
Di dekat pintu ruangan istirahat para peserta turnamen, Yang Guang berdiri sambil menyandar pada tembok dan memperhatikan dengan seksama Wudi Ge yang sedang duduk di tengah ruangan.
Ketika sedang memperhatikannya, mata Yang Guang tiba-tiba teralih pada sosok pemuda yang berani menantangnya pada babak seleksi pertama sebelumnya.
Pemuda itu terlihat duduk tidak jauh dari lokasi Wudi Ge, dia menatap Wudi Ge penuh napsu membunuh.
Yang Guang tersenyum mengejek melihatnya, lalu kembali mengalihkan pandangannya dimana kelompok Weng Lou berada.
"Weng Wan," ucapnya yang kemudian menatap satu persatu dari mereka.
"Tuan Muda."
Seorang peserta yang memakai jubah menutupi seluruh tubuhnya berjalan mendekati Yang Guang, dan menunduk hormat padanya.
Yang Guang pun menatapnya sejenak, lalu kembali menatap kelompok Weng Lou.
"Ada apa?" Yang Guang bertanya pada peserta itu.
Peserta itu segera maju dan kemudian memberikan sebuah gulungan kertas pada Yang Guang dari balik jubahnya.
Menerima gulungan kertas itu, dia pun mulai membukanya dan membaca isinya. Matanya terus bergerak, membaca kata demi kata yang tertulis di dalam kertas tersebut hingga akhirnya dia selesai membaca semuanya dan dengan satu tarikan napas, kertas di tangannya hancur menjadi debu.
"Mereka ingin aku menahan kekuatan ku dalam babak selanjutnya mulai sekarang? Yang benar saja! Aku ikut dalam Turnamen Beladiri Bebas ini untuk menguji kekuatan ku, bukan sebaliknya!" Yang Guang berkata dengan nada kesal.
Dia pun menatap peserta yang memberikan gulungan kertas itu lalu mendekatkan wajahnya dengannya.
"Beritau para petinggi, jika mereka ingin aku menahan kekuatan ku, maka suruh saja mereka yang mengikuti turnamen ini! Kau dengar?!"
Peserta itu mengangguk mengerti, lalu kemudian berjalan mundur dan menjauhi Yang Guang.
Yang Guang mendecakan lidahnya melihat peserta itu menjauh, lalu kembali menatap kelompok Weng Lou.
Tapi kemudian, sebuah aura berbahaya muncul dan dia buru-buru memasang posisi siaga. Dia menatap sekitarnya dan tidak menemukan asal aura tersebut.
Namun, tatapannya segera terhenti pada sosok seorang pemuda yang mengenakan pakaian berwarna merah gelap dengan sebuah lambang bunga lotus berwarna emas di bagian belakangnya.
Pemuda tersebut duduk dengan tenang pada pinggir ruangan. Yang Guang memperhatikan lebih seksama pemuda itu, dan menemukan bahwa pemuda itu sedang menatap kelompok Keluarga Leluhur Weng dan kelompok Weng Lou.
"Pemuda itu....aku belum pernah melihatnya sebelumnya. Tapi lambang lurus emas itu tampak tidak asing, dimana aku pernah melihatnya yah...."
Yang Guang mencoba mengingat-ingat tentang lambang lotus emas pada pakaian yang dikenakan oleh pemuda itu, tapi selang beberapa menit, dia tidak juga mengingatnya.
__ADS_1
Tatapan pemuda itu tiba-tiba teralih pada Yang Guang dan membuat Yang Guang yang sebelumnya sedang sibuk mengingat-ingat tentang lambang lotus emas pada pakaian pemuda itu menjadi ikut memandanginya balik.
Keduanya saling bertatapan satu sama lain selama beberapa detik, sebelum pada akhirnya Yang Guang memilih untuk mengalah dan mengalihkan pandangannya.
"Sial pemuda itu, tatapannya sama sekali tidak mengandung emosi, tapi ekspresi wajahnya seakan-akan siap untuk menelan ku hidup-hidup," gumam Yang Guang yang menghela napasnya.
***
Kembali ke kelompok Weng Lou.
Weng Lou yang telah bersemedi selama hampir setengah jam akhirnya membuka matanya. Hal pertama yang ia lakukan setelah selesai bersemedi adalah mengeluarkan sebuah bungkusan berisikan daging bakar yang ia bawa dari penginapan.
Tanpa ragu dia mulai makan sementara Weng Wan yang ada di dekatnya menatapnya dengan bingung.
"Ada apa?" tanya Weng Lou yang heran dengan Weng Wan yang menatapnya seperti itu.
"Ah, tidak bukan apa-apa. Aku hanya sedikit bingung bisa-bisanya kau makan padahal kita akan masuk dalam seleksi kedua sebentar lagi."
Weng Lou berkedip beberapa kali sebelum kemudian mengubah ekspresinya menjadi kebingungan.
"Kau bodoh ya? Apa kau lupa kita akan bertarung sebanyak sembilan puluh sembilan kali tanpa henti pada seleksi kedua nanti? Jika kau tidak mengisi perut mu dan menyimpan banyak tenaga, bisa-bisa kau akan kelelahan terlebih dahulu sebelum menyelesaikan semua pertarungan. Setidaknya pakailah otakmu pada saat-saat seperti ini."
Weng Lou mengatakan itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan menghela nafas.
Satu-satunya hal yang harus dia lakukan adalah menyimpan sebanyak mungkin tenaga di dalam dirinya agar dia sanggup melakukan itu.
"Hei, berapa banyak yang kau bawa?" tanya Weng Wan yang sudah ikut duduk di samping Weng Lou.
"Cukup banyak untuk kita semua, makanlah sebanyak yang kau mau," balas Weng Lou yang melemparkan sepotong daging seukuran lengan orang dewasa pada Weng Wan.
Weng Wan menangkapnya, dan tanpa banyak basa-basi dia pun mulai memakannya.
Mereka berdua terus makan, sampai kemudian satu persatu anggota kelompok mereka pun ikut makan seperti mereka berdua. Tentunya dimulai dari Weng Ying Luan, hingga Jian Qiang sekalipun.
Kelompok mereka terus makan tanpa menghiraukan sama sekali tatapan para peserta lain yang ada di sekitar mereka.
Aroma daging bakar milik Weng Lou berhasil menarik perhatian mereka semua.
"Mereka ini..."
"Apa mereka tidak berpikir akan kekenyangan saat bertarung nanti?"
__ADS_1
"Apa yang kau katakan? Bukankah itu bagus? Kita akan diuntungkan jika mereka kekenyangan nantinya saat bertarung melawan kita."
"Kau benar! Justru harusnya kita berterima kasih pada mereka, hahahaha!!!"
Satu persatu peserta mulai menertawai kelompok Weng Lou sementara perhatian dari Wudi Ge ikut terarah pada kelompok Weng Lou.
"Hm? Mereka cukup pintar, bisa mengetahui kunci utama dari babak seleksi kedua nantinya. Sepertinya aku akan mendapatkan beberapa lawan yang cukup kuat nantinya," ucap Wudi Ge sambil tersenyum kecil.
Dia kemudian mengayunkan tangannya dan mengeluarkan sebuahbungkusan kecil berisikan botol giok kecil dari cincin penyimpanan miliknya.
Tangannya dengan cepat meraih botol giok itu. Dia membuka tutup botol tersebut, dan mengeluarkan sebuah pil dari dalamnya.
Tanpa ragu dia memasukkan pil tersebut ke dalam mulut, dan dia pun menelannya.
Glek....
"Ah....tapi meski begitu aku lebih suka memakan pil ini, selain lebih mengenyangkan, juga mengandung banyak nutrisi."
Wudi Ge yang kemudian memasukkan kembali botol giok tersebut kedalam cincin penyimpanannya.
***
Beberapa jam kemudian berlalu, akhirnya waktu beristirahat pun selesai, dan hari pun sudah tepat tengah hari.
DAAANNNGGGG!!!
Suara gong kembali terdengar dari lapangan arena.
Para peserta yang berada di ruang istirahat semuanya langsung bangkit berdiri ketika mendengar suara gong tersebut.
Mereka semua menatap ke satu arah dimana pintu yang sebelumnya mereka lewati berada. Satu persatu peserta yang ada pun mulai berjalan ke arah pintu tersebut.
Tak lama, mereka semua pun sudah kembali di arena pertandingan.
Terlihat perubahan lapangan arena dimana terdapat garis-garis di tanah yang membagi lapangan arena tersebut menjadi beberapa bagian.
Tanpa instruksi sama sekali, semua peserta berjalan ke tengah lapangan, dan berbaris rapi menghadap ke arah Zu Zhang yang melayang di tengah arena.
Zu Zhang melihat mereka semua dan tidak bisa menyembunyikan senyumannya.
Setelah beberapa saat menatap semua peserta, dia pun kemudian mulai menambah ketinggian dirinya melayang, dan menghadap ke arah para penonton yang ada.
__ADS_1
"Maaf sudah membuat kalian menunggu, para penonton!!!! Waktu beristirahat dan persiapan telah selesai! Sekarang, mari kita mulai, babak seleksi kedua!!!!"