


"Kau tidak akan menanyakan sesuatu?" Weng Ying Luan bertanya pada Yang Guang.


"Bertanya tentang apa?"


"Yah...kau tau, seperti apakah pil itu beracun atau tidak..."


"Hahaha....kau tidak akan melakukannya," kata Yang Guang sambil tertawa dengan lemah.


"Kau benar, aku tidak akan melakukannya."


Diam selama beberapa saat, Weng Ying Luan pun kemudian pergi berjalan meninggalkan sosok Yang Guang sendiri di tempat itu.

__ADS_1


Yang Guang hanya menatap punggung Weng Ying Luan yang pergi dalam diam kemudian tersenyum tipis.


"Haahhh.... baiklah. Kurasa ini juga waktu yang bagus untuk menyerah...."


Seusai dia mengatakan itu, tubuh Yang Guang secara mendadak langsung dipindahkan ke ruang perawatan. Matanya sedikit membelalak karena hal itu, dia menoleh ke kanan dan kiri, menemukan dirinya telah berada di atas sebuah tempat tidur kosong.


"Jadi seperti ini yah rasanya berada di ruang perawatan, tidak buruk juga." Yang Guang pun memejamkan matanya, dan menikmati waktu istirahatnya.


Kembali di atas arena, terlihat Weng Ying Luan berjalan ke arah Kera Hitam Petarung sebelumnya berada. Dengan santai dia melompat dan mendarat di atas tubuh kera tersebut.


Weng Ying Luan memperhatikan kondisi kera itu. Dia tersenyum dan mengelus dagunya sejenak, lalu menjentikkan jarinya, menemukan sebuah ide.


Dari tangan kanannya, Qi mulai berkumpul, lalu kemudian menjalar ke seluruh tubuh kera itu. Tubuh kera itu mendadak terangkat ke atas melayang di udara. Dia kemudian menggerak-gerakkan tangannya, dan tubuh kera itu pun melesat menuju ke arah utara.


Mereka bergerak menuju ke tengah arena, dimana itu merupakan titik pertemuan kembali kelompok mereka.


***


Sementara itu di tempat Lin Mei berada saat ini.


Terlihat dua ekor binatang buas yang sebelumnya saling bertarung sama lain, kini telah tunduk hormat dihadapan Lin Mei yang berdiri dihadapan mereka berdua dalam wujud yang diselimuti oleh api Phoenix miliknya.


"Haaa.....tau begini, lebih baik aku melakukannya saja sedari awal," ucap Lin Mei yang dengan malas menatap ke arah gajah berambut lebat, dan juga rusa raksasa yang memiliki tanduk sangat besar di kepalanya.


Kedua tubuh binatang buas itu terlihat bergetar hebat sambil menunduk di hadapan Lin Mei. Terlihat keduanya sama sekali tidak berani mengangkat kepala mereka karena benar-benar ketakutan saat ini.


"Sungguh garis darah yang sangat murni! Gadis ini benar-benar adalah penggambaran dari Phoenix yang sesungguhnya! Betapa beruntungnya dirinya!"


Rusa raksasa di sisi lain, malah memuji diri Lin Mei yang tampak sangat mempesona di depan matanya.


Lin Mei memandang satu persatu kedua binatang buas itu, lalu kemudian membalik badannya.


"Pertarungan kalian benar-benar telah membuang waktu ku, ayo segera pergi ke tengah arena." Lin Mei berbicara santai dan kedua binatang buas itu segera mengangkat kepalanya, dan berjalan sesuai dengan arahan dari Lin Mei.


Lin Mei melompat naik ke atas tubuh si rusa dan ketiganya pun mengarah ke tengah arena.


***


Di wilayah timur, dimana Weng Lou, Ying She dan si ular raksasa berada.


Weng Lou telah sampai di tempat Ying She dan si ular berada saat ini. Keduanya pun saling tatap satu sama lain sementara ular raksasa yang ditunggangi oleh Ying She hanya menatap Weng Lou dengan dingin dan mendesis kan lidahnya.


"Kuharap kau tidak akan memilih menyerah lagi seperti kemarin." Ying She bebricara kepada Weng Lou.


"Tentu tidak. Aku sudah cukup bosan hanya menerima kemenangan dengan sangat mudah beberapa kali hari ini secara terus menerus. Kedatanganku ke sini jelas untuk bertarung melawan mu dengan segenap kekuatan ku," balas Weng Lou yang mengangkat kedua bahunya.

__ADS_1


Ying She mendengus mendengar perkataan Weng Lou, dan dia pun melompat turun dari kepala ular yang dinaikinya, lalu mendarat sekitar beberapa meter dari hadapan Weng Lou.


Tangannya terkepal, dan dia mulai mengaliri Qi pada kedua tangannya. Melihat itu, Weng Lou juga melakukan hal yang sama lalu memasang kuda-kudanya.


Beberapa saat kemudian, keduanya sama-sama melesat maju.


Mereka berdua dalam hitungan detik telah tiba di hadapan satu sama lain dan memberikan tinju mereka.


PAAMMM!!!!


Benturan pun terjadi, keduanya segera menarik kembali tangan mereka itu, dan bersamaan melayangkan tendangan lurus ke satu sama lain.


Tendangan mereka pun saling bentrok, dan keduanya segera memberikan serangan lainnya.


Weng Lou dengan lincah memberikan serangan tapaknya kepada Ying She, namun kemudian Ying She segera menyambut semua serangan yang datang padanya dan menangkisnya. Tidak lupa dia memberikan serangan balasan yang juga dengan cepat ditangkis balik oleh Weng Lou.


Keduanya saling memberikan serangan satu sama lain selama beberapa saat, sampai kemudian sudut mata Weng Lou pun menangkap sebuah celah dari pertahanan Ying She, dan langsung melayangkan serangannya.


Tapak di tangan kanannya mengeluarkan warna perak, dan dia pun langsung mendaratkan tapak miliknya pada dada kiri Ying She.


Tubuh Ying She segera terdorong mundur dan darah langsung keluar dari mulutnya.


Akan tetapi, dia tidak langsung kalah begitu saja dari Weng Lou. Serangan tadi memang melukai nya, tapi itu masih tidak cukup untuk mengalahkan dirinya.


Ying She berdiri dengan tegak, dan dari kedua tangannya dua benang Qi dari unsur api dan logam pun tercipta. Tanpa banyak membuang waktu dia langsung melesatkan keduanya ke arah Weng Lou.


Kedua benang itu bergerak cepat ke arah Weng Lou, dan kedua mata Weng Lou pun menatap dua benang Qi itu dengan fokus.


Dia membuka kedua telapak tangannya, dan dua buah lapisan Qi berbetuk lingkaran tercipta. Weng Lou langsung mengarahkan keduanya pada masing-masing benang Qi milik Ying She mengarah padanya dan sukses menghalanginya.


"Kau sepertinya hanya memakai teknik yang sama setiap saat. Jangan bilang kau hanya mengetahui teknik ini saja?" Weng Lou berbicara sambil tersenyum mengejek pada Ying She.


Lapisan Qi itu pun dia lemparkan ke arah Ying She, dan terbang ke arah tubuhnya.


Ying She yang melihat itu pun menarik kembali benang Qi yang dia ciptakan, lalu merubahnya dengan cepat menjadi lapisan pelindung seperti ciptaan Weng Lou.


Akan tetapi, tepat ketika lapisan Qi milik Weng Lou menyentuh pelindung nya, lapisan itu dengan mudah menembusnya dan sukses menancap pada bahu kiri dan paha kanannya.


"Argh!!!"


Ying She meringis kesakitan dan Dnegan cepat mencabut keduanya, lalu melemparkannya kembali kepada Weng Lou.


Weng Lou hanya tersenyum melihat itu, sebelum lapisan Qi itu akan mengenainya, lapisan tersebut sudah berhenti di udara dan menjadi pelindung miliknya.


"Beradu Qi denganku hanyalah lelucon bagiku, kau tau? Seberapa besar usahamu mustahil Qi milikmu bisa mengalahkan Qi tanpa unsur." Weng Lou terlihat berusaha memprovokasi Ying She, dan sepertinya berhasil.

__ADS_1


Tampak urat pada kening Ying She muncul dan dia mengepalkan tangannya dengan keras.


"Cobalah sombong lebih lama lagi, aku pasti akan membunuhmu hari ini."


__ADS_2